“Lapor, barang terakhir telah diangkut dengan baik.”
“Laporan di terima, bagaimana kondisi mereka di sana?” tanya sang Jendral.
Si pilot sedikit ragu, tapi pada akhirnya dia pun mulai berkata.
“Aku melihat ada kendaraan di halaman gedung A. Dari mana mereka bisa mendapatkan kendaraan itu?” jawab si pilot.
Wajah sang jendral mengernyit. “Kendaraan? Bagaimana bisa ada kendaraan di sana? Ah, si warga sipil itu sepertinya adalah orang yang sama. Besok, hancurkan lokasi. Bom dengan peledak terbaik!” perintah dari sang Jendral.
“Warga sipil?”
“Jangan banyak bertanya. semakin sedikit yang kau ketahui, semakin baik untuk hidupmu!” selanya. Itu adalah sebuah ancaman yang menakutkan bagi si pilot. Dia pun memilih diam. Dari pada harus berurusan dengan nyawanya sendiri.
“Siap, Laksanakan!” jawabnya. Dia pun beranjak pergi, setelah memberikan hormat pada sang atasan.
Sang Jendral tersenyum puas. Setelah melihat kepatuhan dan juga ketakutan di wajah si pilot tersebut. Siapa juga yang akan berani menantangnya. Tak akan ada. Dia adalah orang tertinggi di jajarannya. Dia bisa melakukan apa pun tanpa ada yang mengetahuinya. Karena, dia mempunyai banyak tangan untuk membungkap mulut-mulut yang mungkin saja membocorkan apa yang sudah dia lakukan. Walau dia tidak melakukannya dengan tangannya sendiri. Sebab, ada orang lain yang siap tangannya kotor untuk melakukan tugas darinya.
***
Fajar hampir tiba. Gelap malam mulai terkikis dengan pendar cahaya yang kian menyibak langit. Sinar-sinar itu mulai menyorot dan memberikan cahaya yang kian terang. Warna abu-abu dan jingga seolah terlukis dengan sempurna di atas sana. Hingga akhirnya warna biru muda mulai terbentuk dengan indahnya.
Para prajurit itu telah mengemas bahan makanan untuk persediaan mereka. Persenjataan juga sudah mereka siapkan. Mereka memulai perjalanan hanya dengan berbekal peta yang sebelumnya mereka terima dari markas pusat. Mereka harus berjalan menuju timur. Area terdekat yang bisa mereka jangkau untuk menuju tembok besar dan berputar-putar itu.
Mereka baru beberapa langkah keluar dari halaman gedung. Kendaraan itu berjalan dengan perlahan. Tapi sayangnya, kendaraan yang satu lagi harus mereka tinggalkan. Sebab, mereka harus mendapatkan bahan bakar yang ada di kendaraan tersebut. Agar kebutuhan bahan bakar mereka bisa terpenuhi dengan baik. Kota itu cukup luas, dan mereka harus meraba. Tempat mana yang sekiranya bisa mereka lalui menuju jalan keluar daerah tersebut.
Jarak mereka dari gedung yang baru saja mereka tinggalkan hanya berjarak beberapa ratus meter. Tapi, mereka baru saja teringat bahwa jumlah mereka kurang satu anggota.
“Di mana Rico?” teriak Lucas. Setelah dia menyadari jumlah mereka tidak lengkap.
Mereka saling pandang. Tapi, tak seorang pun dari mereka yang mengetahui hal tersebut. mereka saling menggeleng dan berkata “Tidak tahu.”
“Cepat putar balik, sepertinya dia tertinggal!” perintah Lucas.
Hito pun mengangguk. Dia memutar kendaraan itu dengan hati-hati. Suasana di sana memang sepi. Tapi, mereka tidak pernah tahu. Ancaman bisa saja datang kapan saja dan di mana saja. mereka masih berjarak beberapa ratus untuk sampai di tempat. Dari kejauhan mereka bisa melihat ada helikopter yang akan mendarat di atap gedung.
“Helikopter sudah tiba!” teriak Hito. Membuat semua rekannya menjadi siaga dan melihat ke arah di mana pria itu melihat ke atas gedung.
“Hanya satu, dan itu berisi beberapa prajurit. Ucapanmu benar James,” ucap Lucas. Dia merasa lemas mendapati kenyataan tersebut. Mereka berjanji akan membawa dua helikopter. Tapi, mereka hanya membawa satu.
“Bukankah itu Rico?” ucap Leo. Ada bayangan seorang pria yang berdiri di atas atap. Dia bahkan berlari mendekat ke arah helikopter yang baru saja mendarat. Tapi, tidak berselang lama. Mereka mendengar ada suara tembakan bertubi-tubi di atas sana.
Semua tercengang. Hito bahkan mengehntikan injakannya pada pedal gas.
“Putar balik. Sembunyikan kendaraan ini di balik gedung tinggi itu!” perintah pun meluncur dari mulut Lucas. Para perjaaurit di atas sana tidak boleh tahu, jika mereka telah pergi menggunakan kendaraan.
Kendaraan itu berhenti dengan sempurna. Bayangan-bayangan gedung tinggi di sekitar sana membuat persembunyiannya rapi. Mereka tak akan bisa melihat kendaraan itu dari atas sana. Tak berselang lama. Suara dentuman bom menggelegar. Membuat gedung itu hancur dan remuk di sana-sini. Bahkan kendaraan yang mereka naiki pun sedikit bergeser dari tempatnya akibat dari ledakan tersebut. Mereka tercengang. Membayangkan apa yang terjadi pada Rico di atas sana membuat mereka merinding. Rasa tidak percaya itu kian kuat. Mereka akhirnya tahu, rencana para petinggi itu begitu busuk. Mereka tidak akan membiarkan merkea pulang dengan selamat. Benar apa yang dikatakan james pada mereka. Ternyata, kejadian itu kembali terulang. Apa yang dialami oleh James juga akan terjadi pada mereka semua. Jika mereka masih berada di dalam gedung tersebut.
“Ledakkan kendaraan itu, hancurkan gedung ini dengan segera! Jangan biarkan mereka lolos!” ucap kapten pilot. Selanjutnya, ledakan demi ledakan terdengar dengan sangat kerasnya. Mereka yang ada di dalam kendaraan hanya bisa menangis meratapi nasib mereka. Kendaraan itu berguncang beberapa kali. Setiap kali ledakan itu terjadi.
Setelah memastikan tidak ada pergerakan di sana. Mereka pun kembali ke markas. Mereka telah selesai melaksanakan perintah dari sang Jendral. Membungkam mulut-mulut yang bisa aja membocorkan informasi tentang tugas yang mereka berikan.
Sementara itu, di sisi lain kota besar yang sedang melakukan penelitian. Fero sedang sibuk dengan ponsel baru yang dia beli tadi pagi. Dia sengaja mengambil cuti hari itu. Agar dia bisa kembali menghubungi para prajurit tanpa ada seorang pun yang tahu. Dia tahu, informasi yang dia dapatkan memang sangat beresiko untuk keselamatannya. Tapi, dia juga tidak sampai hati jika harus membuat nyawa mereka terancam. Sementara dia bisa mencegah hal itu terjadi.
Dia berjalan sendirian dengan santai. Menikmati sejuknya udara pagi. Tapi, breaking news yang tersiar di layar besar sebuah gedung membuatnya berhenti. Sebuah berita tentang tewasnya para prajurit di medan pertempuran. Rekaman jejak gedung yang hancur akibat ledakan terlihat dengan jelas. Gedung itu sangat berantakan. Tak mungkin masih ada yang selamat dari runtuhan seperti itu. Dikabarkan bahwa kemungkinan ledaan itu terjadi karena kesalahan manusia. Bom yang mereka siapkan untuk menyerang, malah meledak dan membunuh mereka semua yang ada di dalam sana.
Fero bahkan menutup mulut dengan kedua tangannya karena tidak menyangka hal itu akan menimpa rekan timnya. Air matanya menetes dengan derasnya.
“Tidak mungkin!” gumamnya. Dia baru saja akan menghubungi mereka semua. Tapi kabar itu telah tersiar di seluruh penjuru negara. Keluarga-keluarga yang ditinggalkan menangis sedih. Mendapati kabar buruk tentang anggota keluarga mereka yang meninggal dalam tugas. Termasuk Sisca dan juga Tino.
Mereka berdua sedang menikmati sarapan bersama. Hangatnya s**u dan juga manisnya roti cokelat sedang mereka kunyah. Tapi, siaran televisi itu langsung membuat keduanya terdiam seketika. Gambaran lokasi dan nama-nama prajurit yang gugur tertera di layar televisi mereka. Tino menjerit hiisteris, saat mendapati nama Ayahnya ada di antara nama-nama yang ada di sana. Sisca hanya bisa menatap layar itu dengan tatapan datar. Dengan air maya yang menetes dengan derasnya. Dengan perasaan sakit luar biasa. Dia tetap harus bisa membuat anaknya tenang. Dia meraih tubuh Tino. Memeluknya dengan sangat erat.
“Tenanglah sayang, tenanglah. Ada Ibu bersama denganmu di sini,” ucapnya berkali-kali. Lirih, tapi terus dia ulang-ulang di telinga sang anak. Tangisan pilu itu ada di tiap-tiap rumah yang namanya tertera di layar televisi itu. Mereka dikenang sebagai pahlawan yang gugur di medan pertempuran.
Tapi, di balik itu semua. Ada wajah-wajah yang tersenyum puas dengan berita yang ada. Mereka sangat menikmati berita itu. Karena, semua yang bisa mereka lakukan sudah didapatkan. Semua harta itu telah tersimpan dengan sangat baik. Seperti rahasia di balik gugurnya para prajurit itu di sana.