"Saya terima ...." Rere menutup telinganya yang terus mendengungkan kalimat itu. Matanya terpejam erat, berusaha menghapus bayangan Mahesa yang tengah menjabat tangan ayahnya dan ada penghulu di sana. Senyuman manis Renata, makin memperparah koyakan hati yang kini ia rasakan. Rere ingin menangis, namun air matanya tak sanggup keluar. Bahkan saat Adrian mengantarkannya pulang malam tadi, ia tak bersuara sedikitpun. Rere hanya mematung, turun dari mobil pemuda itu tanpa mengatakan apapun. Selanjutnya ia hanya mengunci pintu hingga pagi menjelang. "Re! Udah bangun sayang? Kata Ian kamu sakit?" Suara mamanya terdengar cemas. Ini sudah kesekian kalinya wanita itu mengetuk pintu kamar anak gadisnya yang belum juga keluar dari malam tadi. "Rere!" "Rere nggak papa, Ma!" teriaknya dari balik

