22. Ruangan Rahasia

1884 Kata
Hito, Roy, dan juga James sibuk menata beberapa barang untuk menutupi pintu. Mereka harus segera melakukannya dengan cepat. Agar makhluk-makhluk itu tidak bisa masuk ke dalam gedung. Wajah-wajah lelah itu tampak kehausan. James pun mengajak mereka segera masuk lebih dalam. Dia membuka kulkas, mengambil dua botol air mineral dan melemparkannya ke arah dua prajurit tersebut. “Minumlah, kita harus bertenaga untuk melawan mereka. Jangan sampai kalian kehausan!” ucapnya. Dia pun meminum sebuah botol airr mineral dalam sekali minum. Kemudian meremas botolnya dengan sangat kuat. Bunyi yang dihasilkan dari gerakannya itu membuat kedua prajurit itu menoleh dan merasa siaga. “Tenang, hanya sebuah botol.” Ucapnya dengan tawa di akhir ucapannya. “Lalu, bagaimana mungkin hal itu terjadi? Mobil-mobil ini, siapa yang merawatnya?” tanya Roy padanya. Dia benar-benar merasa penasaran. Apakah benar ada orang yang rela menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk merawat hal itu? “Tidak perlu memusingkannya, ada beberapa orang datang secara berkala dengan menggunakan helikopter. Ya, sama sepertiku. Tapi, mreka pada akhirnya mati karena diserang makhluk itu. Mungkin, mereka sudah tidak menemukan orang yang bisa dibujuk dengan uang. Karenanya, mereka mengirim tim kalian!” ucap James. Dia tersenyum tipis di akhir kalimat yang dia ucapkan. Dia tak lebih bodoh dari kedua prajurit itu. Setidaknya, dia memang sudah mendapatkan sedikit uang yang dikirimkan sebagai uang muka ke rekeningnya. Sementara para prajurit itu, hanya mendapatkan pengharagaan untuk dikenang jika mereka mati. “Jadi, selama ini ....” Roy tidak melanjutkan kalimatnya. Dia benar-benar tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Mengorbankan banyak nyawa hanya untuk mengurus harta benda mereka. “Ya, mereka mengirim beberapa orang dalam beberapa bulan. Mengurus kendaraan saja. aset itu, tak ada yang mengetahuinya. Dan si pemilik rumah tak sebodoh itu untuk mengangkutnya secara langsung.” James menimpalinya. Dia terus melangkah, kedua prajurit itu pun terus mengikuti langkahnya. Semakin masuk ke dalam rumah. Kemudian mereka berhenti tepat di depan sebuah lukisan besar yang hampir memenuhi dinding. Sebuah lukisan yang menyajikan sebuah jam dengan ukuran sangat besar. Itu adalah mahakarya dari seorang seniman internasional. Harganya mencapai juataan dollar. Tak akan ada yang tahu dan menebak. Di balik lukisan itu tersembunyi sebuah jalan rahasia. Jalan menuju sebuah tempat penyimpanan barang kuno dan bersejarah. “Wah, jadi ini yang namanya time is monney?” ucap Hito tanpa sadar. Dia terkagum-kagum dengan lukisan yang dilihat oleh kedua netranya. Dia menelisik. Melihat setiap mili lukisan itu dengan sasama. Kekagumannya semakin meningkat. Saat dia menyadari ada yang tidak biasa di lukisan itu. Ada huruf-huruf kecil yang tersamarkan di sana. Huruf-huruf itu membentuk sebuah kalimat tertentu. Tapi, terlalu sulit untuk dia membacanya. Itu bukan dari bahasa negara mereka. “Sudah cukup memandanginya. Kita akan masuk sekarang!”ucap james. Dia menggeser sedikit lukisan itu. Ada sebuah tuas di bawahnya. Sangat kecil dan hampir mirip sebuah kesalahan bangunan akibat adonan semen dan pasir yang tidak rata. James memencetnya. Kemudian, terdengar pergerakan secara harmonis di sana. Suara yan ditimbulkan dari pergerakan itu ppun cukup nyaman didengar. Seolah itu sebuah lagu musik klasik yang indah. Lukisan itu mulai bergerak ke atas. Ketiga mengikuti arah geraknya. Roy dan Hito semakin terkagum-kagum dengan suasana di sana. Bagaimana seseorang bisa memikirkan hal sedetail itu? Langit-langit tempat mereka melihat itu bergeser beberapa centi. Memberikan ruang pada lukisan untuk bisa masuk ke dalam selanya. Lukisan itu dengan perlahan semakin naik dan naik. Kemudian saat dia telah masuk dengan sempurna ke arah langit-langit ruangan. bagian bawah dari lukisan itu terlihat benar-benar mirip dengan warna di langit-langit. Sempurna, tanpa cela ddan kekurangan seidkit pun. “Ayo masuk!” ucap James. Dia menuntun mereka untuk semakin masuk ke dalam lorong di balik lukisan itu. Selanjutnya, dia kembali memencet tuas kecil. “Ini, akan membuat dinding ini tidak terlihat dari luar. Ayo masuk!” kedua prajurit itu bahkan tidak mampu berkata-kata. Dia bisa melihat pergerakan seperti sebelumnya. Kini, ruangan yang mereka tempati tertutup dengan sebuah pintu yang bergeser. “Ayo!” James bahkan mengulangi kalimatnya. Karena kedua prajurit itu masih melongo, melihat ke arah luar ruangan. Setelah tertutup dengan sempurna. Lampu-lampu di dinding yang berbentuk obor itu menyala dengan sangat terang. Memberikan mereka penerangan untuk berjalan di dalam lorong yang gelap tersebut. langkah mereka terdengar menggema di dalam sana. Dengan langkah pelan dan pasti. Mereka akhirnya sampai di ujung lorongnya. Sebuah pintu besi dengan nomor-nomor tertempel di pintunya. “Ini adalah brankas rahasia, si pemilik tak langsung memberikan sandinya. Aku harus berpikir keras untuk membukanya hanya dengan sebuah petunjuk. Ah, tak penting membahas hal itu sekarang. Bahkan, di dalam sana masih ada sebuah brankas yang menyimpan benda lain. Dan itu membutuhkan scan retina dari sang pemilik. Hanya dia yang bisa membukanya.” James menjelaskan hal yang pernah dia alami. Kemudian dia memutar angka-angka itu. Memencet beberapa, kemudian pintu-pintu itu pun terbuka. Setelah suara gear yang bergerak itu berhenti. Ruangan itu cukup besar. Tapi, terlihat kosong. Barang-barang yang ada di sana telah diambil oleh para petinggi. “Mereka terlalu serakah. Tapi, aku telah menyimpan beberapa benda yang bisa aku bawa sendiri.” James mengeluarkan sebuah benda dari bawah lantai. Lantai itu terbuka saat dia menginjaknya. “Berlian? Bagaimana mungkin?” ucap Hito. Terlalu banyak kejutan yang dia dapatkan di sana. Begitu juga dengan Roy, dia terus menerus menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Merasa dia tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dia lihat di dalam rumah ini. “Tapi, untuk brankas ini ... aku tidak bisa menebak sandinya. Terlalu rumit, bahkan alat yang aku bawa pun tidak mampu mengirakan sandinya. Bahkan, setelah menekan begitu banyak sandi, jika tidak segera mengscan retina. Semuanya akan kembali dari awal. Aku sudah mencobanya.” James menjelaskan pengalamannya pada keduanya. “Lalu, kenapa tak kau coba dengan retina matamu?” tanya Roy. Mengernyit, melihat ke arah James dengan penuh tanya. “Aku tidak akan melakukan itu. Kalian pun jangan! Rekanku yang ahli sandi brankas mengatakan benda ini dirancang dengan sempurna. Jika ada retina orang lain yang terdeteksi. Akan ada sebuah jarum panjang yang keluar hanya dalam hitungan sepersekian detik. Kau tidak akan bisa menghindarinya. Jarum panjang dan runcing itu akan menembus matamu hingga ke belakang tengkorak kepalamu!” ungkap James. Dia sendiri bahkan bergidik ngeri setelah menjelaskan hal itu pada keduanya. Roy bahkan merasa mual karena dia membayangkan hal itu terjadi di dalam pikirannya. “Orang macam apa pemilik gedung ini?” tanya Hito pada Roy. Dia melipat kedua tangan di depan d**a. Tapi, rekannya itu hanya menggeleng dan tidak menjawab apa pun. “Lihatlah!” kali ini James memencet sebuah tombol lagi. Dan kemudian dinding brankas itu terlihat berubah warna. Dari gelap kemudian perlahan-lahan berubah menjadi jernih. Hal itu adalah ilusi optik tingkat tinggi yang pernah ada. Setelah perubahan itu selesai. Mereka bisa melihat ada banyak benda pra sejarah di dalam sana. Itu seperti sebuah dinding kaca di dalam sebuah musem. “Ini kaca, kenapa tidak memecahkannya saja?” Roy bersuara. “Kau benar-benar seorang prajurit atau bukan? Ini terbuat dari kaca anti peluru, tidak akan pecah dalam kondisi apa  pun! Itu hanya akan membentuk bekas. Tapi, tidak akan pernah rusak!” jawab James. Dia memanddang remeh ke arahnya. Roy mencebik dan membuang muka. “Nilai semua barang itu bahkan mencapai milyaran dollar. Sekaya apa pemilik gedung ini?” ucap Hito. “Ah, aku hampir terlupa dengan tujuanku. Kita harus bergegas keluar dari sini. Kita harus menjemput rekan-rekanku yang lain. Kami membutuhkan banyak kendaraan untuk bisa melakukan perjalan aman dari para makhluk itu.” Hito menjelaskan posisinya. James menggaruk kepalanya yang tidak gatal. mereka akhirnya tersadar, tujuan mereka datang ke sana. “Jadi, masih banyak lagi di luar sana anggota kalian?” tanya dia dengan nada serius. Kemudian dia bergegas mengajak keduanya