Pinjaman Pertama

1102 Kata
Alyka Vanyaaaa... Akhirnya Alyka dapat kerjaan wfh (⁠≧⁠▽⁠≦⁠) Vanya Kerja apaan tuh? Alyka ngajarin bahasa Indonesia utk bule. pakai aplikasi namanya talk n talk. Vanya coba deh lamar juga disana Vanya gabisa bahasa enggres Alyka hmm... memang harus bisa bahasa Inggris sih untuk ngejelasin ke muridnya Vanya :') gimana cara kerjanya? Alyka kita ngajarin 1 murid per 1 sesi via video call di aplikasi Talk N Talk Vanya cara dapat muridnya gimana? Alyka kita bikin video perkenalan di aplikasi itu, nanti muridnya DM kita untuk booking kelas kita. tinggal tunggu murid aja Vanya oo semangat ya bestie Alyka iyaaa thank you oh iya, gimana masalah hutang Vanya itu? Vanya masih belum ada uang untuk bayarnya. debt collector nya nelpon terus. Vanya mau non aktifin nomor Vanya. simpan nomor baru Vanya yaa 08651209xxxx Alyka Vanya mau ganti nomor? Vanya enggak, sementara aja Alyka oke deh Van, Alyka punya uang 500rb. Vanya pake aja dulu untuk cicil hutang Vanya duh segan ngerepotin Alyka :'( Alyka gapapa pake aja dulu, sembari Vanya cari orang yg bisa bantu pinjamin uang ke Vanya supaya semua hutang Vanya lunas Vanya ya udah deh. makasih ya Alyka. memang selalu bisa diandalkan :') Aku mentransfer uang kepada Vanya setelah ia setuju untuk menerima bantuan dariku. Memang tidak banyak, tidak bisa juga membuatnya terbebas dari teror sang debt collector. Tapi kalau boleh jujur, hanya itu uang yang aku punya. Bahkan sebenarnya aku membutuhkan uang itu untuk membayar cicilan rumahku. Memang aku cukup nekad meminjamkan uang saat aku sendiri juga membutuhkan uang. Tapi aku yang selalu membaca curhatan Vanya, tak tega membiarkannya menderita seperti itu. Setidaknya dia harus lepas dari debt collector. Kalau meminjam uang dengan teman atau keluarga, Vanya kan bisa membayar kapanpun dan ia tidak akan terkena bunga. Aku sudah punya rencana kalaupun Vanya masih belum bisa menemukan orang yang bisa meminjamkannya uang, aku akan meminjamkannya lagi karena satu bulan lagi aku bisa mencairkan asuransi ketenagakerjaanku. Jumlah uangnya cukup untuk membayar semua hutang Vanya. Aku percaya dengan Vanya. Ia pernah meminjam uang ku beberapa kali sebesar ratusan ribu rupiah, dan selalu mengembalikannya tak lama setelah itu. Jadi kali ini pasti ia juga akan mengembalikan uangku secepatnya. Ia bilang adiknya akan menikah akhir bulan depan. Ia akan mendapatkan uang pelangkah dari adiknya, tapi harus menunggu sampai pernikahan itu selesai digelar. Sedangkan tenggat waktu hutang dari aplikasi pinjaman online itu akhir bulan ini. Jadi sembari menunggu adiknya melangsungkan pernikahan, Vanya bisa meminjam uang kepada orang lain dulu untuk membayar hutangnya di aplikasi online. Barulah ia membayar lagi hutangnya kepada orang lain bulan depan. Setelah selesai chat-an dengan Vanya, aku bersiap untuk kelas Bahasa Indonesia ku. Kelas ke-dua ku. Aku harap hari ini akan berjalan lancar seperti kemarin. *** "Apa pekerjaanmu?" tanya Om Albert setelah kami selesai berbasa-basi untuk memulai kelas. Aku pun menjawab dengan jujur. "Saya baru saja berhenti bekerja Minggu lalu, hari Jum'at." "Oh, jadi kamu baru berhenti bekerja dan langsung mendapatkan pekerjaan? Kamu sangat beruntung!" Aku tersenyum mendengar ucapan Om Albert. Ya kalau dipikir-pikir memang aku cukup beruntung, karena banyak orang lain yang harus menunggu berbulan-bulan hingga beberapa tahun untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Tapi aku hanya membutuhkan waktu satu hari. Semoga pekerjaan ini bisa menjadi pekerjaan tetapku karena kalau tidak, aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mencari uang demi membayar cicilan rumah. "Kalau pekerjaanmu apa?" tanyaku balik. "Saya punya usaha jasa kebersihan." "Ooh..." aku manggut-manggut, meski tidak begitu mengerti pekerjaannya seperti apa. Apakah ia adalah bos dari para pekerja yang bekerja di bidang kebersihan? "Kalau boleh tahu kenapa kamu tidak melanjutkan pelajaranmu dengan guru yang lama?" tanyaku kemudian. Sebelum kelas di mulai boleh kan aku kepo sedikit tentang muridku supaya kegiatan belajar mengajar kami menjadi lebih santai nantinya? "Saya tidak suka dengan mereka." "Lho, kenapa?" tanyaku bingung. Apakah mereka orang jahat? Apa yang sudah mereka lakukan dengan om ini sampai-sampai om ini tidak suka mereka? "Saat saya mau belajar, mereka sibuk. Saat mereka punya waktu, saya sibuk." Oh, jadi ini hanya masalah tidak bisa menemukan waktu yang cocok untuk kelas? Ya memang agak susah kalau mengajar sambilan saat punya pekerjaan tetap, karena waktu luang yang dimiliki hanya sedikit. Ditambah ada perbedaan waktu dengan negara lain. Di Australia waktu lebih cepat 4 jam dari Indonesia. "Saya beruntung bertemu dengan kamu. Karena kamu tidak bekerja, jadi kita bisa mengatur waktu kelas," kata Om Albert bersemangat. Aku tersenyum menanggapi perkataannya. Akhirnya dia bisa mendapatkan guru yang bisa menyesuaikan waktu dengannya. "Kamu bekerja jam berapa?" "Saya bekerja dari jam 6 sore sampai jam 9 malam." "Oh, jadi kamu tidak bekerja di pagi hari?" "Tidak. Saya di rumah saat pagi hari." Baiklah. Ini hal bagus untukku. Karena dia tidak bekerja di pagi dan siang hari, kami bisa melakukan kelas di waktu itu. Kalau dia bekerja di pagi hingga sore hari, otomatis kami jadi belajar di malam hari kan? Membayangkan bekerja di malam hari rasanya sudah sangat malas sekali. Setelah mengajarkan beberapa kosa kata baru tentang waktu kepada Om Albert, kami kembali terlibat ke dalam percakapan. Ia tidak mau belajar terlalu banyak, dan ingin mengingat sedikit kosakata yang baru ia pelajari. Baiklah, aku tidak akan memaksanya. Yang penting ia bisa belajar dengan nyaman. "Bisakah kita belajar 30 menit saja dalam satu hari? Karena 1 jam terlalu lama bagi saya," ucapnya kemudian. Sepertinya om Albert menyadari kalau ia hanya butuh belajar selama 30 menit. Karena 30 menit lainnya kami malah mengobrol dalam bahasa Inggris saja. Tentu saja hal itu tidak menguntungkannya. Sebenarnya kalau waktu mengajar dikurangi, pendapatanku juga akan berkurang. Tapi ya sudahlah, aku juga tidak tahu harus membahas apa selama satu jam kalau muridnya hanya mau menambah sedikit kosakata baru di setiap kelas. Toh kalau dihitung-hitung, kelas 30 menit juga masih bisa membuatku membayar cicilan rumahku. Hanya saja aku tidak akan punya uang lebih untuk jajan. Mungkin kalau aku mendapatkan banyak murid, aku bisa mendapatkan penghasilan lebih banyak lagi. Aku berharap aku bisa mendapatkan murid baru. "Oke," kataku akhirnya. "Terimakasih. Kamu orang yang baik," pujinya. "Oh terimakasih. Kamu juga baik," ucapku sambil tersenyum. Akhirnya satu jam berlalu. Kami pun mengakhiri kelas. Sebelum ia meninggalkan panggilan video di kelas, ia kembali berterimakasih kepadaku. "Terimakasih untuk hari ini. Kamu melakukannya dengan sangat baik. Kerja bagus!" Om Albert kembali memujiku. Hatiku tersentuh. Rasanya sudah lama sekali tidak ada yang memuji kinerjaku. Karena di tempat kerja terakhirku, aku selalu kena caci maki. Seandainya om Albert tahu, betapa berartinya perkataannya barusan untukku. "Terimakasih juga. Kamu juga sangat baik di kelas. Sampai jumpa besok!" ucapku bersemangat. "Sampai jumpa!" Kelas hari ini berakhir. Aku segera mematikan laptopku, dan menghela napas lega. Semoga hari-hariku ke depannya akan berjalan baik dan lancar seperti hari ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN