28. Pencarian dimulai

1597 Kata
Lucas dan yang lainnya turun ke lantai tiga. Mereka menata beberapa barang yang baru saja mereka dapatkan dari markas pusat. Setelah semua selesai. Lucas mengajak mereka duduk dan berkumpul. “Ke sini semuanya!” ucapnya. Mereka pun mendekat dan ikut duduk seperti yang dilakukan sang kapten. Lucas memandangi mereka satu per satu. Hito, Leo, Kevin, Roy, Rico, William, juga ada seorang warga sipil bernama James yang terjebak di sana. Dia melihat gurat rasa lelah di wajah mereka dengan jelas. Kemudian kapten itu menghela napas panjang. Dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Membuka dan melebarkannya di atas lantai yang mereka kelilingi. “Ini adalah peta lokasi gedung ini. Lantai satu, dua dan tiga.” Dia menunjuk ke arah tiga persegi panjang yang ada di kertas tersebut. “Kita hanya tinggal bertujuh, kau boleh kumasukkan dalam hitungan, bukan?” tanya Lucas pada James. Dia langsung mengangguk tanpa ragu. “Siap, Kapten!” jawabnya. “Baiklah, kita harus menjadi tiga tim untuk di setiap lantai. Hito dengan Leo kalian di lantai satu, Roy dengan James kalian di lantai tiga, Kevin dengan aku di lantai dua. Will, kau bisa berjaga di markas. Dan pantau semua keadaan di luar dari atap. Aku harap kau tidak keberatan untuk berjaga di markas. Menerima atau bahkan mengirimkan laporan dari para atasan. Satu lagi, kau bisa mempersiapkan bahan peledak untuk berjaga,” jelasnya. Semua orang yang ada di sana semua mengangguk setuju. Tak ada perlawanan atau pun penolakan pada keputusan Lucas. Tak ada waktu untuk itu. Semua lantai sama saja. Gedung itu cukup akan untuk mereka telusuri lebih lanjut. Gedung dengan pagar menjulang tinggi itu tak akan mungkin bisa mereka masuki. Kecuali, pagarnya terbuka. “Kita akan mulai penelusuran besok pagi. Ini sudah terlalu larut untuk melakukannya. Lebih baik kita istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk besok. Tidak akan ada hasil yang baik dari sebuah hal yang dipaksa. Jadi, kita akhiri sampai di sini saja. Besok pagi, kita akan berkumpul dan membahasnya sebentar. Sebelum akhirnya kita akan memulai misi ini.” Lucas kembali menatap mereka. Mereka pun mengangguk setuju. “Aku sangat berharap misi ini segera selesai, dan kita bisa kembali dengan selamat. Mari kita istirahat sekarang!” ucapnya dengan lantang. “Siap, Kapten!” jawab mereka semua serentak. Kecuali James. Dia hanya tersenyum tipis menyikapi hal itu. “Semoga saja,” gumamnya. Sebelum akhirnya dia ikut melangkah dan pergi beristirahat. Hito mendengar itu, dan dia melirik dengan sinis ke arah James. Dia merasa perasaannya kian tak menentu. Semua teka-teki yang dia hadapi terlalu sulit untuk diterima. “Tenanglah Hito, besok semua harta itu akan terkumpul. Kita semua akan bisa kembali dengan selamat!” ucapnya lirih, mencoba untuk meyakinkan diri sendiri. Pagi terasa datang lebih cepat dari biasanya. Ya, waktu memang relatif. Malam akan terasa panjang ketika mereka harus membuka mata dan menghadapi berbagai ancaman dari makhluk-makhluk tersebut. Sementara, jika dilalui dengan mata terpejam. Malam akan terlewati begitu saja. Seolah tak cukup untuk merasakan nikmatnya tidur dengan nyenyak. Para prajurit itu bangun hampir bersamaan. Mereka seolah sudah hafal dengan jam mereka bangun walau tanpa alarm untuk membangunkan mereka. Tak ada mandi, hanya membasuh wajah dan mengeluarkan sisa metabolisme dari tubuh mereka. Lucas kembali mengajak mereka berkumpul. Memberikan satu per satu peta lokasi pada tiap tim yang sudah dia bagi semalam. Di dalam peta itu, ada beberapa tempat yang diberi tanda ‘x’ dengan warna merah. Itu adalah tempat-tempat yang harus mereka masuki. Kemudian mengambil barang-barang berharga di dalamnya. Di setiap lantai hampir semua ada sekitar empat hingga lima tanda ‘x’ tersebut. Setelah itu, mereka membuat kesepakatan. Jika mereka harus mengeluarkan benda yang menurut mereka paling berharga dan bernilai tinggi. Setidaknya, dengan begitu mereka akan mempunyai kesempatan untuk segera kembali dari sana lebih cepat. Kemudian mereka semua bergegas menuju lantai yang sudah diputuskan semalam. Hito dan Leo menuruni anak tangga menuju lantai satu. Begitu juga dengan tim lainnya. Menuju tempat mereka dengan tanda ‘x’ yang tertera di peta. “Leo, kau siap?” tanya Hito. Dia baru saja mengisi peluru pada senjata yang dia bawa. “Memangnya kalau aku tidak siap, tugas ini bisa ditunda sampai nanti?” ucapnya. Dia terkekeh sendiri. Ucapannya memang tidak masuk akal. Ya, sama seperti tugas yang sedang mereka lakukan saat ini. Sangat tidak masuk di akal! Hito menjitak kepala Leo, hingga dia mengaduh. “Kalau kau tidak siap, kau akan aku lemparkan ke luar gerbang!” ancam Hito, diiringi tawa ringan. “Kau kejam!” balasnya. Tangannya masih mengusap bekas jitakan di kepalanya. “Diam dan terus baca arah di peta! Jangan sampai kita salah ruangan.” “Hito, tidakkah kau merasa aneh? Rumah ini terlalu aman untuk kita. Makhluk-makhluk itu tidak bisa masuk ke dalam sini, bukan? Lalu, kenapa mereka tidak mengambilnya sendiri? Di atap pun ada tempat untuk helikopter mendarat!” Leo mengoceh panjang lebar. Hito mendengarkannya, tapi tidak dengan sungguh-sungguh. “Hmmm.” Hito menjawabnya dengan gumaman saja. “Hey, ayolah! Mereka bisa melakukan itu dengan mudah. Tapi, kenapa meminta kita melakukannya?” Desak Leo. Dia terus mencoba untuk mempengaruhi Hito. Mengajaknya untuk berpikir banyak dan mengkaji tugas aneh yang mereka dapatkan. “Kau bisa tutup mulutmu, atau tidak? Apa perlu aku menyumpalnya dengan kaus kaki yang sudah berhari-hari tidak diganti ini?” Suara Hito sedikit meninggi. Dia menatap tajam ke arah Leo yang tampak tidak serius dengan tugas tersebut. Rahangnya mengeras, dia benar-benar kesal sekarang. “Maaf, baiklah, tanda ‘x’ ada di ruangan itu!” Leo menunjuk sebuah ruangan yang ada di seberang mereka. Sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih. Juga ada sebuah nama yang terbuat dari kerajinan flanel di depannya, ‘Angel’. Leo menutup peta dan mengantonginya. Dia mengambil senjata dan bersiap membuka pintu tersebut. Pintu itu terbuka dengan mudah. Sepertinya, pemilik rumah tidak sempat mengunci setiap ruangan di sana. Mungkin, mereka sangat ketakutan hari itu. Dan tidak sempat melakukan banyak hal. Termasuk membawa benda berharga atau bahkan mengunci setiap pintu. Keduanya saling pandang. Lalu mengangguk bersamaan. Hito membuka pintu, dan Leo masuk dengan senjata yang siap ditembakkan. Kosong! Ruangan itu kosong. Keduanya pun bergegas mencari barang apa yang disebut berharga dari sebuah kamar anak perempuan itu. Ruangannya tidak terlalu besar. Berukuran sekitar lima kali lima meter. Ada balkon di samping kiri kamarnya. Ada juga kamar mandi dengan shower dan bathup di dalamnya. Ruangan dengan nuansa warna merah muda itu menunjukkan usia pemiliknya. Sekitar delapan hingga sepuluh tahun. Itu adalah kamar anak kecil. “Hit, menurutmu benda apa yang berharga di dalam kamar ini? Aku tak melihat perhiasan, atau bahkan benda bersejarah di sini!” Leo masih terus mencari. Walau dia tidak berpikir hal itu mungkin memang tersimpan di dalam ruangan tersebut. “Diam dan tutup mulutmu! Kau masih ingat dengan ancamanku sebelumnya, bukan?” Hito menoleh dengan tatapan risi. Dia bisa melihat Leo yang menelan ludah karena mengingat tentang ancaman Hito sebelumnya. Tentang sumpalan kaus kaki yang akan dimasukkan di dalam mulutnya yang cerewet. “Terus cari! Apa pun itu dan bagaimana pun bentuknya!” lanjut Hito. Mereka akhirnya melanjutkan pencarian. Membuka setiap laci, lemari, dan bahkan mengangkat kasur dan selimut yang ada di atas tempat tidur. Di balik lukisan, foto, juga bahkan di kolong tempat tidur. Hito menghela napas panjang. Rasanya mustahil ada benda berharga di dalam ruangan anak kecil seperti itu. “Hey, kau tidak salah membaca peta, bukan?” Hito seolah tersentil dengan pemikiran itu. Leo gelagapan, mendengar ucapan dari Hito membuatnya menjadi tidak yakin dengan peta yang sebelumnya dia baca. Apakah memang benar itu ruangannya atau bukan. Leo membukanya lagi, mengingat-ingat jalan mana saja yang sudah mereka lalui. Dia menggeleng perlahan. Memejamkan mata dan mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku yakin ini tempatnya!” ucapnya dengan yakin. Dia benar-benar yakin saat ini. “Lihat, ini adalah lorong yang kita lewati sebelumnya! Ruangan dengan tanda ‘x’ tepat berada di depan lorong. Dan kamar ini, berada persis dengan apa yang digambarkan di sini!” jelasnya. “Semua ini membuatku muak!” ucap Hito. Dia melemparkan sebuah patung kelinci dari keramik yang ada di meja rias kamar tersebut. Hingga akhirnya pecah dan berantakan. Keduanya terbelalak, saat netra mereka mendapati ada benda berkilauan yang tercecer bersamaan dengan pecahan keramik di lantai. “Ini ....” “Berlian!” sahut Leo dengan penuh semangat. Mereka telah menemukan benda berharga di dalam ruangan itu. Mereka saling pandang. Benda kecil yang dibentuk dengan sempurna itu memperlihatkan kilauan yang menakjubkan. Bening, dan berwarna-warni terkena sinar. “Haruskan kita pecahkan semuanya?” ucap Leo, dia bergegas mengambil keramik lain yang ada di atas meja rias. Di atas lemari juga ada, di beberapa laci yang sebelumnya mereka buka juga ada. “Tunggu! Aku rasa, kita tidak perlu memecahkan semuanya. Kocok dan dengarkan bunyinya. Mungkin, para petinggi itu tidak ingin berlian ini muncul di berita,” cegah Hito. Dia menarik lengan Leo dengan cepat. “Kau sungguh pintar, Hito! Ya, kalau aku mempunyai berlian sebanyak ini. Aku pun tidak ingin ada seorang pun yang mengetahuinya! Menyembunyikannya dari semua orang yang mungkin saja akan merebut ini dariku!” Leo berapi-api, dia mengucapkannya seolah berlian-berlian itu miliknya sendiri. “Jangan bermimpi! Cepat pungut semuanya, simpan dan jangan menyembunyikan sebutir pun! Kau tidak akan tahu, apa yang akan terjadi karena hal bodoh itu kau lakukan!” ucap Hito. Leo pun menurut, walau bibirnya mengerucut. Hito seolah bisa menebak isi pikirannya yang ingin mengambil sebutir saja. Padahal, tak ada satu pun dari mereka yang tahu jumlahnya. Leo memunguti benda kecil itu. Memasukkannya ke dalam saku celananya. Sementara Hito mulai mengocok boneka-boneka keramik yang ada di dalam ruangan tersebut. Beberapa dari boneka itu menimbulkan suara saat dikocok. Dia menaruhnya di atas tempat tidur. Dan membiarkan boneka yang tidak mengeluarkan suara tetap berada di tempatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN