Sulit bernapas (KAMELIA POV)

635 Kata
Berada dalam dekapan Mr. Brayen membuatku sulit bergerak, napasku terasa pendek aku kebingungan mencari oksigen. Pria itu memang suka sekali mengusik ku, dia tak suka jika melihatku baik-baik saja. "Mr.?" cicitku pelan, masih mengatur napas "Hmm." Gumamnya, dalam mata tertutup "Aku ingin ketoilet." Kataku berdusta. Hanya itu alasan yang tepat untuk menjauhinya, rasanya aneh tidur bersama seorang pria, Aku tidak suka dan belum terbiasa. Namun tak lama pria itu merenggangkan dekapannya, seolah mempersilahkan ku untuk melenggang. Tentu, tak perlu berpikir lama kuambil kesempatan itu untuk ke toilet. Aku berdusta dan yah.. lebih memilih tidur di toilet yang luasnya hampir sama dengan ruang tamu di rumahku. Jangan samakan dengan toilet yang ada di rumahku, toilet disini bersih dan wangi jadi aku tak merasa terusik. Ku putuskan untuk kembali tidur, namun rasanya mataku tak ingin terpejam. Sungguh, aku membenci pria itu! Ingin sekali ku usir dari rumahnya sendiri namun cukup tau diri. "Kamelia?" Aku memutar bola mata, lelaki itu benar-benar menyebalkan. "Apa kau lebih suka tidur di toilet?" Teriaknya dari arah kamar Tanpa menjawab aku langsung menemuinya. "Maaf Mr. aku sedang buang air besar." "Kalau begitu lanjutkan saja, aku sudah sangat mengantuk." "Terima kasih Mr." Aku berbalik, "Tapi, aku akan menunggumu di sini." Katanya yang membuatku mematung ditempat. Yang benar saja? Pria itu akan menungguku di depan pintu toilet? Ah.. sudah gila!! Aku benar-benar bagaikan narapidana disini. "Ah.. emm, sepertinya aku tidak jadi melanjutkannya." "Kenapa?" Tanyanya "Sudah tidak ingin lagi." "Oke. Ayo kita tidur, ini sudah larut malam." Lanjutnya, aku memilih berdiri dan menghampiri pria itu. "Baik Mr." Dengan terpaksa, aku membuntutinya. Pria itu langsung membaringkan tubuhnya. Dengan sedikit kikuk aku mengikuti posisinya "Sudahlah, tidak perlu canggung seperti itu. Nanti kau juga akan mencari-cari ku." Mataku melotot, selain tukang perintah ternyata Mr. Brayen adalah pria yang suka memuji diri sendiri. Ya Tuhan, pernahkah aku beroda untuk mendapatkan pria kaya dan tampan? Jika memang seperti itu, mulai saat ini aku tarik semua doaku. Siapa peduli, bertemu dan menjadi istri ketiga Mr. Brayen adalah musibah yang luar biasa bagiku bahkan aku selalu merapalkan doa agar bisa secepatnya keluar dari bangunan megah ini. "Good night.." katanya, aku hanya terdiam enggan menanggapi. Untung saja, pria itu tak mendekap ku lagi, setidaknya aku bisa bernapas lega dan tertidur pulas meski mustahil. ___________________________________________________________ Tentu setiap harinya aku selalu mencari-cari cara agar dapat keluar dari rumah besar yang kutempati saat ini. Meninggalkan mereka yang hidup penuh dengan aturan dan kemewahan. Aku yang lahir sebagai gadis sederhana tentu tak terbiasa dan terus mencoba beradaptasi dengan semuanya. Setiap jam yang berdenting, aku merindukan rumah reot yang kutinggali bersama keluarga. Rengekan adik kecilku dan cerewetnya adik perempuanku. Sungguh membuatku menitihkan air mata. Sekalipun aku berada ditengah-tengah gemerlapnya materi tetap saja apa arti harta berlimpah tanpa keluarga. Namun sesaat, kucoba tepis itu semua. Aku disini, bernapas disini untuk mereka keluarga yang kusayang. Hanya harapan yang bisa ku pendam untuk dapat bertemu dengan ayah dan ibu. "Kamelia, kenapa kau diam saja?" Itu suara istri kedua, cukup centil. "Maafkan aku kak." Jawabku sedikit sopan. Kulihat Jesika nampak berdecih, wanita itu sedang mengolesi jagung bakar dengan saus. "Jangan diam saja! Bantu aku untuk mengolesi jagungnya." "Baik kak." Tak ingin terjadi keributan aku memilih menurut saja. Padahal jagung itu akan disantap oleh Jesika sendiri. Ya, begitulah terkadang seseorang menganggap harta dapat membedakan kasta seseorang. Pagi ini, tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan kehadiran Tiara dan Jesika. Mereka datang bersamaan, awalnya aku tak tahu namun ternyata Mr. Brayen mengadakan acara secara tiba-tiba. Ya,itu wajar saja. Orang kaya bisa melakukan apapun. "Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?" Aku terkesiap bahkan, menjatuhkan saus. "Mr. aku ingin saja." Jawabku, sesaat melirik Jesika yang duduk diantara dayang-dayang. Wanita itu sedikit melotot kearahku "Bery." "Ya Tuan?" "Olesi jagung ini, dan kamu Kamelia ikut bersamaku." Tanpa menunggu aba-aba aku langsung membuntuti Mr. Brayen yang berjalan cukup cepat. Kedua istri Mr. menatapku penuh sengit entah mengapa aku merasa mereka sudah mulai memasang bendera perang padaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN