Setelah kejadian Bara yang membuat Mentari marah karena masalah sketchbook, Bara berusaha meminta maaf kepada Mentari. Berkali-kali Bara mengucapkan maaf bahwa dia tidak bermaksud mengusik kesenangan Mentari. Namun, Mentari hanya diam tidak merespons apa-apa. Bara juga tidak tahu mengapa Mentari harus semarah ini kepadanya.
"Tar, kamu masih marah, ya, sama Bara?" Helmi duduk di sebelah Mentari yang sibuk memilih pensil. "Dia nggak bermaksud ganggu kamu, Tar. Lagi pula dia 'kan murid baru, dia nggak tahu apa-apa dan belum kenal sama kamu."
Melihat Mentari yang hanya diam saja membuat Helmi menghela napas. Dia sudah paham sifat Mentari yang tidak akan suka jika ada orang yang menganggu apa yang disukainya. Meski Mentari selalu menghindar dari Helmi dan mengatakan bahwa sebaiknya Helmi tidak usah dekat-dekat, tapi hanya Helmi satu-satunya orang yang bersikeras ingin berteman dengan Mentari. Helmi sering memuji hasil gambaran Mentari.
Mentari menghentikan aktivitasnya ketika Helmi menyodorkan satu batang cokelat kacang almond ke hadapannya. "Dari Bara,"
Wajah Helmi berubah muram. Mentari yakin bahwa Helmi kecewa karena Bara telah memberinya sebuah cokelat. Sejak awal Bara pindah dan datang kelas mereka, Helmi sering sekali berceloteh mengenai kekagumannya pada seorang Barameru. Mentari juga tidak tahu mengapa Helmi bisa begitu kagum dengan Bara. Namun, satu yang pasti bahwa Helmi menganggumi Bara.
"Buat kamu aja."
"Nggak, Tar, Bara sendiri yang bilang buat kamu."
"Saya alergi kacang."
"Eh," Helmi mengerutkan kening. "Serius?"
Mentari hanya mengangguk, dia kembali sibuk dengan aktivitas yang baginya menyenangkan. Mentari hanya bisa mendengar Helmi bersorak girang. Helmi pasti sangat senang memakan cokelat pemberian Bara.
"Beneran nggak apa-apa aku makan, Tar?"
Mentari mengangguk lagi membuat Helmi tersenyum lebar. Helmi memakan cokelat pemberian Bara dengan lahap. Menikmatinya seolah itu adalah cokelat paling enak yang pernah Helmi makan. Bahkan Helmi tidak peduli jika nanti Bara akan menanyakannya. Toh, Mentari yang memberikannya pada Helmi. Sayang jika harus dibuang, mubazir.
"Enak, makasih, ya, Tari!"
Mentari melirik Helmi yang asyik memakan cokelatnya. Mentari geleng-geleng kepala, baru sadar bahwa ada orang seaktif Helmi yang mau berteman dengannya.
"Lho, kok kamu yang makan sih, Hel?" Helmi berhenti mengunyah ketika Bara menghampirinya. Helmi menatap Bara dan Mentari bergantian.
"Tadi aku udah kasih buat Mentari, tapi Mentari bilang dia alergi kacang."
"Kok kamu nggak bilang kalau Mentari alergi kacang?" tanya Bara lagi. Bukannya bertanya langsung pada Mentari, justru Bara menanyakannya pada Helmi.
"Aku nggak tahu kalau Mentari alergi kacang, Bara."
Helmi memang tidak tahu jika Mentari memiliki alergi terhadap kacang. Mentari tidak pernah bercerita apa-apa. Bukan salah Helmi jika dia tidak tahu apa yang tidak Mentari sukai.
"Terus maaf saya gimana?" tanya Bara, kali ini menoleh melihat Mentari yang justru sepertinya tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran Bara di mejanya.
Helmi mengangkat bahu, memakan kembali cokelat yang sisa setengah. "Kamu tanya sama Mentari, tadi aku udah bilang maaf kamu ke dia. Tapi, Mentari diem aja." Helmi menoleh kepada Mentari, menepuk lengan Mentari tiga kali. "Iya 'kan, Tari?" tanyanya meminta pembelaan.
Bara tidak tahu dengan pikiran Helmi. Bisa-bisanya dia memakan cokelat pemberian Bara untuk Mentari. Bara bisa apa? Hanya melihat Mentari yang diam saja dan Helmi yang justru asyik memakan cokelat.
"Saya minta maaf, ya, Tar. Saya janji deh nggak akan ngulang kesalahan yang sama. Kesalahan itu manusiawi, Tar. Setiap orang pasti punya dan pernah melakukan kesalahan. Saya tahu saya salah karena sudah lancang mengusik kesenangan kamu. Tapi, saya hanya ingin berteman sama kamu, Mentari."
***
Pikiran Pandu akhir-akhir ini sedikit kacau sampai harus ditegur oleh pihak kesiswaan mengenai acara sekolah. Pandu baru saja keluar dari ruang BK. Belum habis pikirannya tersita oleh teguran Pak Wiryo, kini pikirannya ditambah lagi dengan desakan Intan yang terus saja meminta Pandu mengambil keputusan sesegera mungkin.
"Pan, kamu tuh nggak kayak biasanya sampai harus ditegur Pak Wiryo. Ini udah ketiga kalinya kita ditegur, tapi kamu masih aja nggak bisa ambil keputusan. Cuma seminggu lagi, Pandu!"
Pandu juga tidak tahu mengapa dirinya seperti keluar dari karakternya sendiri. Pandu tidak mengerti mengapa yang dia inginkan hanya menunggu Mentari. Pandu ingin memberi kesempatan kepada murid seperti Mentari. Setidaknya Pandu ingin bisa mengapresiasi karya-karya Mentari meski sebenarnya Pandu tahu bahwa Mentari tidak suka jika karyanya diapresiasi banyak orang. Berkali-kali mendapat penolakan dan ujaran kesal dari Mentari belum juga membuat Pandu menyerah. Masih ada waktu, pikirnya.
"Emangnya di sekolah ini hanya Mentari yang gambarnya bagus? Masih ada adik-adik kelas kita yang punya bakat sama. Lagi pula itu nggak akan ngaruh sama sekali kok. Ini acara pekan olahraga, Pandu, bukan acara seni."
"Tan, saya tahu. Memangnya salah, ya, kalau kita bisa kasih kesempatan untuk murid seperti Mentari. Dia berbakat, Intan."
Intan menghela napas, sejak salah satu anggota OSIS merekomendasikan Mentari yang merupakan teman sekelasnya, ditambah lagi ketika Pandu tahu bahwa Mentari menolak, sejak saat itu pula yang Pandu pikirkan hanyalah bagaimana bisa mendapatkan persetujuan Mentari. Seolah-olah Mentari berperan begitu penting untuk acara sekolah kali ini. Padahal sebelum-sebelumnya tidak ada masalah dan semua berjalan baik tanpa peran Mentari.
"Kamu tahu sendiri 'kan berapa kali dia nolak tawaran kita, dia bahkan nggak tahu caranya menghargai orang lain. Tipikal anti sosial kayak dia—"
Ucapan Intan terhenti ketika sampai di depan pintu ruangan OSIS dan mendapati Mentari yang melewatinya begitu saja. Itu artinya sedari tadi Mentari berada di belakang Intan dan Pandu. Mentari tidak menoleh, bahkan tidak menegur Intan yang sudah membicarakannya. Seolah-olah dia sama sekali tidak terganggu dengan perkataan Intan.
"Tuh, kamu lihat 'kan, Pan—"
Pandu tidak lagi mendengarkan ucapan Intan. Dia berlalu begitu saja membuat Intan berdecak kesal. Bukannya masuk ke ruangan OSIS, Pandu justru memilih untuk mencari keberadaan Mentari. Dia melihat Mentari masuk ke perpustakaan.
Seperti hari-hari biasa, perpustakaan seolah bukan tempat yang hidup untuk mayoritas anak sekolah. Hanya ada beberapa murid yang memilih menyelam dengan buku-buku yang akan membawa mereka pada dimensi lain.
Sedikit terkejut ketika mendapati Pandu sudah ada di hadapannya. Mentari menegakkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Pandu. Dia baru saja mencari pensil yang dia temukan di kolong meja perpustakaan yang ketinggalan. Hampir saja kepalanya terbentur meja.
"Saya mau bicara, bisa?"
"Saya sibuk."
"Sebentar aja."
"Kalau kamu mau bahas tawaran kamu itu mending nggak usah deh. Udah berapa kali saya bilang kalau saya nggak mau. Jangan memaksa kalau mau dihargai."
Usai mengatakan itu Mentari berlalu begitu saja keluar dari perpustakaan setelah mendapat apa yang dia cari. Berbicara dengan Pandu membuat Mentari tidak bisa untuk diam saja. Entah sudah yang ke berapa kalinya dia berbicara dengan Pandu, tapi itu semua tidak bisa mengubah apa-apa yang menjadi keputusan bulat Mentari. Sekali bulat, tetap bulat. Tidak akan bisa menciptakan sudut-sudut tertentu.
***