***
Pagi itu, Aluna sudah lebih dulu terbangun, semalaman tidur dalam posisi berpelukan memang membuatnya nyaman, apalagi pelukan itu berlangsung hingga pagi ini, seolah ada daya tarik magic yang membuat tubuh mereka menempel, enggan terlepas.
Aluna mengangkat kepala, matanya terhenti di hidung mancung milik Brayen, selama beberapa detik, Aluna menelan ludahnya dengan cepat, matanya ikut berkedip-kedip beberapa kali, bisa merasakan helaan nafas yang keluar dari hidung Brayen, kini menyentuh permukaan wajahnya, begitu sangat damai.
"Bra..." Aluna bergerak kecil, lantas memegang pergelangan tangan Brayen, untuk disingkirkan dari pinggang rampingnya.
"Hm..."
"Udah pagi, anterin gue keluar."
"Kemana lagi sih, di luar habis hujan, dingin."
Brayen masih memejamkan matanya, suara serak menandakan ia benar-benar lelah, kekurangan waktu untuk beristirahat. Aluna menggeser posisi, duduk bersandar di dinding ranjang, memijat lengannya yang terasa sangat pegal.
Semenjak hamil, Ia lebih sering merasa lelah, naik dan turun tangga baginya serasa berjalan puluhan kilo meter, kakinya juga terasa malas untuk dilangkahkan. Efek hamil yang dirasakan sungguh beraneka ragam, mulai dari meminta Brayen memenuhi keinginannya, gampang menangis, malas makan, apalagi sekarang, ia malah menginginkan Brayen untuk menggendongnya, membawanya jalan-jalan keluar.
"Bra, ayo dong. Gue pengen main keluar, gue pengen ke kebun binatang, tiba-tiba gue pengen liat gajah yang mirip banget sama lo."
Mendengar ucapan Aluna, Brayen lantas membuka matanya lebar-lebar, warnanya masih merah karena efek kantuk, Aluna bisa melihat bagaimana besarnya bola mata Brayen yang terbelalak.
"Apa lo bilang, gajah mirip gue?"
Aluna hanya mengangguk polos, menghiraukan perubahan wajah Brayen yang mencuat tidak terima.
"Kalau lo nggak mau nganterin gue, gue bakal nangis kenceng, biar lo di marahin sama mamah Tari."
Aluna mengangkat dagunya angkuh, kemudian bersedekap d**a. Melihat Aluna seperti itu, membuat Brayen kesal, jengkel setengah mati, rasanya ingin sekali Brayen memukulkan kepalanya di dinding kamar, hingga membuat dia hilang ingatan, amnesia, dan melupakan istri seperti Aluna.
"Ck! Kenapa harus sekarang, nanti-nanti aja. Gue masih capek."
"Gue maunya sekarang, ya harus sekarang, nggak mau besok atau pun nanti," kata Aluna kekuh, tidak terbantahkan, permintaannya mutlak, tidak bisa ditawar dengan apa pun.
Brayen menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan malas, mengusap wajahnya yang frustasi. Brayen benar-benar merasa terjepit dalam situasi ini, menemani Aluna jalan-jalan pasti akan membuatnya bosan, apalagi dengan tingkah Aluna yang bisa menyuruh sekenaknya.
Dengan gerakan malas, Brayen berjalan menuju kamar mandi, menutup pintu dengan kencang. Sementara Aluna sudah ber oh-oh ria di dalam hati, akhirnya ia bisa megendalikan Brayen, membalaskan kekesalannya itu.
"Lo nggak bisa seenaknya lagi sama gue, Bra. Lo liat aja, pokoknya lo harus mau menuhi ke inginan gue, termasuk nemenin gue kemana pun gue pergi."
Hati Aluna berkoar-koar menikmati kemenangan. Ia akan memanfaatkan bayi di dalam perutnya.
***
Aluna dan Brayen sama-sama sudah berada di kebun binatang, salah satu tempat yang selalu ramai dikunjungi orang-orang, anak-anak yang bersotak ria, atau suara orang utan yang ikut berisik, menambahkan keramaian di kebun binantang.
Aluna begitu antusias saat melihat gajah besar yang diberi nama Molly itu. Dengan gemas, Aluna memeluk belalai besarnya, lalu berfoto dengan wajah sebahagia mungkin, sudah begitu lama ia tidak mengunjungi tempat ini, mencicipi betapa serunya saat naik ke punggung sang gajah, membuat Aluna berada di ketinggian yang membuatnya serasa terbang. Dulu, saat ia masih SMP, ia sering diajak ketempat ini, menyentuh semua binatang yang ia rasa menggemaskan.
"Bra! Bikinin vidionya ya, tapi pake hape lo. Soalnya batrai gue habis, nanti lo harus kirim ke gue."
Kedua alis tebal Brayen menyatu, lalu akhirnya terpaksa mengangguk setuju. Meski di dalam hati merasa tidak rela menyimpan vidio perempuan itu.
Brayen mengelurkan ponsel dari dalam saku jaketnya, menslide layar dan memencet aplikasi camera, lalu mengabadikan vidio Aluna yang sedang tertawa riang, berjalan kedepan sambil memanggil gajah untuk mengikutinya.
Aluna hanya tertawa, dengan sesekali melihat kebelakang, Brayen belum pernah melihat Aluna tertawa setulus itu, biasanya Aluna hanya memperlihatkan wajah songong dan tengilnya di depan Brayen, membuat pria itu selalu merasa jengkel setengah mati. Bahkan, kadang sempat membuat Brayen merasa sangat marah, rasa sakit hati yang berpadu dengan benci menjadi satu.
"Udah ah, pegel tangan gue." Brayen akhirnya memilih untuk mengakhiri rekaman vidio, baginya masih banyak lagi hal yang penting untuk di kerjakan, daripada harus menemani Aluna untuk tetap berada di sini.
"Mana dong, gue pengen liat."
"Nanti aja, di rumah."
Aluna memorotkan bibirnya ke depan, merasa kesal dengan Brayen yang begitu pelit, wajah Aluna sudah perseis seperti anak kecil yang ngambek dengan orangtuanya saat tidak dibelikan boneka berbie. Aluna masih berdiri di tempatnya, sambil bersedekap d**a dengan wajah angkuh yang menyebalkan.
"Yaudah, kalau gitu lo nganter gue liat buaya. Lo pegang buata itu."
"Lo mau bikin gue jadi santapan buaya itu, gue nggak mau!"
"Kan lo bisa ngomong ke buaya itu, lagian lo juga buaya kan?"
Brayen menggertakkan giginya greget, lalu mengeluarkan nafas dari celah gigir yang rapat, Aluna benar-benar sudah kelewatan.
"Tadi lo bilang gajah mirip gue, sekarang lo samain gue sama buaya, maksud lo apa, sama-samain gue kayak binatang yang ada di sini?!"
Aluna hanya mendelikan matanya, lantas berjalan mendekati Brayen dengan wajah semengesalkan mungkin, wajah angkuh yang membuat Brayen benar-benar bosan melihatnya.
"Jelas! Badan lo gendut, dan kelakuan lo kayak buaya, udah tau punya istri masih aja selingkuh!"
Brayen tertawa jenaka, memberikan senyum miring yang meremehkan.
"Otak lo benar-benar dangkal. Lo nggak bisa bedain mana laki-laki gemuk sama laki-laki berbadan kekar. Berat badan gue ideal, dan jangan anggap gue buaya, kalau pada dasarnya, orang yang berstatuskan istri gue, bukan orang yang sama sekali gue cinta."
"Ya tetap aja, lo jadi laki-laki harus konsisten, punya pendirian, gimana pun, gue udah mau mengandung anak lo!"
"Gue nggak pernah minta buat lo mengandung anak gue."
"Kalau lo nggak pengen, kenapa lo malah lakuin hal itu ke gue?"
Brayen mendekat, lalu membisikan sesuatu di telinga Aluna.
"Karena gue, laki-laki normal!"
Setelah itu, Brayen melangkah pergi, meninggalkan Aluna yang menahan kekesalan di dalam mati. Aluna mengepalkan kedua tangannya, rasanya sangat ingin merobek mulut Brayen, menggunting lidahnya, hingga memasaknya sampai gosong.
Dengan kekesalan yang masih terbendung, Aluna mengikuti Brayen dengan langkah yang kesal, ingin menjonjok kepala pria itu dari belakang, atau menendang pantatnya agar tersungkur di atas tanah, dengan begitu, Aluna akan merasa senang, lalu menertawakan Brayen sepuasnya.
Di tempat yang terbuka itu, Brayen memilih meja nomor 10, sedikit berjauhan dari kebanyakan orang ramai, Brayen tidak suka melihat anak-anak saat mereka makan sesukanya, wajah mereka yang imut berubah menjadi jelek saat makan dengan berantakan, apalagi saat seorang bayi memakan bubur, akan membuat area mukanya menjadi menjijikan.
Aluna menatap Brayen dengan antipati, laki-laki sok ganteng yang kini duduk di hadapan. Kacamata hitam kini sudah menutup mata bening, mata yang selalu membuat Aluna menjadi gugup saat Brayen memberinya tatapan berbeda. Tapi, tetap saja, Aluna tidak bisa mengabaikan wajah tampan itu, dia terlihat sangat mempesona kala diam seperti itu. Jika Aluna juga tidak mengenakan kacamata hitam, mungkin saat ini Brayen akan tau, karena diam-diam Aluna memerhatikan wajahnya.
"Kenapa lo liatin gue?" kata Brayen tiba-tiba. Aluna membuka mulutnya, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Jangan nuduh! Lo juga liatin gue."
Brayen hanya mendelik, lalu tetawa remeh. "Wajah lo sama sekali nggak enak buat dipandang, jadi apa alasan gue harus memerhatikan wajah jelek lo itu?"
"Gue nggak jelek! Lo yang sok kegantengan."
"Berarti gue emang ganteng dong?"
"Kata siapa?"
"Kata lo, lah."
"Kapan?"
"Tadi."
"Hah?" Aluna semakin dibuat bingung, tidak mengerti dengan ucapan Brayen. Laki-laki itu selalu bertele-tele, mengatakan hal yang sangat jauh dari kenyataan. Di depannya, Brayen hanya terkekeh geli, melihat kekesalan yang mencuat di wajah Aluna.
"Apa susahnya sih, lo ngaku aja, nggak usah gengsnan!"
Aluna membuang nafas lewat mulut, berekspresi sejijik mungkin, meski di dalam hati Aluna mengatakan hal yang lain.
"Gue mau minta satu hal sama lo." kata Brayen tiba-tiba.
"Apaan?" tanya Aluna tanpa minat.
"Gue dipaksa sama mamah buat menerima dan mencintai, lo."
Mendengar itu, Aluna nyaris tidak bisa menelan air liurnya sendiri.
"Itu semua nggak mungkin, karena gue cuma cinta sama, Ines." Brayen menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan, di tempat ini, ia bisa mengatakan hal apa pun, tanpa harus dikekang oleh mamahnya.
"Tapi, gue tetap dipaksa, demi calon anak itu. Dan gue bakal coba paksa nerima kehadiran lo. Tapi, dengan satu syarat."
"Apa?"
"Lo harus bisa bikin gue jatuh cinta sama lo, gue kasih lo waktu satu bulan."
"Apa?" kening Aluna berkerut bingung, bagaimana mungkin dalam waktu secepat itu bisa membuat Brayen mencintainya, bahkan ia sendiri masih meragukan perasaannya, "kalau gue nggak berhasil?"
Brayen mendesah resah, "sorry. Kalau dalam satu bulan lo nggak bisa bikin gue jatuh cinta sama lo, gue mohon. Lo pergi sejauh mungkin dari hidup gue, kemana pun yang lo mau, biar orang beranggapan lo juga nggak menginginkan pernikahan ini."
Aluna tertawa ironi, ada sesuatu yang tajam telah menusuk hatinya, hingga membuat jantungnya remuk seketika, kata-kata itu benar-benar memukulnya dengan kesar, di usir secara halus, jauh membuatnya merasa sakit hati. Sementara, yang ada di dalam benaknya, apakah Brayen mau untuk menerimanya? Jika pada dasarnya Brayen memang tidak berniat, waktu 100 tahun pun tidak akan bisa membuatnya jatuh cinta.
Kini, kedua sama-sama diam, dalam suasana ini, Brayen menggunakan kesempatan bicara saat mereka jalan bersama, Brayen tahu, itu tidak akan pernah terjadi, dan sangat yakin, Aluna pasti akan pergi begitu saja, saat tahu kegagalannya.
"Lo sepakat kan?"
Aluna hanya bergeming, tidak bisa memberikan jawaban apa-apa, smuanya terasa sangat kaku, tubuhnya barusan seolah-olah baru saja digigit seekor ular kobra yang berbisa, merasakan tubuhnya mati.
***
Tante Diana sudah menyiapkan batagor permintaan Aluna, ia sudah tau dari besanya, kalau sejak tadi pagi, anaknya itu mengeluh makanan itu, membuat tante Diana sibuk membuatkannya untuk Aluna. Menyibukan diri juga akan membuatnya sedikit melupakan Rio. Tante Diana sangat berharap, calon cucunya nanti berjenis kelamin laki-laki, dengan begitu ia akan bisa merawat seorang jagoan lagi, menganggap cucunya adalah pengganti anaknya yang sudah tiada.
"Mamah bikin apa sih?"
"Batagor,"
"Emang mamah bisa?"
"Bisa lah, mamah kan paling jago masak, mamah yakin Aluna bakal suka banget, karena mamah menuhin permintaan ngidamnya itu."
"Ada-ada saja. Tapi, kok masih belum balik ya, mereka?"
"Ishh papah ini, kayak nggak tau aja. Harusnya seneng dong, mereka mau jalan bersama, itu artinya bakal ada yang saking jatuh cinta, hihi." tante Diana tertawa cekikikan, geli sendiri menyebutnya. Kalau ia diizinkan tinggal di sini, pasti ia akan mengintip bagaimana proses berkembangnya cinta sepasang suami istri itu. Sayangnya Arif tidak mengizinkan, karena tidak mau tidur sendiri, sementara di sini, ada tante Tari yang bisa menjaga Aluna dengan sangat baik.
"Kayak kita ya, mah."
Tante taru menghentikan aktifitasnya saat memotong daging, lalu menatap bengis ke arah suaminya itu.
"Kenapa sih, mah?"
"Mending papah sekarang keluar, jangan ganggu mamah, atau mamah nggak mau pulang."
"Kok gitu sih, mah."
Om Arif memamerkan wajah sedih yang terlalu dibuat-buat, dan itu sangat-sangat membuat tante Diana merasa jengkel. Laki-laki menyebalkan yang sangat dia cintai.
"Yaudah deh, papah keluar. Daripada mamah nggak mau pulang," kata om Arif pada akhirnya, lalu berjalan kelyar dari dalam dapur, istrinya selalu begitu, permintaannya tidak bisa terelakan, saat sibuk, paling tidak suka jika harus diganggu. Sementara tante Diana tertawa pelan, memandang kepergian om Arif dengan raut tidak semangat.
"Maaf, papah sayang."
***
Bersambung