25. Pikiran yang Kacau

1572 Kata
Sisca memandang ke arah Mela dengan tatapn penuh tanya. Kenapa temannya itu malah menyeretnya keluar dari sana? Padahal pembicaraan itu masih menggantung dan belum menemukan titik temu. Apa yang dikerjakan suaminya? Apa yang harus dia selesaikan di sana? Kapan dia bisa pulang? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang masih ingin dia tanyakan. “Mel, kenapa kau keluar dari sana dengan sangat mudahnya? Hanya dengan jawaban itu saja kau menerimanya? Tadi ... aku yang antusias untuk datang dan menghancurkan kantor itu!” ucap Sisca. Saat keduanya telah keluar dan berjarak cukup jauh dari ruangan tersebut. Mela menghela napas panjang. Mencoba mengaatur napas dan juga emosinya. “Jika aku tidak hamil, dan si bayi mungkil di dalam perutku ini tidak menendangku dengan keras seperti tadi. Aku akan menghancurkan kantor itu!” ucap Mela. Suaranya cukup keras, cukup keras untuk bisa di dengar oleh para prajurit yang berjaga di dekat pintu masuk. “Pelankan suaramu! Di sana ada banyak yang mendengar!” sahut Sica. Kemudian dia pun menyeret Mela untuk segera keluar dari sana. Perempuan yang sedang hamil lima bulan itu sedikit terseok karena tarikan Sisca yang cukup kuat. “Hey, aku rasa ada yang tidak beres dengan mereka!” bisik Mela. Sisca menoleh dan melotot ke arahnya. “Jangan kau lanjutkan pembicaraan ini sebelum kita sampai di tempat anak-anak!” kali ini Sisca mengucapkannya dengan gigi yang mengatup rapat. Merendahkan nada bicaranya dan kembali menyeret Mela keluar dari sana.   Jessi membawakan dua buah minuman ddingin untuk kedua temannya. Dia kemudian duduk dan menunggu mereka bercerita. “Ayo diminum! Jadi, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Jessi penasaran. Dia sangat hafal dengan raut wajah Mela yang marah. Pasti ada di sana sangat berantakan, pikirnya. Mela dan Sisca meminum minuman dingin itu dengan sekali teguk. Kemudian Mela mulai menceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana dia menjambak dan menendang para prajurit yang menghalangi jalannya. Mereka menceritakan tentang perlawanan yang mereka buat. Hingga keadaan kantor itu cukup berantakan dan kacau. Hingga pada akhirnya mereka bertemu dengan atasan para suami mereka. “Mister Banning? Kalian yakin dengan hal itu? Aku rasa ... dia bukan orang seperti itu,” ujar Jessi. Dia menyilangkan kakinya. Merubah posisi duduknya untuk lebih nyaman. Mela memajukan badannya mendekat ke arah Jessi. Kemudian dia berkata, “Sebanyak apa sampel yang dibuthkan untuk penelitian? Kau kira aku bodoh? Aku tahu, itu hanyalah alasan saja. Dia jelas tidak ingin memberitahu kami apa yang sebenarnya terjadi!” Mela membulatkan matanya. Menatap Jessi dengan tajam. Kemudian dia kembali mundur dan bersandar ke sofa tempat dia duduk. Melihat tingkah Mela yang mengucapkan itu membuat Sisca akhirnya paham. Kenapa temannya itu tidak ingin berlama-lama di sana. Itu karena Mela tahu, mereka tidak akan mendapatkan jawaban yang jujur. Mela bahkan tahu, sampel itu telah di dapatkan. Tapi, mereka mengatakan masih membutuhkan sampel lebih banyak. “Kau enak, suamimu seorang pengusaha bengkel! Mempunyai banyak kekayaan ddi mana-mana. Dia bahkan sedang pergi liburan ke luar negri! Kau sungguh beruntung!” ucap Mela. Dia masih menyandarkan kepalanya di bantalan sofa saat mengucapkannya. Jessi menelan ludah. Dia mencoba untuk tetap tersenyum dan mengangguk. Walau bibirnya tersenyum, kedua sorot matanya menggambarkan hal yang berbeda. Sisca menangkap hal itu. Dan dia menjadi curiga. Ada apa dengan hubungan Jessi dan suaminya? “Suamimu liburan ke luar negri? Dan kau ada di sini?” tanya Sisca. Jiwa penasarannya meronta-ronta. Jessi tersenyum tipis. Dia mengambil minuman dan meneguknya beberapa kali. Kemudian menata ekspresi bahagia dengan tenang. Dia menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Dia berdehem sekali, sebelum akhirnya dia berbicara. “Ah, dia hanya pergi untuk memilih mobil baru yang akan dia beli. Aku terlalu malas dengan hal-hal semacam itu . kau tahulah, aku lebih suka pergi berbelanja perhiasan dari pada melihat deretan ban mobil dan segala macam spare part mobil yang berbau tajam!” dia menjelaskan panjang lebar tentang alasan keberadaannya di rumah. “Selain itu, anak-anak juga harus bersekolah. Jika ini liburan musim panas. Aku akan mengajak mereka terbang ke tempat Ayahnya!” Lanjutnya. Dia terlihat sangat cantik dengan senyumannya. Bibir merahnya membuatnya terus tampak segar dan menawan. Dia adalah ratu kecantikan di sana. Tentu, dengan segala uang yang dimiliki sang suami. Dia bisa melakukan banyak hal. Membeli tas dan pakaian dengan harga fantastis. Tren perhiasan yang selalu up to date. Juga masih banyak hal lainnya. Berkata akan terbang bersama dengan anak-anaknya ke tempat sang suami, hanyalah hal sepele baginya. Sisca dan Mela saling berpandangan. Kemudian mereka menganggukkan kepala ke arah Jessi. Menunjukkan bahwa mereka mengerti tentang alasannya masih ada di rumah sampai saat ini. “Kami pamit, terima kasih sudah mau menjaga mereka.” Mela dan Sisca berpamitan pada Jessi. Anak-anak mereka berhambur dan mengiuti langkah mereka keluar dari rumah. setelah berpamitan pada Jessi dan teman-temannya. Jessi tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka. Dalam hati dia berkata. Mereka tidak tahu. Aku pun merasakan hal yang serupa. Kecemasan tentang keberadaan suamiku yang tak kunjung bisa dihubungi. Apa bedanya dengan para prajurit itu? Tidak ada. Dia pun menghilang tepat di malam suami kalian ditugaskan.   ***   Lucas turun dan memberikan ponsel milik James padanya. Disusul dengan Hito yang juga turun. “James, aku ingin berbicara denganmu. Ayo ke atas!” ucapnya oada James. Hito mkembali naik dengan begegas. Mereka saling berhadapan. Menatap satu sama lain. “Aku ingin bertanya sekali lagi padamu. Tapi, sebelum itu. Aoakah kau benar-benar jujur dan tidak menyembunyikan apa pun dariku?” ucap Hito. Dia dengan tegas mengucapkannya. Dengsn sorot mata tajam yang mengunci pandangan James. James mengangguk, “Iya, benar. Apa kau mengira aku berbohong padamu? Sejauh setelah aku menunjukkan semua bukti pada kalian?” James tersenyum tipis. Dia mengendikkan bahunya. Lalu membuang muka. “Oke, aku percaya padamu. Lalu, siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua itu?” “Aku sudah mengatakannya padamu dan juga temanmu yang mencurigakan itu. Kalau orang-orang dengan seragam yang sama dengan kalian yang menyuruh kami. mereka menawarkan banyak uang! Siapa yang akan menolak hal itu? Ternyata kami hanya emndapatkan uang muka yang tidak seberapa. Pada akhirnya kami dibantai! Beruntung aku bsia menyelinap kabur!” jelasnya. Nada bicara James yang mulai kesal semakin tinggi. Hingga membuat Hito akhirnya sadar. Apa yang diucapkan olehnya, gerak badannya, suaranya, arah matanya saat menjelaskan semuanya itu menunjukkan dia tidak berbohong. Semua yang diucapkan olehnya sungguh benar adanya. “Jadi, para petinggi itu membunuh rekan-rekanmu? Apa kau masih mengingat wajah mereka?” “Kau gila? Aku hampir mati karena ketakuan karena rekan-rekanku dibantai! Bagaimana mungkin aku sempat melihat wajah mereka satu per satu!” James benar-benar tak habis pikir dengan pertanyaan yang diajukan oleh Hito padanya. “Aku pun merasa misi ini akan berakhir sama dengan apa yang kamu alami.” Hening. Setelah ucapan Hito yang meluncur begitu saja dari mulutnya. Keduanya terdiam. Merenung dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka berpikir tentang bagaimana kedepannya. Bagaimana mereka akan melanjutkan misi itu dan selamat dari sana. Setelah saling diam dalam beberapa menit. James akhirnya berkata. “Kau yakin dengan hal itu? Kalian bagian dari mereka! Mana mungkin mereka akan melakukan itu apda kalian?” ucapnya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan juga Hito. Bahwa pemikiran Hito tidak mungkin terjadi. Walau dalam hati dia mengakuinya. Hal itu mungkin bisa terjadi. Hito menggeleng, “Pinjam ponselmu!” Hito kembali memanggil Fero. Dia menekan nomor yang sebelumnya dihubunngi oleh Lucas. “Apa lagi? aku sudah mengatakan padamu untuk segera pergi dari sana bagaimana pun caranya! Kenapa kau malah memanggilku lagi? ini bisa berahaya untukku!” cerocosnya. Dia masih mengira yang menghubunginya adalah Lucas. Sang kapten kelompok. “Ini Hito, bukan Kapten. Jadi, kenapa kau menyarankan hal itu pada kami? Katakan yang sejujurnya! Jika tidak, aku akan mendatangi laboratoriummu dan menghancurkan seluruh penelitian yang sudah kau kerjakan dengan sangat gigih!” ancamnya. Fero menelan ludah. Ternyata bukan Lucas yang menghubunginya. Apa yang sudah aku katakan barusan? Bagaimana ini? “Fero! Kau masih di sana bukan? Kau mendengarku, bukan?” Hito meninggikan suranya. James mengernyitkan keningnya, dia merasa ada sesuatu yang harus dia ketahui di balik itu semua. Dia memerhatikan dengan saksama. Percakapan itu mungkin bisa memberikan petunjuk padanya untuk mengambil keputusan nantinya. “I-iya, aku masih di sini. Sunggguh, aku berkata benar. Jangan lakukan semua itu!” Tut. Telepon itu langsung diputuskan sepihak oleh Fero. Sebab, dia mendapati ada orang-orang berseragam datang ke dalam laboratorium bersama dengan para atasannya. “Kenapa mereka datang ke sini? Apakah mereka tahu tentang aku? Gawat!” gumamnya pelan.   “Sial! Dia mematikan ponselnya!” dan saat Hito mencoba menghubunginya kembali. Ponsel milik fero sudah tidak dapat dihubungi. Dia hampir saja membanting ponsel James, jika tidak dihentikan oleh si pemilik ponsel. “Hey! Itu ponselku!” James langsung menyerbu dan merebut ponsel miliknya yang akan dibanting oleh Hito. “Ah, maaf. Terima kasih!” ucapnya. Kemudian dia pun turun dan meninggalkan James di sana tanpa penjelasan apa pun. Rautwajahnya kian menegang. Ada banyak hal yang sedang dia pikirkan. Tentang kenyataan dan segala hal yang menyangkut keselamatan mereka di kota antah berantah itu. Juga tentang bagaimana kondisi anak dan istrinya yang ada di rumah menantikan kehadirannya. Pikirannya kacau. Terlalu banyak hal di luar dugaan yang terjadi. Adanya kelompok lain yang pernah melakukan hal serupa untuk para petinggi dan berakhir tragis. Apakah nasih bereka juga akan berakhir sama? Setega itukah mereka pada anggotanya sendiri? “Hey, Hito, mau ke mana?” panggil Lucas padanya. tapi, dia hanya terus ebrjalan tanpa menggubris panggilan darinya. Pikiran Hito benar-benar kacau. Dia bahkan tidak mendengar saat Lucas memanggilnya. Dia hanya terus berjalan. Kemudian duduk si sudut ruangan. diam dan larut dalam pikirannya sendiri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN