Jingga
Aku terbangun menjelang subuh. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Enggan beranjak dari tempat tidur. Memejamkan mata kembali adalah keputusan menarik. Arrgghh...kanjeng ratu, selalu saja. Bahkan hari masih gelap, wanita itu sudah membuat kegaduhan. Menggedor pintu kamar adik lelakiku, minta diantar ke pasar. Katanya mau rewang di rumah tetangga, ada hajatan. Jadi sepagi ini harus menyelesaikan urusan rumah dulu.
Aku itu menyibak selimut, menyingkirkan ke sebelah kiri. Kakiku menjuntai mencari sendal. Tidak ada. Ia membungkukkan badan. "aaah di kolong rupanya". Ia berjalan menuju kamar mandi dengan mata setengah terpejam. Mengguyur tubuh dengan air dingin adalah cara ampuh menyegarkan diri. menghilangkan kantuk.
Dari dalam kamar masih terdengar kanjeng ratu yang bersitegang dengan anak bujang kesayangan. Pun begitu adikku tetap menurut. Bisa kubayangkan wajah kusut dilipat seribu. Di rumah ini tak ada seorangpun yang mampu melawan titah kanjeng ratu. Setiap perkataan yang keluar dari mulut wanita cantik itu adalah peraturan tidak tertulis yang berlaku setiap saat tanpa harus menunggu disyahkan.
Aku berjalan menuju dapur. Ada ayah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Berjalan menghampiriku sembari menggosok rambut dengan handuk. Sosok penuh wibawa, tak banyak bicara. Lebih senang mendengarkan orang lain, terutama kanjeng ratu, istrinya.
"Nak, tolong buatkan ayah kopi. Setelah itu ayah mau ke rumah Pak Basuki, bantu pasang tenda". Kebiasaan ayah setiap pagi, ngopi ditemani umbi-umbian rebus. Aku tersenyum mengangguk. Meraih teko air, mengisi lalu menyalakan kompor.
" Ibu sudah berangkat yah?" tanyaku.
"Sudah, baru saja. Nanti ibumu juga ikut bantu-bantu masak di rumah Pak Basuki. Suatu saat gantian mereka yang membantu ayah".
Aku meraih teko berisi air mendidih, menuangkan ke dalam gelas berisi kopi dengan sedikit gula. Aroma khas kopi menguar, harum. Aku tak sanggup menatap wajah ayah yang kuyakin pasti penuh harap. Membayangkan dirinya berada di posisi Pak Basuki, menikahkan anak perempuannya.
"Yah,,," bibirku tak sanggup berkata-kata.
"Nak Arlan sudah lama tidak terlihat?" pertanyaan yang masih menggantung itu cukup mampu memporakporandakan isi kepalaku. Benar kata ayah, Arlan menghilang bak ditelan bumi.
"Ini kopinya yah, Jingga taruh di meja. Ayah jangan capek-capek, Kalau sudah selesai pasang tenda sebaiknya ayah istirahat". Aku berusaha mengalihkan perhatian ayah. Ayah tak menjawab, hanya tersenyum pertanda setuju.
"Ya sudah yah, Jingga tinggal dulu". Aku melangkah kembali memasuki kamar. Membuka satu persatu pesan di gawaiku. Tak ada yang penting, hanya obrolan tanpa makna dari beberapa grup. Aku mendesah, "benar kata ayah. Kemana perginya Arlan?". Ternyata kehadiran lelaki itu cukup menyita perhatian. Bahkan sekarang aku mulai memikirkannya. Mengirim pesan duluan? iiisssh memalukan. "CKCKKK aaahhh kenapa aku jadi aneh begini sih". Tanpa sadar aku sudah memijit gawaiku membentuk kata, menghapus, mengetik lagi, hapus lagi, ketik lagi, daaann akhirnya pesan itu terkirim.
Centang satu
Mungkin Arlan belum bangun, ini kan hari libur. Padahal biasanya lelaki itu menempelinya bagai lintah. Sampai terkadang terasa menyebalkan.