"Saya sudah bercerai dengan istri Saya..."
Sebuah pernyataan dari Om Albert hari ini membuatku kaget. Jadi maksud dia belum menikah itu karena sekarang dia duda?
Pantas saja aku berpikir aneh rasanya kalau orang seusianya belum pernah menikah. Ternyata dia sudah bercerai.
"Saya memiliki satu anak perempuan dengannya. Dia membawa putri kami, dan saya tidak bisa menghubunginya lagi sampai sekarang. Saya tidak bertemu dengan putri saya selama 8 tahun ini. Saya sudah mencari-cari mereka, tapi saya tidak bisa menemukan mereka," Om Albert melanjutkan ceritanya.
"Oh, saya turut menyesal," ucapku prihatin. Pasti rasanya sedih sekali ditinggal oleh istri, dan tidak bisa bertemu dengan anak sendiri juga.
"Dulu Saya adalah orang yang tidak baik. Saya sering pergi ke klub malam, mabuk, merokok, mengkonsumsi hal yang tidak baik untuk tubuh saya dan melakukan banyak hal buruk atau sia-sia. Saya melupakan Tuhan. Istri dan anak saya akhirnya pergi, dan itu adalah masa-masa terberat di dalam hidup Saya. Hal itu sungguh sangat tidak mudah bagi saya. Saya benar-benar merasa terpukul. Sangat berat sekali."
Rasanya air mataku ingin jatuh mendengar kisah sedih dari Om Albert. Ia terlihat berusaha tegar saat menceritakannya kepadaku. Mungkin sudah banyak air mata yang jatuh selama ini karena kesedihannya ditinggalkan orang tercinta dan membuatnya merasa kesepian. Mungkin ia begitu menyesal atas perilakunya dulu yang membuat istrinya meninggalkannya sambil membawa putri mereka.
"Setelah istri dan anak saya pergi, saya merasa kehilangan arah. Hingga suatu hari setelah sekian lama, saya kembali berkomunikasi dengan Tuhan. Saya menceritakan semuanya kepada Tuhan. Saya menangis di hadapannya. Dan kemudian Saya sadar, di saat saya sendirian, saat itulah saya akhirnya bergantung kepada Tuhan. Sejak saat itu, Saya memutuskan untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Saya meninggalkan kebiasaan buruk Saya, Saya meninggalkan teman-teman Saya, Saya meninggalkan dunia gelap Saya. Di satu sisi saya sangat sedih dengan kepergian dua orang yang sangat saya cintai. Tapi di sisi lain, Saya jadi bisa menjadi dekat kembali dengan Tuhan. Saya kehilangan semuanya dan sendirian. Tapi di saat sendirian, saya akhirnya bisa menemukan diri saya yang telah lama hilang."
Aku tersentuh mendengar ucapan Om Albert. Tuhan membuatnya kehilangan orang yang dicintainya, tapi Tuhan tidak membuat Om Albert kehilangan-Nya. Malah, Om Albert jadi menemukan Tuhan kembali.
"Dan setelah itu, saya bertekad untuk mencari istri yang baik. Istri yang taat kepada Tuhannya. Tapi selama delapan tahun ini saya mencari, saya masih belum juga menemukannya."
"Kamu pasti akan menemukannya suatu hari nanti," ucapku berusaha memberikan semangat.
"Ya. Saya harus sabar, dan terus melakukan yang terbaik," ucap Om Albert dengan senyum optimis.
"Kamu pasti bisa! Terimakasih sudah membagi kisah mu kepada saya."
"Ya, terimakasih juga sudah mau mendengarkan."
Om Albert tersenyum, seperti sedikit lega karena bisa menceritakan hal yang selama ini ia pendam sendirian. Aku pun ikut tersenyum, berusaha memberikan kekuatan kepadanya.
"Ngomong-ngomong, apakah kamu sudah menemukan apartemen untuk saya?" tanya Om Albert kemudian, mengubah topik pembicaraan.
Ya ampun! Aku lupa dengan janjiku untuk mencarikannya apartemen!
"Maaf, saya masih belum ada waktu untuk mencarinya. Tapi hari ini akan saya cari," ucapku ngeles.
"Baiklah. Tolong beritahu Saya kalau kamu sudah menemukannya."
"Pasti! Hmm... Baiklah. Sekarang sudah tiga jam. Tidak terasa kita sudah bicara banyak," aku mengingatkan soal waktu kelas yang sudah habis.
"Ya, senang berbicara dengan mu!"
"Saya juga! Besok kamu mau belajar jam berapa?"
"Jam satu siang Australia. Bagaimana?"
"Baiklah! Sampai jumpa besok!"
"Sampai jumpa!"
***
Seketika pikiran negatif menelusup di benakku. Padahal saat pertama kali Om Albert belajar denganku, dia mengatakan satu jam waktu belajar terlalu lama baginya. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang dia mau tiga jam?
Kalau mau sebaik itu dengan menambah penghasilanku, kenapa dia harus repot-repot menyisihkan waktu tiga jamnya untukku? Belajar tiga jam dalam sehari kan sangat melelahkan?
Apakah Om Albert punya maksud lain?
Jangan-jangan dia sengaja meminta waktu belajar lebih lama supaya aku hanya mengajarinya saja dan tidak mencari murid baru? Jadi aku hanya fokus kepadanya, terbiasa dengan kehadirannya di dalam hidupku, merasa nyaman dengannya, dan...
jatuh hati kepadanya?!
Tidak... Tidak... Tidak....
Alyka, jangan geer!
Om Albert mana mungkin suka dengan orang yang usianya cukup jauh darinya. Yang kikuk dan kaku. Tidak bisa mengobrol dengan baik. Dan bahkan tidak berpenampilan menarik saat mengajarnya.
Aku bahkan tidak memakai bedak saat video call dengannya. Benar-benar wajah natural. Bahkan pernah aku belum mandi juga.
Tidak mungkin pria seusia Om Albert tertarik dengan wanita muda yang tidak pernah berusaha untuk tampil cantik di depannya dan tidak bersifat friendly.
Setidaknya ia pasti memilih wanita sekitar usia 35 tahun ke atas yang cantik, feminim, manja, dan bergantung kepadanya.
Oke, untuk berjaga-jaga aku akan mencarikannya calon istri supaya dia tidak menjadikan ku calon istrinya. Tapi siapa ya? Teman-teman ku rata-rata usianya sama denganku, dan pasti mereka juga sama denganku. Tidak ingin menikah dengan orang yang lebih tua 15 tahun. Kira-kira siapa ya temanku yang usianya tiga puluhan dan belum menikah?
Seketika aku teringat dengan seseorang. Teman dari mantan teman kerjaku. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Seingatku usianya tiga puluhan, dan dia belum menikah. Dia juga tidak dekat dengan siapapun sekarang. Kalau tidak salah, dia tidak pernah pacaran. Sama denganku. Ya ampun, apakah aku akan bernasib sama seperti dirinya?
Tidak! Aku harus fokus untuk menyelamatkan diriku dari Om Albert! Dan juga berbuat baik mencarikan orang jodoh. Mana tau kalau aku berhasil menjodohkan Om Albert dengan kakak itu, aku juga akan bisa menemukan jodohku.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera mengirim pesan kepada mantan rekan kerjaku yang dulu bekerja di kantor yang sama denganku dan Vanya. Namanya Vita. Satu tahun lebih muda dariku dan Vanya, tapi sudah duluan menikah dari kami. Dia menikah di pertengahan tahun ini, dan sekarang sudah pindah ke Jakarta untuk ikut tinggal dengan suaminya. Dia adalah orang yang baik. Dan menurut ceritanya, temannya itu tak kalah baik dengannya.
Alyka
Vit, mau nanya. Kak Jihan umurnya berapa ya?
Vita
Tahun depan 35. Kenapa Kak?
Alyka
Kakak kepikiran mau jodohin kak Jihan. Hehe...
Vita
Boleh kakak
Alyka
Tapi orang itu udah duda (:
Namanya Albert Larry.
Orang Australia. Muslim.
Umurnya 42 tahun.
Dia mau pindah ke Indonesia
Vita
Vita coba tanya kak Jihan dulu ya Kak
Alyka
Oke Vita
Vita
Dia bisa Bahasa Indonesia Kak?
Kakak kenal darimana?
Alyka
Bisa dikit.
Jadi sekarang kakak kan kerja remote ngajar Bahasa Indonesia, nah dia itu murid kakak.
Tapi ini cuma nanya iseng-iseng ya. No offense.
Takutnya kak Jihan tersinggung dijodohin sama duda
Vita
Dudanya ada anak Kak?
Alyka
Ada.
Tapi anaknya sama istrinya.
Mereka udah lama lost contact.
Dia udah nyariin mantan istri & anaknya tapi gak ketemu
Vita
Kerjanya apa Kak?
Alyka
Katanya sih jasa kebersihan. Mungkin sejenis OB. Tapi dia punya banyak uang sih, karena dulu sempet punya tiga pekerjaan dalam sehari.
Dia punya apartemen di Canberra, tapi sekarang tinggal ngontrak di Goulburn.
Dia bilang dia suka tinggal di kota kecil.
Dia punya mobil & tabungan yang banyak
Vita
Dia shalat 5 waktu?
Alyka
Iya.
Dia mau nyari istri orang Indonesia karna orang Indonesia lebih bagus agamanya daripada orang Australia.
Perempuan Islam di Australia gak sholat 5 waktu katanya.
Dia mau istri Sholehah
Vita
Hmm... patut dicoba sih.
Kenapa Kak Alyka nggak berminat?
Alyka
Karna terlalu jauh jarak umurnya (:
Pengennya maksimal 30 tahun
Vita
Itu anaknya yang sama istrinya satu? Atau banyak?
Alyka
Satu. Perempuan
Vita
Tapi dia ini cari jodoh serius, atau cuma main-main?
Alyka
Serius.
Ngapain umur segitu main-main? :')
Vita
Hehe... baiklah
Tipe ceweknya gimana?
Alyka
Nanti kakak tanya lebih lanjut ke dia ya
Btw ini fotonya
(Alyka mengirim foto)
Vita
Gemoy (≧▽≦)
Oke.
Nanti Vita kabarin apa kata kak Jihan
Alyka
Hehe...
Sip
Baiklah, dengan begini aku hanya tinggal menunggu. Semoga Kak Jihan mau dijodohkan dengan Om Albert.
***