29. Keberadaan James

1036 Kata
Malam pun tiba, mereka sudah mengumpulkan banyak benda berharga sesuai dengan petunjuk yang ada di peta tersebut. Surat-surat berharga, perhiasan, juga termasuk boneka keramik yang telah ditemukan oleh Hito dan Leo. “Boneka keramik? Untuk apa kau mengumpulkan ini? Anaknya pun sudah mendapatkan boneka lebih banyak dari ini!” Rico tertawa di akhir kalimatnya. Beberapa dari mereka ikut terkekeh karena merasa hal itu pun sangat konyol. Leo yang hendak menjawab ditahan oleh Hito. Mereka hanya melihat bagian luar. Mereka tidak tahu, isi apa yang ada di dalam boneka tersebut.  “Sudah-sudah! Sebentar lagi jemputan akan tiba! Kita persiapkan dan kemas dengan rapi. Aku tidak yakin akan ada penjemputan untuk kita. Karena, barang-barang belum semua bisa kita kumpulkan. Bersabarlah sebentar,” ucap Lucas menghentikan pertikaian di antara mereka. Sebelum semakin memanas, dia harus bisa mengatur agar semuanya kembali tenang. “Siap Kapten!” semuanya berseru dengan serempak dan bersemangat. Hanya ada seorang pria yang tersenyum miring melihat semangat itu. James, duduk di sudut ruangan dan memerhatikan setiap gerakan mereka. Mereka bekerja sama dengan sangat baik. Hito dan Leo memasukkan boneka-boneka itu dengan sangat hati-hati. Mereka bahkan menyisipkan banyak kertas untuk menyumpal bagian yang goyang. Menghindari guncangan dan pecahnya boneka tersebut dalam perjalanan. Deru suara mesin dan baling-baling helikopter terdengar sangat jelas. James tiba-tiba berlari ke arah Lucas. Dia dengan cepat menarik lengan sang Kapten. Dengan napas terengah-engah. Dia pun berkata, “Jangan sampai mereka tahu keberadaanku. Bisa-bisa mereka menghabisiku!” ucapnya. Masih dengan nada suara yang terlihat ketakutan. Lucas memandangnya dengan tatapan penasaran. “Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Tidakkah kau merasa aman dengan kami di sini? Kau bahkan bisa pulang bersama dengan mereka malam ini, karena kau adalah warga sipil. Sementara kami, belum selesai dengan tugas kami di sini.” Lucas mencoba menjelaskan pada James dengan hati-hati. Tapi, James menggeleng dengan keras. “Tidak! Kalau pun aku mati, lebih baik aku mati di sini! Dari apda aku disiksa oleh mereka sampai mati di sana!” selanya. Hal itu dilihat oleh Hito dari kejauhan. Hingga membuatnya merasa perlu untuk datang dan berbicara dengan mereka. “Ada apa?” tanya Hito pada keduanya yang terlihat sedang bersitegang. “Dia tidak ingin pulang, dan ingin merahasiakan keberadaaannya di sini. Aneh sekali,” jawab Lucas. “Aku sudah menceritakan semuanya padamu! Kau harus percaya padaku! Aku lebih baik mati ddi sini dari pada mati di tangan mereka!” James sedikit berteriak. Nada bicaranya menunjukkan beta dia sangat ketakutan dan cemas. Hito menghela napas panjang. kemudian dia memandang ke ara sang Kapten. Dia snaat tahu, cerita yang diucapkan oleh James tidak mungkin sebuah kebohongan. Semua yang dia lihat sebagai bukti sangatlah meyakinkan. “Kapten, tidak ada salahnya kita turuti kemauannya. Tidakkah kau juga berpikir demikian? Kenapa dia sangat takut dan dia bahkan merasa akan dibunuh oleh mereka?” ucapan Hito sedikit mneyentil sudut hati Lucas. Ya, dia telah melihat dengan sangat jelas ketakutan di mata pria itu. “Aku pun sudah menceritakan hal itu padamu, mari kita ikuti saja kemauannya!’ lanjut Hito. Dia memandang Lucas dengan penuh harap. Tapi, sang Kapten masih saja diam dan berpkiri dalam-dalam. “Kau jug sudah mendengar larangan dari Fero, bukan?” ucapan Hito kali ini membuat Lucas memulatkan matanya. “Kapten, helikopter telah mendarat dengan sempurna. Mereka menunggu laporan darimu!” William menyusul Lucas dan segera mengajaknya pergi. “Kapten, tolonglah!” pinta James dengan suara yang mulai bergetar. “Tenanglah! Tetap di sini! Aku akan segera menyusul mereka!” ucap Hito. Dia pun mempercepat langkahnya. Menuju lantai paling atas dan ikut memasukkan barang-barang ke dalam helikopter.   “Apakah semuanya sudah kalian masukkan? Di bawah sana masih ada banyak barang! Kalian harus bisa mengumpulkannya dalam waktu cepat. Waktu kita tidak banyak. Bukankah kalian juga ingin segera pulang?” ucapan dari sang atasan yang terhubung dari telepon satelit. Membuat Lucas menciut untuk menanyakan kabar Bob sekali lagi pada mereka. “Siap!” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya helikopter itu pun mulai beranjak pergi dari sana. Mereka menyisir ruangan, mencari barang berharga. Melaporkan pada markas pusat. Lalu helikopter datang menjemput barang-barang tersebut. Kejadian itu terus berulang dalam dua hari. Hingga setelah dua hari itu, barang-barang yang tersisa hanya tinggal sekali angkut. Mereka akan ikut helikopter pulang malam nanti. Seperti yang telah dijanjikan oleh sang Jendral pada Lucas di malam sebelumnya. Sementara itu, James masih terus resah. Dia sangat ketakutan dengan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Hito yang telah mendengar janji dari sang jendral pun ikut lengah. Dia bahkan tidak lagi memusingkan cerita dari James sebelumnya. Dia bahkan ikut tidak menghiraukan ucapannya. Hingga akhirnya James memilih pergi dari sana. Helikopter jemputan telah tiba. Mereka melakukan tugas seperti malam-malam sebelumnya. Memasukkan barang-barang ke dalam helikopter dan bersiap untuk naik. “Apa semuanya sudah siap? Kita akan pulang!” ucap sang Kapten. Dalam hati dia menghitung jumlah orang yang berdiri di hadapannya. Satu, dua, tiga ... loh, ke mana james? “Apa ada yang melihat James?” ucapnya. “James siapa?” tanya sang pilot yang ikut turun dan memeriksa keaddaan di sana. “Ada seorang warga sipil yang terjebak di sini. Dia selalu bersama kami selama ini!” jawab Lucas. Tanpa sadar, dia telah membocorkan keberadaan James pada rekannya. Sementara itu, percakapan mereka terhubung dengan sang Jendral yang mendengarkan dari sebeang telepon. “Bunuh yang bernama James!” ucap sang Jendral pada pilot tersebut. Dia, yang mendapati perintah tidak terduga itu merasa sangat terkejut. Ada apa dengan seseorang yang bernama James? Bagaimana bisa ada warga sipil di sana? “Ada apa?” tanya Lucas penasaran. “Cari James! Jangan-jangan dia mencuri barang kita!” ucap Pilot itu dengan suara lantang. Membuat para prajurit terkejut mendengarnya. Kenapa pilot itu menuduh James? Sementara dia tidak mengenalnnya sama sekali. Tapi, mereka tak ambil pusing. Ini adalah malam penjemputan mereka. Mereka harus pulang, sehingga mereka segera turun dan mencari James. “Siap! Kami kan segera mencarinya dan memabwanya ke sini!” jawab mereka. “Cepat kembali ke markas, tidak pernah ada penjemputan untuk mereka. Katakan kapasitas helikopter tidak muat pada mereka!” lagi, sang Jendral mengucapkan sebuah perintah yang membuat si pilot menelan ludah. Dia melirik ke arah Lucas yang berdiri di sebelahnya. Dia sedikit ragu. Tapi, dia tetap harus melakukan tugas yang diperintahkan oleh sang Jendral.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN