“Sepertinya, barang bawaan yang telah ada di helikopter sudah memenuhi kapasitas. Kami tidak bisa membawa kalian kembali ke markas malam ini. Bertahanlah sehari lagi, besok kami akan menjemput kalian! Persiapkan dengan baik, termasuk warga sipil yang kalian sebut tadi!” ucap si pilot. Kemudian dia beranjak pergi dari sana. Tapi, Lucas mencegahnya.
“Setidaknya, bawa beberapa orang dari kami!” pintanya. Dia terus mencoba agar ada anggota timnya yang bisa pulang malam itu.
Si pilot menggeleng dengan keras. “Tidak bisa! Percayalah, besok kami akan kembali menjemput kalian dengan dua helikopter sekaligus!” ucap si pilot. Ucapannya bisa membuat Lucas sedikit lega. Walau sebenarnya dia tidak rela. Tapi, jika memang seperti itu adanya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menurut dan mengikuti arahan dari sang Jendral.
“Baiklah, tapi, kalian harus menjemput kami di pagi hari. Kami sudah tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi untuk bertemu dengan keluarga!” ucap Lucas. Dia mencoba bernegosiasi.
Percakapan yang memang masih didengarkan oleh sang Jendral itu. Membuat sang Jendral tersenyum miring. Dia pun memerintahkan sang pilot untuk mengiyakannya.
“Katakan saha iya padanya, agar semuanya semakin mudah dan lebih cepat selesai! Segera kembali ke markas!”
“Baik, kami akan mengirimkan jemputan besok pagi. Bersiaplah, dan jangan sampai kau kehilangan seorang warga sipil yang seharusnya kau jaga dengan penuh tenaga!” ucap si Pilot. Kemudian dia pun mulai melangkah pergi. Masuk ke dalam helikopter dan mulai menaikkannya dengan perlahan.
Sementara itu, di bawah sana. Mereka yang masih mencari keberadaan James mendesah kesal.
“Ini semua gara-gara James. Kita sampai ditinggal oleh helikopter penjemput!” ucap Rico, dia memukul pohon yang ada di dekatnya. Mata mereka melihat dengan jelas ke udara. Lampu kelip-kelip di helikopter semakin jauh meninggalkan mereka.
“Ini benar-benar sial! Aku tidak akan membiarkan dia lolos! Aku akan mengikatnya! Agar dia tidak kabur lagi!” sahut William.
Mereka semua terlihat kesal, kecuali Hito dan juga Roy. Keduanya tenang, dan larut dalam pikiran mereka sendiri. Hito memikirkan di mana James berada agar bisa menyelamatkannya. Berkeliaran di jalanan yang terapat makhluk menyeramkan sendirian, bukanlah sebuah keputusan yang tepat. Sementara Roy, memikirkan di mana James berada untuk bisa membungkam mulutnya tentang keberadaan ruang rahasia di bengkel besar itu.
“Kita kembali ke markas!” ajak Roy pada mereka. Mereka pun ikut dan berjalanan bersamaan dengannya. Sementara Hito mendapati ada sebuah gerakan di seberang sana. Dia pun mencoba mendekat dan memastikan apa yang baru saja dilihat olehnya. Apakah itu James, atau malah makhluk menyeramkan yang bisa saja menyerangnya.
Dia berjalan dengan perlahan. Rekan-rekannya sama sekali tidak menyadari tidak adanya dirinya dalam rombongan. Mereka telah sampai di markas dan beristirahat. Mereka mengeluh ke kapten mereka. Kenapa mereka harus sampai ditinggal hanya karena mencari seorang warga sipil seperti James. Kenapa pula markas memerintah untuk mencari warga yang tidak penting seperti dirinya itu. Lucas menjelaskan semuanya dengan detail. Tentang perintah dari sang Jendral dan tentang kapasitas helikopter yang tidak memungkin untuk membawa mereka semua kembali malam itu. Dia juga menjelaskan, bahwa besok pagi akan ada dua helikopter yang datang untuk menjemput mereka semua. Jadi, tidak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi. Kepulangan mereka sudah dijadwalkan. Mereka hanya perlu menunggu hingga esok hari tiba.
Di bawah sana, Hito masih mengendap-endap. Berusaha untuk tidak membuat suara sekecil apa pun. Agar apa yang dilihatnya di sana tetap berada di tempatnya. Tidak menyerang, atau pun kabur dari sana.
“James?” ucapnya, saat dia menyadari gerakan itu berasal dari orang yang dia cari sedari tadi.
James sontak berlari dan mencoba kabur.
“Hey, ini aku, Hito! Berhentilah! Kau mempercayai aku, bukan?” cegahnya.
James pun berhenti, dia berbalik dan berjalan mendekat ke arah Hito. “Percaya padamu? Kau bahkan tidak mempedulikan aku dua hari ini! Aku sudah mengajakmu untuk mencari jalan lain, dan kau mengabaikan aku!” ucapan James terdengar menyakitkan. Tapi, itulah kebenarannya. Dia sama sekali tidak dihiraukan oleh mereka. Karena janji yang sudah diucapkan oleh sang Jendral pada mereka. Tentu saja mereka lebih mempercayai sang Jendral. Sementara dirinya bukanlah siapa-siapa. Siapa juga yang akan percaya dengan ucapannya?
“Hey, James tidak seperti itu! Dengarkan aku! Mereka sudah pergi!” ucap Hito dengan sedikit berteriak. Dia berharap James akan berbalik dan kembali dengannya menuju markas lagi.
James akhirnya berhenti. Setelah dia mendengar bahwa helikopter itu telah pergi. Dia hari ini aman. Tapi, keberadaannya telah diketahui oleh markas pusat. Bisa saja hal buruk akan menimpa dirinya esok hari.
“Aku akan kembali, tapi aku harus melakukan sesuatu agar kalian semua percaya padaku!” ucapnya. Dia bertekad untuk melakukannya di hadapan semua prajurit. Agar apa yang dia alamai dan apa yang dia katakan selama ini dipercaya oleh mereka semua.
“Baiklah, lakukan apa yang kau inginkan. Asal kau akan kembali bersamaku. Di sini tidak aman jika kau sendirian!” sahut Hito. Dia akhirnya menghela napas lega. Saat melihat James akhirnya berjalan ke arahnya. Mereka pun kembali ke markas bersama-sama.
Suasana di markas cukup panas. Pandangan dari sorot-sorot mata yang mengarah pada James seakan sebuah panah yang siap melesat. Mereka menatap benci, menatap tidak suka dan merasa malas dengan kehadiran James di sana. Mereka bahkan memalingkan wajah, saat mereka mendapati sosok James masuk ke dalam markas.
“Kau baik-baik saja?” tanya Lucas dengan nada khawatir.
“Aku baik.” dia menjawab singkat.
“Gara-gara kamu, semuanya kacau! Kita semua tidak bisa pulang! Dan harus diundur besok pagi!” Rico yang sedari tadi mencoba menahan emosi ternyata tidak bisa. Dia pada akhirnya mengutarakan rasa kesal dari dalam hatinya. Meluapkan amarahnya pada James yang membuat rencana kepulangan mereka harus diundur besok pagi.
James menoleh, dia berjalan mendekat ke arah Rico.
“Gara-gara aku kalian gagal pulang?” ucapnya. Dia kemudian tersenyum miring. Seuah senyuman yang mengejek.
“Asal kalian semua tahu, kalau mereka memang ingin memabawa kalian pulang. Mereka bisa melakukan itu. Kenapa harus besok? Bukankah armada mereka di markas pusat sangat mencukupi?” dia mengungkapkan pendapatnya dengan decihan di akhir ucapannya. Lalu dia menarik kerah pakaian Rico. Tapi, Rico menepisnya dengan keras. Dia pun membalas tatapan James dengan sama tajamnya.
“Jika mereka memang ingin membawa kalian pulang. Mereka akan mengirimkan helikopter itu malam ini! Bukan besok pagi! Kalian bahkan lebih bodoh dari anak taman kanak-kanan yang diberi janji manis oleh Ibunya!” James berdiri. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
Seluruh ruangan terdiam, kecuali dirinya. Para prajurit ittu mencoba mencerna ucapan James yang memang ada benarnya. Tapi, mereka juga tidak bisa mempercayainya begitu saja. Karena, James terlalu sok tahu dengan keputusan atasan mereka.
“Kau jangan banyak membual! Jika kau memang ingin tinggal di sini, tinggallah sendirian! Aku akan pulang besok pagi!” sahut Rico. Dia masih menaruh harap pada janji yang diucapkan oleh sang jendral. Walau, dirinya juga tidak tahu. Apakah janji itu akan ditepati atau tidak.
“Aku pun tidak ingin tinggal di sini! Tapi, aku juga tidak ingin mati konyol di tangan mereka! Rekan-rekanku semuanya mati! Aku berhasil kabur dari kejaran mereka. Dan sekarang, kalian meminta aku uuntuk datang ke markas pusat? Kalian saja sendiri yang ke sana. Aku tidak!” tolaknya dengan jelas. Setiap kata yang diucapkan oleh James penuh penekanan. Luapan emosinya pun tersalur dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya. Dia merasa sedih, mengingat rekan-rekannya yang mati ditembaki oleh para pra berseragam yang menjanjikan mereka uang.
“Apa maksudmu? Jangan sembarang bicara!” Rico berdiri dan mencengkeram leher James. Hito bergegas melerai, beberapa rekannya pun sama. mereka menjauhkan dua tubuh yang sedang dipenuhi oleh emosi yang meletup-letup.