"Saya sudah mengirimkan beberapa pilihan apartemen. Apakah ada yang kamu suka?" tanyaku kepada Om Albert keesokan harinya.
"Oh, benarkah? Sebentar, saya akan mengecek dulu," Om Albert tampak meraih HP-nya dan mengecek pesan dariku. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti cukup puas dengan beberapa pilihan yang ku kirimkan.
"Apakah kamu mau berlibur juga? Saya rasa kamu butuh liburan," tanya Om Albert tiba-tiba.
"Ya tentu saja saya ingin berlibur. Tapi saya tidak punya uang," jawabku sambil tertawa palsu. Liburan adalah hal yang sudah ku impi-impikan sejak lama. Tapi tentu saja aku tidak bisa melakukannya karena semua gajiku habis untuk rumah dan keluargaku. Impian itu kini hanya sekedar tinggal angan-angan belaka.
"Tidak masalah. Kamu tidak perlu memikirkan tentang biayanya. Saya akan membelikan tiket untukmu."
Aku terperangah. Kenapa dia sebaik ini mau mensponsori liburanku? Apakah ini jawaban dari Tuhan atas segala pengorbananku kepada keluargaku?
Tapi tetap saja, aku tidak bisa menerima tawarannya. Karena...
"Oh terimakasih. Tapi saya juga tidak punya uang untuk menyewa hotel," ucapku. Aku sangat miskin Om.
"Baiklah. Tapi kalau kamu berubah pikiran, tolong katakan kepada saya. Karena kita perlu memesan tiket pesawat secepatnya sebelum harganya naik."
"Oke," kataku sambil tersenyum hambar. Aku baru saja melewatkan tiket pesawat gratis. Huhu...
"Jadi apartemen mana yang kamu suka?" tanyaku kemudian, mencoba membahas topik utama yang tadi kami bicarakan.
"Apapun yang guru saya suka," om Albert berkata sambil tersenyum manis. Perasaanku jadi tidak enak.
Aku kembali mengecek informasi beberapa apartemen yang tadi aku kirimkan kepada Om Albert. Setelah melihat-lihat, akhirnya aku memilihkan apartemen yang dapat menjangkau mall dengan hanya berjalan kaki.
"Bagaimana dengan apartemen yang ada di Jakarta Pusat ini?"
"Hmm..." Om Albert kembali melihat HP-nya, "ya, ruangannya sangat bagus. Ada AC dan mesin cuci juga," ucapnya.
Aku rasa tugas mencarikan apartemen telah selesai.
"Baiklah, saya akan mengecek lagi nanti," kata Om Albert lagi.
"Oke," ujar ku. Ku pikir ia akan langsung memesan apartemen itu.
"Ngomong-ngomong," aku mengulum bibir, sedikit ragu untuk mengutarakan pertanyaan yang ingin aku ajukan. Takut Om Albert kegeeran, "seperti apa tipe perempuan yang kamu suka?"
"Saya suka perempuan yang shalat, simpel, jujur, dan bisa memasak makanan yang enak."
"Bagaimana dengan fisiknya?"
Om Albert tertawa.
"Saya tidak mau terlalu banyak tipe. Nanti perempuan itu malah kabur."
Aku ikut tertawa. Ya kalau terlalu banyak menentukan tipe yang kita inginkan, pasti akan sangat susah untuk menemukan jodoh. Contohnya seperti aku.
Tidak. Aku tidak banyak menentukan tipe kok. Hanya belum ada yang melamarku saja.
Tapi aku juga tidak seputus asa itu mau menerima lamaran siapa saja ya!
"Jadi yang penting perempuan yang shalat, simpel, jujur dan bisa memasak makanan yang enak?" tanyaku memastikan. Yang penting perempuan kan? Mau seperti apapun bentuknya. Maksudku, parasnya.
"Ya. Bagaimana dengan mu?"
Aduh si Om, malah balik nanya.
Dengan penuh percaya diri, aku langsung menyebutkan tipe suami idamanku.
"Aku suka pria yang taat beribadah, pintar, humoris, setia, punya wajah yang imut, dan usianya tidak terlalu jauh dariku. Aku suka orang yang berjiwa muda."
Aku langsung mengultimatumkan bahwa aku mencari suami yang usianya tidak jauh dariku, punya wajah imut, dan memiliki jiwa muda. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau Om Albert tiba-tiba mau mengajakku menikah. Ia harus tahu ia tidak boleh mengajakku menikah kalau aku sudah mengatakan masalah usia, wajah imut dan jiwa muda.
"Wah, ide tentang suami idamanmu sangat cerdas."
Ya Om. Tentu saja.
Dan sangat sulit menemukan orang seperti itu.
Atau lebih tepatnya aku saja yang tidak mencari.
Ku pikir wanita harus menunggu.
Oh Tuhan. Tolong aku.
"Berapa usia yang bisa kamu terima untuk menjadi suamimu?" tanya Om Albert kemudian.
"Mungkin antara umur dua puluh tujuh tahun sampai tiga puluh, eum... tiga puluh lima tahun," jawabku. Entah kenapa aku bilang tiga puluh lima tahun. Setakut itu aku tidak bisa mendapatkan suami sehingga jadi kepikiran kalau ada pria berusia tiga puluh lima tahun melamarku, aku akan menerimanya. Padahal dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin usia maksimal calon suamiku tiga puluh tahun. Si bodoh ini.
"Kalau kamu?" aku balik bertanya.
"Saya mencari istri dengan usia minimal dua puluh lima tahun," jawab Om Albert.
Ya ampun Om. Serius. Dua puluh lima tahun itu kemudaan untukmu. Kamu harusnya menikah dengan orang yang usianya minimal tiga puluh lima tahun. Please, jangan membuatku takut. Kamu jadi seperti p*****l.
Atau dia sengaja menyebutkan dua puluh lima tahun karena itu sekitar usiaku?
Tidak bisa dibiarkan! Aku harus mulai menjodohkannya dengan Kak Jihan!
"Oke..." aku merespon perkataan terakhirnya, "apakah kamu mau saya kenalkan dengan teman saya?"
"Teman kamu?"
"Ya. Dia berusia tiga puluh lima tahun. Belum pernah menikah, tidak pernah pacaran juga. Dia orang yang baik dan rajin shalat. Dia sama seperti saya, punya tanggungan KPR karena membelikan rumah untuk keluarganya. Kebanyakan teman perempuan saya memang sangat peduli dengan keluarganya," jelasku. Pokoknya dia harus tahu kalau aku bukan satu-satunya orang baik di dunia ini.
"Oh, ya... Kenalkan saya dengan dia," kata Om Albert. Tampak senyum melintang di bibirnya. Syukurlah dia terlihat senang. Ku pikir ia akan tersinggung atau kesal karena aku mau sok-sokan menjodohkannya.
"Baiklah. Saya akan tanyakan kepadanya dulu. Kalau dia bersedia dikenalkan dengamu, apakah kamu mau mengirimkan pesan duluan kepadanya? Saya akan memberikanmu nomornya."
"Tentu. Pria harus mengambil langkah duluan."
Nah, betul itu Om.
"Oke. Saya akan kabari lagi nanti kalau saya sudah menghubunginya."
"Baik. Terimakasih!"
"Iya. Sama-sama."
Tak lama kemudian kelas akhirnya selesai. Kelas yang 10% belajar Bahasa Indonesia, 90% ngobrol dengan Bahasa Inggris. Aku merasa makan gaji buta. Tapi itu kan atas permintaan Om Albert sendiri, yang tidak mau diajari banyak-banyak.
Tidak mau diajari banyak-banyak tapi minta kelas 3 jam sehari bahkan sampai hari Minggu. Huft....
***
Vita
Kak, kata Kak Jihan dia mau dijodohin kalau Om Albert berkenan
Alyka
Wah, syukurlah :D
Kayaknya kakak udah bisa jadi biro jodoh internasional (**´∀`)。*゚+
Vita
Wkwkwk...
Alyka
Kak Jihan bisa Bahasa Inggris?
Vita
Bisa kayaknya. Tapi nggak terlalu fasih
Alyka
Ooh, bisa lah tu ngobrol-ngobrol dikit
Kak Jihan orangnya dewasa gak? Maksudnya dia kalau ngobrol tuh sukanya sama orang yg pemikirannya dewasa? Tau kan umur 40 pola pikirnya gimana?
Vita
Suka sih. Dia mah dewasa banget pemikirannya
Alyka
Wah, bagus dong!
Soalnya kalau bagi kakak, Om Albert terlalu dewasa --"
Gak cocok sama kakak yang masih suka bermain (≧▽≦)
Vita
(・o・)
Alyka
Baiklah kalau memang mereka berjodoh, semoga lancar
Vita
Iya kak ◉‿◉
***