Lagi Daily Update!
Moza Heart lagi bentar tamat, tunggu aja ya!
***
Zuna benar-benar menikmati kehidupannya di kerajaan. Sepertinya tidak ada yang akan mengganggu kehidupannya bila seperti ini. Tidak seperti ibu panti yang setiap pagi pasti akan mengomelinya.
"Nona, ini waktunya anda mandi."
Zuna menoleh kearah pintu, dimana pelayan pribadinya masuk. Zuna hanya menarik satu sudut bibirnya. Bahkan mandi pun, Zuna akan dibantu seorang pelayan. Betapa baiknya dewa pada Zuna.
Wanita itu melangkah dengan pelan ketika mengenakan gaun super yang berbahan tebal di bawah, sementara bagian atasnya cukup untuk memperlihatkan bahunya. Gaun berwarna jingga yang memang terlihat cantik dan anggun pada, Zuna.
"Anda sangat cantik, Nona."
Zuna melirik dengan tersipu, salah satu pelayan yang baru selesai mendandaninya. Hari ini adalah hari resmi Zuna akan di perkenalkan di seluruh dewan. Jadi Jake, alias putra mahkota akan mengadakan perjamuan khusus.
"Pangeran mahkota pasti akan pangling melihat, nona."
Zuna terkekeh pelan, kemudian dengan membusungkan dadanya agar terlihat tegap, dituntun keluar oleh kedua pelayan tadi.
Hal lucu terjadi, ketika Zuna memutuskan untuk berjalan seperti biasanya. Karena dia lelah ketika harus membusungkan d**a dengan lama.
Deg!
Jantungnya berdebar tidak karuan, entah karena dia cukup malu melihat wajah pangeran yang tampan, ataukah dia yang merasa belum cukup pantas menjadi pendamping putra mahkota.
Ceklek!
Penjaga membukakan pintu untuk Zuna. Wanita itu segera membungkuk kepada kedua penjaga, yang dibalas membungkuk oleh keduanya. Kemudian melangkah dengan perasaan campur aduk.
"Selamat pagi."
Ketika Zuna masuk, dia bisa melihat Pangeran Jake sedang duduk dan berbincang serius dengan asisten pribadinya, Kei. Bahkan sepagi ini, mereka masih saja berdiskusi.
Pangeran Jake menoleh ketika melihat Zuna masuk dan mendekat kearah mereka, "Perketat penjagaan, saya tidak mau hal yang membahayakan dia muncul lagi."
Zuna mengernyit penasaran, "Ada apa?" Tanya Zuna.
"Tidak ada apa-apa, baik, saya akan kembali melanjutkan tugas saya. Kalau begitu saya ... Permisi."
Pangeran Jake mengangguk, dan Kei membungkuk sekilas saat melewati, Zuna. Wanita itu jadi tak enak hati, karena mungkin saja Jake ingin membahas sesuatu yang serius, namun karena kehadirannya, Zuna malah mengacaukan semuanya.
"Selamat pagi, pangeran. Maaf, apa kedatangan saya disini mengganggu kegiatan pangeran?" Tanya Zuna dengan tatapan wajah sendu, lebih tepatnya merasa tidak enak hati.
Jake segera menggeleng, kemudian bangkit, "Kamu terlalu terburu, lebih baik untuk sarapan."
Zuna mengangguk pelan. Zuna kira dia akan pergi secara terpisah. Tidak disangka, Jake malah menggandeng lengannya, membuat Zuna merasa aneh dan lututnya terasa melemas seperti, Jelly.
"M-maaf, apa perlu seperti ini ... Pangeran?" Tanya Zuna pelan.
Dia tidak ingin menyinggung pangeran Jake, yang sudah susah-susah membuatnya terbebas dari kejamnya jalanan.
"Tentu, karena saat sarapan kamu tidak tau siapa yang sedang memata-matai kamu."
Zuna menelan ludahnya gugup, kenapa juga dia lupa tugasnya ketika berada di samping pangeran, Jake. Mereka masuk kedalam ruangan khusus makan.
Ruangan yang megah dengan peralatan mewah. Zuna sudah beberapa kali makan disini, dia cukup nyaman. Sayang saja, Zuna tidak bisa bebas makan ketika lapar. Karena dia tidak enak jika meminta pada pelayan.
Jake duduk di kursi paling ujung, sementara Zuna duduk di samping, dekat dengan tempat duduk, Jake.
Ketika Zuna memperhatikan pria itu makan, maka dia akan takjub beberapa kali. Jake adalah panutan bagi para bangsawan. Dia makan begitu anggun, bahkan setiap kunyahan mungkin saja punya hitungan.
Zuna jadi bingung, karena sudah sangat jelas bukan? Zuna adalah tipekal yang bar-bar ketika makan. Zuna menahan diri untuk tidak rakus mengambil hidangan lezat yang tersaji dihadapannya.
Setelah makan, Jake mengajak Zuna untuk berkeliling paviliun. Zuna memang sudah masuk kerajaan, tapi dia belum sepenuhnya masuk kedalam seluruh wilayah kerajaan.
Zuna melirik Pangeran Jake, yang saat ini melihat arloji berwarna silver yang ada ditangannya. Jake yang sepertinya merasa kalau sedang di tatap, menoleh kearah, Zuna dengan segera wanita itu mengubah pandangannya.
Jake terkekeh, "Masih ada dua puluh menit, sebelum kita memasuki aula istana dan melihat para dewan dan mentri. Persiapkan saja jawaban untuk segala pertanyaan yang akan mereka lemparkan." Zuna mengangguk namun setelah meneguk ludahnya kasar.
Tidak disangka kalau dia akan berada pada fase dimana orang-orang akan memberikan pertanyaan, padanya.
"Paviliun bulan."
Pangeran Jake mengangguk, "Ini adalah tempat kesayangan ibundaku sebelum dia berpulang ke pangkuan yang diatas. Selama ini, tidak ada yang aku biarkan untuk tinggal di Paviliun bulan."
Zuna mengernyit mendengar jawaban Pangeran Jake, "Mengapa demikian?"
"Karena, Aku bisa saja berada disini ketika sedang merindukan ibunda."
Zuna mengangguk, kemudian menatap Pangeran Jake yang saat ini terlihat merindu. Sepertinya dia adalah tipekal anak penurut ketika ibundanya masih, ada.
***
"Pangeran mahkota dan putri mahkota memasuki, aula."
Peringatan itu membuat para dewan dan perdana menteri segera bangun. Mereka berdiri dengan tegap seraya melihat pintu masuk. Zuna dengan gugupnya tetap menjaga ekspresi agar tetap tenang.
Cukup sulit awalnya, namun Zuna ingat sudah belajar dengan benar. Dia tidak akan mengecewakan Jake, karena sudah memperkejakannya sebagai orang istimewa.
Deg!
Zuna kembali merasa debaran jantungnya berulah ketika Jake menoleh kearahnya dan tersenyum cerah. Zuna membalas walau terlihat masih sedikit canggung, namun Jake segera menggeleng pelan seakan mengisyaratkan, "Santai saja, jangan tegang."
Jake mempersilahkan Zuna untuk duduk sebelum dirinya. Banyak mata yang sekarang sedang memperhatikan interaksi mereka. Ada mata yang cukup bahagia melihat mereka bahagia, ada juga mata yang terlihat tidak suka ketika mereka berdua berinteraksi dengan romantis.
Pandangan Jake berubah, tatapan penuh wibawa dia tampik di wajah tampannya. Sayang, Zuna tidak bisa melihat tatapan itu.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pangeran Mahkota dan putri mahkota, semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian selama tujuh turunan."
Tentu saja, aku harus bahagia disini, nikmati segala yang ada, Zuna tersenyum penuh arti ketika ketika mendengarkan kata hatinya sendiri.
"Sebelumnya maaf, kalau misalkan kalian terkejut ketika saya membawa seorang gadis cantik di hadapan kalian."
Zuna merasa terpanggil dan menoleh kearah Jake, lalu pria itu akan melemparkan senyumnya kepada, Zuna. Membuat Zuna merasa meleleh.
"Perkenalkan dia adalah Zuna Rizeta, calon istri saya."
Deg!
Zuna merutuki dirinya yang selalu berdebar ketika mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir, pangeran Jake.
"Kenapa anda baru memperkenalkannya sekarang? Apa anda memang sengaja untuk membuat Putri Mahkota muncul di publik, dalam waktu yang tepat seperti ini?"
Zuna sedikit ingin tertawa mendengar ucapan salah satu dewan. Dia yakin, pasti dewan ini adalah orang yang tidak setuju Pangeran Jake menaiki tahtanya sendiri.
Baiklah, biarkan Zuna mendengar apa jawaban yang akan Jake berikan kepada mereka.
"Sebelumnya maaf, karena saya membuat kalian cukup terkejut dengan berita ini. Terlebih lagi, kondisi kesehatan ayahanda yang menurun."
Zuna tersentak ketika Jake tiba-tiba menggenggam tangannya. Namun dengan segera dia menormalkan ekspresinya dan membalas untuk tersenyum kearah, Jake.
"Kekasih saya terlalu pemalu untuk tampil di publik, kami pun sebenarnya jarang bertemu karena sama-sama sibuk."
Zuna mengangguk kecil, "Itu benar."
Jake kembali meliriknya ketika mengatakan sepatah kata, lalu Jake akan tersenyum manis. Senyuman yang begitu teduh dan hampir saja menggoyahkan Zuna kalau dia tidak cepat-cepat tersadar dari siapa sebenarnya dirinya.