Bab 12

1214 Kata
"Okay, ready. one two three. good.. Oh yeah how is it Mr. Fitra?" tanya Mr. Billy sembari menunjukkan hasil jepretan fotonya pada Fitra. "Nice Mr. Billy, I really like the result. Oh yeah how did you take this photo too, but wait a minute. Honey come here." Fitra memberikan kode pada Titah agar meninggalkan Kamil dan Titah berdua untuk di foto. "Okay Uncle.." Titah pergi meninggalkan Kamil dan Titah berdua untuk di foto. "What do you mean? Eh.. Eh.. wait." kata Titah yang melihat Titah pergi dari antara Titah dan Kamil. "Titah sudahlah biarkan dia pergi, sekarang kita foto saja berdua ya." kata Kamil, memegang tangan Titah lembut. "But I.." Titah ragu, hendak pergi. Namun, sebelum Titah melangkah, Kamil menggenggam tangannya. Tatapan mereka bertemu. Kejutan bercampur dengan perasaan lain terpancar dari mata Titah. Pak Billy kemudian memotret mereka berdua atas arahan Fitra. Di Bogor, Jawa Barat, Rian, calon suami Titah, asyik mengamati foto-foto pertunangan mereka. Rasa gelisah menggerogoti hatinya. Keraguan itu begitu kuat hingga ia memutuskan untuk bertanya pada Ibu Titah, Bu Puji. "Haduh, kamu ini sedang apa, sih? Oh, rupanya ada yang sedang merindukan pujaan hatinya, ya?" goda Bu Puji, tersenyum geli melihat Rian yang tampak murung. "Iya, Bu. Saya sangat mencintainya, tapi..." Rian ragu-ragu, takut menyakiti hati calon ibu mertuanya. "Tapi apa? Katakan saja, Nak. Kamu sudah menganggap saya seperti ibu sendiri, kan?" tanya Bu Puji, suaranya lembut. "Hehehe, iya, Bu. Begini, Bu... entah mengapa saya merasa Titah tidak mencintai saya." Rian akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya. Bu Puji meletakkan tangannya di pundak Rian. "Dari mana kamu berpikir seperti itu? Dia menerima lamaranmu, itu sudah bukti cintanya. Jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam. Ah, sudahlah, Ibu mau ke dapur dulu, ya." Bu Puji berusaha menenangkan Rian, namun ada sedikit keraguan dalam senyumnya. "Ibu, andai kau tahu, aku merasakan anakmu tak mencintaiku," batin Rian. Flashback On… "Akhirnya, keinginan almarhum ayah kalian berdua terwujud. Kalian berdua menikah," ujar Bu Puji pada Rian, senyumnya merekah. "Tante, Titah mana? Acara pertunangannya akan segera dimulai," kata Mega, sedikit cemas. "Ibu…" panggil Rian, suaranya sedikit ragu. "Ya, Leh?" sahut Bu Puji. "Boleh aku titip pesan untuk Titah?" pinta Rian. "Tentu saja, apa pesannya?" "Sampaikan padanya, aku menunggunya di bawah," jawab Rian, matanya menatap nanar ke arah pintu kamar Titah. "Baik, Leh…" Di kamarnya, Titah tengah bersiap. Ia meminta periasnya mengganti sepatu agar senada dengan gaunnya. Sejenak ia terdiam, menatap langit malam. Bintang-bintang seakan menjadi saksi bisu perasaannya. "Ini yang Bapak inginkan, ya, Pak. Aku akan menuruti permintaan Bapak, mengorbankan perasaanku demi ego-Mu. Aku sangat mencintainya, Pak, Kamil. Mungkin kami tak berjodoh. Tapi jika suatu saat nanti kami berjodoh, Bapak harus berjanji tak akan menghalangi cinta kami," bisik Titah lirih pada langit, air mata mulai membasahi pipinya. Tok… tok… tok… Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. "Masuk," Titah menjawab dengan suara sedikit gemetar. "Sudah siap, Nduk?" tanya Bu Puji, masuk ke dalam kamar. "Sudah, Bu. Ada apa?" "Rian sudah menunggumu di bawah," jawab Bu Puji, mencoba tersenyum. "Biarlah, Bu. Biarlah dia menunggu," Titah menjawab dengan tenang, namun sorot matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. Ia menarik napas dalam, menata kembali perasaannya. Kemudian, dengan langkah gontai namun tegar, Titah keluar dari kamar, ditemani ibunya menuju Rian. Janji di Hari Pernikahan "Saajanji Ghar Aaye" (Chorus) Peminang datang dari jauh Jangan tunda lagi, segera keluar (Rian) Hoo… oo… oo… Ku datang ke rumahmu, menjemputmu Ku datang ke rumahmu, menjemputmu Hatiku kuberikan, tuk gantikan hatimu Dengar, bisik hatiku (Chorus) Peminang telah datang Peminang telah datang Pengantin wanita tersipu malu Peminang telah datang (Titah) Oh hati, alasan bodoh tak berguna lagi Gadis ini harus pergi, ke rumah peminang Dengar, bisik hatiku (Chorus) Peminang telah datang Peminang telah datang Pengantin wanita tersipu malu Peminang telah datang (Titah) Terjebak dalam perangkap gila Bagaimana ini? Katakan, kawan, katakan (Rian) Sayang, temanmu pun terpukau padaku Apa kata mereka? Tanyakan saja (Titah) Pergilah, pembohong! Mengapa kau puji diri sendiri? (Chorus) Pergilah, pembohong! Mengapa kau puji diri sendiri? (Rian) Dengar, bisik kekasihmu (Chorus) Peminang telah datang Peminang telah datang Pengantin wanita tersipu malu Peminang telah datang (Titah) Aku bodoh dan lugu, itu kemurahan hatiku Karena menerimamu, katakan padanya (Rian) Tanpa alasan, ia menggoda, tuk balas kemurahan hatiku Hatiku kuberikan, katakan padanya (Titah) Kau acuh, hatiku terluka, lelaki gila! (Chorus) Kau acuh, hatiku terluka, lelaki gila! (Rian) Dengar, bisik orang gilamu (Chorus) Peminang telah datang Peminang telah datang Pengantin wanita tersipu malu Peminang telah datang (Titah) Inai dan perhiasan berkilau Menangis, membuatku menangis Kau pergi esok pagi, kenanganmu kan abadi (Chorus) Kenanganmu kan abadi (Titah) Inai dan perhiasan berkilau Menangis, membuatku menangis Kau pergi esok pagi, kenanganmu kan abadi (Chorus) Kenanganmu kan abadi (Rian) Ku datang ke rumahmu, menjemputmu Ku datang ke rumahmu, menjemputmu Hatiku kuberikan, tuk gantikan hatimu Dengar, bisik hatiku (Chorus) Peminang telah datang Peminang telah datang Pengantin wanita tersipu malu Peminang telah datang Flashback Off Di Belanda, Titah dan teman-temannya terbagi dua tim untuk permainan: Titah dan Kamil di Tim A, Fitra dan Mr. Billy di Tim B. Titah dan yang lain menjadi juri dan penonton. Tim B berhasil menjawab lebih dulu. Giliran Tim A. Titah meminta Kamil untuk memeragakan pernyataan "I Love You." Kamil menolak. Seorang anak membantu Kamil, dan Titah, sahabat Kamil, membalas "I Love You." Hujan tiba-tiba turun. Anak-anak dan Mr. Billy berlindung di aula, meninggalkan Titah dan Kamil berdua di lapangan. Mereka berteduh, dan Kamil menyatakan cintanya pada Titah. Titah berlari ke arah hutan dekat perkemahan. "Baik, Tim B berhasil menambah poin. Apakah Tim A bisa menyamai skor mereka? Mari kita panggil Tim A!" Titah memberi kesempatan Tim A maju. "Kamil, giliranmu. Ingat, kamu sudah maju pertama kali tadi. Ayo!" Titah menyuruh Kamil maju. "Baiklah..." jawab Kamil. Titah terkejut, "Papa kamu?" tanyanya saat melihat ayah Kamil maju. "Cepatlah!" seru Kamil, sedikit kesal. "Oke, tapi..." Titah ragu. "Apa?" tanya Kamil. "Duduk," pinta Titah. "Oke..." Kamil menurut dan duduk. Titah berbisik kepada ayah Kamil, "Katanya, 'I Love You'." Kamil menolak, "Titah, kata itu... kata itu tidak ada dalam permainan ini!" "Ada kok, Pa!" bantah Titah, lalu pergi meninggalkan Kamil. "Baiklah, jadi katanya ada..." Kamil mencoba mengkomunikasikannya dengan bahasa isyarat. "Tiga?" tanya Titah. Kamil mengangguk. "Oh, ya, tiga kata. Terus?" tanya Titah lagi. Kamil mengulangi gerakannya, namun Titah mengeluh karena gerakannya kurang jelas. "Nak, kamu mau ke mana?" Titah bertanya kepada seseorang yang maju ke depan. "Apa?" tanya Kamil. Anak itu kemudian menirukan gerakan yang diminta Titah. "Coba ulangi," pinta Titah. "Tidak, tidak... Dia..." Kamil menolak saat diminta mengulang gerakan. Titah akhirnya menjawab, "I Love You..." "Benar?" tanya Titah memastikan. "Ya," jawab Kamil. Titah sedikit kecewa, "Kamil, coba saja kau bisa melakukan gerakan tadi. Kalau bisa, kita pasti menang." Tiba-tiba, "Hujan!" teriak Mr. Billy. "Anak-anak, ayo masuk ke aula!" Titah menyuruh anak-anak masuk. Seseorang memberikan payung pada Titah, "Mevrouw, dit is de paraplu." "Oh, oke, bedankt," terima Titah. "Mil!" panggil Titah. "Yah!" teriak Titah ketika payungnya terbang terbawa angin kencang. Kamil berkata, "Sudahlah, biarkan saja payungnya." "Tapi Kamil, kita akan kehujanan," protes Titah. "Ayo, ikut aku," ajak Kamil, lalu menggenggam tangan Titah dan berlari menuju tempat berteduh. Mereka sampai di tempat berteduh. Titah langsung mengeringkan rambutnya yang basah kuyup. Saat Titah mengeringkan rambut, Kamil berlutut, mengajaknya berdansa. Titah awalnya menolak, tetapi saat mendengar musik, mereka pun berdansa. "Apa, Mil?" tanya Titah ketika Kamil berlutut di hadapannya. "Mil, permainannya sudah selesai. Tidak perlu bahasa isyarat lagi. Kau mengajakku berdansa?" Titah sedikit bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN