***
Satu minggu sudah berlalu, kini saatnya Aluna kembali ke kampus. Bertemu teman-teman yang sangat dirindukun, banyak yang ingin diceritakan, bagaimana hidup dengan suami yang sama sekali tidak ia inginkan.
Jesika dan Riana yang sudah mendengar kabar sahabatnya akan masuk kampus, begitu antusias, tidak sabar menanyakan bagaimana pernikahannya bersama Brayen, mereka benar-benar penasaran, kalau orang bilang, namanya --kepo--,
"Astaga, Al. Sumpah, ya. Gue waktu denger kabar lo nikah dadakan sama si Brayen kaget banget. Atau, jangan-jangan lo sama dia gituan ya, makanya dipaksa nikah?"
Mendengar kesimpulan yang terlontar dari mulut Riana, membuat Aluna kesal, matanya membelalak, seolah ingin keluar dari tempatnya, lalu menggelinding di atas lantai. Riana selalu tidak bisa mengontrol ucapannya, apa yang ada di dalam otaknya, bisa lepas lewat mulutnya, bahkan pertanyaan yang harusnya tidak perlu dijawab, terlalu sering dilontarkan, terkadang, Aluna heran, kenapa gadis seperti Riana bisa lulus dari SMA.
"Sembarangan lo kalau ngomong, lo pikir gue cewek apaan?"
Riana hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya, laku menggaruk kepala yang tak gatal.
"Terus, gimana? Lo nggak disiksa sama si cowok tengik itu kan? Dia perlakuin lo manis nggak? Dia nggak macem-macem, kan?" pertanyyan kepo mulai Jesika lontarkan, takut sahabatnya disiksa Brayen, bagaimana pun, Brayen juga musuhnya.
"Boro-boro. Gue disiksa sama dia, gue disuruh cuciin baju dia, masakin dia, bersihin rumah dan masih banyak lagi."
"Terus, lo mau aja?"
"Yaa gue terpaksa, kalau gue nggak mau. Dia bakal..." ucapan Aluna menggantung, membuat kedua alis berkerut dalam, terhenti mendadak.
"Bakal apa? Dia apain lo?" Jesika terus mendesak Aluna, tidak akan membiarkan Brayen berlaku seenaknya. Bagaimana pun Aluna sahabatnya, orang yang harus dibela. Riana hanya menganut-nganut.
"Oh iya, lo sama si Brayen udah gitu belum." tanya Riana polos, spontan Aluna terbatuk, mendengar pertanyaan yang mengejutkan telinga.
"Gu--gue.." Aluna mengigit bibir bawahnya, malu bercampur marah jika mengingat malam itu. Sekarang, Brayen pasti sudah bersenang-senang, menceritakan kejadian malam kemenangannya, sekarang ia benar-benar sudah kalah.
"Kenapa, Al. Jagan-jangan, apa yang dibilang sama Riana bener?"
Terdebgar helaan nafas berat dari mulut Aluna, "gue nggak tau, dia perkosa gue."
"Apa?" Riana dan Jesika berteriak serempak, lalu menutup mulut.
"Ihs, apaan sih kalian."
"Aduh, kok bisa gitu sih Al. Terus kenapa lo mau?"
"Gue nggak tau, gue aja ngga sadar, pas pagi-pagi--" malas melanjutkan ucapannya, Tapi kedua sahabaynya mampu merespon pengakuan Aluna.
"Jadi, lo udah lakuin malam per---" Aluna dengan cepat membekap mulut Riana, kalau sampai orang-orang mendengarnya, reputasi terbaik akan hilang darinya, semakin kecil menapatkan perhatia dari laki-laki idaman di kampus.
"Mulut lo dikontrol dong!"
"Astaga, Al. Kok lo bisa seceroboh itu sih."
"Ya, gue juga nggak tau. Gue nggak ingat apa-apa, Jesika. Makanya, gue takut kalau gue sampe hamil..." kata Aluna setengah berbisik. Takut pembicaraannya didengar manusia kepo.
Jesika dan Riana bergedik ngeri, "emang lo mau bunting?"
"Nggak lah! Enak aja. Gue bakal gugurin ank itu."
"Eh, jangan, Al. Buat gue aja, pasti beby nya ganteng, gue yakin anak lo pasti cowok, meski sombong gitu, tapi si Brayen ganteng beneran loh."
Jesika dan Aluna menatap Riana dengan seksama, membuat Riana kikuk, lalu tertawa dengan kesan terpaksa, "heheh, sori. Gue becanda, ampun-ampun." Riana menutup mulutnya, takut mukut itu tidak bisa berhenti bergerak.
***
Brayen menggepalkan tangannya kuat, buku-buku di tanganya memutih, melihat pemandangan di depannya seperti neraka. Padahal, baru satu minggu yang lalu perempuan itu memutuskan hubungan, sekarang, tampak kembali dengan seorang pemuda, genggaman tangan itu saling bertautan, memandang sendu dengan hati yang menggebu. Emosinya mencuat ke permukaan, hingga memancarkan warna merah di wajahnya, mengetatkan rahangnyaa kuat.
"Jadi, ini alasannya kenapa kamu mutusin aku?" lirih Brayen, sangat lirih, bahkan nyaris tidak terdengar telinga, d**a kekarnya sudah naik-turun, hidungnya kembang-kempis, melihat pemandangan itu, hati Brayen mencelos sakit. Padahal, perempuan itu bukan siapa-siapanya lagi, sejak mengakhiri hubungan, Brayen tidak bisa melupakannya. Dan sekarang, perempuan itu justru mengecewakannya.
Brayen bisa melihat jelas, bagaimana pria itu memainkan hidung, Ines. Pemilik hidung itu pun seolah sedang dengan perilaku Rio, gelak tawa tampak jelas mengiringi langkah keduanya.
"Kamu kertelaluan, Nes. Kamu berhungan dengan Rio, kakak iparku sendiri!" Brayen menggeleng, laku berjalan menuju parkiran, masuk kesalam mobil fortuner miliknya, menginjak gas dengan kuat, hingga mobil itu meleset jauh dari perkarangan kampus, hampir saja menabrak seorang pedagang kaki lima, tapi, ia tidak perduli, tetap mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, mengabaikan sumpah serapah dari pengemudi lain.
Bayangan Ines, selalu muncul di benaknya, hatinya terasa sakit, seperti ditusuk pisau runcing yang tajam.
***
Malam itu, sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Aluna baru saja sampai, masuk ke dalam kamar, ingin segera mandi, setelah puas berbelanja di salah satu mall terbesar, membeli pakai-pakaian yang tidak penting. Kening Brayen mengerut dalam, Aluna berbelanja sebanyak itu, padahal, ia tau, papahnya sudah berhenti memberinya uang, karena sekarang kebutuhan Aluna adalah tanggung jawabnya. Mendadak curiga.
"Uang dari mana lo bisa belanja banyak kayak gini?"
Ikut menjinjing kemasan yang diletakkan di atas ranjang. Mengintip belanjaan yang dibeli istrinya, sedikit bergedik, semuanya sama, hanya baju-baju yang tidak penting.
"Gue ngambil kartu kredit lo." jawab Aluna santai, dengan wajah tanpa dosa.
"Apa? Terus gimana lo bisa tau pin gue!"
"Gue tanya bokap lo lah. Lagian, lo harus sering kasih gue uang. Ya lo harus tanggung jawab dong, gara-gara nikah sama lo, gue nggak dikasih uang lagi sama bokap gue. Jadi, yaa lo harus iklas." kata Aluna sambil mencoba-coba baju yang dipilih, memutar-mutar badannya, sangat senang. Mengabaikan sorotan tak sedap dari mata Brayen.
Brayen mengusap wajahnya, "berapa uang gue yang lo pake!"
"Sedikit kok, cuma 20 juta 500 ribu."
Brayen bebar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, 20 juta lebih, habis hanya untuk membeli hal-hal yang tidak penting, padahal dengan uang sebanyak itu, ia bisa puas menraktir semua teman-temannya. Tapi, perempuan itu menghamburkan uangnya hanya untuk baju-baju seksi yang tidak membuat perut kenyang.
"20 juta lebih, lo bilang cuma?" Brayen mengacungkan dua jarinya, lalu menggeleng, "gila ya lo. Lo mau habisin uang gue, lo mikir dong, gue itu masih kerja sambilan di kantor bokap gue! Susah payah gue kumpulin uang, lo habisin dalam hitungan jam! Astagaaa."
Aluna mendegus kesal, lalu menatap Brayen tajam, melihat wajah pria itu yang sudah mengerut stres.
"Bodo amat, gue nggak mau tau. Lo harus bisa penuhin kebutuhan gue. Udah yah, mending sekarang lo beresin belanjaan gue, gue mau mandi, gue gerah capek, mau tidur!"
Aluna berlalu dari hadapan Brayen, mendadak pria itu menjadi patung, berdiri di tempatnya dengan mulut kaku, kepalanya pusing, jika tiap hari Aluna menghambur-hamburkan uangnya, sepersen pun uang tidak akan tersisa.
"Ngelunjak! Nggak bisa di biarin tuh bocah!"
Terlalu kesal, Brayen ngeloyor masuk ke dalam kamar mandi, harus membuat perhitungan dengan Aluna. Aluna sempat kaget, dan nyaris berteriak.
"Gue masih nggak terima, lo buang-buang uang gue dengan hal yang nggak penting!"
"Terus sekarang lo maunya apa? Lo mau pakai baju itu ya silahkan nggak masalah, pake aja kalau ko nggak punya malu."
Brayen semakin dibuat greget sendiri, rasanya ingin memites Aluna seperti kutu rambut yang menjijikan.
"Gue perhatiin sekarang lo berani mancing emosi gue." Brayen semakin mendekat, hingga tubuh Aluna terhalang tembok, dengan cepat, Brayen mengunci tubuh Aluna di kedua sisi tubuh, memandang Aluna dengan tatapan tak terbaca.
"Lo harus bayar uang gue yang lo habisin."
"Ma--Maksud lo?"
"Setelah malam itu, udah cukup gue harus puasa, nahan hasrat gue, gue pengen seperti malam itu lagi!"
Suara bisikan Brayen mampu membuat mata Aluna melotot, berusaha terlihat tenang, agar Brayen tidak menganggapnya lemah.
"Gue nggak mau."
"Gue bisa paksa lo!"
"Lo jangan macem-macem sama gue. Lo itu cowok b******k yang nggak punya otak" Aluna kembali memperingati Brayen, lalu memaki, memasang wajah sok berani. Padahal, Brayen sangat tayhu, Aluna sangat ketakutan, dan Brayen sangat puas.
"Lo udah bikin gue kehilangan pacar gue, sekarang, lo harus ikutin apa pun kemauan gue!"
Rasa marah tadi siang kembali mencuat, wajah Brayen berumah menjadi monster yang menakutkan, mencengkram lengan Aluna dengan kuat, membuat gadis itu meringis menahan sakit.
"Brayen, sakit, lepasin gue."
"Nggak akan, gue berusaha membuang emosi gue, tapi lo datang buat memanci g emosi gue, sekarang, tinggal pilih, kembalikan uang gue atau..." Brayen mengantungkan ucapannya, memandang sekujur tubuh Aluna, Brayen terawa remes, seperti orang gila, mabuk hilang kesadaran.
"Brayen, lo jagan macam-macam."
Tangan Brayen sudah terkepal, siap melayangkan pulukulan di pipi mulus Aluna, gadis itu terkejut, langsung menutup mata takut. Tapi, tangan itu hanya menggantung di udara, Brayen tidak jadi menampar Aluna, ia menghembuskan nafas berat, lalu pergi meninggalkan Aluna.
Mengalami kejadian barusan, masih membuat Aluna kaget, tatapan Brayen yang awalnya b*******h, berubah menjadi tatapan tajam yang membunuh, matanya berkaca-kaca, hampir saja ia mendapat tamparan yang kelas.
Aluna dengan cepat keluar kamar, mengambil ponselnya, sudah tidak tahan denga kejadian ya g dialami barusan.
"Papah..." panggil Aluna, suara ya berat, hampir menangis, cepat-cepat ingin mengadu, Brayen membulatkan kedua matanya, bisa menyimpulkan Aluna akan mengadu.
Telak, Brayen mengambil ponsel Aluna, memutuskan sambungan dengan cepat. Tidak membiarkan Aluna mengadu.
"Ngapain lo nelfon bokap lo!"
"Kenapa, gue cuma mau pulang. Gue nggak mau disini, lo sadar, tadi lo hampir tampar gue!" air matanya mendadak lolos tanla disadari, Brayen hanya memperlihatkan ekspresi datar.
"Jelas, gue marah. Lo udah kelewatan." suara Brayen melamban, "lo udah pancing emosi gue."
Aluna masih diam, enggan menatap Brayen.
"Mending lo tidur, sebelum gue makin emosi!" Brayen berlalu, tanpa memberikan ponsel milik Aluna. Ingin menenangkan diri, tanpa harus menyakiti orang lain. Situasi hatinya terlalu panas, malam itu, mereka tidur terpisah, Brayen di luar, sementara Aluna bisa tidur dengan aman di dalam kamar.
Banyak yang melintas di pikiran Aluna, rasanya benar-benar tidak bisa hidup dengan Brayen sangat ingin berpisah.
Di luar Brayen juga tidak bisa tertidur, merasa bersalah, hampir saja menyakiti seorang perempuan, besok, ia harus melakukan sesuatu, membuang jauh-jauh rasa gengsi untuk mendapatkan maaf.
***
bersambung