keluar dari lorong tersebut. Dia melakukan dengan sangat baik. Mengembalikan lukisan time is money kembali ke tempatnya semula. Selanjutnya, mereka berlari menuju ruangan sebelumnya. “Tidak ada cara lain, kita hanya bisa menabrak dinding kaca itu untuk keluar. Itu berarti, makhluk-makhluk itu bisa masuk ke sini kapan saja. Ikuti aku! Kita harus membawa persediaan sebanyak mungkin. Kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita bisa keluar dari tempat ini.” Kini, mereka berlarian menuju sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu terdapat begitu banyak bahan makanan. Itu seperti sebuah ruang pemyimpanan barang untuk setahun penuh! Jemas memberikan beberrapa kantong pada mereka, agar mereka mengemas beberapa bahan makanan yang cukup untuk dijadikan cadangan mereka. Dengan gerakan cepat, mereka pun selesai dengan urusan perut. Kemudian, mereka segera masuk ke dalam sebuah kendaraan militer yang cukup besar. “Aku rasa, kita harus membawa kendaraan satu lagi,” ucap Roy. Memberikan ide pada mereka. “Kau yakin dengan hal itu?” tanya Hito. “Kau masih ingat dengan keberadaan kelompok lain, bukan? Mereka juga pasti membutuhkan tumpangan!” ungkapnya. Dia mengucapkannya dengan menggebu. “James, bagaimana dengan bahan bakarnya?” “Ada di ruangan itu! Tapi, apakah mereka masih berfungsi? Aku tidak paham dnegan hal itu, rekanku yang mengurus semuanya. Dia pernah berkata tentang bahan bakar basi atau semacamnya.” james menunjuk ke sebuah ruangan yang terlihat penuh dengan jerigen-jerigen di dalamnya. “Bahan bakar tidak pernah basi, itu hanya akan membuat kualitas bahannya menurun. Perubahan nilai oktan, dan kerak di dalam tangki bahan bakar yang menimbulkan bau yang tidak sedap. Hal itu, yang membuat kebanyakan orang memberikan statemen bahwa bahan bakarnya basi.” Kali ini, Roy bersuara. Dia menjelaskan apa yang dia ketahui pada kedua orang yang ada di depannya. “Ah, kini aku tahu, kenapa rekanku menguras isi tangki saat itu. Tapi, ini sudah tiga bulan, apa perlu mengurasnya lagi apa bahan bakarnya tidak basi?” tanya James pada mereka berdua. Hito melirik ke arah Roy, dia menungu jawaban pasti dari rekannya yang ahli di bidang itu. “Tidak akan masalah, kita coba saja terlebih dahulu! Tapi, dengan jumlah orang yang cukup banyak, kita tidak dapat memuat bahan bakar lebih banyak. Itu akan membuatnya kelebihan muatan dan sulit bergerak. Kita bawa dua atau tiga saja.” Roy memberikan instruksi, mereka pun akhirnya membawa tiga jerigen bahan bakar untuk masing-masing kendaraan. Bahan amkanan dan bahan bakar telah dimasukkan dengan aman. Semua persiapan sudah selesai. Kini, mereka hanya butuh keluar dari gedung itu dan mulai mencari rekan mereka. Mereka harus bergegas, sebelum hal-hal buruk mungkin saja terjadi pada mereka. Keduanya telah masuk ke dalam kendaraan itu. James memilih masuk bersama dengan Roy. Dia terlalu curiga dengan pria yang mengenal pemilik rumah. Dia merasa aneh, jika seorang prajurit memiliki kenalan penyelundup barang bersejarah. Karenanya, James ingin mengawasi Roy. Dia tidak dapat dipercaya seperti rekannya. Begitu pikirnya. Kendaraan itu telah dinyalakan. Suara deru kendaraan tersebut memenuhi ruangan. Knalpotnya mulai mengeluarkan asap tipis. tapi, beberap detik kemudian menghilang. Hal itu sangat wajar, karena sudah cukup lama tidak digunakan. Dengan perlahan kendaraan itu mulai melaju. Dan saat menghadapi dinding kaca yang besar itu, mereka menginjak pedal gas dengan keras. Menambah kecepatan agar dinding kaca itu hancur dan bisa memberikan mereka jalan untuk keluar dari sana. Suara deru mesin kendarraan semkain keras. Bersamaan dengan itu, dinding kaca itu pun hancur berantakan saat moncong kendaraan itu menabraknya dengan keras. Hito yang memimpin penjemputan itu semakin menekan pedal gas kendaraan yang dia kendarai. Mereka harus bergegas menjemput rekannya yang lain. Sementara itu, di dalam kendaraan yang di kendarai oleh Roy. James duduk dengan tenang. Dia melihat ke arah Roy dengan penuh curiga. Perasaannya tidak mungkin salah. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Roy. Entah apa itu, api James merasa dia harus segera mengulik dan mencari tahunya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN