Sudah 20 menitan lebih aku berdiri di depan gerbang yang menjulang tinggi. Memandangi secara sembunyi-sembunyi rumah mewah yang sempat kutempati beberapa bulan lalu. Sesekali, mengalihkan tatapan ke map cokelat yang aku pegang. Ragu. Aku bingung harus memulai akhir hubungan ini bagaimana. Langsung masuk jelas bukan pilihan tepat. Aku harus bertemu penjaga rumah, menanyai keperluanku datang. Juga pembantu. Apalagi Nyonya Erisha. Tidak, tidak. Itu ide buruk. Atau, aku tunggu saja di sini. Saat mobil Althaf lewat, aku bisa menghentikannya. Ide bagus, tapi dengan begitu, aku yang harus kena konsekuensi: telat ke restoran. Tidak apalah, cuman sehari. Batinku sangat mendukung. Beruntung di dekat pagar ini ada pohon rindang. Untuk berteduh, juga bersembunyi. Aku duduk di bawahnya. Aku mem

