Pertengkaran kecil untuk pertama kalinya setelah lulus SMP, terjadi antara aku dan Aini. Dia memaksa untuk bekerja dengan tubuhnya semakin terlihat lemah. "Pokoknya nggak boleh. Kamu diem di rumah!" titahku, tegas. "Aku baik-baik aja. Jangan ngatur deh." Aini memaksa melewati tubuhku yang menghalangi pintu. "Kalau kamu kerja, sekarang juga, aku telpon Pak Umar, laporin keadaan kamu. Hari ini juga, kamu bakalan dibawa pulang. Mau?" bentakku. Dagu Aini yang semula meninggi, mulai turun. Tas di lengannya dilempar ke atas meja, lalu masuk kamar. "Aku udah siapin sarapan, Ai. Makan jangan lupa nanti ya. Telpon kalau ada apa-apa. Assalamualaikum!" Bersamaan setelah salam kuucap, pintu pun aku buka. Wajah tersenyum menyambut. Aku tersentak dan mundur selangkah. "Wa alaikumussalam. Ayo bera

