Tak terasa sudah seminggu aku bekerja dari rumah. Aku kembali mendapatkan satu murid baru. Tapi ia tidak seperti Om Albert yang meminta belajar setiap hari. Murid baru itu hanya belajar sekali denganku. Kini harapanku hanya Om Albert saja.
Aku memasang wajah ramah saat kelasku dengan Om Albert dimulai. Ia selalu muncul dengan teh hijaunya. Semaniak itu dia dengan teh hijau.
Kali ini kami kembali mengulang kosakata tentang waktu yang aku ajarkan kepada Om Albert. Ia adalah tipe murid yang ingin diajarkan sedikit materi dan harus selalu diulang agar ia selalu ingat. Agak gemas juga karena kemajuannya jadi sangat lambat sekali. Tapi mungkin usia segitu memang tidak bisa diajarkan banyak hal kan? Aku juga merasa semakin tua, semakin lambat otakku berproses.
"Kenapa kamu berhenti bekerja?"
Om Albert membuka obrolan setelah pembahasan pelajaran telah selesai. Aku berpikir sejenak, menyusun kata-kata di otakku untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
"Saya sering lembur saat bekerja, hingga jam 9 malam. Tapi kantor saya tidak memberikan uang lembur."
"Oh Tuhanku," Om Albert tampak cukup terkejut mendengar pengakuanku.
"Dan hal itu membuat kesehatan saya buruk. Saya punya asam lambung, tapi saat malam saya sering terlambat makan karena saya masih di kantor. Perut saya sakit, bahkan asam itu sampai ke punggung saya sehingga punggung saya terasa sakit setiap hari."
"Kamu sudah ke rumah sakit?"
"Ya, sudah. Tapi kondisi saya tidak membaik juga."
"Saya mengerti kenapa kamu akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja."
Aku mengangguk sambil tersenyum datar. Mungkin kalian berpikir aku berlebihan karena memutuskan untuk berhenti bekerja hanya karena harus lembur hampir setiap hari. Tapi asam lambungku membuatku sering merasa cemas berlebihan, selalu khawatir. Efek samping dari gerd yang menyerangku bukan hanya memberikan rasa sakit, tapi juga membuat mentalku berantakan.
"Sekarang kamu tidak perlu khawatir. Kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru," ucap Om Albert, "kamu punya waktu yang banyak untuk beristirahat. Kondisimu pasti akan segera membaik."
"Iya. Terimakasih."
"Apakah kamu sedang dekat dengan seseorang sekarang?"
Sepertinya Om Albert kehabisan bahan obrolan sampai-sampai menanyakan orang yang dekat denganku. Aku pun menjawab pertanyaannya dengan jujur.
"Tidak. Saya tidak pernah pacaran."
"Kamu masih belum mau menikah?"
"Tentu saja saya mau menikah. Tapi saya belum menemukan calon suami saya."
"Saya juga belum menemukan calon istri saya. Saya sudah mencari selama delapan tahun, tapi tidak bisa menemukannya sampai sekarang."
Delapan tahun? Berarti Om ini sudah jomblo selama delapan tahun? Masih mending sih daripada aku yang dua puluh tujuh tahun menjomblo. Bukannya terlalu pemilih, tapi sangat sulit bagiku menemukan orang yang bisa membuatku nyaman. Apalagi aku orang yang kurang terbuka. Jadi sedikit sekali lelaki yang mendekatiku di masa lalu. Masa sekarang, lelaki seumuran ku sudah pada menikah. Sedihnya.
"Kamu pasti bisa menemukannya suatu saat nanti," kataku berusaha menghibur Om Albert, dan sebenarnya kata-kata itu untuk diriku juga.
"Ya, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menemukannya."
"Bagus," aku tersenyum untuk memberi semangat, walaupun sebenarnya aku juga butuh semangat.
"Kamu tahu? Selama ini saya selalu berusaha untuk berbuat baik. Saya menolong orang-orang, saya menolong teman saya. Saya yakin Tuhan akan membalas semua kebaikan saya."
"Tentu saja," kataku yang masih pura-pura tersenyum. Kenapa Om ini terkesan sedang mempromosikan dirinya ya?
"Saya beberapa kali meminjamkan uang untuk teman-teman saya. Tapi saya tidak meminta mereka untuk mengembalikannya. Saya juga sering memberikan uang kepada adik-adik saya."
"Kamu orang yang baik," komentarku singkat. Aku memang tidak pandai memuji orang dengan kalimat yang sangat panjang. Sepertinya aku mengoper obrolan terlalu cepat.
"Terimakasih."
"Sepertinya ini sudah tiga puluh menit. Kamu butuh istirahat sebelum pergi bekerja," aku mengingatkan Om Albert bahwa waktu belajar sudah habis dengan cara yang halus. Sebisa mungkin tidak terdengar seperti mengusirnya.
"Oke. Terimakasih untuk hari ini. Kamu melakukannya dengan baik. Sampai jumpa besok!"
"Kamu juga sangat baik di kelas hari ini. Sampai jumpa besok dan nikmati waktu istirahatmu!"
Aku menghela napas lega. Satu lagi kelas yang berakhir dengan lancar. Aku bersiap untuk kelas selanjutnya. Kali ini aku dapat satu murid lagi dari Perancis. Aku harus melakukan yang terbaik supaya murid itu mau terus belajar denganku!
***
Alyka
Vanya, murid Alyka yang dari Australia itu lagi nyari jodoh lho. Berminat gak? Tapi umurnya udah 42 tahun
Vanya
yah ketuaan. kalau umurnya gak jauh-jauh banget, gas lah
Alyka
wkwk...
eh gimana hutang Vanya? udah ada orang yang minjamin Vanya uang?
Vanya
masih belum :')
Alyka
Alyka udah dapat gaji dari oom Australia itu. pakai aja dulu uangnya untuk angsur hutang Vanya. ada nih sejuta
Vanya
duh, yang kemaren aja belum bisa ganti :')
Alyka
gapapa Vanya, biar sekalian Vanya di satu pintu aja pinjam uangnya. jadi gampang balikinnya
Vanya
makasih banget ya Alyka. memang selalu bisa diandalkan :')
Alyka
(。•̀ᴗ-)✧
Eh Van, ada event lari nih. Tapi biaya pendaftarannya mahal. 225rb untuk 5k & 300rb untuk 10k. Kayaknya untuk profesional
Vanya
MAHAL
Alyka
Itu lah kan (:
Vanya
Ada hadiahnya? Besar nggak? Event nya kapan? Kalau dau bulan lagi mau ikut walaupun berbayar. Wkwkwk
Alyka
(Mengirimkan foto poster lomba)
3 bulan lagi. Total hadiah puluhan juta. Ikutlah Van, biar Alyka jadi supporter :D
Vanya
Lah, jadi supporter :'D
Makasih infonya ya.
Kayaknya Vanya tertarik.
Bisa beberapa bulan ini latihan jalan santai atau lari
Alyka
Habis Alyka lari sepuluh langkah aja udah mau pingsan Van.
Kan rugi nanti udah bayar mahal untuk registrasi tapi gak bisa lari ಠ∀ಠ
Kapan kita ke CFD? Mau nemenin Vanya latihan lari
Vanya
Oke nanti Vanya atur waktu dulu
Alyka
Sip! See you!
Aku tersenyum melihat respon dari Vanya. Senang sekali karena ia seperti sangat bersemangat mendapatkan info dariku. Memang beberapa waktu lalu Vanya sempat bilang ingin mengikuti perlombaan lari, karena menurutnya itu pasti akan sangat seru sekali. Dan kebetulan aku melihat iklan tentang lomba lari di media sosial hari ini, makanya aku langsung memberitahukannya. Memang sepertinya agak susah untuk memenangkan lomba ini karena Vanya jarang berlari, sama sepertiku. Hehe... Tapi kalau dia mulai latihan dari sekarang, mungkin bisa saja ada keajaiban kan? Hadiahnya bisa ia pakai untuk membayar hutang kalau uang dari adiknya tidak cukup untuk membayar hutang. Aku tak sabar untuk menantikan latihan Vanya dan juga perlombaan itu. Akan ku pastikan aku akan meneriaki namanya dengan penuh semangat saat Vanya ikut lomba lari nanti!
***