4. Merubah rencana

1082 Kata
"KURANG AJAR!" Teriakan menggema penuh emosi dilontarkan oleh seorang pria yang saat ini tampak tak terima dengan fakta tersebut. Wanita paruh baya dengan gaun mewah berwarna silver mendekat kearah pria yang tak lain adalah, Pangeran Aldrik. "Katakan, apa yang terjadi Aldrik?" Aldrik menghela nafas kasar, "Bocah itu hendak mengambil kembali tahtaku." Ujar Aldrik. Perasaan marah mendominasinya saat ini. Tidak ada lagi hal yang harus dilembutkan. Aldrik mengambil segelas wine lalu meminumnya dengan kasar. "Jake, Bocah itu benar-benar membuatku sakit kepala!" Wanita itu tampak penasaran, "Bisa jelaskan pada ibu, apa yang terjadi saat kau ada di Aula?" Aldrik berdecih, "DIA AKAN MENIKAH!" Ujar Aldrik dengan emosi. Hal itu lantas membuat wanita paruh baya yang awalnya tersenyum lembut, berubah 180 derajat. "Apa katamu? Kurang ajar!" Wanita paruh baya itu adalah selir, yang menjadi ibu kandung dari pangeran pertama, Pangeran Aldrik. Wanita itu, adalah Selena. Selena memandang jengkel kearah putranya, "Bagaimana bisa dia akan menikah, disaat dia tidak pernah terdengar kabar mengencani seorang wanita?" Aldrik mengendikan bahunya, lalu membanting diri dengan kasar. "Aku tidak tau bu, yang jelas. Wanita itu tampak nyata ketika Jake menggenggam tangannya." Ujar Aldrik, berusaha memijit keningnya yang terasa pusing. Seharusnya, dia lebih cepat memberikan racun itu pada Ayahnya. Sebelum terlambat, kalau begini tahta tidak akan berhasil turun kepadanya. "Bagaimana, langkahmu selanjutnya?" Tanya Selena. Dia tidak akan pernah membiarkan, Anak Crystal berhasil menduduki tahta. Sudah cukup Crystal merebut pria yang ia cintai dulu, dan memilih mati karena melindungi Crystal. Crystal Saerobin, Ibunda kandung pangeran kedua. Ratu negri new zembdee yang seharusnya posisi itu berada ditangan Selena. "Aku masih memikirkannya, aku tidak akan menyerah pada posisi pangeran mahkota yang akan menjadi pengganti Ayahanda." Selena tersenyum puas. "Bagus, kalau perlu hancurkan saja wanita yang akan menjadi pasangan Jake. Ibu tau, Jake tidak benar-benar ingin menikahi wanita itu." "Iya, Ibu nenar." Sementara itu, Disisi Lain. Jake tampak gelisah memikirkan sesuatu. Ketika Zuna masih berada diruangannya, Jake akan memberitahu pada wanita itu untuk waspada. "Zuna." Wanita yang masih duduk anggun di atas sofa empuk berwarna silver itu, menoleh kearah Jake. Manik mata mereka tanpa sengaja bertemu. Hal itu membuat, Zuna langsung memalingkan wajah karena malu. "Dengarkan aku baik-baik. Mungkin setelah ini, akan banyak hal terjadi padamu." Jake sengaja menghentikan ucapannya, ketika Zuna kembali menatap kearahnya dengan raut wajah bingung. "Maksud, pangeran?" Gawat! Zuna mendadak paham maksud ucapan Jake. Astaga, dia tidak boleh membiarkan hal ini terjadi, Dia masih mau menikmati hidupnya didalam istana. "Aku yakin, kamu paham maksudku." Zuna menggeram ketika ia menunduk untuk mengumpat, "Aish, sial." Umpatnya pelan, agar tidak ketahuan oleh pangeran kedua. "Tenang saja, kamu tidak usah takut. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu mati. Akan aku lindungi dirimu, hanya saja. Aku minta kamu berhati-hati ketika menerima apapun yang sumbernya, bukan dariku." Zuna terdiam, mencerna ucapan Jake dengan baik dan teliti. Ketika ada seorang pelayan yang tiba-tiba memberikannya sebuah minuman atau makanan, Maka Zuna harus segera menolaknya. "Kamu paham kan maksudku?" Tanya Jake, memastikan. Dengan ragu, Zuna mengangguk. Dia melupakan satu fakta, bahwa anggota kerajaan adalah anggota yang harus dia hindari. Mengingat, tidak ada yang benar-benar bisa ia percaya. Tak lama, seorang pria yang terlihat bersahabat, masuk kedalam lingkup mereka. Dari tampangnya saja, Zuna sudah bisa mengetahui kalau yang datang adalah Kei. Asisten pribadi dan kepercayaan pangeran Kedua. Begitulah yang ia ketahui, apalagi Zuna sudah pernah mengobrol dengan pria yang sangat ramah itu. "Bagaimana?" Tanya Jake, ketika Kei masuk memberi sebuah kabar. Kei mengangguk, "Sepertu dugaan pangeran kedua, Pangeran pertama saat ini marah besar dan kediamannya berantakan." Jake tersenyum penuh kemenangan. "Jackpot!" Ucapnya. "Bagus, Kau harus terus memberitahukan perkembangannya padaku. Dan yah, tolong antarkan Zuna masuk kedalam kamarnya." Titah Jake tak terbantahkan. ### Matahari mulai bersembunyi, dan berusaha menghindar membiarkan bulan mengambil tahtanya pada malam hari. Suasana hati Zuna tampak tidak tenang, jantungnya terus berdegup kencang ketika bayangan Jake yang menggenggam erat tangannya, memenuhi rongga otaknya. Dan perasaan itu tiba-tiba berubah menjadi menakutkan. Mengingat, ada banyak orang yang mungkin menginginkan kematiannya. Karena kesal, Zuna berguling kekanan dan kekiri. Sekaligus menikmati bagaimana empuknya ranjang tuan puteri. Tidak akan ada yang menganggunya saat ini. Zuna menghela nafas. Kenapa dirinya harus terjebak dalam pusara seperti ini? Zuna kira, semua akan berjalan mudah. Tapi, dia melupakan sebuah kepingan puzzle dimana, hidup akan dipenuhi dengan teka-teki. Zuna berdecak sebal lalu masuk kedalam selimutnya yang tebal. Dia harus bangun dengan segera dipagi hari, kalau tidak ingin terlambat dalam pelajaran tata krama. Zuna bertanya-tanya, kenapa harus ada pelajaran seperti itu? Pelajaran memuakkan yang Zuna sudah pernah mempelajarinya ketika di panti asuhan. Zuna mencoba memejamkan mata. Berusaha mencari posisi terbaik untuk tidur. Namun, matanya seakan memilki penghalang untuk tertutup, Zuna jadi tidak bisa tidur. Karena menyerah, Zuna memilih untuk bangkit dari ranjang, mengambil beberapa bantal, lalu membuka pintu kaca. Zuna tidur disana sembari menatap langit yang saat itu terlihat cerah, tanpa adanya keraguan sedikitpun, Zuna terperanjat. Ketika seseorang masuk kedalam taman indahnya. Zuna segera duduk, dia semakin terkejut melihat Jake, si pangeran kedua tampak dari balik semak. Zuna segera menggeleng, berharap semua ini hanya halusinasi belaka. "Apa yang membuatmu terjaga sampai tengah malam seperti ini?" Suara Jake berhasil membuyarkan semua lamunan dan halusinasinya. Zuna terperangah, "Oh astaga, dia beneran nyata rupanya?" Pikir Zuna. Seakan bingung dengan dirinya sendiri. "Aku bertanya padamu." Jake kembali berdehem dan bertanya. Hal itu membuat Zuna spontan menoleh kearahnya. "A-ada apa, Pangeran kedua kemari?" Zuna melirik kearah tempat dimana pertama kali pangeran kedua keluar dari persembunyiannya. "Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengunjungi kamarmu saja. Ternyata, lampu kamarmu masih menyala dan belum padam." Jawab Jake. "Kalau kamu bingung, Diujung sana ada pintu yang menghubungkan ruangan kita." Ucapan Jake rupanya menghapus segala bentuk rasa penasaran, Zuna. Jake melihat ada setitik keraguan dimata Zuna. Jake tidak tau hal itu berasal darimana, dia sama sekali tidak merasa tertarik dengan perasaan ragu dari wanita itu. "Aku ingin memperingatimu satu hal." Zuna mengeratkan piyama tidurnya lalu menatap sang pangeran kedua, yang kini mengenakan mantel diluar piyama. "Jadilah aktris setiap kamu bersamaku." Zuna mengangguk paham, bukankah dia sudah tau diri dari awal pertemuan mereka? "Bagus, rupanya kamu wanita penurut yang baru aku temui." Jake segera berbalik dan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, dia langsung pergi begitu saja. Zuna menegang d**a sebelah kirinya, merasakan jantung yang berdebar begitu kencangnya. "Tunggu, apa aku sudah gila?" Pekiknya tak menyangka dan cukup terkejut. Besok, dia harus bertanya pada Kei, dimana dia bisa menemui dokter untuk memeriksa gejala jantungnya. "Oh tuhan! Jangan cabut nyawaku sebelum aku menikmati semua kekayaan ini!" Ucapnya memohon, mengeratkan kedua tangan. ### Instagram : @im_yourput ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN