Seberkas Sinar
"Hei! Apa itu tadi?" tanya Danu kepada kedua temannya.
Mereka baru saja pulang dari nonton dangdutan di kampung sebelah. Jalanan sangat gelap dan sunyi, mengingat ini sudah jam dua dinihari. Orang-orang lain pasti sedang nyenyak terlelap di rumah masing-masing.
Seberkas sinar terang dari arah timur baru saja melesat tepat di atas kepala mereka. Sinar itu berasal dari ekor bola bercahaya sebesar kepalan tangan, mirip meteor. Kejadiannya berlalu dengan sangat cepat.
"Banaspati kah?" Ridwan balik bertanya. Tengkuknya meremang.
"Banaspati itu bola api, Ndes. Tadi itu bukan," jawab Marjuki.
"Apa mungkin ndaru?" tanya Ridwan lagi.
"Bisa jadi. Lusa pemilihan kepala desa, bukan? Bisa saja ini pertanda," jawab Marjuki yakin.
"Nu, kamu lihat jatuhnya dimana?" Tanya Marjuki.
"Dia melesat ke arah barat, berarti..." kalimat Danu menggantung, dia tidak yakin.
"Rumah Kang Damar!" seru Ridwan dan Marjuki serentak.
Danu segera berlari pulang meninggalkan kedua temannya tanpa permisi.
"Hei, Nu! Tunggu!" teriak Marjuki.
"Aku duluan!" seru Danu tanpa menoleh.
Begitu sampai, Danu segera mengambil kunci di bawah pot bunga di teras rumahnya. Dia selalu mengunci pintu dari luar saat akan pergi di malam hari. Danu tidak ingin membangunkan Simboknya yang sudah tidur, saat dia pulang larut seperti malam ini.
"Mbok, Simbok!" panggil Danu sambil mengetuk pintu kamar simboknya.
Kali ini Danu sengaja membangunkan perempuan yang telah melahirkannya itu. Danu ingin menyampaikan apa yang dilihatnya tadi. Danu tidak bisa menunggu sampai besok pagi.
"Ada apa to, Le?" Mbok Darti membukakan pintu. Mata Mbok Darti belum melek sempurna.
Danu langsung masuk dan duduk di pinggir tempat tidur. Mbok Darti kemudian menyusul dan ikut duduk di sampingnya.
"Ono opo?" tanyanya sambil memegang pundak Danu.
"Mbok, barusan aku melihat ndaru,"
"Dimana?" tanya Mbok Darti tenang.
"Jatuh di rumah kakang Damar, ndaru itu dari arah timur, Mbok," jelas Danu.
"Kamu ingat apa warnanya?" tanya Mbok Darti.
"Aku lupa, Mbok. Tapi cahayanya sangat terang. Besarnya seukuran bola kasti. Marjuki dan Ridwan juga melihatnya," ucap Danu.
"Pasti kang Damar jadi ini, Mbok" lanjut Danu bersemangat.
Danu yakin, berita ini akan membuat Simboknya senang. Ndaru telah jatuh di rumah Damar, artinya kakak lelakinya itu akan mendapatkan kemenangan. Danu lalu merebahkan diri dengan bibir tersenyum lega.
Berbeda dengan Danu, Mbok Darti justru tampak gelisah. Dia seperti tidak yakin, jika yang dilihat Danu adalah Ndaru, sang Lintang Kamulyan.
Dalam gelisahnya, Mbok Darti berdoa dalam hati. Semoga Damar, anak sulungnya itu baik-baik saja.
Damar calon kepala desa yang melawan petahana. Usianya memang belum ada setengah abad. Tapi, kecakapannya tidak diragukan lagi. Meski begitu, lawannya juga bukan orang sembarangan. Pak Sukri sebagai petahana, telah mengukir banyak prestasi dalam memajukan desa Sejorejo.
Mbok Darti berharap Danu benar, bahwa yang dilihatnya adalah Ndaru, yang membawa pertanda kemulyaan bagi orang yang "ditibani" nya.
Saat Mbok Darti ingin bertanya lebih banyak lagi, Danu sudah terlelap di tempat tidurnya. Mbok Darti geleng-geleng kepala. Anak bujangnya yang sudah pantas menikah itu, tidak mau tidur di kamarnya sendiri. Diusapnya sayang kepala anak bungsunya itu, lalu mbok Darti beranjak keluar.
***
Cukurukkuuuk...
Ayam jantan Mbok Darti berkokok nyaring. Azan subuh juga telah berkumandang. Mbok Darti terlihat khusu' melaksanakan sholat subuh. Sementara Danu, masih terlelap tak tak bergerak di ranjang Simboknya.
Mbok Darti baru saja melepas mukena, saat mendengar orang mengetuk pintu rumahnya keras.
"Mbok, Simbok!" teriak orang itu panik.
Mbok Darti tergopoh membukakan pintu. Begitu pintu di buka, Mbok Darti melihat Kokom berdiri dengan wajah pucat.
"Kamu kenapa, Kom?" tanya mbok Darti mengkhawatirkan menantunya itu.
"Kang Damar, Mbok. Kang Damar..." jawab Kokom.
"Damar kenapa?"
"Ayo, Mbok!" Kokom menarik tangan mertuanya itu dan mengajaknya berlari.
"Pelan-pelan, Kom." Mbok Darti yang memakai jarik kuwalahan mengimbangi.
Kokom tidak memperdulikan omongan mertuanya. Begitu sampai rumah, Kokom langsung mengajak Mbok Darti ke kamarnya.
Di dalam kamar, Mbok Darti melihat Damar sudah terbujur kaku dengan mata melotot dan mulut menganga. Tania, Cucu semata wayangnya yang baru berusia sembilan tahun itu, menangis tersedu sambil menggoyangkan kaki ayahnya. Gadis kecil itu berharap ayahnya mau bangun lagi.
Kokom langsung menghambur memeluk jasad suaminya. Sedangkan Mbok jum lemas tak berdaya. Seluruh sendi tulangnya seperti lepas satu persatu. Mbok Darti terduduk luruh di lantai. Matanya menatap nanar ke arah tubuh kaku putra sulungnya itu.
Firasat buruknya tadi malam, kini menjadi nyata. Semalam, setelah Danu mengatakan melihat ndaru yang jatuh di rumah Damar, Mbok Darti tidak bisa tidur lagi.
Dihabiskannya malam yang tersisa di atas sajadah, merengek kepada Tuhan agar anaknya dilindungi. Tetapi pagi ini, takdir telah menentukan. Anaknya pergi dengan cara menyedihkan.
Setelah menguatkan hatinya, Mbok Darti perlahan bangkit dan mendekati jasad Damar. Dicobanya memejamkan mata dan mengatupkan mulut anaknya itu. Sampai tiga kali dicoba, tidak berhasil juga.
Mbok Darti menghela napas panjang. Dihapusnya air mata yang mengalir di pipi keriputnya.
"Anakku sayang, Simbok ikhlas kamu pergi. Istri dan anakmu akan Simbok jaga. Pergilah dengan tenang!" tutur mbok Darti.
"Bismillaahirrahmaanirrahiim!" Mbok Darti mencoba memejamkan mata anaknya sekali lagi.
Qadarullah, Mbok Darti berhasil. Mata Damar dapat terpejam sempurna. Mulutnya juga mengatup rapat. Kini, Damar justru terlihat seperti tidur pulas.
****
"Nu, bangun!" teriak Marjuki sambil mengguncang tubuh Danu.
"Masih ngantuk, Mboook," jawab Danu tanpa membuka mata.
"Nu, ayo bangun!" Kali ini Ridwan yang berteriak.
Marjuki dan ridwan diminta Mbok Darti membangunkan Danu. Tadi, waktu melayat di rumah Damar, mereka tidak melihat Danu dimanapun. Saat keduanya bertanya kepada Mbok Darti, perempuan tua itu malah beristighfar. Mbok Darti mengatakan, kalau dirinya tidak sempat membangunkan Danu.
Marjuki kemudian mengambil segelas air di dapur, lalu menyiramkan ke wajah Danu. Danu gelagapan kemudian bangun dari tidurnya.
"Jangan marah sekarang! Kang Damar meninggal, Nu," ucap Ridwan cepat saat Danu hendak marah kepada mereka.
"Apa? Jangan bercanda, Kamu!" ucap Danu marah.
"Kita gak punya banyak waktu, Nu. Ayo!" Marjuki segera menarik Danu ke rumah Damar.
"Kakang!" teriak Danu.
Danu menangis di depan jasad kakaknya yang dibaringkan di ruang tengah. Baru kali ini Danu cengeng. Mbok Darti yang duduk di samping Danu, mengusap lembut punggung anak bungsunya itu. Mbok Darti terlihat jauh lebih tegar.
Warga yang melayat menerka-nerka penyebab kematian Damar. Kepergiannya yang mendadak, sukses membuat geger seluruh warga desa Sejorejo. Padahal Kemarin, mereka masih melihat Damar sehat wal afiyat, saat acara debat kandidat di Balai Desa.
Bisik-bisik warga terdengar samar ditelinga Mbok Darti. Mereka semua yakin, Damar mati secara tidak wajar.
Prasangka mereka semakin menguat saat mendengar cerita dari Marjuki dan Ridwan, yang melihat ndaru jatuh di rumah Damar tadi malam. Mereka percaya Damar meninggal karena teluh.
Saat warga sibuk menduga siapa pengirim teluh untuk Damar, Pak Marjuki datang melayat ditemani istrinya. Seketika mereka diam. Walau tanpa kata, mata mereka mengatakan satu hal yang sama.
Bersambung...