Beberapa waktu lalu. Markas.
Jo dan ketiga rekan yang baru saja mereka temukan beranjak naik ke lantai atas. Sayangnya, ada ha yang tidak Jo sadari saat itu. Ada salah satu makhluk yang masuk dan mengikuti langkah mereka hingga ke lantai atas. Gerakannya tak mencuri perhatian. Seolah dia bisa menirukan gerak langkah mereka yang ringan dan santai.
Makhluk itu mengikuti mereka. Tak ada perlawanan. Atau pun serangan yang dia lakukan pada mereka. Dia hanya berjalan diam dan terus melangkah. Hingga akhirnya salah satu dari mereka merasakannya. Ada suara langkah lain selain milik mereka. Dia menoleh dan mendapati ada makhluk itu di belakang mereka. Dia yang terkejut otomatis mengambil senjata dan menembakkannya ke arah makhluk itu. Makhluk itu yang awalnya tenang terpicu dengan suara tembakan. Menjadi ganas dan tak tentu arah. Makhluk mulai berlari dan menyerbu ke arah mereka. Hingga akhirnya pertumpahan darah pun terjadi. Jo yang tidak siap dengan situasi itu tergigit lengannya. Sementara itu ketiga rekannya malah kabur dan meninggalkan dia diserang oleh makhluk tersebut.
“Tolong! Tolong aku!” teriak Jo. Tapi, mereka bertiga malah berlari dan menutup ointu ruangan. Mengunci diri mereka di dalam sana. Jo yang digigit merasakan nyeri yang tak tertahankan. Rasanya seperti ada sebuah suntikan yang penuh dengan obat masuk ke dalam tubuhnya. Dia bisa merasakan ada perubahan secara nyata pada dirinya. Perubahan genetik itu terjadi begitu cepat. Menyerang sleuruh saraf, terganti dengan saraf-saraf baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia menjerit-jerit kesakitan. Dia bahkan menarik rambutnya dengan sekuat tenaga. Rasa sakit itu merayap memenuhi seluruh tubuhnya. perlahan-lahan kesadarannya mulai hilang. Hingga akhirnya dia pun akhirnya dikuasasi oleh hal yang aneh dalam dirinya. Jo telah berubah menjaddi makhluk yang sama dengan yang menggiti lengannya.
Ketiga prajurit itu K, L , dan M. Mereka terdiam di sudut ruangan. duduk dengan menekuk lutut ke depan. merasa risau, dan begitu ketakutan. Keringat dingin menetes ke seluruh tubbuh mereka. Sebelumnya, mereka telah mengalami hal serupa. Pertolongan yang diberikan oleh kelompok A membuat mereka lega. Tapi, siapa yang akan menolong mereka kali ini? Jika di sana hanya tinggal mereka bertiga?
“Sepertinya mereka sudah pergi,” ucap K. Dia mengintip ke bawah pintu. Tak ada apa pun di sana.
Dia pun akhirnya mencoba membuka pintuya dengan perlahan. Dari celah kecil yang dia buka itu, matanya melihat ke luar. Menelisik, mencari sosok yang sebelumnya menyerang rekannya. Kosong, hening, sepi. Tak ada siapa pun di sana.
“Kita harus keluar dari sini! Makhluk itu sudah tidak ada!” ucap K. Dia membuka pintu dnegan ebar. Beranjak keluar dan pada akhirnya dia pun bergegas turun. Diikuti dengan kedua rekannya yang lain. Sayangnya, dugaannya salah. Makhluk itu ada di sana. Bersama dengan Jo yang juga sudah berubah. Mereka bertiga diserang. Ditarik, dan bahkan digigit. Hingga akhirnya mereka merasakan hal yang sama seperti Jo. Mereka berubah, menjadi makhluk yang sama mengeikannya dengan yang menyerang mereka.
***
Sisca merasa sangat lelah. Kepalanya kian terasa nyeri dan pandangannya mulai tidak jelas. Dia yang sedang berdiri di depan kompor berjalan mundur. Menyandarkan punggungnya di lemari pendingin yang ada di belakangnya.
“Ibu, kau tidak apa-apa?” tanya Tino dengan suara menggemaskan. Dia yang sedang menunggu makan malam menatap Ibunya dengan penasaran.
Sisca menggeleng pelan. Kemudian dia tersenyum kepadanya. Mencoba memberikan bukti bahwa dirinya baik-baik saja. “Ibu baik-baik saja, duduklah dengan tenang. Makan malam akan segera siap!” ucapnya. Dia mencoba mengatur suara dengan nada riang. Agar anak kesayangannya itu tidak merasa khawatir padanya.
Kenapa aku tiba-tiba merasa pusing? Ah, mungkin terlalu lelah setelah menajalani hari panjang seperti tadi. Dengan istirahat semuanya pasti akan kembali seperti semula.
Sisca pun mematikan kompor. Setelaj dia mengerjap beberapa kali, dia mulai menyajikan makanan ke atas piring Tino. Dia tersenyum, kemudian memberikan piring itu pada sang buah hati.
“Kau sudah lapar? Mari makan!” ucapnya.
Tino lebih banyak diam dari biasanya. Tingkahnya ini membuat Sisca sedikit khawatir. Tapi, dia pun merasa bersyukur dengan keadaan itu. Setidaknya, dia tak perlu lagi berbohong pada sang anak. Jika dia menanyakan tentang keberadaan Ayahnya saat ini. dengan diamnya Tino, dia merasa sedikit tertolong. Terlebih, rasa pusing dan mual yang dia rasakan semakin menajdi. Dia berlari ke arah kamar mandi. Memuntahkan makanan yang ada dalam mulut dan perutnya. Entah apa yang salah dengan tubuhnya. Dia merasa terlalu lelah dan sangat ingin merebahkan diri di tempat tidur.
Suara langkah kaki kecil itu kian terdengar jelas. Sisca buru-buru memberishkan dirinya. Mencuci wajah agar terlihat lebih segar dari sebelumnya.
“Ibu, kau sakit?” sebuah ketukan pintu pun terdengar bersamaan dengan pertanyaan yang meluncur dari bibir Tino.
“Tidak, Ibu baik-baik saja, Sayang. Lanjutkan saja makan malammu! Ibu akan segera kembali,” jawabnya dari balik pintu kamar mandi.
“Baik Ibu,” jawab sang anak. Tino kembali ke tempat duduknya. Memakan sisa makan malamnya dengan tenang. Dia tahu, Ibunya pasti sedang sakit. Tadi, dia mendengar dengan jelas suara muntahan Ibunya yang cukup keras. Tino menghela napas. Kemuddian dia menyelesaikan makanannya dnegan baik. Meletakkan piring kotor ke westafel dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Mungkin Ibu tidak ingin aku tahu, kalau dia sedang sakit. aku akan segera tidur. Dan melihat dia kembali sehat besok pagi. Selamat malam Ibu!
Sementara itu, di dalam kamar mandinya, Sisca kembali memuntahkan makanannya. Dia mual hebat. Tubuhnya bahkan bergetar hebat. Tenggorokannya terasa sangat tidak enak. Ulu hatinya kian terasa perih dan sakit. Perutnya pun semakin kosong. Hingga akhirnya yang bisa dia muntahkan hanyalah cairan bening yang terasa sepat dan masam. Tubuhnya terasa begitu elmas dan tidak berdaya. Setelah membasuh wajahnya untuk kedua kalinya. Dia pun keluar dari kamar mandi. Memejamkan mata sejenak sambil mengatur napas. Kemudian dia mengebas pakainnya sekali. Lalu berjalan menuju meja makan.
“Sayang?” panggilnya. Tapi, sudah tidak ada siapa pun di meja makan. Ruangan itu kosong. Piring milik Tino juga sudah tidak ada di sana. Hanya piring dan gelas miliknya saja.
“Ke mana dia? Apakah dia sudah masuk ke kamar?” dia berbicara sendiri.
Dia pun menuju kamarr Tino. Mengintip celah pintu yang baru saja dia buka dengan perlahan. Anaknya sudah tertidur di bawah selimut hangatnya. Kamar itu pun sudah dipadamkan lampunya. Hanya menyisakan sebuah lampu tidur yang redup sebagai pencahayaannya.
Sisca menutup pintu itu dengan perlahan. Dia tidak ingin membangunkan anaknya. Setelah itu dia tersenyum lega. Hari itu, dia merasa sangat tertolong dengan sikap dewasa yang ditunjukkan oleh Tino. Dia pun menuju kamarnya setelah membersihkan sisa makanan di meja. Menarik selimut dan mematikan lampu. Dia harus tidur agar besok pagi merasa lebih segar dan sembuh dari segala rasa mual yang menderanya hari itu.