Nenek Tua dan Wanita Cantik
Semoga saja kebosanan ini tidak membunuhku. Sepanjang hari
terkurung di dalam ruangan sempit dengan dua tempat tidur pasien yang hanya kutempati seorang diri. Tanganku terikat selang infus, kepalaku pening, tubuhku lemas kekurangan asupan makanan karena mual hebat yang kurasakan setiap menyentuh makanan. Ya, aku di sini di rawat inap karena kasus demam berdarah yang katanya sedang musim. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum, mana ada penyakit kok musiman seperti buah saja.
Namaku Pelangi Jingga, Nama cantik pemberian orangtuaku. Aku sangat bersyukur memiliki orangtua yang menyayangiku. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Keluargaku adalah keluarga sederhana. Aku sudah bekerja meskipun usiaku masih belia. Aku berharap bisa membantu orangtuaku meskipun penghasilanku tidak seberapa.
Tak banyak yang bisa kuperbuat selain duduk menikmati makan siang dari rumah sakit sambil menatap kaca jendela yang berembun karena tersiram hujan. Ada rasa bahagia ketika hujan tiba. Aku menyimpan harapan besar pada hujan yang seringkali menyisakan pelangi yang indah. Sambil tersenyum aku membayangkan pelangi dan bidadari mandi. Teringat cerita masa kecil dan berharap ketika dewasa aku akan menjadi secantik bidadari.
Ceklek
Suara pintu menyadarkan lamunanku dan seketika aku menoleh ke arah sumber suara. Beberapa orang berbaju perawat memasuki ruanganku membawa seorang pasien yang tertidur di atas ranjang diikuti seorang wanita cantik yang kupikir adalah anaknya.
“Permisi mbak Jingga, saya mengantarkan pasien yang akan menempati bed sebelah, mohon maaf atas ketidaknyamanannya.” seru perawat senior itu sopan. Aku tersenyum ke arahnya, “iya suster alhamdulillah ga sendiri lagi dan ga perlu mikirin yang horor-horor lagi.” candaku yang membuat semua mata tertuju kepadaku. Ya aku memang seramah itu, dan baik hati tentunya.
Aku memperhatikan pasien di atas bed tersebut, seorang nenek tua dengan mata terpejam entah sakit apa dia dan seorang wanita cantik yang kuduga anaknya sedang sibuk menata perlengkapan milik mereka. Cukup lama aku memperhatikan gerakannya. Seolah sadar kuperhatiakan dia menoleh ke arahku sembari tersenyum. “Hai, namaku Dita, siapa namamu?” dia bertanya ramah kepadaku.
Aku terperanjat dan menjawab dengan gugup, “Namaku Pelangi, maksudku Pelangi Jingga dan biasa dipanggil Jingga. Apakah mbak Dita anak ibu ini?” jawabku sekaligus bertanya balik seraya menunjuk nenek tua yang terbaring itu. “Iya ini ibu saya, sudah beberapa hari ini tidak sadar.” dia menjawab dengan senyum getir. Aku menatapnya seketika jantungku bergemuruh. Betapa sedihnya wanita itu menyaksikan ibu tersayangnya tak berdaya. Aku menjadi tidak enak hati kepada mbak Dita.”Maafkan aku mbak aku tidak bermaksud membuatmu sedih”.
“Tidak apa Jingga, tolong do’akan agar ibuku segera sehat kembali.” ucapnya penuh harap.
“Tentu mbak. Oh iya mbak jangan sungkan kalau mbak mau mengganti saluran televisi silakan rasanya aku ingin tidur kepalaku masih terasa pening”.
Tanpa menjawab mbak Dita melayangkan seulas senyum di bibir cantiknya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Aku yang sudah sangat mengantuk segera memposisikan diri dengan nyaman.
Pelangi
Suara kereta dorong makanan membangunkan tidurku. Aku mengerjapkan mata perlahan menyadari bahwa hari sudah sore dan Aku belum mandi. Aah ingin rasanya Aku bolos mandi, dingin sekali cuaca sore setelah seharian hujan mengguyur Ibukota. Seketika tatapanku terkunci pada pahatan di langit senja, pelangi warna warni indah sekali.
Flashback
Aku mencari sosok ibuku, wanita paling cerewet yang teriakan nya bisa mengalahkan penyanyi cantik Mariah Carey. Ibuku tak kalah cantik dengan penyanyi itu hanya saja ketika sedang tidur, tidak ketika sedang menatapku tajam setelah aku melakukan kesalahan. Kulihat dia sedang mengusap airmata sambil terisak di atas sofa ruang keluarga. Ibuku memang ajaib, dia akan menangis tersedu-sedu bahkan meraung ketika menonton sinetron kesayangan tapi tidak dengan ketika menyambutku, anaknya yang terjatuh dari sepeda dengan lutut berlumuran darah sementara luka sebelumnya bahkan belum mengering. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita kembaran Mariah Carey itu. Tanpa segan-segan dia segera menggelar konser dengan suara delapan oktafnya meneriakiku, anaknya (yang selalu dia banggakan sebagai anak kesayangan). Beberapa jam yang lalu dia melakukan itu. Bukan hanya berteriak delapan oktaf tapi juga memberiku hadiah cubitan kecil, keciiil sekali tapi rasa sakitnya tidak akan terhapus meskipun telah melewati ribuan purnama. Dan kini aku sedang menjalani hukuman akibat keteledoranku ter jatuh dari sepeda. Seketika aku berubah status menjadi seorang pesakitan yang baru saja dijatuhi hukuman oleh hakim Bao. Hukuman kurungan dan tidak boleh bermain adalah sesuatu yang sangat mengerikan bagi anak usia 5 tahun sepertiku. Memang hebat ibuku itu bahkan perkataannya pun kurasa bisa dijadikan sumber hukum bagi Negara ini.
Aku melirik sekali lagi ke Sofia tempat duduk kanjeng ratu. Dia masih fokus pada sinteronnya. Dan ini adalah saat yang paling tepat untuk melarikan diri. Aku sudah tidak sabar ingin kabur dan segera bergabung bersama segerombolan anak-anak yang sedang asik bermandikan hujan sambil tertawa riang bahkan ada satu anak lelaki sempat melihatku dari balik jendela seraya meledekku. Hmmm awas kau nanti !
Kanjeng ratu tidak menyadari kalau tawanannya telah menyelinap kabur. Kini Aku sudah bergabung bersama teman-temanku. Aku bahagia sekali. Aku rasa inilah kebahagiaan terbesar bagi anak-anak seusiaku.
Aku tak menyadari anak yang tadi meledekku ternyata sudah berdiri di depanku dan tiba-tiba mendorongku kasar. Dia masih marah kepadaku karena beberapa jam yang lalu dia tidak kupinjamkan sepedaku. Dia juga yang mendorongku hingga Aku terjatuh dari sepedaku.
Aku menangis, Aku jatuh terduduk akibat dorongan anak lelaki itu. Dia memang terkenal anak nakal. Dia senang mengganggu teman-teman nya termasuk aku.
“Kau tidak apa-apa? Hey, Kau cengeng sekali sih? Ayo bangun”. Aku mendongakkan kepalaku menatap anak lelaki yang kutaksir sudah duduk di bangku SMP. Tangannya terulur ke arahku berniat membantuku berdiri. Aku yang kesal dengan kata-katanya segera menepis tangannya dan berusaha berdiri,”tidak perlu kak! aku bisa sendiri. Kakak tidak tulus menolongku!” ucapku galak. Kulihat matanya melotot ke arahku, “ya sudah kalau tidak mau ditolong tidak usah galak anak kecil !” ucapnya berteriak sambil berlari. Aku berusaha mengejarnya, “kakak tunggu! Kau mau kemana aku ikut”.
“Tidak! aku tidak mau diikuti anak kecil cengeng sepertimu. Segera pulang nanti ibumu mencarimu dan memarahiku”. Dia terus berlari meninggalkanku. Tapi Aku tidak menyerah, Aku terus mengejarnya. Kulihat dia mulai menyerah memelankan langkahnya, “ya sudah ayo kita lihat pelangi dari atas batu besar itu”.
Aku sangat senang melihat pelangi. Kata ibuku pelangi itu adalah selendang bidadari. Kalau selendangnya saja cantik pasti bidadarinya jauh lebih cantik.
“Kak, kalau sudah besar nanti aku ingin seperti bidadari yang sangat cantik kak.” ucapku pada anak lelaki itu.
“Iya kau pasti akan sangat cantik kalau tidak cengeng. Aku malas melihat anak perempuan menangis, cengeng!”
Huuuffthhh ingin kupukul saja kakak ini
Flashback off