44. Kesedihan Baru

1617 Kata

Sisca yang kebingungan masih terus mencari. Dia turun dari lantai ke lantai. Mencari di mana kedua anak itu berada. Melewati lorong-lorong sepi dengan balutan warna putih di sana-sini. Bangku-bangku ruang tunggu pun kosong dan tak ada siapa pun duduk di sana. Dia terus berlarian. Membuka ruangan yang mungkin saja dimasuki oleh keduanya. Tai, tetap tidak ada. Sayangnya, dia masih juga belum bisa menemukannya. “Ada yang bisa saya bantu? Kau sedang mencari anakmu, ya?” Suara seorang perempuan mengagetkannya. Dia menoleh dengan perlahan ke arah sumber suara. Ada seorang perempuan cantik yang sedang berdiri tepat di belakangnya. Dia tersenyum, mengenakan kaos putih longgar dan juga celana jeans ketat berwarna biru dongker. Senyumnya terlihat ramah, tapi ada bagian sudut bibirnya yang tinggi s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN