31. Penjelasan Panjang

1034 Kata
“Kau tidak percaya bukan dengan ucapanku. Tappi, bagaimana denganmu Kapten? Apa yang rekanmu ucapkan di telepon hari itu? Dan kau Hito, bukankah kau juga mendengarkan hal yang sama dengan Kaptenmu? Bagaimana denganmu Roy? Kau juga telah melihat begitu banyak barang berharga di bengkel  hari itu!” setelah mengucapkan itu. Dia menepis semua tangan yang mencoba menghalau dirinya. Dia berjalan mundur. Tak lagi peduli dengan ocehan yang diucapkan oleh Rico sebelumnya. Kali ini, dia menatap ke arah pria-pria tampan dan berseragam gagah itu. Dia tersenyum tipis, menunggu. Apa yang akan keduanya sampaikan kali ini di hadapan semua rekannya. “Telepon? Telepon apa? Siapa yang kalian telepon? Dan apa yang kalian dengar? Ceritakan semuanya!” Leo memberanikan diri bertanya. Dia cukup diam sejak tadi. Kali ini, gantian dirinya harus bersuara. Hito menunduk, begitu juga dengan Lucas. Sementara Roy hanya menatap datar dengan tatapan tidak suka pada pria sok tahu yang baru saja menyebutkan namanya. “Itu ....” Lucas tak kuasa melanjutkan ucapannya. Dia menatap ke arah Hito dan mengangguk. Meminta dia untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. “Fero, aku menelepon dia. Dan dia mengatakan hal yang menurutku aneh. Dia mengatakan kita harus segera pergi dari sini. Dan dia juga melarang kita untuk menghubungii kantor pusat. Menurutmu, apa yang sedang ingin dia sampaikan pada kita?” ucap Hito. Dia menoleh ke semua rekannya. Melihat satu per satu wajah mereka yang cukup terkejut mendengar kabar itu. “Fero? Peneliti cerewet itu?” sahut Leo. Dia memang sangat jelas mengingat kecerewetan Fero, dia perempuan satu-satunya di tim. Juga sebagai anggota yang paling banyak bicara, paling banyak mengatur, dan suka bersikap seenaknya. “Ya, dia yang memintakku untuk menghubunginya.” Lucas menambahi. “Bagaimana jika kita meneleponnya lagi? Agar kalian bisa mendengar hal itu secara langsung.” jamees memberikan usul. Dia mengeluarkan ponsel dan mulai menelepon Fero. Nada hubung itu terdengar dengan jelas oleh mereka semua. Bunyi tut berulang beberapa kali. Hingga akhirnya sebuah suara seorang perempuan pun mulai terdengar.   “Ada apa lagi? Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Eh, ini siapa yang bicara? Lucas? Hito?” ucapnya. Suaranya terdengar lelah dan mengantuk. Tentu saja, ini sudah lewat tengah malam. Fero baru saja terlelap dari tidurnya. Pekerjaannya yang menguras waktu dan tenaga tak cukup memaksanya untuk terpejam walau sebentar. Suara menguapnya juga terdengar jelas oleh mereka semua. “Fero, ini aku Hito. Kenapa kau mengatakan hal itu kemarin? Asal kau tahu, besok pagi kami akan mendapatkan jemputan!” jawab Hito. Fero terbelalak. Rasa kantuknya mendadak hilang. Degup jantungnya kian cepat dan dia merasa merinding seketika. “Jangan! Hito dengarkan aku! Jangan kau ikut dengan jemputan itu. Itu hanyalah sebuah jebakan! Bob sudah mengalaminya! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka menyeretnya dan entah apa yang mereka lakukan padanya. Aku masih bisa mengingat dengan jelas suara jeritan Bob malam itu. Asal kalian tahu, dia bahkan tidak sempat pulang menemui istrinya! Tidak banyak yang bisa aku ucapkan. Aku harus mneutup telepon ini. Aku akan menghubungi kalian dengan nomor lain yang tidak diketahui oleh pusat.”   Seluruh telinga yang mendengar itu tercengang. Ruangan itu mendadak hening setelah telepon itu ditutup begitu saja oleh Fero. Penjelasan dan juga kabar yang mengejutkan darinya mmebuat mereka meragu dalam waktu singkat. Benarkah yang dia ucapkan? Mereka semua tampak lesu. Mendengar kabar tentang Bob yang disiksa membuat hati mereka kian terasa nyeri. “Kalian dengar itu? Wah, ternyata mereka masih juga melenyapkan orang yang berhasil pulang.” ucapan James membuat mereka akhirnya tersadar. Bahwa cerita yang sebelumnya james katakan memang benar adanya. Wajah-wajah tampan itu tampak lesu. Mereka menunduk, beberapa dari mereka bahkan ada yang meneteskan air mata. Termasuk Hito dan Lucas. “Mereka berbohong, mereka bahkan mengatakan Bob sedang sibuk menimang anaknya!” Lucas mengguman pelan. tangannya mengepal. Hingga membuat urat-urat yang ada di tangannya tergambar dengan jelas. Membentuk garis-garis tegas yang menonjol. “Percayalah padaku! Mereka hanya akan melenyapkan kalian setelah menjemput. Atau bahkan mereka, bisa saja datang dengan berondongan peluru yang melesat dari semua senjata yang mereka bawa. Itu bukanlah sebuah jemputan untuk pulang ke rumah kalian. Melaikan sebuah jemputan untuk pulang ke rumah Tuhan!” lanjut James. Dia memang semakin menggebu-gebu saat berbicara. Mengingat rasa sakit yang sebelumnya dia rasakan. Karena seluruh rekannya ditembaki secara brutal. “Sepertinya, kita harus percaya padanya. Bagaimana menurutmu, Kapten?” tanya Hito. Dia yang sebelumnya telah meragu dengan ucapan James. Setelah mendengar ucapan Fero, dia akhirnya sadar. Bahwa semua itu benar adanya. Untuk apa Fero harus berbohong padanya? dia sama sekali tidak diuntungkan dengan hal itu. Lucas menunduk, dia bahkan duduk lemas di lantai. Mendapati kenyataan tentang Bob membuat dirinya terguncang. Dia yang awalnya merasa telah tepat memilih Bob pulang agar segera bisa menemani istrinya melahirkan. Tapi, malah membuat nyawa Bob melayang. Kevin, mendekatk ke arah sang Kapten. “Jangan salahkan dirimu sendiri, aku pun merasa bersalah. Tapi, ini bukan kesalahan kita. Ini adalah kesalahan dari para petinggi yang memberikan perintah. Ayolah Kapten, berikan kami perintah! Apa pun itu, kami akan melakukan yang terbaik!” ucapnya dengan lenbut. Suaranya mampu menenangkan Lucas yang sedang meratapi kesalahan dia mengambil keputusan. Dia memberikan sebuah tepukan di pundak Lucas dengan mantap. Sambil emnganggukkan kepalanya sekali. Dia mentap ke arah mata sang Kapten. Lucas menghela napas panjang. Rekannya yang lain sedang diam dan menunggu keputusan yang akan dia ambil. Dia memandangi mereka satu per satu. Melihat wajah-wajah dengan ekspresi kecewa, marah, dan dendam yang berapi-api. Mereka menunjukkan amarah yang sangat besar di mata mereka. Mereka telah siap menerima keputusan apa pun yang akan dibuat oleh sang kapten. Apa pun itu, mereka akan melakukannya dengan sepenuh hati, jiwa dan tenaga. “Kita harus pergi dari sini, kita akan mencari jalan pulang kita sendiri!” ucap Lucas. Beberapa dari mereka bersorak atas keputusan itu. Tapi, Rico yang memang sedikit ragu masih saja diam. “Mari berkemas! Kita harus pergi sebelum fajar. Mereka mungkin akan datang lebih pagi dari biasanya.” Lanjut Lucas. “Siap, Kapten!” jawban itu menggema di dalam ruangan. Lucas tersenyum dan bangga dengan kesetiiaan para rekannya. Di sisi lain, James pun juga merasa lega dengan keputusan itu. Perintah Lucas patut dilaksanakan dengan baik. Bertahan hidup di kota antah berantah memang sangat sulit. Tapi, itu lebih baik. Dari pada mereka harus mati konyol di tangan rekan mereka sendiri.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN