"Saya akan liburan ke Jakarta bulan Januari. Saya sudah beli tiketnya."
Om Albert menceritakan rencana liburannya kepadaku. Aku pun menanggapi perkataannya itu dengan rasa penasaran.
"Bagaimana dengan hotelnya?"
"Saya belum memesan. Tapi nanti saya akan menginap di apartemen, bukan hotel."
"Oh, kenapa?"
"Karena hotel mahal. Saya akan berlibur sekitar tiga minggu, dan menyewa apartemen untuk satu bulan."
Aku mengernyitkan kening, "kenapa menyewa apartemen untuk satu bulan? Kenapa tidak tiga minggu saja?"
"Karena mereka hanya menyediakan sewa untuk satu bulan. Sewa untuk tiga minggu tidak tersedia," Om Albert menjawab pertanyaan ku dengan penuh kesabaran.
Aku manggut-manggut. Benar juga ya. Sepertinya kalau menyewa apartemen itu memang yang tersedia hanya untuk sewa per bulan. Atau aku saja yang tidak tahu bagaimana semestinya? Aku tidak pernah mencari tahu soalnya.
"Baiklah, saya akan membantumu mencari apartemen," kata ku. Orang Indonesia kan terkenal ramah dan suka menolong, jadi aku harus memperlihatkan kepadanya bahwa memang orang Indonesia seperti itu. Aku tidak boleh mempermalukan Indonesia di mata orang asing.
"Terimakasih! Tolong beritahu saya kalau kamu sudah menemukannya," Om Albert menyambut sodoran bantuan ku dengan suka cita. Aku pun tersenyum melihat antusiasnya.
"Tahun lalu kamu menginap dimana?" tanyaku lagi, karena dia kan berlibur setiap tahun di Jakarta. Jadi pasti dia punya tempat langganan.
"Saya lupa nama tempatnya. Tapi saya tidak suka dengan apartemen itu."
"Kenapa?"
"Karena kamar mandinya kurang bersih. Jadi saya harus membersihkan kamar mandi itu sendiri. Dan kamarnya juga kurang bagus. Mesin cuci juga tidak ada."
Ya ampun, sebegitunya dia sampai mau membersihkan kamar mandi apartemen yang disewanya? Padahal ia bisa meminta petugas kebersihan kan? Tapi sepertinya ia tidak percaya dengan petugas kebersihan disana karena sebelum ia menempati apartemen itu, pasti petugas kebersihannya sudah membersihkan kamar mandi. Pekerjaan mereka saja yang tidak beres.
"Baiklah, saya akan mencarikan apartemen yang bagus untuk kamu."
"Ya. Saya mau apartemen yang punya dapur, AC, mesin cuci dan dua kamar."
"Untuk apa dua kamar?" tanyaku bingung. Si om ini aneh-aneh saja permintaannya. Padahal ia akan liburan sendirian. Untuk siapa kamar satu lagi? Menambah biaya saja.
"Kalau saya bosan dengan kamar yang satu, saya mau pindah ke kamar yang satu lagi."
Aku hanya bisa sedikit menganga mendengar alasannya. Tapi ya sudahlah, toh ia menyewa apartemen dengan uangnya sendiri.
"Oke, baiklah," aku berusaha untuk tidak komplain dengan alasannya, walaupun jiwa misqueen ku meronta-ronta, dan mulutku gatal ingin menceramahinya supaya ia bisa menggunakan uangnya dengan lebih efisien. Aku gregetan melihat orang yang menghamburkan uang untuk hal yang sangat tidak penting.
"Lalu kenapa harus ada mesin cuci? Kan bisa mencuci di tempat laundry?" aku lagi-lagi kepo dengan alasannya. Soalnya semakin banyak fasilitas yang diinginkan, pasti harga sewa apartemennya semakin mahal. Lebih baik uangnya untuk aku saja. Huhu...
Lagipula kalau mencuci di tempat laundry, bisa sekalian disetrika. Masa liburan harus bekerja juga sih? Si Om ini ada-ada saja.
"Iya saya tahu, tapi pasti nanti akan banyak drama."
Drama apa sih Om? Drama Kumbara?
Aku berusaha merelakan orang yang sedang melakukan video call dengan ku berbuat semaunya dengan uangnya sendiri.
Sejenak aku berpikir, ya mungkin memang ribet kalau mencuci baju di tempat laundry. Karena harus menunggu satu sampai tiga hari sampai baju kita selesai dicuci dan disetrika. Kalau tiba-tiba mau dipakai bagaimana? Memang lebih aman mencuci sendiri saja. Kenapa aku berpikir lambat sekali sih?
"Tahun lalu bagaimana? Kamu bilang tidak ada mesin cuci. Kamu mencuci pakaianmu di tempat laundry?" tanyaku kemudian. Kelas macam apa ini?
"Iya. Dan terkadang saya mencuci sendiri dengan tangan dan sikat."
Waw. Aku tak menyangka orang luar negeri bisa mencuci baju dengan tangan dan sikat. Ku pikir hanya orang Indonesia saja yang bisa begitu.
Aku menyimpan sendiri rasa kagetku. Mungkin mainku kurang jauh, jadi tidak tahu banyak tentang dunia luar. Banyak dugaan-dugaanku tentang orang di luar negeri yang ternyata salah selama ini.
"Saya mengerti," kataku akhirnya. Kata-kata andalan setelah aku mendapatkan penjelasan, dan tidak berminat untuk memperpanjang topik tersebut.
"Baiklah, besok kita belajar jam berapa?" tanyaku kemudian, karena waktu belajar kami sudah hampir habis. Seperti janjiku di awal, aku akan menyesuaikan waktuku dengannya. Biasanya kelas kami dilaksanakan di pagi hari karena siangnya dia bekerja. Kalau di Australia itu sudah sore menuju malam sih.
"Besok saya ada pekerjaan tambahan dari pagi karena ada karyawan yang tidak masuk. Apakah kamu bisa di malam hari setelah saya pulang kerja? Jam sepuluh malam di Australia."
Aku menghitung mundur empat jam. Berarti di Indonesia jam enam sore.
"Maaf, jam segitu adalah waktu shalat. Apakah kamu bisa jam sebelas malam?" tanyaku. Walaupun aku bertekad untuk mengikuti jadwal murid ku, tapi urusan beribadah tidak bisa digeser begitu saja.
Aku sempat khawatir kalau ia tidak akan setuju. Karena jam sebelas malam sudah cukup larut, ia pasti butuh istirahat karena seharian bekerja. Tapi ternyata ia malah menyetujui saran waktu dariku.
"Baiklah. Saya bisa."
"Kamu yakin? Apakah nanti kamu tidak mengantuk?" tanyaku lagi. Takutnya ia memaksakan diri karena merasa tak enakan dengan ku.
"Tidak papa. Saya tidur jam 12 malam atau jam 1 malam. Tidak masalah. Dan jam 10 malam saya bisa makan malam dulu sambil menunggu kelas kita di jam 11 malam."
"Oke," penjelasan dari Om Albert membuat rasa bersalahku berkurang.
"Ngomong-ngomong, ada hal yang ingin saya sampaikan," ucap Om Albert, membuatku jadi bertanya-tanya apa maksudnya. Aku berharap ini bukan berita buruk.
"Apa itu?"
"Saya pikir kelas ini cukup mahal, karena hanya tiga puluh menit."
Aku menyembunyikan ekspresi kagetku, atau takut. Takut Om Albert meminta penurunan biaya. Padahal penghasilanku darinya sudah sangat pas-pasan sekali. Aku harus bagaimana?
"Jadi begini, saya punya dua opsi. Yang pertama, kita tetap menjalankan kelas selama tiga puluh menit sehari, tapi biayanya diturunkan."
Kan. Dia meminta penurunan biaya. Kurang murah apa sih kelasku Om? Kita belajar Senin sampai Minggu. Aku tidak punya waktu libur. Tapi Om masih minta korting juga?
Sepertinya aku sudah harus mencari pekerjaan baru. Seperti desakan keluargaku. Mereka tidak percaya aku akan tetap bisa membayar cicilan rumah hanya dengan bekerja dari rumah saja. Selamat tinggal hidupku yang tenang tanpa perlu bangun pagi dan menghabiskan waktu panjang di jalan serta mengerjakan pekerjaan yang tidak aku sukai sama sekali di kantor. Selamat tinggal waktu luang yang panjang. Selamat tinggal masa-masa berbakti kepada ibu karena mungkin aku tidak bisa membantu pekerjaan rumah sesering saat aku WFH.
"Atau..."
Om Albert melanjutkan perkataannya. Dia bersiap mengatakan opsi kedua darinya. Aku tetap menyimak walaupun sudah tidak bersemangat.
"Kita bicara sepuasnya dalam sehari dan kamu bisa menentukan harganya."
Aku yang tadi sudah putus asa mendadak hampir tersenyum lebar mendengarkan penawarannya. Tentu saja aku akan lebih memilih opsi kedua.
"Sepertinya opsi kedua lebih baik," ucapku terang-terangan, "tapi untuk biayanya, saya tidak ingin memberatkan mu."
Munafiknya kamu Alyka. Kalau bisa kamu ingin gaji setinggi-tingginya kan?
"Baiklah, anggap saja dalam sehari kita bicara selama 3 jam dengan biaya $300."
"Oke, kedengarannya bagus!"
Aku langsung menyetujui begitu saja. Si bodoh ini, bukannya nego untuk mendapatkan bayaran lebih tinggi.
Tapi itu masih lumayan. $300 Australia sekitar tiga juta rupiah. Memang lebih rendah daripada gajiku saat aku bekerja di kantor. Tapi setidaknya jam kerja hanya 3 jam sehari, tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi, tidak perlu drama persiapan sebelum berangkat kerja setiap pagi, dan kerjaku hanya ngobrol. Mentalku pasti akan baik-baik saja.
"Baiklah kalau kamu setuju. Saya akan berusaha untuk terus meningkatkan bayarannya setiap beberapa bulan, jadi kamu tidak perlu bekerja lagi."
Oh, sepertinya tujuan Om Albert tiba-tiba merubah waktu jam belajar dan biaya kelas karena ia ingin membantuku. Karena aku sudah menceritakan kesulitanku kepadanya. Dia tahu gajiku di kantor lama berapa, dan ia berusaha untuk memberikanku gaji yang mendekati agar kebutuhanku bisa tercukupi hanya dengan bekerja dari rumah saja. Beruntungnya aku bertemu dengan orang baik.
"Terimakasih!" ucapku bersungguh-sungguh.
"Sama-sama," Om Albert tampak senang melihatku yang terharu oleh tindakan baiknya.
"Sepertinya kita bisa memulai kelas 3 jam itu minggu depan, karena besok kamu sibuk."
"Ya, saya setuju," ujarnya.
"Baiklah, terima untuk hari ini. Kerja bagus! Semoga harimu menyenangkan!"
"Terimakasih juga! Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa!"
Aku berteriak kecil setelah hubungan video call berakhir. Dengan begini aku bisa melanjutkan WFH ku dengan tenang. Aku tidak perlu melamar pekerjaan lain!
***