Undangan ungu pastel ini aku bolak-balik. Aku bingung dengan semua ini: perasaanku yang entah bahagia atau malah entahlah; juga Althaf yang entah serius atau tidak. Karena kemarin dia menjelel-jelekkanku dengan lawan bicaranya melalui telepon dan sekarang .... "Kenapa, sih?" tanya Aini. "Eh-eh ...." Telat. Aini sudah merenggut undangan tersebut dari tanganku. "Acaranya mulai jam 10, sekarang jam 7 dan kamu masih mager di sini?" Aini berkacak pinggang dengan ekspresi khas otoriter. "Aku ...." Otak sudah kehabisan kata-kata. Masih terkejut dengan undangan ini. Apa Nyonya Erisha sudah menerimaku? Undangan? Terkejut? Apa ini kejutan yang dimaksud Althaf kemarin? Astaga ... Via bodoh! Bodoh! Aku terus memukuli kening dengan kertas gugatan di tangan, tidak peduli jika bentuknya sudah ac

