Mereka telah keluar dari sana. Kendaraan berjalan dengan perlahan namun dengan kecepatan konstan. Dari dalamkendaraan besar itu. Hito maupun Roy bisa melihat dengan jelas. Ada beberapa makhluk yang berkeliaran di jalanan. Itu berarti, rekan mereka bisa jadi sedang dalam bahaya. Mereka sedang ada di jalanan terbuka saat keduanya meninggalkan mereka. Hito pun bergegas mempercepat laju kendaraannya. Roy yang melihat hal itu pun melakukan hal yang serupa.
Jalanan tampak sepi. Tempat di mana mereka tadi berpisah kini lengang, kosong, dan tidak ada siapa pun di sana. Hito merih radio, menghubungi Roy dan mulai mengatur rencana.
“Ke mana mereka pergi? Menurutmu, apakah mereka mendapatkan serangan dari mereka?” ucapnya. Dia ampak kian risau dan cemas. Dia menelan ludah, mengusap wajah dengan kasar. Jemarinya pun mulai gemetar. Membayangkan hal buruk terjadi pada rekannya. Dia menggeleng perlahan. Mencoba mengusir pikiran buruk itu.
“Aku tidak tahu, tapi ... aku rasa mereka pergi sebelum makhluk itu datang ke daerah ini!” jawab Roy.
Hito pun mengintip ke luar jendela. Mengamati keadaan di sana. Suasananya masih sama. Tidak terlihat ada yang berantakan atau kerusakan yang terjadi di sana. Setidaknya dia bisa merasa lega, walau hanya sementara.
“Kau benar, mungkin mereka bersembunyi ke suatu tempat. Mari kita cari dan temukan mereka!” ucap Hito. Dia meletakkan radionya dan mulai fokus kembali ke arah jalanan. Dia melihat ke sana sini. Mencari di mana kira-kira rekannya memilih tempat untuk bersembunyi.
Kendaraan itu kembali berjalan dengan perlahan. James masih terus memandangi Roy. Dia memperhatikan setiap geraknya. Dia tidak akan melepaskan Roy begitu saja. Perasaannya tidak mungkin salah. Ada yang berbeda dari caranya berbicara juga menatap rekan kerjanya sendiri.
Suara deru kendaraan yang mereka naiki terdengar jelas oleh seluruh rekannya. Lucas berdiri, dia melihat ke sekitar. Mempertajam pendengarannya. Dari arah manakah siara deru mesin itu berasal.
“Kalian juga mendengarnya? Mereka berhasil!” ucap Lucas. Binar matanya menunjukkan rasa lega yang sangat besar. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat tampan. Dia merasa ada harapan yang besar dengan adanya kendaraan yang bisa mereka gunakan. Rekannya yang lain pun ikut bersorak. Mereka akhirnya menemukan sebuah cara untuk bisa menghindar dari serangan para makhluk itu.
“Wah, mereka benar-benar hebat. Aku tidak menyangka, Roy akan mendapatkan apa yang dia ucapkan.” Kevin mendekat ke arah Lucas. Dia menepuk pundak Kaptennya. Memberikan semangat dan juga kekuatan padanya.
“Kapten, kau harus lebih bersemangat setelag ini. Walau aku tahu, ini tidak akan mudah. Kita bisa melewati ini dengan bersatu. Kami, akan selalu ada bersama denganmu!” ucapnya dengan penuh keyakinan. Sorot matanya ang teduh membuat Lucas merasa semakin tenang.
“Kau benar, tapi ... kita harus memberikan tanda pada mereka bahwa kita sedang ada di dalam gedung ini!” Lcas mengambil senjatanya. Kemudian dia menembakkan senjata itu ke arah atas. Tembakan kosong itu pun membuat Hito dan Roy bisa mengetahui posisi mereka.
“Kau mendengarnya, Roy?” ucap Hito.
“Ya, aku juga mendengarnya. Itu dari arah kanan, kita harus bergegas!” jawab Roy.
Di persimpangan jalan, kedua kendaran itu berbelok ke kanan. Mengikuti arah suara dari tembakan yang baru saja mereka dengar. Sementara kedua rekan itu saling berbicara. James hanya duduk diam dan memperhatikan. Dia memang lebih muda dari mereka. Tapi, dia cerdas dan mampu melakukan banyak hal di luar dugaan mereka.
Lucas dan anggotanya yang lain keluar dari persembunyian. Mereka semakin yakin suara deru kendaraan itu adalah rekan mereka. Mereka menunggu dengan pasti. Saat netara mereka akhirnya mendapati ada kendaraan yang melaju dengan kecepatan rendah berbelok ke arah mereka. Tak hanya satu, ada dua kendaraan yang sedang ke arah mereka.
“Wah, dari mana mereka mendapatkan kendaraan militer seperti itu? Apakah itu bisa dimiliki oleh umum?” Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tentu saja dia merasa heran dnegan pemandangan yang dia lihat. Dia mengira, di dalam bengkel itu pasti hanya ada mobil-mobil bermasalah. Atau pun ada satu dua mobil milik dari si empunya bengkel. Tapi, ini adalah kendaraan militer. Bagaimana mungkin?
“Kau benar, dari mana mereka mendapatkan kendaraan itu? Apakah pusat mengirimkan bantuan kepada kita?” kali ini Kevin menimpalinya.
Lucas melihat ke arah dua rekannya yang sedang berbicara. Mengernyit, dan ikut masuk ke dalam kecurigaan yang sama.
“Pusat? Aku rasa itu mustahil! Tapi, mellihat kondisi dari kendaraan itu. Rasanya itu terawat dengan sangat baik!” Lucas menyahuti obrolan mereka.
“Kita tanyakan langsung saja pada mereka!” ucap Leo. Dia bersiap akan masuk, saat kendaraan itu berhneti tepat di depan mereka semua. Hito turun dan mengajak mereka untuk segera masuk ke dalamnya.
“Bagaimana dengan Jo? Apakah kita bisa menjemputnya?” suara Rico mengingatkan mereka dengan rekan mereka yang masih tertinggal di markas sebelumnya.
“Aku akan kembali ke sana!” sahut Roy. Dia yang baru saja keluar dari kendaraan mendekat ke arah mereka. Disusul dengan James yang juga berjalan keluar.
“Siapa dia?” tanya Lucas. Saat dia mendapati ada orang yang tidak dia kenali berada dalam satu kendaraan dengan rekannya sendiri.
“Tenanglah, Kapten, dia adalah yang membantu kami mendapatkan kendaraan ini. ceriatanya panjang! hito akan menjelaskan apda kalian! Aku akan menjemput Jo dan yang lainnya sekarang!” ucap Roy.
Lucas menoleh ke arah Hito. Mencari jawaban dan juga kepastian dari ucapannya. Hito mengangguk, dia setuju dengan ucapan Roy.
“Baiklah, hati-hati dan tetap waspada! Segera laporkan apa pun keadaan di san!” ucap Lucas. Dia menepuk pundak Roy sekali. Kemudian pria itu pun kembali ke dalam kendaraan. Semnetara James hanya tersenyum tipis, menggerakkan tangannya dari ujung pelipis ke depan ke arah Lucas dan yang lainnya.
Mereka pun bergegas kembali ke markas. Sementara Hito dan yang lainnya segera melanjutkan perjalanan menuju gedung A. Rico kali ini mengambil posisi kemudi dan mulai menjalankan kendaraan menuju gedung A.
“Jadi ... siapa pria muda itu?” lucas mengawali pembicaraan mereka. Rekannya yang lain pun ikut membuka telinga. Mendengarkan jawaban apa yang akan diberikan oleh rekannya tersebut.
“Dia adalah korban, sama seperti kita!” singkat. Dia menjawabnya ddnegan sebuah kalimat yang kian membuat rekannya yang lain bingung. Mereka saling pandang, dan kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Hito kepada mereka.
Kemduian Hito pun menjelaskan semua kejadiannya. Mulai dari mereka yang masuk ke dalam bengkel. Kemudian bagaimana mereka saling meodongkan senjata saat pertama kali bertatap muka.
“Dia awalnya tidak sendirian. Tapi, semua rekannya dibunuh dengan brutal di depan matanya. Dia berhasil kabur dan bersembunyi. Dan dia akhirnya tinggal di dalam bengkel tersebut.”
“Dia terlalu muda untuk bisa menggunakan senjata. Apakah dia menyebutkan dari mana asalnya?” Lucas bertanya dengan nada yang cukup seirus. Membuat Hito merasa mungkin ada hal yang dia lewatkan sebelumnya.
“Aku tidak menanyakan hal itu, kapten. Kejadiannya cukup cepat. Dan aku menemukan sebuah kenyataan baru.” Hito mendekat ke arah sang Kapten, membisikkan sesuatu kepadanya. Hingga kedua bola mata Lucas membulat sempurna. Dia begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Ternyata, bukan hanya mereka yang mendapatkan perinta seperti itu. Mereka dijadikan pion seperti para pemburu harta itu. Serendah itukah martabat mereka di mata para petingginya?
“Kau yakin? Dia tidak berbohong atau mengarang itu padamu, bukan?” balas Lucas. Dia pun mengatakannya dengan berbisik. Keduanya tak ingin membuat rekannya yang lain mendengar percakapan tersebut.
Hito menggeleng pelan, ada keraguan dalam dirinya. Tapi, dia hanya mendapatkan informasi itu. Di mana hal itu ditunjukkan dengan bukti-ukti yang meyakinkan. Dia bahkan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana tempat itu mempunyai ruangan rahasia dengan berbagai macam benda antik dan berharga mahal ada di dalamnya. Kenyataan bahwa ada James di kota itu juga menunjukkan sebuah kenyataan bahwa para petinggi mereka telah melakukan banyak hal sebelumnya. Dan di sanalah mereka sekarang. Menjadi pion catur mereka. Di mana sewaktu-waktu bisa disingkirkan kapan saja.
Lucas terdiam. Dia merenungkan banyk hal. Bagaimana bisa dia melewati banyak hal. Menerima tugas dan membahayakan banyak nyawa.
Kenapa? Kenapa mereka melakukan ini padaku? Pada kami semua?
“Kapten, kita semakin dekat dengan tujuan. Apakah kita akan berhenti tepat di depan gedung?” suara Rico membuyarkan lamunannya. Dia kembali fokus dengan apa yang sedang terjadi di sana.
“Oke, kita akan berhenti di depannya. Kita akan menyisirnya. Sambil menunggu kedatangan Roy dan rekan yang lainnya.” Dia memberikan perintah. Suaranya terdengar sedikit parau dan bergetar.
“Siap, kapten!” jawab Rico.
Rekannya yang lain tengah bersiap. Mengambil senjata-senjata yang akan mereka kenakan. Sementara itu, Lucas kembali diam. Memandangi satu per satu wajah dari rekannya. Dia semakin merasa bersalah dengan keadaan yang menimpa mereka semua. demi mendapatkan kenaikan pangkat dirinya. Dia memilih anggota tim dengan kemampuan khusus. Pada akhirnya, mereka hanya akan menghilang tanpa dikenang.
Mereka bergerak dengan perlahan. Mencari ke sana-sini. Menyisir tempat itu. Memastikannya aman dan mereka oun bergegas masuk ke dalam gedung. Beberapa dari mereka berhambur masuk saat pintu itu telah terbuka dengan paksa.
“Rico dan Kevin, kalian berjaga di sini. Tunggu rekan kita yang lain datang. Aku dan yang lainnya akan menyisir arrea di dalam gedung. Setelah mereka tiba, kalian harus berggas masuk dan menyusul!” Hito kali ini mengambil alih memberikan perintah. Sebab, dia melihat sang kapten sedang tidak dalam kondisi baik. entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Hingga membuat dirinya terdiam cukup lama dan tidak langsung memberikan perintah.
“Siap!” kedua parjurit itu menjawab dengan tegas. Mereka membuat penahan dari benda-banda yang ada di dekat sana. Mengganjal pintu agar tidak mudah untuk diterobos oleh makhluk yang mungkin saja masih tersisa di sana.
Hito meraih lengan Lucas. Dia menggandnegnya masuk dengan langkah cepat.
“Fokuslah Kapten! Jangan memikirkan ini sebagai kesalahanmu. Ini adalah salah mereka. Ini adalah salah dari rasa serah yang mereka simpan di hatinya!” ucapan Hito begitu tegas. Tidak ada keraguan dalam dirinya saat mengucapkan itu. Sorot mata yang tajam itu menunjukkan rasa yakin dan juga semangat juang yang tinggi.
“Aku pun sama, aku merasa bersalah pada keluargaku. Tapi, apa itu akan membantu? Tidak! Itu hanya akan menghambat tugas kita! Kita harus menyelesaikan ini dengan segera! Dan tendang p****t-p****t mereka yang telah mengambil wewenang seenaknya!” lanjutnya. Hito mengataknnya dengan berapi-api. Membuat perasaan Lucas kian menghangat dan dia pun akhirnya kembali mendapatkan semangat untuk menyelesaikan misi tersebut.
Di sisi lain. Roy dan James hampir tiba di tempat markas sebelumnya. Dia yang mengendarao kendaraan itu dengan mengebut pun akhirnya sampai dengan waktu yang cukup singkat. James semakin merasa aneh dengan hal itu. Kecapakan yang dimiliki oleh Roy terlihat begitu alami. Seolah dia telah menguasai kendaraan itu bertahun-tahun.
“Rekanmu di sini? Di atas?” tebak James. Dia membuang napas panjang.
“Aku tidak ikut! Kau naik saja sendiri. Aku berjaga ddi sini. Sekaligus mengamankan keadaan kendaraan kita!” lanjutnya. Dia terlalu malas untuk menaiki tangga dan mendapati resiko berbahaya di dalam sana.
“Baiklah, kau bisa menunggu di sini. Jangan macam-macam denganku! Jika kau mencoba kabur, aku akan melemparkan bom ke arahmu tanpa ragu!” dia menunjuk ke arah wajah James dengan jari telunjuknya. Ancamannya terdengar begitu mengerikan bagi james. Toh, dia juga tidak akan sebodoh itu pergi tanpa tahu arah. Dia akan bertahan bersama dengan para prajurit itu. Selama mereka masih bisa memberikan dia perlindungan dan tempat yang aman. Sendirian di kota antah berantah. Juga adanya makhluk aneh yang sangat berbahaya. siapa yang mau? Lebih baik bersama dengan sekelompok prajurit yang sudah bisa dipastikan mempunyai banyak senjata dan kemampuan khusus.
Tak berselang lama dari Roy menaiki anak tangga. Dia tiba-tiba turun dengan berlari kencang. di tangannya ada beberapa tas. Napasnya terengah-engah, wajahnya terlihat pucat, keringat bercucuran di wajahnya. James yang melihat keadaannya seperti itu menjadi bingung.
“Ada apa?”
“Kita harus segera pergi dari sini! Mereka tidak ada di mana pun! Banyak darah din sana! Kita akan kembali ke gedung A!” ucapnya. Dia bergegas memaukkan tas-tas itu ke dalam kendaraan dan dirinya pun masuk ke dalamnya. Dia mengendarai kendaraan itu dengan mengebut. Membuat James yang tidak siap pun tersungkur dari tempatnya duduk.
“Hey, Bung, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana? Kenapa kau terlihat begitu cemas dan ketakutan? Apa ada makhluk itu di atas sana?” tanya James. Dia meliriknya, memperhatikan setiap sudut di wajahnya.
“Kau sudah bisa mengetahui apa yang terjadi di sana. Kau pasti akan kencing di celana! Diam dan duduk saja! kau membuatku menjadi tidak fokus dengan jalanan!” bentak Roy. Perkataan itu membuat James mencebik. Dia pun memalingkan wajah. Dia memilih diam dari pada terus berdebat tidak penting. Hanya membuang-buang waktu saja.