Bab 18. Hari Paling Sial

2218 Kata
***         Aluna baru saja sampai di dalam kelas, ini benar-benar di luar nalarnya, tidak menyangka kalau respons teman-temannya akan sedasyat ini. Apalagi Jesika dan Riana, kedua perempuan itu memeluk Aluna dengan rasa rindu yang teramat, sudah lama tidak berada dalam kelas yang sama, menghabiskan waktu hanya demi obrolan yang tidak penting, atau dengan sengaja bolos, saat harus berhadapan dengan dosen yang tidak disukai. Aluna masih dibungkus rasa haru, selama ini, ia selalu saja membuat semua temannya merasa jengkel, prediksinya benar-benar salah, ia fikir teman-temannya akan bahagia saat ia tidak ada di dalam kelas, tidak melihat gadis sombong yang selalu memamerkan kekayaan-nya, kehidupan yang begitu sempurna, dengan keadaan orangtua yang lengkap dan hidup kaya raya. Mulutnya yang selalu menindas, tapi mereka tidak pernah menyimpan dendam, baginya semua ucapan yang pernah dilontarkan Aluna, hanya angin topan yang lewat, menghancurkan sesaat, tapi bisa diperbaiki kembali. "Sumpah, Al. Gue nggak nyangka, hari ini lo datang dadakan, jadi kelas nggak bakal sepi lagi, kayak kuburan keramat yang ditinggal ratusan tahun, seram," Riana bergedik, lalu kembali tersenyum, cengegesan seperti orang gila. "Jadi, kalian kangen sama gue?" "Iyalah, beda aja rasanya kalau nggak ada lo, Al. Lo udah banyak ketinggalan informasi loh." "Informasi?" "Aduh, lo nggak tau? Dosen muda yang pernah lo taksir itu udah nikah tau, sama dokter Clara. Dan perlakuan Pak Dika sama dokter Clara itu benar-benar romantis banget, bikin semua orang iri ... Dan satu lagi, mereka cocok banget." Kening Aluna mengerut, kemudian memancarkan ekspresi datar, baginya kabar yang dibawakan Riana sama sekali tidak penting, lagi pula, ia juga sudah tidak menyukai dosen yang terpaut usia jauh dengannya itu. Melihat ekspresi Aluna yang biasa saja, membuat mulut Riana mengerucut sebal, Aluna tidak seasik dulu, ia sudah tidak heboh dengan gosib yang seperti itu, Aluna yang ia kenal bukan seperti ini. "Udahlah, Al. Nggak usah dengerin si Riana. Dia emang suka kayak gitu kan dari dulu, perubahan lo udah bagus kok, nggak usah heboh dengan berita nggak penting kayak gitu." Riana menatap sinis ke arah Jesika, dengan wajah ditekuk sedemikan mungkin, entah kenapa Jesika selalu berhasil meluruhkan moodnya yang selalu baik, Riana mencelos, tidak terima dengan perlakuan Jesika yang seperti itu. "Kalau Aluna udah datang, lo selalu perlakuin gue kayak sahabat tiri, sementara Aluna adalah sahabat kandung, orang yang selalu lo belain, lo sanjung, ko sayangain, gue tau kok, gue emang nggak kayak Aluna, gue bolon, makanya lo selalu ngerendahin gue!" kata Riana yang terlalu mendramatisir keadaan, seolah-olah dia adalah pelakon yang mendapatkan peran protagonis, ditindas dengan seenaknya, lalu dibuat semenderita mungkin, hingga mencapai puncak kemarahan yang ditahan, mengeluarkan air mata dalam bentuk kemarahan yang sudah tak terbendung. "Kok kalian malah jadi berantem, sih. Padahal gue ke sini pengen cerita banyak sama kalian, bukan harus disuguhin dengan penampakan yang jelek kayak gini. Kalian selalu saling menjatuhkan, gimana kalau gue nggak ada, gue nggak mau pertemanan kita berakhir gitu aja." "Kok lo ngomong gitu, Al. Gue kan cuma bercanda doang, Riana aja yang baperan." Aluna menghela nafas, memijit kepalanya yang terasa pusing, berdenyut-denyut di dalam. Mencoba bernafas rileks agar tidak jatuh pingsan, karena ia tahu, jika sudah mengalami pusing seperti ini, menandakan dirinya harus beristirahat, ini benar-benar hari sial, awalnya ia merasakan dirinya baik-baik saja, tidak pernah terfikirkan akan merasakan pusing seperti ini. Melihat wajah Aluna yang mendadak memucat, membuat Riana dan Jesika menjadi cemas, takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. "Al, muka lo kok pucet banget. Lo sakit?" "Gue nggak apa-apa, kepala gue cuma pusing aja." "Sori, ya. Kita nggak bermaksud bikin lo pusing kok, mending sekarang lo istirahat di UKS aja ya. Kita anterin lo." Aluna hanya menganggukkan kepalanya sebagai respons, ia benar-benar butuh berbaring untuk menormalkan kembali keadaan tubuhnya yang tidak fit, beruntung dosen yang mengar di jam itu tidak bisa hadir, karena harus mengadakan rapat untuk sidang yang akan dilakukan beberapa minggu lagi. Aluna hanya bisa berjalan pelan, berada ditengah-tengah Riana dan Jesika, tubuhnya benar-benar menjadi lemas, mungkin efek semalaman ia tidak bisa tidur dengan tenang, selalu ada momok yang mengganjal di otaknya, membuatnya tidak bisa beristirahat dengan nyenyak, apalagi Brayen yang pulang tengah malam, lalu tidur semaunya, tanpa menanyakan keadaan Aluna setelah ia pergi. Sampai di UKS, Aluna dibaringkan di atas brangkar, beruntung tidak ditambah rasa mual, jika hal itu terjadi, mungkin Aluna akan benar-benar jatuh pingsan, hingga akhirnya harus dibawa pulang, lalu menghadapi kemarahan yang akan dilontarkan mertuanya. Di sana, Riana dan Jesika setia menemani Aluna, merasa semakin khawatir dengan kondisi Aluna. Sejak kehamilannya itu, ia jadi sering jatuh sakit. "Al, lo sabar ya. Mungkin sebentar lagi dokter Clara bakal dateng. Jadi, dia bisa periksain kondisi lo." "Gue nggak apa-apa, Jes. Mungkin karena tadi malam gue nggak tidur, jadinya sekarang gue pusing." "Kenapa lo nggak tidur?" tanya Riana bingung, "kan ada cogan di samping lo." Aluna haya bergeming, tidak merespons apa-apa, ia perlu bercerita dengan kedua temannya, agar bebanan-nya bisa dirasa sedikit berkurang, pelan-pelan Aluna mendogakan tubuhnya, berusaha untuk mencapai posisi duduk, mengenyampingkan rasa pusing di kepalanya. "Gue benar-benar bingung." "Bingung kenapa?" Aluna mengheka nafas berat, menelan air liur yang mendadak menjadi benda padat, hingga menyulitkan tenggorokannya. "Brayen ngasih gue waktu satu bulan, supaya gue bisa bikin dia jatuh cinta sama gue, kalau gue nggak berhasil, dia minta gue buat pergi sejauh mungkin." Mendengar pernyataan Aluna, tak pelak membuat kedua bola mata Jesika maupun Riana terbelalak kaget, membulat besar. Keduanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Apa?" Aluna hanya bergeming. "b*****t! Laki-laki kurang ajar. Dia udah ngehamilin lo, dan sekarang dia berani-beraninya ngajuin persyaratan kayak gitu?" tanya Jesika tidak habis fikir, ia merasa tidak terima Aluna diperlakukan seperti itu, bagaimana pun ia juga seorang perempuan, bisa merasakan bagaimana jika harus menjadi Aluna. Harus terpaksa menerima perjodohannya dengan Brayen, lalu harus mengandung anak laki-laki itu, dan akhirnya harus pergi karena kegagalan yang tidak masuk akal. "Terus lo mau?" Aluna hanya mengangkat bahunya tidak tahu, ia sendiri benar-benar masih dibuat bingung, harus membuat Brayen jatuh cinta padanya, sementara dirinya masih begitu samar dengan perasaan yang kelabu, telah mencintai pria itu, atau hanya sekedar suka karena bawaan bayi yang ada di dalam perutnya. *** Brayen benar-benar mengumpat di dalam hati, dosen itu telah berani mengancamnya, mengatakan tidak akan membuatnya lulus saat persidangan nanti. Padahal, Brayen hanya melakukan kesalahan kecil, melamun sejenak saat dosen itu memberikan materinya, tapi laki-laki itu malah seenaknya mengusir agar ia segera keluar dari dalam kelas, menurutnya mahasiswa yang sengaja melamun saat ia memberikan materi, berarti ia memandang remeh kehadirannya. Kejadian sial terus saja menimpa Brayen, saat ia harus terpaksa keluar, seseorang dengan sengaja memajukan kakinya, membuat Brayen terjerembab di atas ubin yang keras, mendapatkan tawaan tak senonoh dari penghuni kelas, Brayen benar-benar merasa sangat malu dan jengkel setengah mati. Karena sedikit mengalami cidera di keningnya, Brayen terpaksa harus mampir ke UKS, mengobati benjolan yang deperti telur puyuh yang menempel di keningnya, sesuatu yang hanya akan mengurangi kadar ketampanannya. Saat sampai di depan pintu UKS, langkah Brayen terhenti, saat seseorang di dalam sana sedang menyebut namanya, Brayen tahu, pemilik suara itu memang Aluna, dan sudah pasti, mereka akan bergosib dan menjelekan namanya. "Brayen tengil!" Riana greget sendiri mendengar cerita Aluna. "Dia lebih nyebelin dari yang lo bayangin. Dia berlaku seolah-olah gue paling butuh dia, kesannya gue yang harus kejar-kejar dia." "Kalau dia ada di sini, gue pastiin, gue bakal..." "Bakal apa?" penggal Brayen cepat, ia langsung masuk ke dalam, berdiri di samping Riana yang sok menantang. Riana menelan air liurnya sendiri, Brayen mendadak muncul di permukaan, melebihi kesopanan jelangkung, yang hanya datang saat di undang, disambut dengan pesta kecil-kecilan. "Bakal tinju muka lo!" "Berani? Silahkan!" dengan bodohnya, Brayen memajukan wajahnya, agar mendekat ke arah Riana, kebutulan emosinya sudah lengkap sampai finish, karena kekesalannya pada Jesika, lalu kesal dengan laki-laki seperti Brayen, dengan satu kali pukulan terbaik, Riana melayangkan tinju dangan tukang tangannya, mendarat mukus di permukaan pipi Brayen, membuat pria itu meringkuk kesakitan, meringis karena menahan pukulan kejam dari Riana. Brayen benar-benar tidak menyangka, kalau kekuatan tangan Riana setara dengan kekuatan pereman di pasar yang memiliki otat-otot besar. Jesika dan Aluna yang menyaksikan dengan mata telanjang, saling meringis, memandang Brayen yang menahan sakit. Lantas, Riana malah tertawa bahagia, puas bisa menojok laki-laki b******k seperti Brayen. "Lo gila?" "Lo sendiri yang ngeremenih gue. Lo jangan sepelein perempuan, kalau dia udah marah, ngerinya melebihi macan yang sedang mengamuk. Untung lo baru bisa nikmatin pukulan gue, lain kali gue bakal putusin leher lo pakai pisau silet!" Brayen hanya menghiraukan omong kosong Riana, ia sibuk mengusap pipi yang masih berdenyut, menimbulkan bekas biru di sana, sekarang dua luka memar sudah tercetak di wajahnya, dibagian keding dan pipi, menambahkan roman babak belur yang luar biasa. *** Aluna mengobati luka memar Brayen, membuat Brayen meringis kesakitan saat Aluna dengan sengaja menekan kuat-kuat luka Brayen dengan obat merah. Entah karena kesal atau memang tidak ihklas, yang jelas Aluna sadar, ia melakukan ini atas dasar keterpaksaan, jika Brayen mau berlaku lembut, mungkin ia sepuluh kali lipat akan jauh lebih baik, melakukan Brayen bagaikan suami yang paling beruntung, Aluna harus bisa membuang jauh-jauh perasaan aneh itu, agar kelak ia bisa bersikap biasa saja jika terjadi perceraian. "Sakit! Lo mau bunuh gue?" "Ngga usah lebay. Gue ngobatin lo, bukan bunuh!" "Tapi lo nyiksa muka gue!" "Bukan gue siksa, tapi gue rawat!" "Maksud lo, ngerawat muka ganteng gue kan? Biar lo enak lama-lama liat muka gue." Aluna membuka mulutnya, lalu tertawa jenaka. Laki-laki itu terlalu percaya diri. "Terserah lo deh." "Nanti lo pulang pakai taxi aja, gue harus pergi sama temen gue." "Siapa juga yang mau barengan sama lo. Mending gue pulang diantar tukang becak sekalian, dari pada harus satu mobil sama lo." Mendengar rancauan Aluna, Brayen memiringkan bibirnya, seolah mengejek Aluna dengan telak. "Berarti lo juga nolak satu ranjang sama gue?" Brayen menatap Aluna tak terbaca, wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti, nafas meraka saling berhembusan, menyapa permukaan wajah keduanya. Aluna sudah yakin dengan keputusannya, saran dari kedua sahabatnya akan ia lakukan, Jesika yang sudah mencium bubu cinta dari roman Aluna, meminta Aluna untuk tetap bersikap biasa, jika ia merasakan rindu dengan Brayen, harus menepisnya jauh-jauh, pergi jalan-jalan ke Mall dan kembali menghabiskan uang seperti dulu, dengan begitu, ia tidak akan lagi merasakan perasaan aneh jika harus berdekatan dengan Brayen. "Jelas." "Oke, lo tidur di sofa." "Nggak masalah, asalkan gue nggak tidur di tempat yang sama, sama lo." "Tidur di dalam kamar yang sama, itu masih tempat yang sama, ruangan yang sama, bego juga lo ternyata." Aluna merasa kesal dengan ucapan Brayen, ia berdiri lalu kembali menoyor kepala Brayen kuat-kuat, kebiasaan yang selalu ia lakukan jiga sudah terlampau kesal. Kemudian, ia pergi begitu saja, dengan kekesalan yang masih belum mereda. Memandang kepergian Aluna, Brayen tertawa cekikikan, perempuan seperti Aluna memang lucu untuk menjadi permainannya. *** Brayen baru saja keluar dari UKS, tiba-tiba saja di hadang seorang lelaki bertubuh kekar, seperti sengaja mencari keributan dengan Brayen. Anak baru yang tidak pernah Brayen ketahui itu selalu mencari masalah, apalagi perbuatannya tadi di dalam kelas, telah berhasil membuat Brayen begitu malu. "Mau lo apa? Gue punya masalah apa sama lo?" Laki-laki itu hanya tertawa jenaka, memandang wajah Brayen yang terlihat kebingungan. Bagaikan orang bodoh yang sedang tersesat di jalanan. "Lo benar-benar nggak merasa punya masalah sama, gue?" "Sakit jiwa lo." Brayen terlalu malas untuk meladeni pria itu, memilih menyingkirkan tubuhnya, hingga terdorong ke samping. "Pembunuh kayak lo, pantasnya di penjara!" Mendengar pernyataan pria itu, langkah Brayen terhenti, ia mengerutkan kening dalam. "Maksud lo?" "Nggak usah pura-pura bego, Brayen. Kita tunggu aja tanggal mainnya, gue pastiin di saat yang udah tepat, lo bakal kehilangan segala yang lo punya." Kemudian pria itu berlalu begitu saja, meninggalkan Brayen yang masih dibuat bingung, dituduh sebagai pembunuh, membuat Brayen benar-benar tidak habis fikir, nyawa siapa yang telah ia hilangkan? Brayen mengangkat bahunya acuh, melirik jam tangan miliknya, sebentar lagi ia harus kebandara, menjemput temannya yang telah 2 bulan ini pergi. Setelah sampai di parkiran, Brayen langsung masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin kendaraan, lalu pergi meninggalkan perkarangan kampus, jam kuliahnya telah habis, akan banyak waktu untuknya pergi menenangkan pikiran. *** "Loh, Al. Kamu kok nggak pulang sama Brayen, mana Brayen?" tanya tante Tari bingung, kemudian menatap  Jesika dan Riana secara bergantian, tante Tari sudah bisa memprediksi, jika Aluna sudah datang bersama temannya, pasti mereka akan pergi berfoya-foya. Dan jelas, itu tidak akan pernah terjadi. "Brayen pergi sama temennya." "Anak itu benar-benar tidak bisa dibiarin!" "Lagian aku kan juga dianterin temen aku, mah. Aku malas sama Brayen, dia nyebelin." "Terus sekarang kalian mau kemana? Mamah nggak bakal ijinin kamu pergi!" "Aku nggak kemana-mana, mamah. Mereka cuman nganterin aku." kata Aluna kesal, ia paling tidak suka dituduh-tuduh, apalagi ada orang yang tidak menyukai kehadiran temannya. "Kita boleh masuk nggak nih, tan?" "Oh, iya silahkan. Tapi inget, kalian nggak boleh bawa Aluna keluar dari rumah ini, atau tante nggak akan biarin kalian masuk lagi ke rumah ini." tante Tari kembali memperingati, Jesika dan Riana hanya mengangguk paham, setelah itu, tante Tari berlalu, masih banyak pekerjaan di dapur yang harus di kerjakan. "Sumpah, Al. Mertua sama suami lo sama sifatnya, sama-sama ngeselin, kok lo bisa tahan sih?" tanya Jesika setengah berbisik, ia memicingkan matanya ngeri. "Tapi, mertua gue lebih ngebelain gue dibandingin si Brayen. Jadi, yaa gue terpaksa harus nurut aja apa kata dia." "Kalau gue jadi lo, gue udah kabur kali Al." "Gue nggak punya pilihan lain." kata Aluna pada akhirnya. Jesika dan Riana hanya mendesah, tidak bisa membayangkan bagaimana jika meraka harus berada di posisi Aluna. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN