"Mama, maafkan aku." Aini berbisik lirih melihat mercy clasic merah metalik yang kini bertengger di halaman rumahnya. Aini tidak membayangkan Mama tanpa mobil itu. Mobil yang biasa dia gunakan ke berbagai acara dan urusan. Mama anti naik transportasi umum, meski Afwan kadang memintanya sekali-kali naik ojeg onlin atau taxol jika terpaksa, tapi Mama bergeming. Dia cukup kukuh dengan citra diri sebagai perempuan mapan dan berkelas. Mama sepertinya mulai hari ini, aku ajarkan bagaimana hidup rendah hati dan bersahaja. Mulai detik aku akan membuatmu dan Mirna sedikit berpikir bahwa mencari uang itu tidak mudah. Kupastikan kekuasaan Afwan di perusahaan akan kupantau. Aku punya banyak mata dan telinga yang bisa memantau gerak gerik dan kebijakanmu. Sesuatu yang tidak pernah aku lakukan selam

