24. Menjauh dari Sana

1718 Kata
Rico dan Kevin masih berjaga di tempatnya. Kedua pemilik netra bak elang itu terus mengawasi keadaan yang ada. Mereka menantikan kedatangan rekannya yang lain. Sementara itu, Hito memimpin untuk menyisir lokasi. Lucas berada di belakang sebagai pelindung. Mereka bergerak perlahan, merunduk, dan berjongkok dengan hati-hati. Tidak ada satu pun dari mereka mengenali tempat itu. Gedung ini adalah sebuah rumah dengan tiga lantai yang sangat luas. Rumah milik salah satu petinggi negara yang meminta hartanya dikuras habis dari sana. Rumah itu sepi, kosong, dan bahkan bisa dbilang bersih. Seolah tak ada satu pun makhluk yang pernah masuk ke dalam sana. Sayangnya, mereka tak tahu. Gedung itu terhubung dengan tempat di baliknya. Sebuah toko kecil yang sudah berantakan akibat peperangan melawan makhluk-makhluk tersebut. Di dalam toko kecil itu. Ada banyak makhluk yang bergerak ke sana-sini. Mereka memenuhi ruangan. sesak dan cukup penuh. Mata milik para prajurit itu tak mampu mendeteksi hal tersebut. terlalu jauh dari jangkauan mereka. Terlebih, tembok-tembok besar dan tinggi itu ada di sana. Menyekat seiap ruangan yang ada di sana dengan sangat sempurna. “Lantai satu, bersih!” ucap Hito. Kemudian dia berbalik badan, mengarahkan rekannya yang lain untuk segera maju. Mereka mengikuti langkah Hito dengan perlahan. Satu per satu anak tangga itu dilewati. Lantai dua juga masih sama bersihnya. Benar-benar tidak ada satu pun benda ang terlihat bergeser dari tempatnya. Seolah rumah itu telah mendapatkan perlindungan dari Tuhan. Hito tersenyum tipis, kemudian dia menghentikan langkahnya. “Entah kenapa aku merasa rumah ini terlalu bersih. Tidakkah kalian juga berpikiran seperti itu?” ucapnya. Dia menoleh ke arah rekan-rekannya. Memandangi wajah dengan rahang-rahang yang sempurna. “Seperti akan datangnya tsunami? Lagi?” sahut Leo. Wajahnya terlihat malas. Saat dia akhirnya mmengerti. Apa yang sedang dibiicarakan oleh Hito. Hito mengangguk dengan mantap. “Kita harus tetap waspada. Aku benar-benar mendapat firasat yang sangat buruk!” ucapnya lagi. kemudian dia kembali melangkahkan kakinya naik ke lantai dua. Menyisir setiap tempat. Membuka satu per satu ruangan yang ada. Lantai dua rumah itu tampak nyaman untuk ditinggali. Ruangannya tertata dengan rapi. Tak banyak hiasan dinding seperti di lantai satu. Hanya ada beberapa foto pemilik rumah yang akhirnya Hito pandangi cukup lama. “Kenapa kau melihat foto itu terus? Jangan mencintai anak gadis orang! Kau sudah beristri!” ucap Leo dengan kekehan tawa di akhir kalimatnya. Pletak! Sebuah jitakan mendarat di kepala Leo. Dia menggosok bekas jitakan itu dengan ekspresi kesakitan. Dia melirik ke arah Hito. Kemudian dia menarik garis lurus dari sorot matanya ke arah foto tersebut. “Kau, melihat siapa? Ayahnya?” Leo mengernyit, dia melihat dengan tatapan bingung pada rekannya itu. Ada gurat kemarahan di wajahnya. Tergambar jelas bersamaan dengan kebencian dan juga dendam yang membara. “Lihatlah, dan hafalkan wajah itu baik-baik. Kita akan mendapatkan lencana kenaikan pangkat darinya. Atau kita harus menghantuinya setelah kita gugur dari sini!” ucap Hito. Kemudian dia kembali menyusul Lucas dan yang lainnya. Mereka melanjutkan menyisir tempat tanpa kedua orang yang baru saja selesai berdiskusi tentang masa depan. “Hey, Hito, kenapa kau terdengar sangat yakin dengan hal itu?” Leo sedikit berlari. Saat dia mencoba mensejajari langkah Hito yang cepat dan panjang. “Dengarkan aku, Leo! Mungkin ini tidak masuk akal, tapi ... mari kita saling jaga. Tugas ini, benar-benar berbeda dari yang kita pikirkan selama ini.” Hito memegang pundak prajurit muda itu dengan kedua tangannya. dia menatap kedua netranya dengan tajam. Kemudian dia melanjutkan mengikuti Lucas yang sudah hampir naik ke lantai tiga. Leo terdiam, dia masih tidak mengerti dengan perkataan Hito. Menghantui petinggi? Untuk apa? Lantai ketiga pun bersih. Mereka telah bersiap di sana. Meletakkan barang-barang dan mulai menata ruangan itu sebagai markas mereka selanjutnya. Tempat di mana mereka akan meletakkan banyak benda yang akan dikirmkan dengan helikopter. Lucas melangkahkan kakinya ke lantai paling atas. Dengan tangga kecil di sudut ruangan. Dia bergegas naik dan akan menghubugi markas dengan telepon satelit. Kemudian, saat dia hendak mengeluarkan ponsel itu. Sebuah kertas ikut terambil dari sakunya. “Apa ini?” dia bertanya pada dirinya sendiri. Mencoba mengingat kertas apa yang sedang ada di tanganya saat ini. Dia memandanginya. Memejamkan mata sejenak. Kemudian ingatannya terseret pada saat Bob dan Fero dikirim ke luar dari tugas. Ya, itu adalah kertas yang diberikan oleh Fero kepadanya. Dia akhirnya teringat, hari itu Fero berbisik untuk menghubunginya sesegera mungkin. “Ada apa? Kenapa dia memintaku menghubuginya?” Dia terdiam sejenak, tapi kemudian dia kembali pada tujuan semula. Menghubungi marrkas pusat untuk melaporkan posisi mereka saat ini. “Lapor, kami telah sampai di gedung A,” ucapnya dengan penuh percaya diri. Dengan semangat yang sebelumnya telah terkobar karena ucapan dari Hito padanya. “Baik, lanjutkan pencarian. Kirimkan semua data yang kalian dapatkan di sana. Lacak tempat-tempat yang akan aku kirimkan padamu. Di  sana harta-harta itu tersimpan lakukan dengan baik dan cepat!” atasannya memberikan perintah. “Siap, laksanakan! Tapi ... Jendral, bolehkah saya bertanya?” Lucas sedikit ragu untuk mengataknnya. Dia pun merasa takut untuk mengulik hal itu. Tapi, dia merasa penasaran dan ingin tahu. “Katakan!” “Apakah istri Bob telah melahirkan? Bagaimana kondisi mereka sekarang?” ucapnya. Dia sama sekali tidak menaruh curiga. Tapi, ada ragu yang besar dalam dirinya. “Ah, dia masih belum melahirkan. Bob belum melaporkan hal itu pada kami. Lakukan tugasmu dengan baik. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Kami menunggu laporanmu selanjutnya!” sang Jendral menjawabnya dengan sangat tenang. “Siap, kami membutuhkan beberapa logistik dan senjata tambahan. Bisakah hal itu segera dikirimkan?” pinta Lucas. “Bailah, aku akan mengirimkan beberapa barang dan juga peta lokasi kepadamu segera!” Dia sama sekali tidak tampak gugup sedikit pun di sambungan telepon itu. Walau setelahnya, dia menghela napas panjang dan mengumpat dengan sangat keras. “Sial! Kenapa dia harus menanyakan orang yang tidak penting itu!” Beberapa prajurit yang ada di dalam ruangan yang sama dengannya bahkan terlonjak dari tempat mereka duduk. Umpatan itu diucapkannya dengan sangat keras. Seluruh ruangan mendengarnya dengan sangat jelas. Kemarahan, dendam, ketidaksukaan, semua terlintas dari wajah sang Jendral. “Siapkan data dari gedung A! Kirimkan data itu ke sana, beserta dengan beberapa barang keperluan untuk mereka tinggal di  sana. Gunakan helikopter yang siap terbang ke sana!” ucapnya pada seorang prajurit yang memang selalu menalankan perintahnya. “Siap!”   Setelah telepon tertutup. Lucas akhirnya kembali teringat dengan kertas yang sedang dia pegang. Apa aku hubungi saja dia? Ah, tapi .... “Hey, Kapten, kenapa kau malah berdiam diri di sini?” Hito muncul tepat di hadapan Lucas yang sedang melamun. Membuat kertas yang dia pegang itu pun terjatuh ke lantai. Hito membungkuk dan mengambilnya. “Apa ini? Nomor siapa?” tanya Hito padanya. Dia telah mengetahui itu adalah sebuah nomor ponsel. Tapi, milik siapa? Lucas menepuk-nepuk tangannya sendiri. “Fero, peneliti yang hari itu kembali pulang bersama ddengan Bob. Dia memintaku menghubunginya. Menurutmu, kenapa dia melakukan itu?” tanya Lucas. Dia mencoba mendapatkan pendapat dari rekannya. Setidaknya, dia tidak akan bertindak gegabah untuk hal itu. Hito terdiam, dia memandang wakah Kaptennya yag terlihat ragu, gusar dan cemas dalam satu waktu. Dia mencoba berpikir seperti Fero. Kenapa dia harus meminta Lucas menghubunginya? Pasti ada hal yang ingin dia smapaikan padanya. Orang secuek fero, tidak mungkin meminta sesuatu tanpa alasan yang jelas. “Menurutku, hubungi saja dia.” hito mengeluarkan pendapatnya. “Kau yakin? Ini adalah ponsel satelit. Markas akan mempunyai rekamannya. Jika itu adalah sesuatu yang penitng, aku rasa ... aku harus mengenakan ponsel lain untuk menghubunginya.” Pikiran Lcas telah terbuka. Dia pun sampai memikirkan resiko tentang kerahasiaan hal yang mungkin akan disampaikan oleh Fero. “Pinjam saja ponsel milik James. Aku akan memanggilnya ke sini!” ucap Hito. Dia bergegas turun dan memanggil James ke atas. James yang memang sedang tidak melakukan apa pun akhirnya menurutinya untuk ikut naik. “Ada apa?” “Kau punya ponsel, kan?” tanya Hito langsung pada intinya. Dia menatap pria muda itu. Dia mengangguk. “Aku akan meminjamnya, aku harap kau tidak keberatan tentang ini!” pintanya. Hanya dia satu-satunya harapan yang mereka miliki di sana. Dia adalah orang luar. Pusat tidak mengetahui keberadaannya. Jadi, menggunakan ponsel miliknya pasti akan aman. “Bailah, tapi ... kenapa kalian terlihat tegang?” ucapnya. Dia memberikan ponsel miliknya pada Hito. “Ada sesuatu yang harus kami ketahui. Berjanjilah untuk tetap diam dan tidak memberitahukan hal ini pada siapa pun!” Dia mengangguk dan patuh. Dia hanya duduk dan menunggu mereka selesai menghubungi seseorang dengan ponselnya. Lucas segera memencet nomor ponsel tersebut. menunggu hingga akhirnya telepon itu pun tersambung. “Halo? Ini siapa?” suara seorang perempuan menyada pendengarannya. Ya, itu  adalah suara Fero. “Fero?” ucap Lucas. “Kapten? Tunggu sebentar!” ucapnya. Dia beranjak pergi dari tempatnya meneliti. Dia keluar dan menuju ruangan kecil yang hanya diketahui olehnya. Lucas hanya diam dan menunggu, seperti yang diucapkan oleh Fero padanya. “Kapten dengarkan aku baik-baik! Aku tidak akan mengulanginya! Aku bersumpah demi Tuhan. Pergilah dari sana. Putus semua kontak dengan pusat!” Tut. Telepon dimatikan secara sepihak. Hal itu membuat Lucas semakin bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya dengan semua ini? Kenapa Fero sampai mengatakan hal iitu padanya. Bagaimana mungkin seorang prajurit memberontak. Tidak ada hal seperti itu dalam hidup Lucas. Sang kapten memberikan ponsel itu pada Hito. Kemudian dia pun mengembalikannya pada James. “Ada apa?” “Terima kasih!” ucap Hito padanya. Singkat dan jelas. Bahwa dia tidak ingin pria muda itu tahu atau bahkan ikut campur dalam urusan mereka. Setelah memastikan James turun, dia pun mulai mendekat ke arah sang kapten. “Ada apa? Apa yang dia ucapkan padamu? Hingga wajahmu terlihat begitu kusut seperti pakaian belum disetrika?” Hito memang penasaran, tapi dia juga tidak ingin keadaan itu kian menajdi semakin tegang. Disisipinya ucapan konyol untuk mencairkan suasana. “Dia melarangku untuk mendengarkan pusat. Dia juga berkata agar segera pergi dari sini. Menurutmu, apa yang dia inginkan dari ini? Apa karena dia sudah mendapatkan sampelnya? Jadi, dia menganggap remeh kita? Dasar perempuan tidak tahu diri!” ucap Lucas. Dia tersulut emosi. Dia pun turun dengan segera. Dia meninggalkan Hito di sana sendirian. Hito termenung sendirian di atas sana. Angin berhembus dan menerpanya dengan lembut. Fero, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan? Kenapa kau mengucapkan hal itu pada Kapten? Apa yang sebenarnya sudah kau ketahui sebelumnya? Jika mengingat ucapannya tentang pergi dan tidak mendengarkan pusat ... apakah ini akan berakhir samas seperti kelompok James? Tidak! Tidak mungkin! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN