Rain 5

1078 Kata
"Makasih, ya, Pak." Usai menerima uang kembalian dari Pak Kadir, tempat yang Mentari tuju saat ini adalah bawah pohon pinggir lapangan. Matahari tidak kelihatan sejak pagi, bersembunyi di balik awan atau mungkin malu menyapa Mentari hari ini. Mentari membuka roti yang tadi dia beli di kantin Pak Kadir. Matanya menatap sekeliling lapangan dengan mulut sibuk mengunyah. Sesekali Mentari juga butuh untuk mencari inspirasi. Tempat yang paling aman baginya adalah bawah pohon pinggir lapangan. Mentari duduk sendiri, menikmati semilir angin yang berembus. "Saya tahu kamu bohong, Mentari." Terlalu lama asyik dengan pikirannya membuat Mentari terkejut mendapati Bara tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya. Bara tersenyum kecil, mengalihkan pandangan ke lapangan dari wajah Mentari. "Pertama kali saya bicara sama kamu itu waktu hujan, waktu kamu lagi makan roti, dan ketika itu saya kembalikan sketchbook punya kamu." Mentari tidak mengerti apa maksud Bara. Dia selalu saja muncul tiba-tiba di hadapan Mentari. Mentari tidak tahu mengapa Bara menjadi seperti Helmi yang ingin berteman dengannya. Sejauh ini, Mentari selalu menutup dirinya dari orang-orang di sekitar. Mentari terlalu takut menunjukkan dirinya sendiri dan memang Mentari selalu merasa nyaman ketika dia sedang sendiri saja. "Sekarang kamu juga lagi makan roti, bedanya lagi nggak hujan." Senyum Bara melebar ketika menatap Mentari. Dia mengambil bungkus roti yang Mentari selipkan di bawah botol air mineral milik Mentari. "Roti rasa kacang." Bara membaca bungkus roti itu membuat Mentari menghela napas. Mentari merebut bungkus roti yang akan dia buang nanti ketika menemukan tempat sampah. Mentari menatap Bara dengan tatapan tidak suka. Seolah mengatakan bahwa Bara tidak berhak mengurus kehidupannya. Mentari tidak suka diganggu, tidak suka diusik ketenangannya, tidak suka jika orang mengganggu kenyamanannya. "Saya yakin roti yang kamu makan waktu itu juga rasa kacang. Aneh, ya, bilangnya alergi kacang, tapi suka makan roti kacang." Bara tertawa hingga matanya ikut menyipit. "Pura-pura bodoh dan nggak tahu apa-apa ternyata menyenangkan." "Kamu—" "Cokelat yang saya kasih nggak ada racunnya kok. Kamu nggak harus bohong dan bilang alergi kacang padahal kenyataannya kamu hanya nggak mau menerima pemberian cokelat dari saya. Kenapa?" Mentari memejamkan matanya, menghela napas ketika mendengar semua perkataan Bara. Mentari berbohong pada Bara dan juga Helmi. Ternyata Bara tidak mudah dibohongi. Meski baru saling mengenal, tetapi Bara sudah menganggap Mentari seperti dia mengenalnya sejak lama. Entah karena Bara memang mudah bergaul dan asyik dengan siapa saja atau ada hal lain yang tidak Mentari ketahui. "Saya hanya nggak mau berutang budi sama kamu." Kalimat itu yang keluar dari mulut Mentari untuk menjelaskan kebohongannya. "Saya cuma nggak mau ribet aja," "Bohong itu nggak akan membuat kamu keren, Mentari. Terus, kamu nggak akan minta maaf sama saya dan juga Helmi?" tanya Bara ketika Mentari sudah menghabiskan rotinya. "Saya bingung, Helmi itu satu-satunya orang yang dekat sama kamu. Tapi, Helmi nggak tahu apa-apa soal kamu. Bahkan perihal kacang juga Helmi nggak tahu. Serahasia apa sih hidup kamu, Tar?" "Bisa nggak kalau kamu itu nggak usah selalu ikut campur urusan saya? Bahkan saya nggak pernah merepotkan kamu, saya nggak pernah—" "Kamu merepotkan saya, Mentari. Sketchbook punya kamu yang saya temukan waktu itu merepotkan saya karena harus membuat saya mengembalikannya sama kamu. Tapi, merepotkan kali itu menyenangkan buat saya sampai bisa berbicara dengan kamu." Sungguh, Barameru sangat menyebalkan sekali di mata Mentari. Mentari tidak pernah menyangka bahwa seorang Barameru, murid pindahan itu mencoba untuk lebih jauh mengenal Mentari. Jujur saja Mentari tidak suka dengan cara Bara meminta menjadi temannya. "Lain kali, jangan suka bohong, ya, dosa." *** Akhir-akhir ini Mentari merasa sangat terganggu dengan kehadiran orang-orang baru di hidupnya. Belum selesai Pandu mengganggu, kini Bara ikut-ikutan. Jangan tanya soal Helmi, dia sudah lebih dulu mengganggu Mentari sejak semester awal. Mentari hanya butuh ketenangan tanpa adanya campur tangan orang lain dalam hal-hal yang baginya menyenangkan. Mentari memang tidak suka keramaian, dia juga tidak akan dengan mudah menerima orang baru. Mentari sulit percaya pada orang lain. Entahlah, Mentari merasa dia pernah dikecewakan orang-orang di sekitarnya. Untuk saat ini Mentari hanya ingin membatasi dirinya, tidak ingin dikecewakan untuk ke sekian kali. Cukup Mentari dengan lukanya yang belum juga sembuh, jangan disentuh apalagi ditambah lukanya. Mentari tidak ingin ada luka baru di saat luka lama belum sembuh. Mentari lelah menerima semua luka demi luka yang dia sendiri tidak tahu kapan akan sembuh. Langkah kaki Mentari cepat-cepat menuju kelas. Setelah Bara tahu bahwa dia berbohong, Mentari benar-benar tidak nyaman karena merasa bahwa Bara sudah jauh mengusiknya. Mentari rasa ini sudah kelewatan atau mungkin Mentari yang terlalu berlebihan mengambil sikap. Langkah Mentari mundur ketika mendapati Helmi di depan pintu menatapnya. Helmi memicingkan matanya seolah-olah Mentari adalah target yang tak boleh lepas. Terkadang Helmi memang selalu berlebihan, gaya ceriwisnya adalah ciri khas yang dia miliki. "Tar, kamu sebenarnya nggak alergi kacang, kan? Aku denger kamu ngobrol sama Bara di pinggir lapangan." ucap Helmi lesu, dia menatap Mentari lagi. "Tari, kamu 'kan tahu aku suka sama Bara. Kamu juga pasti tahu kalau aku nggak suka kamu dekat sama dia. Kamu itu temanku, Tari." "Maksudnya kamu ini lagi ngelabrak aku, Hel?" Helmi mengangguk membuat Mentari menghela napasnya. "Iya, aku ngelabrak kamu. Jangan dekat-dekat Bara, ya, Tar. Kamu itu temanku." "Teman?" Helmi mengangguk lagi. Selama mengenal dan berbicara dengan Helmi, dia salah satu orang yang selalu jujur dan berkata tanpa basa-basi. Kalau memang Helmi menyukainya atau pun tidak, dia akan mengatakan yang sejujurnya. Satu hal yang Mentari tahu bahwa selama mengenal Helmi, dia belum pernah berbohong padanya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Mentari masuk ke kelas diikuti Helmi di belakangnya. Helmi merogoh sesuatu di dalam laci meja dan memberikan sebuah sketchbook besar kepada Mentari. "Apa?" tanya Mentari. "Tadi ada Pandu ke sini cari kamu, terus karena kamu nggak ada, jadinya dia nitip ini buat kamu." "Sketchbook?" Mentari menerima sketchbook itu dengan penuh rasa heran. Dia tidak tahu alasan Pandu memberikan sketchbook kepadanya. Mentari yakin bahwa apa yang diberikannya pasti memiliki sebuah alasan yang membutuhkan Mentari. Mentari sudah sering menemui orang-orang yang datang di saat membutuhkannya saja, lalu lupa ketika Mentari sewaktu-waktu membutuhkan mereka. Mentari selalu menutup diri dari orang-orang yang membuatnya tidak nyaman. Mentari sulit untuk ditebak. Seperti teka-teki yang tak pernah ada jawabannya. "Kamu terima tawaran Pandu, kan buat bantuin dia gambar sketsa acara sekolah?" tanya Helmi memastikan. Mentari menggeleng membuat Helmi kembali berbicara. "Lho, kok nggak?" Mentari dengan tenang dan santai menjawab pertanyaan Helmi. "Ya, karena saya nggak mau." Lalu pandangannya tertuju kembali pada sketchbook dari Pandu. Mentari jadi bertanya-tanya tujuan Pandu apa memberinya sketchbook? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN