"Kenapa kamu masih menemuinya?" Tidak ada jawaban. Laki-laki yang mengenakan tudung jaket hitamnya itu hanya menunduk. "Apa yang saya lakukan waktu itu belum cukup untuk membuat kamu mundur? Kamu anggap ancaman saya hanya main-main?" Mata sipit itu memejam, masih enggan mengangkat kepalanya, bahkan ia masih belum ingin bersuara. Apalagi bayangan saat Rere dengan sengaja diserempet sebuah mobil pun masih jelas dibenaknya. Tentu saja ia tahu betul apa yang terjadi, karena saat motor Rere menabrak pagar pembatas waktu itu, ia ada di sana. Di dalam mobil yang hampir saja menabrak gadis itu. Dan yang membuatnya membenci dirinya sendiri adalah, ia tidak bisa melakukan apapun. Hanya bisa menatap Rere yang akhirnya dibopong oleh Mahesa. "Saya beri kesempatan satu kali lagi! Jika kamu masih te

