***
B rayen baru tiba di bandara, celingak-cekinguk mencari seseorang. Tidak lama setelah itu, orang yang baru saja tiba, berjalan perlahan menuju pintu keluar. Pria itu melangkah sambil menyeret koper di pindah, ikut tersenyum saat bertemu dengan, Brayen.
"Hallow my bro," sapa Brayen dengan penuh persahabatan, saling beradu salam, sangat sangat akrab.
"Apa kabar."
"Baik, lo sendiri gimana? Udah dapet cewek?"
Miko berdecak, kemudian terkekeh pelan. Baru saja bertemu, sudah ditoyor dengan pertanyaan seperti itu.
"Mentang-mentang lo udah nikah, jadi lo berjuang ngeledekin gue?"
"Kayak lo nggak tau aja, gimana gue bisa sampai nikah."
"Terus gimana hubungan lo sama, Ines?"
Mendengar pertanyaan Miko, Brayen mendesah. Berhubungan dengan perempuan itu memang tidak akan pernah bisa bersatu, Brayen telah melakukan cara apapun agar bisa kembali dengan Ines, tetapi pada akhirnya Brayen harus memikul nestapa, menerima kenyataan bahwa gadis itu telah menerima lelaki lain.
"Gue sama dia udah berakhir, dan sekarang dia udah nggak tinggal di sini lagi."
"Dia pindah?"
"Ke Sukabumi," jawab Brayen simpel.
Miko hanya mengangguk kepala sebagai respons, ia sangat terkejut dengan kabar pernikahan Brayen, membantah ia sangat yakin, Brayen dan Ines akan bersatu selamanya, pasangan yang saling menghargai, harus berkorban dan rela bebas karena diundang oranglain. Miko sangat paham betul bagaimana dengan sikap Brayen, mengingat di mulut ia selalu membantah, di dalam hati ia tetap menyetujui apa pun yang ingin kedua orangtuanya, hingga rela dapat membantah kebahagiaan dan masa yang diharapkan.
"Selama dua bulan ini, apa yang betah hidup sama dia?"
"Gimana gue bisa betah, lo tau sendiri gimana sombongnya perempuan itu. Apalagi sekarang dia lagi hamil, dan sikapnya makin bikin gue jengkel."
Kening Miko mengerut, sempat terkejut dengan menyetujui yang dilontarkan, Brayen.
"Dia hamil? Lo bisa lakuin hal itu?"
"Wajar lah, gue laki-laki normal, siapa yang bisa tahan dengan kepuasan kayak gitu?"
Mendengar pengakuan Brayen, Miko hanya tertawa, laki-laki memang sulit untuk menahan hasratnya, setelah tiba di parkiran, mereka langsung masuk ke dalam mobil, mengantar Miko ke Rumah.
Di dalam mobil mereka kembali berbincang, seperti obrolan laki-laki normal lainnya, bagaimana saat Miko sempat menjalin hubungan dengan beberapa gadis. Tapi, hanya berlangsung beberapa hari, mereka memutuskan hubungan dengan Miko, laki-laki yang tidak bisa membuat pasangan bahagia, Miko sendiri juga tidak selesai fikir, padahal senang sekali tampan, tidak perlu wanita yang mau dipertanyakan.
"Cewek-cewek di sini juga banyak."
"Tipe gue sebenernya cewek yang benar-benar polos. Masih asli, otaknya nggak pernah tercemar, dan perempuan polos seperti itu, benar-benar belum pernah gue temuin."
Brayen terkekeh, "lo cari aja di kampung, pasti banyak."
"Masalahnya, kebayakan sekarang perempuan di kampung itu lebih parah dari pada perempuan di kota. Berusaha ikut-ikutan tren gaya anak kota, jadi kesannya norak. Gue nggak suka."
"Pantas lo jomblo, pilihan lo terlalu banyak."
"Sial!"
Brayen kembali tertawa. Begitupun dengan Miko, masing-masing sama-sama memiliki tipe masing-masing, disukai dengan cara pandang yang berbeda.
***
Pukul 08:00 malam, Brayen baru saja sampai di rumah. Ia bisa melihat bagaimana mamahnya duduk di atas sofa dan memandangnya tidak suka, perempuan itu benar-benar kesal dengan anaknya, sejak tadi pagi ia sudah memperingati, agar Brayen dan Aluna tetap bersama, tidak boleh terpisah.
Melihat mamahnya seperti itu, Brayen mendelikan matanya malas, siap menerima kemurkaan yang akan segera mencuat dari mulut tante Tari.
"Dari mana, kamu."
"Dari rumah teman."
Kedua alis tante Tari terangkat, lalu bangkit dan berjalan mendekati anaknya itu, ia benar-benar sudah tidak habis fikir, bagaimana harus menghadapi sifat Brayen yang tidak pernah mau berubah.
"Mamah nggak tau harus ngomong gimana lagi sama kamu! Besok pagi mamah harus balik, karena papahmu lagi sakit, dengan sikap kamu yang kayak gini, mamah nggak yakin, bisa ninggalin kalian berdua di rumah ini, bisa-bisa Aluna kelayapan kalau kamu juga kelayapan, bisa nggak sih Brayen, sekali aja kamu penuhi permintaan mamah?"
"Aku udah penuhin apapun permintaan mamah, tapi mamah nggak pernah sadar akan hal itu, mamah minta aku menikah dengan Aluna, aku udah terima, sampai aku rela korbanin perasaan aku sendiri."
Mata tante Tari memandang Brayen berapi-api, emosinya sudah mencuat kepermukaan, anak itu tidak pernah sopan dan menghargainya sebagai seorang ibu, sejak dulu tante Tari selalu memenuhi apapun ke inginannya, termasuk membelikannya barang-barang mewah yang tidak ada gunanya.
"Kamu bilang mengorbankan perasaan kamu? Kamu lihat saja, gimana nanti kalau anak kamu sudah lahir, pasti kamu pengen anak kamu ikut apapun kemauan kamu, yang menurut kamu paling baik. Sekarang, lakuin apapun yang kamu mau, mulai detik ini, apapun yang terjadi, jangan pernah minta bantuan, mamah. Jangan libatkan mamah."
"Aku bukan anak kecil, dan aku bisa selesaikan masalah aku sendiri! Aku nggak butuh bantuan mamah."
Kata-kata Brayen begitu menohok d**a tante Tari, menimbulkan rasa nyeri yang teramat, anak kandungnya sendiri selalu berhasil melukai hatinya, sudah bersusah payah mengandung dan melahirkannya, membesarkanya dengan penuh kasih sayang, hingga tumbuh menjadi dewasa lalu berubah menjadi pribadi yang pembangkang, tante Tari sendiri tidak pernah tahu bagaimana watak anaknya sendiri, ia merasa gagal mendidik Brayen menjadi laki-laki baik.
Karena terlalu kecewa dan marah, tante Tari memilih meninggalkan Brayen yang masih menyimpan emosi.
Jika Brayen memang tidak akan pernah membutuhkan-nya lagi, ia akan memenuhi perkataan yang sudah dilontarkan Brayen, akan menarik diri jika anaknya berada dalam masalah, perkataan Brayen sudah berisikan racun yang mematikan tubuhnya, membuat tenggorokan tante Tari perih, rasanya ingin sekali ia menebas tenggorokannya sendiri.
Brayen sendiri tetap bersikap acuh, memilih pergi ke dapur, mencari sesuatu makanan untuk mengisi perutnya yang kosong. Tapi, saat ia sampai di dapur, tidak ada satu pun makanan yang ia temui, membuat Brayen berdecak sial, jika tau seperti ini, sudah sejak tadi ia memilih makan di luar.
"Mie instan."
Ya, Brayen akan memasak mi Instan. Karena hanya itu yang bisa ia masak, Brayen mengambil persediaan mi yang masih disimpan di dalam lemari, meski tidak membuat perut kenyang, setidaknya itu bisa menjanggal perutnya yang kosong, memberi asupan makanan sementara pada cacing-cacing di dalam perutnya.
Aluna yang sejak tadi mencium bau masakan, berinisiatif untuk turun ke bawah, hidungnya sudah di hipnotis bau harum yang menyengat itu, membuat kembali dikuasai rasa lapar, tidak perduli, meskipun tadi sudah menghabiskan makanan yang ada, sebab masakan mertuanya membuatnya menjadi rakus seketika. Semenjak mengandung, melewati proses malas makan, kini berubah menjadi suka makan, apapun makanan yang menurutnya enak, akan habis masuk ke dalam perutnya.
Pelan-pelan Aluna masuk ke dalam dapur, di sana ia bisa melihat Brayen yang baru saja selesai memasak mie instan, menaruhnya di atas meja, lalu menyeka keringat yang membanjiri pelipisnya, pria itu benar-benar sudah tidak sabar ingin menyantap makanan yang ada.
"Bra, buat gue ya?"
Brayen yang hendak duduk langsung terjenti, matanya kini tertuju ke arah Aluna.
"Buat lo?" kening Brayen berkerut dalam.
"Iya, gue lapar, dan gue mau itu."
"Nggak bisa, gue juga lapar," tolak Brayen mentah-mentah, ia menarik piring di atas meja, membawanya menjauh dari Aluna. Seolah-olah itu adalah benda yang benar-benar harus diselamatkan.
"Tapi yang lapar bukan cuman gue, anak lo juga. Dia pengen makan masakan papahnya."
"Alasan lo udah basi."
"Gue nggak mau tau, pokoknya gue lapar, Bra."
"Bagi dua deh!"
"Gue nggak mau berbagi, pokoknya semuanya buat gue!"
Brayen berdecak kesal, benar-benar merasa dongkol setengah mati. Gadis itu terlalu serakah, padahal ia sudah mau berbaik hati, ingin berbagi makanan.
Tanpa persetujuan Brayen, Aluna berhasil mengambil alih piring yang ada di tangan Brayen, kemudian dengan wajah penuh kemenangan, Aluna menguasai mi yang seharusnya menjadi makanan untuk suaminya itu.
"Kok nggak ada telornya?"
"Emang nggak ada, nggak suka? Yaudah sini!"
"Kata siapa? Sekarang lo masakin telor ceplok buat gue, pokoknya harus benar-benar matang, biar rasanya ada krispi-krispinya."
Brayen melongo, mendadak sudah seperti pembantu. Aluna benar-benar berlaku seenaknya, setelah merampas makanannya, kini menyuruhnya untuk kembali menggorengkan telur?
"Bra. Buruan, gue lapar. Lo mau anak lo nangis karena kelaparan?"
Brayen benar-benar tidak punya pilihan lain, ia terpaksa harus memenuhi permintaan Aluna.
Di dalam hati Aluna ber yes-yes, merasa senang saat Brayen mau memasak untuknya, mungkin bayinya juga ikut merasa senang, bisa merasakan bagaimana masakan dari tangan papahnya sendiri.
Hampir lima menit, Brayen memberikan telur yang sudah ia masak, dan ini saatnya, Aluna menyantapnya dengan penuh nafsu, seperti orang yang benar-benar kelaparan. Sementara di hadapannya, Brayen hanya bisa melihat Aluna makan dengan lahap, persedian mi hanya tinggal 2, dan Brayen sengaja memasaknya dua-duanya, dengan maksud bisa membuatnya lebih kenyang.
Melihat Brayen yang seperti menahan lapar, membuat Aluna menjadi tidak tega, ia tahu Brayen memang benar-benar sedang kelaparan.
"Lo mau?"
"Makan di piring yang sama? Dengan sendok yang sama?" tanya Brayen tak percaya.
"Yaudah kalau lo nggak mau."
"Gue mau!" Brayen menarik tangan Aluna dengan telak, hingga sendok itu kini berada dalam mulutnya, menghantarkan sesuatu yang nikmat untuk di telan.
Malam itu, tercipta suasana yang berbeda, menikmati makan berdua, di tempat yang sama. Tak pelak, keduanya sempat tertawa meski sesekali di bungkusi pertengkaran kecil yang jenaka. Mungkin, tanpa Aluna sadari, ia benar-benar sudah jatuh cinta dengan suaminya sendiri, bukan karena bawaan bayi seperti sedang mengidam.
"Lo terlalu rakus, gue masih lapar."
"Gue makan ini berdua sama anak lo. Jadi, wajar kalau gue dapat jatah yang lebih banyak."
"Mana bisa dia makan."
"Bisa lah, lo aja yang nggak ngerti, bayi itu bisa makan karena dapat nutrisi lewat ibunya, jadi gue ya harus makan banyak, biar dia juga sehat dan gendut."
"Kalau lo tau, harusnya lo kasih dia makanan yang bergizi, bukan mi."
"Jadi lo perhatian sama gue dan bayi ini?"
"Biasa aja, gue cuma ngasih tau, nggak usah ge'er." kata Brayen jutek, Aluna hanya memorotkan bibir kesal.
***
Aluna masih belum bisa tidur dengan nyenyak, rasanya benar-benar ingin kembali tertidur di dalam pelukan Brayen, seperti malam-malam kemarin, ia sudah terlanjur ketergantungan, tidak bisa menolak keinginan yang sekarang sudah terasa pengap di dalam d**a. Sudah berusaha mengikuti saran Jesika dan Riana, agar tetap bersikap biasa dengan Brayen. Tapi, pada akhirnya ia sendiri yang merasa kalah, tidak bisa membuang jauh-jauh keinginan yang selalu terbesit di otaknya. Aluna menggeser posisinya, agar lebih mendekat dengan Brayen, ia sudah tidak perduli lagi dengan harga dirinya, lagi pula, Brayen sudah memberinya persyaratan, agar mampu membuat Brayen jatuh cinta dalam satu bulan, waktunya tinggal 27 hari lagi, jadi sebelum terlambat, Aluna rela meletakkan harga dirinya setara dengan kakinya, agar mampu memiliki Brayen dan hidup seperti suami istri normal lainnya.
"Bra, peluk dong."
Brayen tidak bergeming, Aluna bisa mendengar dengkuran halus yang mulai membuat bantal terasa bergetar, Aluna cekikikan sendiri seperti orang gila, ekspresi tidurnya begitu menggelikan, mulutnya setengah terbuka, tapi sedikit pun tidak mengurangi kadar ketampanannya.
Pelan-pelan Aluna menarik tangan Brayen, meletakkan tangan itu di permukaan perutnya. Menggerakan tangan itu untuk mengelus perutnya dengan pelan.
"Nah, kesampaian, aku pengen kamu pegang perut aku, dan sekarang udah aku rasain, pasti bebynya senenng." kata Aluna konyol.
Aluna benar-benar sudah gila, seperti gadis yang sedang memaksakan cinta, mengejar laki-laki yang belum tentu ditakdirkan untuknya. Setelah itu, Aluna melingkarkan tangan Brayen di tubuhnya, agar bisa merasakan dipeluk hangat seperti kemarin. Ia sudah tidak perduli, bagaimana reaksi yang akan terjadi besok pagi, Aluna seperti ini karena ulah Brayen, karena bayi yang juga ia kandung.
"Hangat ya dek, lebih hangat dari selimutnya mamah. Tenang, kita bakal tidur nyenyak sampai besok pagi. Karena papahmu, udah mau peluk mamah." Aluna menurunkan kepalanya, melirik perutnya untuk berbicara dengan janin yang ada di sana.
Sebenarnya Brayen sudah terbangun saat Aluna menarik tangannya untuk memeluk tubuh itu. Tapi, ia tetap memilih berpura-pura tidur, seolah-olah benar-benar tidak tahu. Jika memang itu benar-benar kemauan anaknya, Brayen tidak pantas untuk menolak, ia hanya bisa memenuhi ia secara diam-diam, tanpa harus diketahui Aluna.
***
Pagi-pagi sekali, Brayen sudah bangun lebih dulu, meninggalkan Aluna yang masih tertidur di balik selimut. Sudah hampir tiga kali membangunkan perempuan itu, tapi nyatanya Aluna tetap memilih untuk tidur. --Dasar, perempuan malas--
'Gue udah coba buat bangunin lo, tapi lo kayak kerbau yang lagi tidur, habis makan rumput satu karung, jadi susah dibangunin. Gue berangkat ke kampus, lo nggak usah datang, istirahat di rumah.'
Brayen sengaja mengirim pesan via w******p. Hingga ponsel Aluna berdering nyaring, membuat Aluna kaget, hampir jantungan.
Ia membuka layar ponselnya dengan malas, lalu membaca pesan Brayen dengan kedua mata terbelalak, pria itu menyamakannya dengan seekor kerbau?
"Dasar, gajah!"
Aluna menggeram kesal, waktunya tinggal 20 menit lagi, tidak mungkun harus mandi dan mencari taxi. Itu akan menghabiskan sisa waktu yang ada.
"Oh iya, Arsya kan rumahnya di sekitar sini. Lagian dia juga sering kok sengaja datang lebih telat. Gue yakin, dia pasti masih di rumah."
Tebak Aluna sangat yakin, Aluna mencoba mengubungi nomor telfon Arsya, hanya beberapa detik, pria itu sudah menjawab panggilannya.
'Arsya, lo dimana?'
'Lagi di jalan, kenapa?'
'Kebetulan, gue nebeng ya. Gue ditinggal sama, Brayen.'
Arsya mendesah, padahal ia sudah cukup jauh dari rumah Aluna. Tapi, itu tidak akan jadi masalah, dengan senang hati ia akan kembali.
"Oke, tunggu ya."
"Oke."
Aluna mengangguk, langsung memutuskan sambungan telfon. Tidak perlu mandi, hanya mencuci muka dan mengganti baju, lalu menyemprotkan parfum keseluruh yang menempel, menimbulkan bau yang menyengat, Aluna sampau beberapa kali, untuk pertama kali menggunakan baju parfum, jangan sampai kedoknya terbuang, tidak muncul mandi pagi.
***
Bersambung