6. Ibu Mertua tiri

1103 Kata
i********: : @im_yourput Happy Reading! *** Keesokan paginya Zuna merasa tidak enak badan efek karena terlalu banyak pikiran. Bagaimana tidak, jika kemarin para dewan banyak yang protes akan hal ini. Zuna mendengus, dia bahkan melewatkan sarapannya dan secara khusus pangeran mahkota datang ke kediamannya tanpa permisi. Hal ini malah menambah rasa gugup Zuna ketika akan berhadapan langsung dengan Pangeran Mahkota di pagi hari, bahkan Zuna belum sempat membersihkan wajahnya. "Apa aku menganggumu?" Tanya Pangeran Jake ketika dia mendekat sembari membawa nampan berisi sarapan, Zuna. Zuna hanya tersenyum, dia tidak berani membuka mulut karena nafasnya mungkin saja bau. Bayangkan saja, Zuna terbangun karena suara Pangeran Jake dan asisten pribadinya di depan kamar. "Syukurlah, sebagai calon putri mahkota, kamu memang harus terbiasa bangun pagi." Zuna mendengus, apa pangeran Jake sekarang sedang berusaha untuk mengejeknya dengan halus. Wanita itu hanya diam dan menampik sebuah senyuman terpaksa. "Terimakasih sebelumnya, Pangeran Mahkota tidak harus sampai mengirimkan sarapan saya begini." Jake hanya diam dan meletakkan nampan itu tepat di depan, Zuna. Pria itu berdehem pelan. Kemudian bangkit dengan menatap, Zuna. "Mungkin setelah ini, kamu harus bersiap." "Mengapa?" Tanya Zuna dengan suara lirih. Jake tersenyum pelan, entah mengapa ada gurat kekhawatiran yang timbul di wajahnya. "Ibu tiriku mungkin akan datang berkunjung, dan sandiwara diantara kita harus segera terjadi." Zuna menganggukan kepalanya pelan. Tentu dia tau apa yang harus dia lakukan. Pria tadi sudah pergi dengan pamit, menyisakan Zuna yang kini terdiam sembari memandang nampan berisi makanan itu dengan tidak minat. Berkali-kali sudah Zuna menghela nafas. Hal yang paling dia tidak inginkan malah terjadi sekarang. Apa kata Jake jika mengetahui Zuna yang ternyata tidak bisa mengontrol emosi. Bisa dipecat dari pekerjaan ini, Zuna. Dengan malas setelah sarapan, Zuna bangkit untuk bersiap ditemani pelayan pribadinya. Hidup mewah percuma kalau tidak dinikmati. Zuna ingin keluar dari kamar. Ketika dia keluar, betapa terkejutnya ia melihat Kei yang kini berdiri dengan wajah sumringah, membuat Zuna terkejut dan menyentuh bagian dadanya. "Astaga! Apa yang kau lakukan di depan kamarku?" Zuna hampir memekik kalau dia tidak sadar dimana dia berada saat ini. Kei terkekeh pelan kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Hari ini, Pangeran Mahkota ada pertemuan penting ke luar daerah. Jadi, pangeran menitipkan anda untuk saya jaga, Putri." Zuna mengernyit, "Untuk apa aku dijaga, tenang saja aku bisa melindungi diriku sendiri." Kei segera menggeleng, pria cantik berambut sedikit panjang itu tampak tak setuju, "Anda belum tau seberapa bahayanya keluarga kerajaan. Jadi untuk itu, saya harus menjaga anda sampai anda tau sendiri tabiat orang-orang disini." Percayalah Kei mengatakannya dengan sangat pelan dan lirih. Membuat Zuna harus maju sedikit untuk mendengar apa yang diucapkan oleh, Kei. "Bagus ya! Apa ini yang kamu lakukan di belakang putraku?" Mereka berdua menoleh kearah wanita paruh baya yang kini berjalan mendekat. Zuna menggeleng kecil, darimana datangnya wanita ini? Kenapa dia terlihat sangat angkuh dan tidak bersahabat. Kei segera membungkuk hormat, meninggalkan Zuna yang kini berdiri cengo, "Saya tidak berani, saya hanya sedang mengobrol dengan Putri Mahkota, mohon Permaisuri jangan salah sangka." Wanita paruh baya itu berdecak pelan, "Aku bisa lihat, bagaimana wanita ini mungkin akan menyelingkuhi putraku. Sebelum hal itu terjadi, aku tidak akan membiarkanmu bertindak sesukamu!" "Habislah, aku baru ingin menikmati kehidupanku menjadi seorang putri mahkota, sekarang sudah kandas saja!" Batin Zuna bergemuruh. "Kenapa kau diam saja! Apa yang aku katakan tadi benar bukan?" Zuna tersadar kemudian menggeleng dengan raut wajah polosnya. Karena memang Zuna tidak paham, kenapa wanita paruh baya ini tiba-tiba lugas padanya. "Tidak, itu tidak benar permaisuri. Saya tentu setia kepada Pangeran, saya mencintainya dengan sangat tulus. Tidak mungkin ada perasaan untuk berpindah ke lain, hati." Ketika Kei mendengar ucapan Zuna, saat itu juga dia ingin memberikan apresiasi terhadap, Zuna. Mengingat wanita itu cukup baik dalam memerankan perannya. *** Zuna meringis berkali-kali, ini sudah hampir setengah hari dan selama itu pula ibu mertua tirinya menyiksa. Belajar tata krama apanya? Jika menyiksa seperti ini. Berapa kali Zuna merasa punggung dan kakinya terasa nyeri. Namun dia harus menahan dan tetap tersenyum ketika Pangeran Mahkota kembali dari luar daerah. Cukup cepat, mengingat Zuna punya perkiraan lain sampai kedatangannya. "Jaga sopan santunmu di depan semua keluarga kerajaan. Jangan membuat malu, karena kamu menyandang status Putri Mahkota." Zuna menelan ludahnya gugup, sekarang apalagi? Kenapa Nenek sihir ini tidak pernah membiarkannya tenang barang sekali, saja? "Pelajaran tadi seharusnya sudah cukup untuk mengajarkanmu!" Zuna refleks mengangguk, dan dia tidak akan pernah ingin menyentuh teknik pelatihan seperti itu lagi. Bayangkan saja, membawa buku diatas kepala dan harus berdiri tegap, masih bisalah. Tapi bagaimana dengan tiga mangkuk plastik yang harus Zuna bawa. Membuatnya seperti mati kutu, karena jika bergerak salah satu mangkuk itu akan jatuh lalu Zuna akan mendapatkan pukulan, rotan. "Ketika seorang Istri menyandang nama suaminya, maka istri itu harus patuh dan menjaga nama baik suaminya. Mengingat asal-usul kamu saja belum saya ketahui dengan jelas, memaksa saya harus memberikan beberapa tes untuk kamu." Zuna hendak menghela nafas, namun harus dia tahan sebelum Nenek sihir itu kembali berulah. Zuna menampik sebuah senyum di bibirnya. "Karena kamu sudah berusaha, silahkan nikmati hidangan yang ada." Zuna menganggukan kepalanya semangat. Untuk soal makanan, mungkin Zuna akan melupakan sejenak siapa yang saat ini sedang duduk dihadapannya. Saat tangannya hendak menyentuh makanan itu, Kei berdehem pelan, membuat Zuna meliriknya dengan pandangan penuh tanya. "Kenapa diam?" Zuna yang mengerti kode dari Kei, diam-diam mengangguk kemudian mengurungkan niat untuk menyentuh makanan tersebut. "Ah, kebetulan saat ini saya sedang melakukan diet ketat. Mengingat ada beberapa gaun yang sudah tidak muat lagi, saya takut hal itu berpengaruh kepada upacara penobatan saya." Wanita paruh baya itu berdecih, "Makanlah sedikit, jangan terlalu memikirkan masalah diet. Kerajaan masih cukup mampu untuk membelikanmu beberapa pakaian, mahal." Zuna kembali menggeleng pelan, "Tidak, saya orang yang sangat menghargai barang. Menurut saya gaun-gaun itu terlalu bagus untuk disingkirkan. Kecuali gaun lama yang sudah rusak, buat apa disimpan baik-baik dengan lama? Kalau hanya untuk merugi dan membiarkan tempat semakin menyempit?" Kei yang berdiri di depan Zuna, menahan untuk tidak tertawa. Peribahasa Zuna sangat tepat, terutama ketika mengenai "Gaun lama yang sudah rusak, untuk apa disimpan lagi?" Setelah pertemuan dengan ibu mertua tiri tadi, Zuna melangkah dengan kesal menuju kamarnya. Tidak disangka hari akan berakhir seperti ini, dan Zuna sama sekali tidak menikmati harinya. "Aku lapar, aku lelah! Bagaimana aku bisa menikmati kehidupan mewah ini kalau aku masih terus menderita!" Keluh Zuna. Wanita itu tidak menyadari kalau Kei masih mengikutinya dari belakang, perlahan pria itu menggeleng pelan mendengar ucapan, Zuna. "Itulah sulitnya berada di istana, seseorang yang seharusnya anda percaya, malah berniat menusuk anda dari belakang." Zuna menghentikan langkahnya, membuat langkah Kei juga ikut terhenti, kemudian Zuna berbalik untuk menatap kearah Kei dengan curiga. "Lantas ... apa aku bisa mempercayaimu, Kei?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN