Bab 13

1371 Kata
Hujan turun saat Kamil dan Titah berdansa. Begitu reda, Titah melangkah menuju hutan, meninggalkan Kamil yang kembali ke aula tempat Fitra, Arya, dan anak-anak lain berkumpul. Kamil mencari Titah. Di dalam hutan, Titah terkejut mendapati Rian, tunangannya, datang memberi kejutan. Mereka kembali bersama ke aula. Di aula, Kamil dan Rian bertemu. Mereka menyadari pernah tertukar sambungan telepon saat acara kantor, sama-sama mencari seseorang bernama Titah. Di aula... "A..." panggil Kamil. "Apa, Mil?" sahut Fitra. "Ti..." Kamil terpotong oleh Arya. "Tunggu, keringkan dulu badan dan kepalamu," kata Fitra. "Oke..." Kamil menurut. "Ini, Arya." Kamil memberikan handuk. "Iya, Om..." Arya menerima handuk. "Sekarang, katakan," pinta Fitra. "Titah di mana, A?" tanya Kamil. "Titah..." panggil Fitra. "Yes, Uncle..." jawab Titah kecil. "Nah, itu dia Titah-mu, Mil," jawab Fitra. "Bukan yang ini, A," kata Kamil. "Bukan yang ini? Lalu yang mana?" tanya Fitra. "Minum dulu cokelat hangatnya," Fitra menyodorkan minuman pada Kamil. "Assalamu'alaikum..." Titah dan Rian memberi salam. "Wa'alaikumussalam..." jawab Kamil. "Kau!?" Rian mengenali Kamil, dan sebaliknya. "Kalian saling kenal?" tanya Titah. "Ya... Kami bertemu di acara kantor, Sayang," jawab Rian. "Sayang!?" Kamil terkejut. "Ya... Kau tahu, ini Titah-ku. Mana Titah-mu?" tanya Rian sambil memeluk Titah. "Oh, ini Titah-ku," jawab Kamil sambil memeluk Titah, anaknya. Di dalam hati, Titah kecil merasa sangat kecewa dan putus asa, menganggap harapannya untuk mempersatukan Kamil dan Titah telah pupus. Malam harinya, Kamil dan Rian bermain bola basket. Rian memberitahu Kamil bahwa ia dan Titah akan segera menikah. Keesokan harinya... Kamil dan anak-anak memberi selamat pada Titah atas pernikahannya dengan Rian. Setiap kali Titah ingin berbicara, Kamil selalu memotongnya, lalu meninggalkannya sendiri. Titah ingin menyatakan cintanya sekali lagi, tetapi Kamil tidak ingin mendengarkannya. Titah mendatangi tenda Rian dan memintanya untuk kembali ke Indonesia demi mempersiapkan pernikahan mereka, yang sebenarnya masih lama, namun Titah ingin dipercepat. Titah tidak menyadari bahwa Titah, anak Kamil, berada di tenda yang sama. Titah berlari ke tendanya sambil menangis. Kamil dan Fitra memperhatikan dari jauh. "Mil..." panggil Titah. "Iya, Tah? Kenapa?" tanya Kamil. "Ada yang ingin saya bicarakan denganmu," jawab Titah. "Oh ya? Sama. Aku dan anak-anak juga ingin membicarakan sesuatu. Bagaimana kalau kami duluan?" kata Kamil. "Oh, oke, baiklah. Silakan..." sambung Titah. "Oke, anak-anak..." panggil Kamil. "Yes, Uncle!" jawab anak-anak. "Start..." pinta Kamil. "Okay, Uncle..." kata anak-anak patuh. "Gefeliciteerd met uw trouwdag, juffrouw Titah. Mogen juffrouw Titah en oom Rian altijd gelukkig zijn, tot de dood jullie scheidt," ucap Kamil dan anak-anak bersamaan dalam bahasa Belanda. "Maksudnya?" tanya Titah. "The meaning is happy wedding day to you Titah, may you and Rian always be happy until death do you two part," Kamil menjelaskan dalam bahasa Inggris. "How do you know?" tanya Titah. "You don't need to know, I know how. Do you still think I'm still your friend or not? I wasn't even told about your engagement day and your happy day, oh yes, or did you want to tell me this? It's too late, I already knew..." jawab Kamil. "But Kamil, that's not what I want to tell you," kata Titah. "Okay, once again, congratulations to you. I'm happy that my friend will get married and live happily with the man of her choice. Bye..." Kamil tidak peduli dan pergi, tidak mendengarkan apa yang ingin Titah katakan. "Waarom moest dit nou weer gebeuren, waarom luister je niet naar me Kamil? Je weet dat er iets is gebeurd. Ja, er is iets gebeurd, Kamil," Titah merasa kecewa dalam bahasa Belanda. Tenda Rian... "Oh, jadi seperti itu," kata Rian. "Ya, Uncle," sambung Titah. "Uncle Rian, aku mohon, berjanji ya untuk tidak menikah dengan Miss Titah," Titah memohon. "Aku ledekin saja deh..." kata Rian dalam hati. "Janji apa?" tanya Rian. "Ih, Uncle kan sudah saya katakan tadi, untuk tidak menikah dengan Miss Titah. Okay...?" jawab Titah sedikit kesal. "Oh, itu..." kata Rian. "Yes, promise!?" pinta Titah. "No..." ledek Rian. "Please, Uncle, please," Titah memohon dengan wajah mengiba. "No..." Rian masih meledek. "Please..." Titah masih memohon. Titah terus memohon, sementara Rian terus meledeknya. Sampai akhirnya Titah (dewasa) datang ke tenda Rian, dan Titah anak Kamil bersembunyi. "Rian..." panggil Titah. "Kau tetap diam di sana, ya," pinta Rian. "Rian..." panggil Titah lagi. "Ya, Titah? Kenapa?" tanya Rian. "Aku ingin kita pulang ke Indonesia sekarang dan mempercepat pernikahan kita secepatnya. Besok kita menikah. Aku sudah memutuskannya. Kau bereskan barang-barangmu, aku juga akan membereskan barang-barangku sekarang," jawab Titah. "Apa Miss Titah ingin pulang dan menikah secepatnya besok dengan Om Rian? Enggak... Enggak... Enggak bisa..." Titah kecil lari sambil menangis ke tendanya. "Tah, Titah... Kau..." panggil Arya. "Titah, anakku..." kata Kamil melihat anaknya menangis. "Lihat anakmu, masih yakin kau tidak ingin menikah lagi, Mil? Dia masih membutuhkan sosok seorang ibu," sambung Fitra. "Dia masih kecil, Mil. Aa mohon padamu, jangan egois," pinta Fitra, lalu pergi meninggalkan Kamil sendiri. Tenda Titah... "Hiks... Hiks..." Titah menangis di dalam tendanya. "Jangan menangis, Sayang," kata Fitra. "Iya, Tah, sudah cep..." Arya mencoba menenangkan Titah. "Tapi Om Fitra, Arya..." kata Titah. "Excuse me, Mr. Fitra, Titah, and Arya," kata Mr. Billy. "Yes, Mr. Billy, what's up?" tanya Arya. "Yes, what's up, Mr. Billy? Is there something important?" tanya Fitra juga. "I want to tell you that we are waiting for you outside to say goodbye to Miss Titah, because Miss Titah will be going to Indonesia to get married," jawab Mr. Billy. "Okay, we'll be there soon. Tell Mr. Billy we're coming," kata Fitra. "Okay, Mr. Fitra," sambung Mr. Billy. "Om..." Titah masih menangis. "Sudah, ayo kita ke sana. Arya, ayo," ajak Fitra. "Iya, Pah..." kata Arya. Titah, Fitra, dan Arya akhirnya datang ke aula untuk perpisahan Titah dan Rian yang akan pergi ke Indonesia untuk menikah. Titah berpamitan pada anak-anak, Mr. Billy, Fitra, Arya, dan yang terakhir Kamil. Sementara itu, Rian menunggu di mobil. Saat Titah akan menuju mobil, Kamil menghentikannya dan memberikan bros yang pernah Titah berikan pada Belinda (almarhumah istri Kamil) sebelum menikah. "Saya pamit ya semua, semoga kita dapat bertemu kembali suatu hari nanti. A Fitra, Arya, Mr. Billy, dan Titah..." kata Titah. "Assalamu'alaikum..." Titah memberi salam. "Wa'alaikumussalam..." Fitra dan Mr. Billy menjawab salam. "Titah, tunggu..." Kamil menghentikan langkah Titah. "Pah..." panggil Titah. "Ya..." jawab Titah. "Tunggu sebelum kau pergi, kau ingat bros cantik ini, kan? Ini barang yang pernah kau berikan pada Belinda, almarhumah ibunya Titah, sebelum pernikahan kami. Aku akan mengembalikannya padamu, anggap saja ini hadiah dari Belinda untuk pernikahan kau dan Rian. Bahagia selalu ya, teman baikku," kata Kamil sambil meneteskan air mata. "Ok, thanks..." kata Titah. "Assalamu'alaikum..." Titah memberi salam pada Kamil. "Wa'alaikumussalam..." Kamil menjawab salam dari Titah. Titah dan Rian pun pergi dengan mobil, Paijo dan Cengek juga ikut kembali ke Indonesia. Sementara itu, Titah berdoa agar Titah dan Rian tidak jadi menikah, dan ia menjadi ibu sambungnya. Kamil berdiam diri di tendanya sampai akhirnya Belinda datang dan menutup matanya, yang ada dalam penglihatannya adalah Titah sahabatnya. Kamil, Fitra, Titah, dan Arya kembali ke Indonesia bersama Mr. Billy untuk menghadiri pernikahan Titah dan Rian besok. Tak Lagi Kau Ingat Aku (Tujhe Yaad Na Meri Aaye) (Kamil) Ini salahku, tak ku ungkapkan Kata hati yang terpendam (Titah) Jika kini kau menyadari Jangan biarkan aku sendiri (Kamil) Siapa peduli luka di jiwa? (2x) Kini, apa yang harus kukata? (Kamil) Tak lagi kau ingat aku Kini, apa yang harus kukata? Tak lagi kau ingat aku Kini, apa yang harus kukata? (Titah) Hatiku menjerit, air mata jatuh Kini, apa yang harus kukata? (Kamil) Tak lagi kau ingat aku Kini, apa yang harus kukata? ---- Keesokan harinya... Indonesia Di kediaman orang tua Titah... "Tapi, Nak, kamu tidak bisa menikah sampai akhir tahun," kata Bu Puji. "Aku tidak peduli, Bu. Kenapa Ibu percaya hal seperti itu? Itu sama saja kalian semua menentukan takdirku. Sekarang, biarkan aku mengubah takdirku sendiri, Bu," sambung Titah. Titah tetap memaksakan pernikahannya besok, dan ibunya pun mempersiapkan segalanya hari itu juga. Rian sedang bersiap-siap dan teringat bahwa Titah, anak Kamil, memintanya untuk tidak menikahi sahabat ayahnya (Titah), karena ia ingin Titah menjadi ibu sambungnya. Di kediaman Rian... Kamar Rian... "Aku jadi teringat Titah... Dia memintaku untuk tidak menikahinya. Tetapi..." *Flashback On* "Ada yang datang ke tendaku, kau bersembunyi dulu," pinta Rian. "Tidak, aku tidak akan bersembunyi sampai Om berjanji untuk tidak menikahi Miss Titah," tolak Titah. "Hmm... Ok, ok. Baiklah, janji," Rian berjanji pada Titah. "Ok..." seru Titah. *Flashback Off*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN