19 "jadi betul rumah itu atas nama, Aini." tanya Mirna tajam. "Betul. Rumah itu atas nama Aini, Mir." Afwan yang baru tiba di rumah setelah seharian bekerja menjawab dengan sedikit kesal. Bagaimana mungkin dia baru tiba, capek, pusing karena jalanan macet juga seharian memeriksa banyak laporan perusahaan, membuatnya lelah secara pisik dan juga hati. Bukannya disambut dengan wajah lembut dan hangat oleh Mirna, apalagi secangkir teh hangat dan pelukan penuh rindu seperti yang biasa didapatkan dari Aini, malah pertanyaan tajam dan pedas. Wajah itu datar dan tak ramah, tak seulaspun senyum manis tersungging di bibir tipisnya, yang ada adalah kecurigaan yang memuakkan. "Punya Aini? bukan atas namamu, Wan?" timpal Mama kaget. Pupus sudah harapannya kalau Aini berbohong dan hanya mengaku-ng

