***
Hampir tiga hari Aluna dirawat di rumah sakit, sekarang kondisinya sudah mulai membaik, tante Tari, Jesika, Riana dan Arsya selalu menemani Aluna, bergantian setiap waktunya, sementata Brayen, benar-benar menghilang sekenaknya, melakukan aktifitas bebas di rumah, tanpa sejenak pun memikirkan kesehatan istri dan calon anaknya, kepalanya benar-benar sekeras batu, tidak siapapun yang berani menelannya.
"Tadi, mamah udah suruh loh Brayen ke sini, tapi kok belum datang." kata Tante Tari kesal, ia memasukan baju ke dalam tas, baju kotornya sudah menumpuk gara-gara tinggal di rumah sakit. Nanti, jika ia bertemu dengan Brayen, ia akan memarahi anak itu, mengomelinya hingga bosan dan enggan melakukan hal yang sama.
"Tenang tante, kalau Braye nggak dateng kita aja yang antar ke rumah."
Tante Tari tersenyum, "coba aja Brayen bisa selembut kamu, Ar. Pasti deh tante seneng banget." perempuan itu tersenyum bangga, lalu melirik kesamping memandang Jesika dan Riana bingung.
"Mah, boleh nggak aku ke rumah mamah sama papah aku dulu? Aku pengen lihat mamah, aku."
Tante Tari mendesah resah, "sayang, nanti aja ya. Kamu kan baru keluar dari rumah sakit. Mamah kamu itu butuh waktu buat sendiri, mamah nggak mau kalau kamu lihat mamah kamu, nanti kesedihan kamu makin menjadi, jangan sampai itu berakibat fatal sama janin kamu, mamah nggak mau."
"Ta--tapi, mah."
"Sekali aja, kamu nurut sama mamam, Al. Ini demi kamu juga. Kamu harus istirahat pas sampe di rumah." tante Tari mulai kesel sendiri, Aluna tidak bisa diatur. Melihat kekesalan di wajah tante Tari, Aluna hanya mengangguk, tidak ingin membantah.
"Sini, aku bantu."
Aluna sempat tergemap, saat tangan kokoh Arsya mendekapnya dengan lembut, menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh ke atas ubin yang keras, wajah Arsya begitu dekat dengannya, jakungnya dengan seksi bergerak kala menelan air liurnya, membuat hati Aluna ternyuh, bergetar kecil saat diperlakukan manis seperti ini. Laki-laki yang tanpa hubungan darah dengannya, berlaku begitu lembut. Andai saja Brayen bisa berlaku lembut dengannya, memperlakukanya sepertri Arsya bersikap, pasti ia akan mencoba menerima pernikahan itu, belajar mencintai suaminya, demi anak yang berkembang di dalam perutnya. Tapi, itu tidak akan mungkin pernah terjadi, Aluna dan Brayen adalah dua sisi magnet yang saling berlawanan, akan terus tolak-menolak.
"Makasih..." Arsya tersenyum, ia mengangguk, sangat senang bisa memperlakukan Aluna seperti itu. Membawa gadis itu dalam dekapan, membuat Arsya sangat bahagia. Saat sampai di lawang pintu, Arsya dan Aluna berpapasan dengan Brayen, tubuh mereka saling berhenti melangkah, memandang masing-masing.
Brayen mengerutkan kening dalam, lalu menatap tangan Arsya yang memeluk tubuh istrinya, tapi dalam beberapa detik, ia mengangkat bahu acuh. Dengan wajah datar tanpa niat ingin mengambil posisi Arsya.
"Brayen, kamu itu dari mana aja?! Lama banget mamah tungguin, bantu istri kamu." perintah tante Tari, Brayen mendelikan mata, malas.
"Kan ada Arsya kenapa aku?" ia menunjuk dirinya sendiri, memancarkan gurat wajah keheranan.
"Tapi, kamu suaminya. Bukan Arsya." kata tante Tari tidak habis fikir dengan anaknya.
Brayen mendesah, dengan rasa yang sangat-sangat terpaksa, menarik tangan Aluna, memeluk pinggang rampingnya. Melihat posisi seperti itu, membuat Arsya mematung, kehilangan nafas seketika, padahal baru beberapa detik ia memeluk tubuh Aluna, mencium aroma wangi rambut yang membuat nafasnya terasa nyaman.
Aluna menelan ludahnya dalam-dalam, jantungnya benar-benar berdentam kuat, berbunyi sahut-menyahut, beberapa hari tidak bertemu Brayen, lalu sekarang dipeluk dengan erat, rasanya seolah bertemu dengan pacar baru. Mendadak kakinya terasa melumer, ingin jatuh pingsan agar bisa digendong oleh Brayen.
Jesika dan Riana saling cekikikan, merasa geli dan greget sendiri. Pemandangan ini terbilang langka, selama ini, mereka belum pernah melihat Aluna dan Brayen berjalan sedekat itu. Bahkan beberapa minggu lalu, Jesika hanya melihat Brayen menarik tangan Aluna, membawanya pergi secara paksa, saat Aluna baru sadar dari pingsannya saat di kampus.
"Gue yakin, sebentar lagi, kucing sama tikus itu akur." tebak Jesika bak seorang peramal yang hebat.
"Mana bisa, kucing ketemu tikus ya pasti dimamam lah, emang Tom&Jerry, bisa akur pas di endingnya?" kata Riana polos, sontak membuat Jesika berdecak.
"Kenapa? Gue salah lagi?"
Jesika tidak menyahut, percuma berdebat dengan Riana, sekarang penyakit lemotnya mungkin sedang kambuh. Mereka berjalan di koridor rumah sakit, di depan Brayen terus memeluk Aluna, membuat Arsya yang ada di belakanya memandang tidak suka, cemburu? Mungkin. Tapi, apa pantas? Ia hanya seorang laki-laki asing, yang mencoba masuk ke dalam kehidupan seorang raja, mencoba menyulik sang ratu, tapi ia tidak punya kekuasaan, banyak prajurit yang siap dengan mudah melayangkan nyawanya. Begitulah pikiran Arsya yang terlalu mendramatisir keadaan.
Brayen, Aluna dan tante Tari kini sudah berada dalam mobil yang sama, sementara Jesika, Riana dan Arsya memilih untuk berangkat ke kampus, banyak yang harus dikejar untuk persiapan sidang tiga minggu lagi. Jika mereka gagal, harus terpaksa mengulang tahun depan.
"Habis ini, mamah mau kamu itu di rumah jangan kelayapan. Ingat, sampai kondisi Aluna pulih, mamah akan di sana sama kalian."
"Iya." jawab Brayen singkat, jelas. Enggan beragrument dengan mamahnya itu, dengan mengikuti permintaan yang ama sekali nggak beguna itu, mamahnya akan berhenti berbicara. Lantas, Brayen melirik ksamping menatap wajah lelah Aluna, matanya tertutup, seolah-olah ini adalah pembalasannya untuk bisa hidup bebas tanpa melakukan apa pun. Brayen melirik ke kaca spion mobil, melihat mamahnya sibuk memainkan ponselnya, Brayen merasa sekarang bagaikan seorang supir yang siap mengantar tuannya pergi kemana pun.
***
"Mah, aku nggak tau harus gimana. Aku sedih banget Rio meninggal, padahal aku kembali ke jakarta mau nemuin dia, tapi aku malah dapat kabar dia udah nggak ada." tangis Ines kembali pecah, nafasnya tersendat-sendat, sangat perih di tenggorokan.
Ines menangis di dalam pelukan sang mamah, menumpahkan segala kesedihan di sana, kepergian Rio untuk selama-lamanya telah membuat mata hati terbuka, ia benar-benar sangat menyayangi Rio, tadi pagi ia sangat berhatap bertemu Rio yang masih bernyawa, kerinduan di hatinya begitu menggelitik, membuatnya tidak sabaran ingin kembali ke jakarta, tapi kenyataan-nya sangat kontradiktif, pertemuannya dengan Rio berlangsung detik itu juga, untuk terakhir kalinya, bahkan yang lebih menyakitkan, ia tidak sempat menyentuh pipi laki-laki itu, membisikan kata cinta. Kehilangan Rio mampu membuat Ines menganggap laki-laki itu hal berharga, sekarang sedikit pun ia tidak mampu mengembalikan Rio, semuanya benar-benar tidak mungkin terjadi.
Tante Siska hanya bisa menguatkan pelukannya, memberikan kenyamanan lebih untuk Ines, mengusap kepalanya lembut, seolah memberi penguatan.
Ines lebih memilih untuk kembali ke bandung, menenangkan diri, andai saja ia tahu Rio akan pergi secepat itu, sedikit pun ia tidak akan menghilang tanpa kabar, setelah bertanya-tanya dalam hati, ia menemukan titik terang, sepertiga dari hatinya, sudah ditempati oleh Rio, hingga membekas begitu sakit saat ia pergi.
"Mah, aku udah melakukan kesalahan besar, dan sekarang, aku kehilangannya." suara Ines bergetar menahan tangis, mamahnya hanya mengangguk mengerti.
"Kamu harus ihklasin kepergian Rio, sayang. Dia pasti juga nggak ingin kamu bersedih kayak gini. Setidaknya, kamu beruntung, bisa dicintai laki-laki itu. Tapi, sebenarnya apa yang terjadi, membuat dia bisa meninggal secara mendadak?" benak tante Siska berfikir heran.
"Aku nggak tau kejadian pastinya mah, tapi yang jelas, Rio meninggal karena dipukulin sama orang yang nggak punya hati."
"Mamah rasa, pelakunya harus dihukum, karena sudah menghilangkan nyawa seseorang."
"Nggak ada saksi yang bisa ngasih keadilan buat Rio, mah. Kalau ada, aku benar-benar mau, orang itu menyerahkan diri kepolisi." kedua bibir Ines mengatup, menahan emosi dengan kedua tangan yang mulai ikut terkepal, sorot matanya menyimpan amarah yang luar biasa. Tante Siska tahu, bagaimana watak anaknya sendiri, Ines benar-benar akan sulit untuk melupakan orang-orang yang ia sayangi, saat memutuskan hubungan dengan Brayen, Ines begitu terpukul, lalu Rio datang, membawa penawar luka di hati Ines, hingga luka itu mulai membaik, namun belum sempat mengering dengan sempurna, penawar itu malah menusuk hatinya hingga pecah, kembali mengalami luka yang dalam. Meski perempuan itu belum bisa mencintai Rio sepenuhnya, bagaimana pun, hanya Rio yang bisa menawar hatinya.
"Sekarang, kamu istirahat. Mamah yakin kamu capek banget."
Ines hanya menganggukan kepalanya, merebahkan tubuhnya dengan lemas di atas ranjang, tidak ada yang ia fikirkan selain Rio, menyimpan rasa bersalah dan terluka. Tante Siska memandang Ines iba, tatapan matanya kosong, seperti orang kebingungan saat tersesat.
***
"Mamah udah siapin pembantu rumah tangga, jadi Aluna nggak perlu lagi harus melakukan pekerjaan rumah, dan kamu Brayen, tugas kamu khusus menjaga Aluna, buat dia nyaman dan penuhi keinginanya." tante Tari kembali mengingatkan, lalu mengunyah makanan.
Aluna dibuat senyum-senyum sendiri, merasa sangat pediperhatikan oleh mertuanya. Selama wanita paruh baya itu ada di rumah ini, Brayen tidak akan bisa berlaku semaunya. Sementara Brayen memasang wajah kesal, keputusan sang mamah hanya menguntungkan untuk Aluna.
"Al, kamu kenapa nggak makan? Ayo dong, kamu itu harus banyak makan sayuran."
"A--aku malas makan nasi, mah. Rasanya eneg, pengen muntah." Aluna memorotkan bibirnya, efek hamil yang ditimbulkan mungkin akan mempengaruhi pola makannya.
"Loh, terus kamu mau makan apa dong." tante Tari kembali meletakkan sendok di atas piring, menghentikan aktifitas makanya.
"Aku, pengen martabak keju."
Mendengar pernyataan Aluna, tante Tari terkekeh geli, Aluna sedang mengidam, sejurus kemudian mata tante Tari beralih menatap Brayen, membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya.
"Kok mamah lihat aku?"
"Kamu denger sendiri kan? Apa yang Aluna mau, sekarang kamu beliin apa yang dia mau. Istri kamu lagi ngidam."
"Nggak mau! Manja banget, mamah nggak liat aku lagi makan?"
Entah mengapa, mendengar pernyataan yang tercetus dari mulut Brayen, membuat hati Aluna terasa sangat sedih, membuat matanya berkaca-kaca, tidak bisa menahan air mata. Ia memilih menunduk, ini benar-benar aneh.
"Aku ke kamar." Alua bangkit, kursi berdecit. Dengan gerakan cepat, Aluna masuk ke dalam kamar. Tante Tari melihat Brayen tidak suka, apalagi anak itu hanya bersikap acuh.
"Kamu itu kenapa sih? Istri kamu itu nggak mau makan, dan beliin apa yang dia pengin. Kamu udah ngelukain hati dia, Brayen. Hati ibu hamil itu sensitif, kalau kamu masih mau menghargai mamahmu yang sudah mengandung dan melahirkan kamu ini, kamu turutin permintaan dia. Atau mamah bakal sangat kecewa sama kamu!"
Brayen berdecak kesal, terpaksa menurutin perintah sang mamah tak tak terbantah, bagaikan seorang karyawan yang patuh pada atasannya.
"Iya! Aku bakal beliin!"
Tante Tari menghela nafas, memandang punggung kokoh Brayen menuju pintu, ia tahu, anak itu pergi atas dasar keterpaksaan, bingung harus melakukan cara apalagi agar anaknya bisa melakukan kewajibannya.
Tante Tari menyusul Aluna ke kamar, ia tahu bagaimana perasaan menantunya saat ini, ia pernah mengalami ngidam saat mengandung Brayen, meminta Rendra untuk segera pulang membawakannya seorang badut yang lucu, tapi Rendra menolak, karena menurutnya pekerjaannya lebih penting. Saat itu tante Tari sangat bersedih hingga menangis sesegukan.
"Al, mamah boleh masuk?" tanya tante Tari hati-hati. Merasa namanya di panggil, Aluna mendogak, mengubah posisi tengkurap menjadi duduk, ia menyeka air matanya dengan kuat, bibirnya bergetar menahan tangis. Lalu, mengangguk sebagai jawaban.
Tante Tari masuk, lalu duduk di pinggiran ranjang, meraih tangan Aluna untuk di genggam.
"Mamah tau, kamu pasti sedih banget kan?"
Aluna hanya diam, membuang muka ke samping, rahangnya mengetat, serasa tercekat.
"Mamah juga pernah kok ngerasain apa yang kamu rasain, tapi kamu nggak usah sedih, mamah udah paksa Brayen buat beliin apa yang kamu mau." bukannya senang, Aluna makin merasa sedih, Brayen melakukannua atas dasar keterpaksaan. Padahal, ini bukan sepenuhnya kemauan Aluna, tapi juga keinginan anak yang ada di dalam kandungannya.
"Nggak usah, mah. Aku udah nggak pengen."
"Kamu harus sabar ya, ngadepin Brayen. Dia emang keras kepala, maafin dia ya, kalau belum bisa jadi suami baik buat kamu. Mamah udah kehabisan cara buat ngomong sama dia, mamah gagal ngajarin dia, karena nggak bisa menghargai perempuan."
Aluna hanya diam, mendengar pernyataan mertuanya, semakin membuatnya sedih. Kehamilan itu bear-benar merubah hati kerasnya menjadi lembek, 180°.
"Kamu nggak usah khawatir, mamah yakin sebentar lagi, dia pasti akan berubah, apalagi anak kalian mau lahir, dia nggak akan mungkin bersikap kayak gini terus."
"Tapi gimana kalau dia nggak pernah bisa berubah? Perlakuannya tetap sama, saat pertama menikah sampai sekarang, bahkan dia tau aku udah hamil, mah. Tapi, sedikit pun dia nggak bisa bersikap manis. Aku juga nggak nuntut dia kok, tapi seenggaknya, saat aku hamil anak dia aja, dia bisa sedikit sabar sama aku." suara Aluna terdengar berat, andai saja Rio masih di sini, pasti ia bisa menenangkan hati Aluna. Tante Tari mengelus pipi Aluna.
"Anggap aja kamu mau memulai perubahan. Coba kamu ngomong baik-baik sama dia, mamah yakin dia pasti mau menuhi permintaan kamu. Ini demi anak kamu, kamu harus mau mengalah. Mamah tau, kamu juga nggak pernah suka kan sama Brayen, sekarang situasinya udah beda. Ada calon anak kalian, kamu nggak mau kan dia lahir dengan keadaan orangtua nggak utuh?"
"Apa harus, aku?"
"Salah satu harus ada yang mengalah. Mamah nggak bisa lagi ngomong sama, Brayen. Cuma kamu satu-satu harapan mamah, mamah harap kamu mau mendengarkan mamah."
Aluna masih bergeming, tidak mengangguk atau pun menggelengkan kepala, sebagai jawaban menerima atau menolak. Aluna sangat yakin, jika dia menyerah Brayen pasti akan semakin menindasnya.
"Kamu mau kan?"
"Aku nggak tau."
Tante Tari mendesah resah, menantu dan anaknya sama-sama keras kepala. Kalau keduanya tetap seperti ini, tante Tari tidak yakin, rumah tangga itu akan tetap bertahun, ketakutan mulai melanda pikirannya, nasib cucu dan persahabatan dengan besannya akan terancam hancur.
***
Brayen sangat-sangat malas, berada di dalam antrian ini benar-benar menjengkelkan, hanya sekedar martabak keju, pembelinya bisa seramai ini. Padahal, bagi Brayen keju sangat tidak enak, hanya akan membuat sakit perut, mencium baunya saja Brayen benar-benar tidak suka.
"Hmmm..." Brayen sesekali memandang ke depan, sekarang ia ada di antrian nomor 4, masih ada lagi tiga pembeli di depannya, jika setiap hari Aluna meminta hal seperti ini, mungkin lebih baik ia pergi, bisa bebas berkeliaran, tapi itu semua mustahil, mengingat ancaman mamahnya.
"Lama banget deh. Mbak bisa nggak sih saya duluan, ini buat istri saya, dia lagi hamil, udah nangis-nangis tuh di rumah, karena pengen banget martabak ini." kata Brayen tak sabaran, pembeli anrian paling depan memandang kebelakang, melihat Brayen yang berdiri di barisan nomor 4. Sejenak ia memandang bingsisan di tangannya, lalu tersenyum.
"Ini buat kamu saja, biar saya kembali mengantri."
Kening Brayen berkerut, laki-laki sekitar berumur tiga tahun di atasnya, berbuat baik seperti itu?
Ia berjalan kebelakang, lalu menggantikan posisi Brayen, "kita bisa berganti posisi, bawa ini pulang untuk istrimu. Kasihan dia."
"Lo kasih ini ke gue?"
Pria itu hanya mengangguk, "dulu, saya tidak sempat memberikan ini untuk istri saya yang sedang hamil, hingga dia nekat pergi sendiri, dan itu membuat kami kehilangan calon anak kami, saya terlalu lalai. Semoga, dengan saya berbuat baik dengan istri anda, istri saya bisa hamil kembali, menggantikan calon anak kami yang sudah hilang." dalam beberapa detik, Brayen terpana dengan ucapan laki-laki itu.
"Terimakasih." Brayen memberikan uang lima pukuh ribu, namun laki-laki itu menolak.
"Kamu bawa aja. Cepat pulang, kasihan istri kamu." ia kembali tersenyum, begitu tulus. Kedua alis Brayen terangkat, lalu menganggukan kepalanya.
"Yasudah, kalau begitu saya permisi. Terimakasih banyak."
"Sama-sama, semoga istri dan calon anakmu, sehat selalu."
Brayen tersenyun tipis, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Laki-laki itu memandang Brayen dengan haru. Laki-laki itu lebih baik darinya, mau memenuhi permintaan istrinya, sudah pasti ia begitu mencintai istri dan calon anaknya. Andai saja ia dulu mau berlaku seperti Brayen, pasti istrinya tidak akan menjalami kejadian yang membuatnya kehilangan calon anak yang ada di dalam perutnya.
***
Bersambung