Bab 15. Pelita Hati

1700 Kata
*** Brayen masuk ke dalam kamar, memegang gagang pintu lalu masuk dengan gerakan pelan. Ia bisa melihat Aluna tertidur di atas ranjang. Hidungnya merah dengan mata yang sembab habis menangis, Brayen sendiri benar-benar tidak menyangka, Aluna bisa menangis semudah itu karena hal sepele. Dengan tatapan dalam, Brayen bisa melihat keleleah di wajah Aluna, bibir yang biasanya merah menggoda, kini berubah menjadi putih pucat, efek hamilnya membuat kecantikan yang biasanya ia banggakan, kini memudah bagaikan kain yang luntur terkena air. "Al, bangun. Ini martabak yang lo mau." Brayen duduk di pinggir rangang, menggoyangkan lengan mungil istrinya, hingga membuat Aluna sedikit terusik, mengerjapkan matanya pelan-pelan. "Ngghh..." Aluna membuka mata, samar-sama ia bisa melihat wajah Brayen. "Gue udah bawa martabak yang lo mau, jadi nggak usah dipermasalahin, semuanya udah beres." Sambil memberikan bingkisan berwarna putih itu, Brayen menegakkan tubuhnya. Berjalan keluar kamar. "Lo mau kemana lagi?" "Mau bikinin s**u buat lo," mendengar ucapan itu, membuat hati Aluna seketika sengang. "Mamah yang suruh gue," kata Brayen pada akhirnya. Aluna menghela nafas jengah, dengan sangat malas kembali meletakkan bingkisan di atas meja. Seketika diserang rasa malas. "Kenapa?" tanya Brayen bingung. Laki-laki itu kembali masuk ke dalam kamar, melipat tangan di atas d**a, memandang bingkisan itu dan Aluna secara bergantian. "Lo nggak mau makan martabak itu, gue udah capek-capek keluar, sampe ngatri, sekarang lo terima makanan itu dengan cara nggak semangat, mau lo apa sih?" tanya Brayen bingung tak habis fikir. "Gue mau lo suapin gue!" Brayen berdecak, lalu tertawa geli. "Bilang aja acara ngidam lo ini cuma alasan buat menarik perhatian gue, kan? Terus lo bisa disuapin laki-laki tampan kayak gue, oke. Gue akan lakuin itu." Aluna memutar bola matanya sempurna, nyaris tersedak mendengar pengakuan Brayen. Kini laki-laki itu duduk di hadapannya, dengan wajah yang begitu dekat. Wajah tampan begitu sempurna, tidak ada celah untuk tumbuh jerawat di sana, diam-diam Aluna memerhatikan bibir laki-laki itu, orang yang sempat menciumnya dengan hangat. Dengan susah payah, Aluna menelan air liur yang dirasa serat di tenggorokan, mendadak tidak bisa menelan dengan sempurna. "Harusnya lo nggak usah jadiin kehamilan lo sebagai alasan, gue tau, emang kemauan lo sendiri kan, buat terus deket-deket sama gue, gue yakin lo pasti sedang berfikir, kalau gue ini adalah laki-laki paling tampan yang pernah lo temuin." Rasanya Aluna ingin sekali memaki laki-laki PD seperti Brayen dengan mulut pedasnya, berkata sekasar mungkin, tapi nyatanya ia malah menerima begitu saja, diam dengan ucapan Brayen yang konon berlebihan. Aluna sendiri tidak habis pikir, ia kembali bertemu dengan Brayen yang dulu, pria yang menyebalkan dengan percaya diri yang tinggi. Bukan seperti Brayen beberapa hari belakangan, laki-laki yang berubah menjadi monster menakutkan, mungkin benar, sikap Brayen seperti musim yang terus berganti sepanjang waktunya. Brayen mendekatkan sepotong martabak di dekat mulut Aluna, meminta perempuan itu untuk segera mengigitnya, tangannya pegal jika harus terangkat lama-lama. Dengan gerakan kaku, Aluna membuka mulutnya, mengigit martabak tebal yang lembut itu, rasanya benar-benar sangat nikmat, Aluna baru merasakan ngidam seperti ini, ternyata benar-benar berbeda. "Lo suka?" Aluna mengangguk, lalu tersenyum pertanda ia benar-benar menyukai itu. "Makasih ya, lo udah mau beliin ini bue gue." "Sama-sama." Mendadak Aluna diselubungi rasa kikuk, apalagi saat Brayen dengan sengaja menjailinya, menarik kembali martabak yang nyaris digigit, Aluna. "Lo nggak makan martabaknya?" "Gue nggak suka." Brayen langsung menggelengkan kepalanya cepat, ia benar-benar tidak suka dengan mkanan yang mengandung keju, baginya keju begitu menggelikan. Mendengar pengakuan Brayen, kedua alis Aluna menyatu, memancarkan ekspresi bingung, lalu kemudian mengerti. "Oh..." "Yaudah, kalau lo suka, lo habisinin martabaknya." "Udah kenyang, udah nggak pengen lagi, gue udah nyicipinnya." Aluna menolak suapan selanjutnya, kedua mata Brayen membulat, Aluna hanya mencicipi sepotong saja. "Lo cuma cicipin doang?" Tanpa keraguan, Aluna menganggukan kepalanya. "Gue udah nggak mau apa-apa. Gue cuma mau lo jangan kemana-mana, temenin gue tidur sekarang," setelah mengumpulkan keberanian setengah mati, akhirnya permintaan itu tercetus begitu saja dari mulut Aluna, mencelos mulus begitu saja, seolah bukan dengan Brayen ia berbicara. Brayen sempat kebingungan, berfikir sejenak, hingga pada akhirnya, ia memilih memenuhi permintaan Aluna. "Oke, kalau emang itu kemauan lo." Brayen naik ke atas ranjang, berbaring di samping Aluna, keduanya sama-sama larut dengan pikiran masing-masing, memandang langi-langit kamar mereka yang tak bergerak, entah apa yang kini saling mereka fikirkan. "Sorri, ya kalau gue udah nyusahin lo, minta beliin ini dan itu, tapi bukan kemauan gue kok," kata Aluna membuka pembicaraan. Brayen sejenak memandang kwsamping, lalu menghembuskan nafas, tangannya dilipat di bawah kepala. "Oke, asal lo jangan keseringan nyuruh gue." "Tergantung," "Udah, nggak usah dibahas. Lo bilang lo mau tidur, kan? Jadi, nggak usah bahas yang lain." Aluna memorotkan bibirnya, mendadak kembalo dibuat kesal. Padahal, ia begini karena sedang mengandung anaknya, tapi Brayen selalu bersikap seperti itu, memandang dirinya sebagai musuh yang pantas untuk ditindas, dalam hati, Aluna berkoar-koar ingin marah, dan mininju pipi Brayen hingga bonyok, menimbulkan bekar lebam di sana. Saking kesalnya, Aluna mencengkram sprai kasur kuar-kuat, sebenarnya Brayen tahu kekesalan Aluna, tapi ia tetap bersikap santai, meski dalam hati tertawa sangay puas, bisa membuat Aluna berada dalam kekikukan, setelah itu, ia akan menjatuhkan Aluna kembali. Ternyata, membuat hati Aluna menjadi baper adalah hal yang mudah baginya, dengan begitu, dengan gampang bisa memulai permainannya, akan membuat Aluna akhirnya berhenti dan menyerah. **** Semenjak kepergian Rio, tante Diana begitu terpukul. Bagaimana pun, selama ini Rio selalu bersamanya, apalagi Rio tetap menemaninya setelah Aluna menikah dan tinggal bersama Brayen. Selain Rio baik, anak laki-laki itu selalu memberikannya ketenangan, menghangatkan suasana rumah mereka. Belum genap satu minggu kepergian Rio, tante Diana benar-benar merasa kehilangan, seperti nafasnya yang sudah tersendat-sendat saat menghirup udara lepas. Tante Diana masih bisa mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu, saat Brayen meminta seorang adik kembali, membuat kedua pipi tante Diana bersemu merah saat digoda seperti itu. 'Mah, kalau misalnya Rio punya adik lagi, kayaknya seru ya.' 'Ngaco kamu, mamah udah tua begini mana pantas punya bayi lagi.' 'Ah, mamah gitu deh, biar ada nanti yang gantiin aku sama Aluna.' 'Mamah itu pantasnya punya cucu, bukan anak lagi.' 'Mamah kamu emang gitu, Rio. Padahal mamah kamu masih muda kan, papah si mau aja punya beby lagi.' Rio tertawa terbahak-bahak saat mendengar pengakuan papahnya, ia setuju, mungkin akan terlihat lucu jika ia kembali memeliki seorang adik bayi yang kecil. 'Ih kalian ini, apaan sih. Coba aja ada Aluna, pasti belain mamah. Apa kata orang, nenek-nenek malah ngelahirin.' 'Yah, pah. Mamah pelit banget deh. Tapi, coba papah liat, pipi mamah kok merah gitu ya.' 'Abis makan tomat.' Om Arif dan Rio sama-sama tidak bisa menahan tawa, apalagi melihat roman wajah Diana yang begitu menggemaskan. "Mah, semenjak Rio meninggal, papah lihat mamah sering melamun, mamah kenapa?" Om Arif menyentuh pundak tante Diana, sontak wanita itu terkesiap kaget, tersadar dari lamunannya beberapa detik yang lalu. "Mamah cuma kangen aja sama Rio, pah. Biasanya dia selalu bikin mamah kesel setengah mati, apalagi kalau udah berlomba-lomba sama papah buat ledekin mamah," bibir tante Diana melengkungkan senyum tipis, kemudian bergetar menahan tangis, kerinduannya semakin menjadi, tidak bisa dibendung lagi, jika ia diberikan kesempatan lagi, malam itu ia tidak akan membiarkan Rio untuk pergi ke rumah kekasihnya itu, dan nyawa anaknya pasti akan tetap terselamatkan tanpa harus dirampas oleh orang yang tidak bertanggung jawab. "Papah juga kangen sama Rio, mah. Tapi kita nggak boleh terus-terusan kayak gini, kasian Rio. Mamah lupa, kita juga masih punya Aluna, anak kita satu-satunya. Bahkan kita nggak jenguk Aluna ke rumah sakit." Om Arif menatap istrinya dalam-dalam. Kening tante Diana berkerut, sepertinya ia telah melupakan sesuatu. "Gimana keadaan Aluna sekarang?" tanya tante Diana, raut kesedihan kini berganti dengan kekhawatiran, kecemasan yang kentara. "Dia udah pulang, kondisinya sudah membaik." "Manah mau ketemu Aluna, pah. Kalau perlu kita bawa Aluna ke sini, ya. Tinggal sama kita lagi." "Mana bisa, mah. Aluna udah nikah sama Brayen, jadi yaa Aluna harus ikut sama suaminya. Besok, kita jenguk Aluna kerumahnya ya." Tante Diana mendesah resah, sebenarnya sangat ingin membawa Aluna kembali kerumah ini. Kemuduan tante Diana mengangguk setuju. **** Tepat pukul 11:00 malam, Aluna kembali terbagun, menggeser tubuhnya ke kiri dan ke kanan, mencari posisi yang nyaman untuk tertidur, di sampingnya, Brayen sudah tertidur pulas, dengan dengkuran halusnya yang menjadi musuik klasik tersendiri di telinga Aluna. "Aduuh..." Aluna memutar posisi miring kenanan, kini wajahnya dan Brayen saking berhadapan, mereka tidur dalam selimut yang sama. "Hmm...," masih berusaha mencari posisi yang nyaman, apalagi saat ini ia diselubungi rasa takut yang entah sejak kapan datangnya, perasaannya tidak karuan, memimpikan Rio yang duduk bersedih di atas batu besar. Wajahnya memancarkan raut tidak bahagia, Aluna sendiri sudah berkali-kali memanggil, namun Rio seolah tidak mendengar. Aluna terus berjalan, mencari jalan agar ia dan Rio bisa turun dari atas batu besar itu, sementara di bawah, Brayen berdiri dan tertawa dengan penuh kemenangan, lalu berusaha melemparkan benda tajam ke arah Rio, benar-benar mimpi yang sangat aneh. Membuat benak Aluna bertanya-tanya. Merasa terusik dengan Aluna yang tidak bisa diam, Brayen memilih membuka matanya, menatap Aluna dengan kesal. "Kenapa lagi sih lo, Al. Berisik banget, gue ngantuk banget, please deh, jangan minta yang macam-macam," tudibg Brayen kesal, ia takut jika Aluna harus menyuruhnya keluar, untuk mencari bencong-bencong yang berdiri di pinggiran jalan, memintanya untuk menciumnya, benar-benar menjijikan. "Gue nggak bisa tidur, gue takut." "Apa harus gue peluk? Biar lo bisa tidur lagi?" Brayen bertanya dengan nada datar, matanya kembali tertutup. Aluna sendiri tidak menjawab apa-apa ia lebih memilih untuk tetap diam. Tanpa persetujuan, dalam beberapa detik Aluna bisa merasakan tangan kokoh Brayen meneluknya, laki-laki itu kembali mempersempit jarak yang ada. Sepertinya, Brayen benar-benar sangat merasa kantuk, hingga Aluna bisa kembali mendengar dengkuran suaminya itu. "Bra, bangun..." "Hmm." "Gue benar-benar nggak bisa tidur., Bra" "Nikmatin aja pelukan gue, lo bisa tidur dengan tenang, anggap gue lagi berbaik hati, mau berbagi pelukan, sampai lo bisa ngerasain kenyamanannya." Entah mengigau atau nyata, ucapan itu terdengar tulus di telinga Aluna, laki-laki itu mengatakannya dengan lembut, membuat hati Aluna bergetar pelan, membuat hatinya penjadi tenang. Berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruknya, mencoba menutup mata dengan merasakan pelukan suaminya. "Andai lo bisa bersikap kayak gini terus sama gue, Bra. Mungkin gue bakal bisa jatuh cinta sama lo." Aluna bisa mencium wangi tubuh Brayen, biasanya setau Aluna, wanita hamil tidak akan suka mencium bau Parfun atau pewangi lainnya, tapi ia malah menyukai aroma tubuh Brayen yang membius hidungnya. Perhalan-lahan, Aluna mulai kehilangan kesadaran, hingga akhirnya bisa tertidur dengan tenang. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN