Hito yang baru saja turun dari lantai atas dikejutkan dengan suara klakson kendaraan di luar gedung.
“Bukakan pagar, itu mungkin Roy dan juga James! Segera tutup dengan rapat. Sebelum ada makhluk yang bisa menyelinap masuk!” ucapnya pada salah satu rekannya. Dia yang juga menjadi senior di sana telah mendapatkan izin dari Lucas untuk memberikan perintah. Jika dia sedang tidak di posisi.
“Siap!” Leo menjawabnya dengan tegas dan segera berlari ke depan. Langkah kakinya sangat cepat. Dalam sekejap dia sudah berada di depan. Membuka pagar besar itu dengan sekuat tenaga. Suara berisik dari gesekan pagar dan rel besi yang tak terurus selama hampir enam tahun itu cukup memekakkan telinga. Pagar terbuka, kendaraan yang dikendarai oleh Roy dan James pun masuk dengan perlahan. Tepat setelah bagian belakang kendaraan masuk ke dalam halaman gedung. Leo segera mendorong pagar itu lagi, menutupnya dengan rapat.
Saat keduanya turun dari kendaraan itu. Beberapa prajurit yang ada di sana mencari ke sana-sini. Menunggu keluarnya rekan mereka dari dalam kendaraan tersebut. Tapi, tak ada satu pun yang keluar dari sana setelah keduanya mengeluarkan beberapa tas dari dalam kendaraan. Hito yang memang sedang berdiri di sana pun berlari mendekat. Membantu mereka membawa barang. Dia melonggokkan kepalanya ke dalam kendaraan itu. Tapi, kosong! Nihil! Tak ada siapa pun di dalam sana!
Dia memandang ke arah Roy dan James dengan penuh tanda tanya.
“Di mana Jo? Dan tiga anggota tim lainnya?” tanya Hito. Jantungnya berdetak kencang. Pikirannya mulai tak karuan. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tapi, mereka harus menjelaskannya sendiri. Bagaimana runtutan kejadian yang sebenarnya terjadi di sana.
Roy melihat ke arah James. Kemudian keduanya menggeleng dengan perlahan.
“Maaf, mereka tidak selamat.” Roy menepuk pundak Hito. Dia merasa bersalah. Tapi, tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Dia naik sendirian, aku hanya di dalam kendaraan. Berjaga agar bisa memperingatkan dia jika ada makhluk yang datang,” sahut James. Kemudian dia masuk ke dalam gedung dengan membawa dua tas di masing-masing tangannya.
Mendengar itu, Hito menatap Roy penuh harap. Dia ingin mendengarkan ceritanya dengan pasti. Apa yang sudah terjadi pada mereka? Dan bagaimana kondisinya?
“Ceritakan, apa yang terjadi di sana? Bagaimana bisa mereka berempat tidak selamat?” desak Hito. Dia bahkan mengguncang tubuh Roy dengan kedua tangannya.
Roy menunduk sebentar, setelah mengambil dan mengembuskan napas dengan panjang. Akhirnya, dia pun menceritakan apa yang sudah dia lihat di dalam markas mereka.
“Aku berlarian ke dalam markas. Mencari mereka langsung ke tempat persembunyian kita di lantai tiga. Tapi, suasana di dalam gedung itu lebih buruk dari saat kita meninggalkan mereka. Itu tampak seperti telah terjadi serangan di sana. Dan ....” lagi, Roy mengambil napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan.
“Dan apa?” Hito yang sudah merasa penasaran tak sabar menunggu kelanjutan ucapan Roy.
“Aku melihat ada banyak darah di sana. Ada mayat dari anggota tim lain. Tapi ... Anehnya, Jo tidak ada di sana. Entah, apa yang telah terjadi. Tapi, jika dia keluar dari markas tanpa membawa apa pun. Apakah dia akan selamat? Aku lihat, barang-barang tetap berada di tempatnya dengan baik.” Penjelasan dari Roy membuat Hito berpikir keras. Jika mereka diserang, seharusnya dia bisa melemparkan sisa bom yang ada di sana. Tapi, kenapa Jo malah pergi dan tidak membawa apa pun? Kenapa?
Hito menunduk sebentar, setelah mengembuskan napas panjang. Dia pun akhirnya buka suara.
“Laporkan pada Kapten, kita akan menunggu perintahnya setelah ini.”
“Siap!” jawab Roy. Di pun masuk dan segera melapor pada Lucas. Tak hanya Hito, Lucas pun menunjukkan respons yang sama. Tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Roy. Berharap semua itu tidak benar. Tapi, tak ada pilihan lain selain mempercayainya. Karena, dia tidak ada di sana.
Waktu berlalu, buah dari laporan yang dilakukan oleh Lucas pun datang. Suara baling-baling helikopter menunjukkan kehadirannya tepat hampir tengah malam. Deru suara angin bercampur dengan suara mesin cukup membuat beberapa tempat di sekitarnya terimbas keributan yang sama. Perlahan-lahan helikopter itu mendarat di lantai atas gedung A dengan mulus. Para prajurit masih berdiri di samping-samping. Menghindari angin besar yang ditimbulkan baling-balingnya. Lalu, setelah mendapatkan kode untuk mendekat. Mereka satu per satu maju dan mengambil barang-barang yang telah dikirimkan pada mereka. Persediaan makanan, senjata dan masih banyak lagi lainnya.
Hito, Lucas, dan rekannya yang lain bergantian mengambil. Hingga setelah kotak terakhir diturunkan. Lucas masuk ke dalam helikopter. Membuat kedua pilot yang akan menaikkannya mengurungkan niat mereka.
“Ada apa Kapten?” tanya sang pilot. Dia menelan ludah. Melihat aksi Lucas yang tiba-tiba naik ke dalam helikopter seperti itu. Pasti ada hal yang akan dia lakukan.
“Jelaskan perintah dari Jendral! Apakah peta ini benar-benar sesuai dengan keadaan lapangan? Aku tidak ingin membahayakan nyawa anggotaku!” ucapnya. Dia sebenarnya tak ingin itu. Dia hanya penasaran. Sebenarnya ada apa, hingga Fero bertingkah aneh seperti itu.
“Semua itu sudah sangat jelas di sana. Kami harus segera kembali ke markas. Jendral menunggu kami!” jawab sang pilot. Dia tampak tergesa-gesa untuk segera pergi dari sana. Padahal, tempat itu telah diamankan oleh Lucas dan semua anggota timnya. Tapi, sorot mata pilot itu menunjukkan dengan jelas bahwa mereka tak ingin berlama-lama berada di sana.
“Ah, baiklah. Tapi, kenapa kalian terburu-buru? Kenapa kalian tidak mampir dan melihat-lihat? Tenanglah, di gedung ini aman!” Lucas mengucapkannya dengan sangat santai. Denfan nada mengejek yang juga sangat kentara.
“Jendral telah menunggu, kami tidak bisa berlama-lama di sini. Lagi pula, ini bukan sebuah rumah yang pantas untuk dikunjungi! Kami akan segera pergi, cepat turun dan menepi!” ucap sang pilot. Dia mulai tersulur emosi dengan ucapan Lucas yang mengejek tentang keberaniannya. Walau itu hanya sebuah ucapan yang tersirat. Tapi, itu sangat jelas menyentil harga dirinya.
“Baiklah, aku akan segera turun. Tapi, jawab satu lagi pertanyaanku ini. Apa kalian melihat Bob? Bagaimana kabarnya? Bisa sampaikan padanya aku ingin melihat anaknya!” ucapnya dengan tenang. Dia mengamati mereka dengan saksama. Dari gerak tubuh yang spontan mereka lakukan setelah mendengar pertanyaan itu. Membuat Lucas yakin, ada hal yang tidak baik sudah terjadi. Ada yang mereka tutupi. Tapi, dia tidak dapat menerka. Apa yang sebenarnya terjadi pada Bob di sana.
“Ah, Bob? Prajurit yang hari itu pulang bersama dengan peneliti cantik itu? Dia pulang, dan tepat di malam itu anaknya lahir. Dia pasti merasa sangat bahagia. Bisa menemani istrinya melahirkan malam itu!” jelasnya. Sang pilot itu mengucapkannya dengan sangat santai. Lucas pun akhirnya terkejut mendengar jawaban yang baru saja disampaikan oleh sang pilot.
“Benarkah? Istrinya telah melahirkan? Syukurlah, aku mengirimnya tepat waktu! Baiklah, aku akan turun sekarang!” jawab Lucas. Ada senyum kebahagiaan di wajahnya. Dia akhirnya tak perlu merasa cemas dengan kondisi Bob. Dia pasti sangat senang bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Terlebih, dengan malaikat kecil yang telah dikirimkan tuhan ke dalam keluarga kecilnya.
Setelah Lucas turun, sang co-pilot pun melihat ke arah rekannya. “Apa semuanya akan baik-baik saja dengan mengucapkan hal itu padanya?” dia mulai ragu. Sebuah kebohongan yang batu saja diucapkan oleh sang kapten pilot, bisa saja menimbulkan kekacauan nantinya.
“Tenanglah, semua itu adalah perintah dari sang Jendral. Apa kau berani menentang perintahnya? Setidaknya, ini akan membuat mereka tenang dalam melakukan tugas. Kita tidak mempunyai hak untuk mengatakan hal lain. Lau tidak ingin berakhir sama seperti Bob, bukan?” sang pilot tersenyum tipis di akhir kalimatnya. Senyum mengejek dan juga merendahkan. Karena dia sangat tahu. Tidak mungkin rekan kerjanya itu berani melawan sang Jendral. Tak akan ada seorang pun yang mau melakukan itu. Kecuali dia sudah bosan hidup di dunia.
“Tidak,” jawab co-pilot itu dengan cepat. Membayangkannya saja sudah membuat rambut-rambut halus meremang. Mengingat kejadian yang menimpa Bob. Itu sangat mengerikan!
“Jadi, mari kita pergi dari sini!”
“Siap!”
Helikopter itu pun mulai terangkat dengan perlahan. Mulai terbang semakin tinggi dan kemudian meluncur pergi dengan cepat. Mereka menutup mulut dan juga hati. Tak memberikan kabar dengan sejujurnya pada rekannya sendiri. Mereka telah salah memilih jalan. Hanya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka tak ingin mati konyol. Karenanya, mereka membiarkan rekannya melakukan tugas itu. Biarkan saja mereka yang melakukannya, tersiksa dan mungkin saja kehilangan nyawa di kota tersebut.