Rere mulai menata kembali hidupnya. Dengan senyum samar ia membayangkan bagaimana reaksi Leon saat membaca surat balasannya. Semoga saja, meski sedikit, ia bisa membantu memberikan semangat untuk Leon kembali menata hidup. Tidak ada yang ia harapkan, selain kebahagiaan laki-laki itu. Di manapun, dengan siapapun, semoga Tuhan memang sudah mempersiapkan kebahagiaan untuk laki-laki itu. Rere sedang merapikan studio lukisnya yang sempat ia abaikan saat seseorang memanggilnya. Itu suara ibunya. "Re! Ditunggu Mahesa di depan." Ah iya, Rere hampir saja melupakan keberadaan laki-laki itu. Jika dia ingin bergerak maju, maka ia harus membereskan segala keruwetan yang masih tertinggal. Termasuk hubunganya dengan Mahesa. Senyum lembut Mahesa lah yang menyambut saat ia tiba di teras. Namun sayang,

