Bab 6. Dia, Memesona

1819 Kata
***          Pagi itu, Brayen sengaja berniat untuk tidak masuk kampus, ia akan memaksa Aluna untuk bersamanya hari ini. Kejadian tadi malam, harus diperbaiki, tidak ingin menjadi laki-laki pecundang yang tidak memahami kesalahan. Pelan-pelan, Brayen masuk ke kamar, melihat Aluna yang masih tertidur pulas di atas ranjang, kebiasannya memang seperti itu, tidak bisa bangun pagi tanpa diganggu, pernah Aluna tidur hingga jam 12 siang, tidak terusik dengan suara apa pun, bahkan saat Brayen melakukan hal-hal di luar dugaan, saat ia tertidur, persis bagaimana mahkluk yang pingsan. "Heh, bangun lo." Brayen menarik selimut Aluna dengan kuat, memperlihatkan tubuh mulus yang dibalut piyama tidur. Aluna bergerak kecil, lalu mendegus. "Ngapain lagi sih, gue masih ngantuk." "Udah jam delapan pagi, bangun lo, untung lo bukan gadis perawan." Mata Aluna mendelik, menatap Brayen kesal, "itu juga gara-gara lo, yang udah memper--" ucapan Aluna terhenti, saat Brayen meletakkan jari telunjuknya di bibir tipis Aluna, Aluna membuang muka. "Jangan banyak bicara jika tidak inginku cium." "Nggak usah sok baku lo kalau ngomong." Brayen menatap Aluna dalam, memberikan senyum maut yang sangat memesona, mendadak jantung Aluna bertentam keras, tiba-tiba menjadi kikuk, gerakan jarum jam seolah ikut melamban, menghipnotis waktu hingga menimbulkan hawa berbeda, --ada apa ini?--, --Dia, Aluna, meneguk salivanya, senyuman pria itu menusuk hatinya, seolah memasang kemat yang ampuh, sehingga membuat dirinya terpana pesona--. "Kenapa lo jadi gemeteran gitu? Jangan-jangan lo suka ya, sama gue?" tebak Brayen dengan PD-nya, lalu memasang wajah masam-sama, tersenyum tidak jelas, semakin membuat jantung Aluna cenat-cenut. "Nggak usah ngeliat gue kayak gitu." Aluna memicingkan matanya, enggan menatap wajah tampan itu, astaga, ralat, dia bukan pria tampan, tapi pria yang sangat jelek. Aluna begitu munafik. "Kenapa, lo takut jatuh hati?" "Lo kenapa sih, lagi berusaha ngegoda gue? Nggak mempan." "Oke, baiklah. Berhubung gue malas masak kampus, gue minta lo temanin gue seharian di rumah ini." "Whats? Lo suruh gue bolos?" Brayen hanya mengangguk pasti, "dan lo, harus siap, dengan segala tugas yang gue kasih." Aluna turun dari ranjang, mehentakkan kakinya kesal, lalu melipat kedua tangan di atas d**a. "Lo mau menyiksa gue lagi, gue baru sembuh, lo mau gue jatuh sakit lagi, lo suruh gue ini itu segala macam, lo benar-benar nggak ada otaknya ya, lo kira gue pocong apa yang kerjanya loncat-loncat tapi nggak capek, badan gue itu ringkih, semua pekerjaan yang gue lakuin itu nggak sebanding dengan badan gue, gue itu ibarat semut yang imut, lu suruh dorong gunung yang gede, pikir dong, mana bisa, mustahil." Byaren menggaruk kepalanya, mendengarkan tancauan Aluna yang sudah seperti pidato kepala sekolah yang begitu panjang saat upacara, Brayen menggerak-gerakan bibirnya, mengejek Aluna secara serta-merta. Kalau bukan karena merasa bersalah, ia sendiri juga enggan mendengarkan kalimat gila yang dilontatkan mulut istrinya itu. "Setau gue, kambing berisik kalau nggak dikasih rumput, ini kok ada ya kambing bagun tidur berisik 7 hari 7 malam 7 jam 7 menit 7 detik." Merasa tersinggung, Aluna mewalan, "kerana gue bukan kambing, kambing itu nggak pernah mandi, sementara gue mandi 10 kali sehari." "Oh ya? Ketek lo aja bau terasi gitu, lo bohong ya?" tuding Brayen konyol. "Kok lo hafal banget bau ketek gue? Atau lo suka, jangan-jangan secara diam-diam lo suka nyium ketek gue? Astaga Brayen, gue nggak nyangka." Aluna meperlihatkan ekspresi yang sangat terkejut, menangkup d**a dengan kedua tangannya. Merasa terpojok, Brayen berdecak, sial. "Mulut lo itu emang lebih panas dari kompur gas ya, mending sekarang gini. Sebagai ganti uang gue yang lo habisin, gue mau lo bikinin gue kue yang enak sekarang, rasa coklat campur pisang keju, pokoknya lo banyakin kejunya. Lo nggak mau kan gue minta bayaran dengal hal yang nggak lo duga-duga." "Gue nggak bisa bikin kue!" tolak Aluna terang-teranga. "Oh gitu, yaudah." Brayen memeluk Aluna kuat-kuat, membuat gadis itu tidak bisa bergerak, hingga susah bernafas. "Bra---yen... Ngghh, le--pa--sin gu--e. Pelukan lo, kayaa li--litan ular pi---ton, dan gu--gue cumaaa se--helai rum--put yang--lemah..." kata Aluna terengah-egah, kandungan oksigen di paru-parunya kian menipis, pelukan kencang Brayen benar-benar seperti ular yang mematikan, membuat mangsanya melumer lemas, hingga tergeletak tak berdaya. "Bikini sekarang, atau lo cobain sensasi pagi ini, pasti beda dari yang terjadi malam itu, sebab, sekarang lo dalam keadaan sadar." bisik Brayen tepat di telinga Aluna, setiap waktu Brayen selalu mengancam dengan hal yang sama, membuat Aluna bosan mendengarnya, laki-laki memang selalu mementingkan nafsunya. Brayen menyeret Aluna hingga ke atas ranjang, memeluknya kebih erat, membuat tubuh ringkih Aluna menimbutkan bunyi --krek-- "Tu--tulang gue re--muk Bra, lepasin, gu--guee." "Huhh, oke." nafas Brayen memburu, memeluk Aluna sehabis tenanganya, memang melelahkan, gadis itu merenggangkan ototnya yang terasa ngilu, sangat sakit. "Cepatan, Aluna, harus gue panggil lo dengan sebutan 'sayang'?" "Nggak usah, gue nggak sudi." "Lo pikir gue juga sudi? Nggak bakal. Cepat!" "Awas lo, gue campurin rancun di adonan kue itu. Biar lu mampus!" "Oh silahkan, polisi dengan senang hati bakal nangkep lo. Jaman udah canggih, mbing. Polisi bakal dengan mudah ngelacak kasus itu. Dan lo bakal di penjara, puluhan tahun, dan keluarnya udah jadi nenek-nenek. Udah janda, nenek-nenek tua, kriputan, mana da kakek-kakek yang mau." Brayen tertawa sesuka hatinya, Aluna benar-benar sudah merasa kesal, ingin sekali menonjok bibir Brayen, merontokkan seluruh giginya, tapi ia merasa tidak tega, justru sangat ingin mengelus pipi mulusnya, ini benar-benar aneh. Perasaan gila telah mengirim virus jahat, seperti roh jin yang masuk ke dalam tubuh manusia, memerlukan pengobatan Ruqiyah, agar bisa terbebas. *** Hari sudah menunjukan pukul 10 pagi, Aluna baru saja selesai memasak kue yang di minta Brayen terkutuk, mencium aroma kue yang begitu wangi, sebenarnya Aluna bisa memasak apapun, tapi sangat malas untuk mempersembahkan untuk Brayen, pria itu terlalu beruntung jika harus menikmati  yang dibuatnya. "Nah, ini kan enak. Sekarang, lo bawa ke kamar, suapin ke gue sambil pijitin gue." Aluna hanya bisa mengertakkan giginya, menautkannya kuat-kuat, sangan geram, sementara itu, Brayen sudah ber oh-oh ria di dalam hati, sungguh senang. Lewat pertengan lucu yabg menyebalkan itu, Brayen bisa membuat Aluna lupa dengan kejadian semalam, jadi, ia sudah merasa cukup aman, tanpa harus berhadapan dengan papah mertua yang begitu menyeramkan. "Alunaaaaaa, buruan. Lelet amat sih lo." "Huhh, sabar, Al. Sabar, ini semua agar lo selamat dari terkaman harimau ganas itu." Aluna memaksa bibirnya untuk tersenyum, memandang Brayen dengan sangat-sangat suka, padahal nyatanya ingin sekali menjengut rambutnya hingga lepas dari kepala, atau bahkan memotong lehernya, hingga menyamai hantu jeruk purut yang memperlihatkan tubuh dan kepala yang terpisah. "Gue sumpahin lo sakit perut, karena gue nggak iklas bikin ini." "Oh gitu, gue sumpahin balik lo, semoga kulit lo gatal-gatal karena pake baju yang lo beli dari uang gue!" Aluna melotot, sumpah laki-laki itu mengancam fisiknya. "Apa, lo sumpahin gue?" "Sekarang, lo cabut sumpah lo, atau lepas baju ini sekarang, gue nggak bakal iklasin lo pakai baju yang dibeli pake uang gue!" Brayen menatik paksa baju yang terpasang di tubuh Aluna, membuat gadis itu menjauh, tindakannya benar-benar sudah melampaui batas. "Gue nggak mau!" Aluna menjauh, berniat kabur, tapi nyatanya, sial, Aluna menabrak kaki Brayen yang sengaja dimajukan, kerena terlampau kuat, Brayen ikut terjatuh, hingga menindih tubuh Aluna yang tergeletak di atas lantai. Kedua pasang mata itu saling beradu pandang, menatap dalam satu sama lain, hingga jantung Aluna kembali berdetak kuat. "Astaga, gawat kalau dia denger jantung gue..." kata Akuna di dalam hati, wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak dua senti. Brayen memajukan wajahnya, berniat untuk mencium wajah mulus Aluna, dia laki-laki yang sangat normal, wajar tergoda dengan gadis seperti Aluna, apalagi, Brayen tipe laki-laki yang tidak bisa menahan hasrat, saat Brayen benar-benat ingin mencium pipi Aluna, pintu terbuka, menampilkan sosok tante Diana dan om Arif. "Mamah..." telak, Aluna mendorong tubuh Brayen dengan kuat, lalu meneggakan tubuhnya. Terjerambab kaget, dengan kehadiran orangtuanya. "Upss.. Mamah sama papah ganggu, maaf, nggak ngetuk pintu." kata tante Diana cangung, lalu menutup pintu kembali. Ekor mata Aluna kini mengarah pada Brayen, masih terkejut dengan kejadian tadi, jika kedua orangtuanya tidak datang, pasti sudah terjadi hal yang tidak-tidak, terlebih ia tidak bisa menolak perlakuan Brayen. "Kenapa lo liat gue kayak gitu?" Aluna hanya menghentakkan kakinya greget, lalu pergi, menyusul papah dan mamah. "Mamah, papah, tunggu.." Aluna setengah berlari, menyusul papah dan mamahnya yang masih berada di anak tangga, "mah, pah, jangan salah paham ya, aku sama Brayen nggak ngapa-ngapain kok, serius beneran." Mendengar pengakuan konyol Aluna, membuat Tante Diana dan juga Om Arif tertawa, lagian semuanya hal yang wajar, mereka bebas melakukan apapun yang mereka inginkan. "Loh, kenapa kamu malah minta maaf, Al. Malahan mamah yang nggak enak, karena mamah sama papah datangnya nggak tepat." terdengar kekehan ringan di mulut tante Diana, Om Arif kembali berjalan, lalu duduk di sofa menyandarkan punggungnya. "Kalau kita punya cucu, rumah sebasar ini pasti rame ya, mah. Apalagi denger si kecilnya nangis, papah bener-bener nggak sabar gendong cucu, kita bakal sering datang ke sini." "Papah, Aluna belum pingin." Aluna duduk di samping Om Arif, "nanti pasti Aluna nggak bisa main lagi sama temen-temen." "Anak papah yang paling paliiiing papah sayang, denger ya, kamu itu sekarang udah jadi seorang istri, kamu harusnya di rumah, ngurus rumah, ngurus suami kamu, apalagi sebentar lagi kamu diwisuda, inget, jangan biasa foya-foya dan pergi ngeluyur nggak jelas." Aluna hanya memorotkan bibirnya, papahnya tidak mengerti perasaannya. "Ini kan salah papah sama mamah, siapa suruh paksa aku nikah sama dia, apalagi gara-gara pernikahan itu, aku ngga bisa nikmatin masa muda aku." Kening Om Arif mengerut, anaknya masih belum mengerti tujuannya. "Papah menikahkan kamu dengan Byaren itu biar kamu nggak salah pilih suami, buat apa habisin waktu muda dengan hal-hal yang nggak penting, ingat umur kamu sudah 21 tahun, belajarlah berfikir dengan logis, sayang. Dewasa lah pemikuranmu." Om Arif menyentuh pundak putrinya, "percayalah, Ayah itu adalah seorang pria yang tidak ingin anaknya terluka, mendapatkan pasangan yang tidak baik. Patah hati terbesar seorang anak perempuan memang kehilangan ayahnya, tapi, kiamatnya dunia seorang ayah adalah melihat putrinya berada di tangan laki-laki yang tidak bertanggung jawab." "Terus, papah fikir laki-laki yang menikahi aku, pria yang bertanggung jawab?" "Jelas, papah sangat yakin. Kita sudah mengenal keuarganya sejak dulu, dan papah sangat tau bibit, bebet, dan bobotnya. Aluna hanya mendelik, bayangan Brayen yang digambarkan papahnya, begitu sempurna, namun pada dasarnya, Brayen tidak sedikit pun memberinya kebahagiaan. "Benar kata papah kamu, Al. Tolong, mengertilah dengan kasih sayang kami. Kamu bisa beranggapan Brayen bukan laki-laki yang baik karena kamu nggak pernah mau berdamai dengannya, cobalah, buang kelakuan anak-anak kamu." "Suatu saat kalian pasti bakal nyesel, udah paksa aku nikah sama dia." "Aluna, jaga bicara, kamu." "Sudah, sudah pah. Tujuan kita ke sini kan bukan buat marahin Aluna, tapi buat melepas kangen, gimana kabar kamu?" "Nggak baik, di sini aku dijadiin kayak pembantu, disuruh nyuci, masak, beresin rumah, dan masih banya lagi, sementara Brayen cuma bisa nyuruh-nyuruh." Brayen langsung membantah, turun dari tangga dan berjalan cepat. "Loh, mah, aku nggak salah dong, itu kan emang tugas istri kan, mah." Mendengar Brayen, tante Diana mengangguk sangat setuju. "Itu emang tugas kamu, Sayang ." Merasa tersingkirkan, bagaikan anak tiri, Aluna hanya diam, menyimpan seribu kekesalan pada Brayen, laki-laki itu terlalu pintar untuk bersandiwara. Brayen tersenyum, penuh kemenangan, Aluna tidak alan pernah bisa mengalahkannya. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN