"Dokdok ... ora. Dokdok ... ora. Dokdok ... ora. Ora wes, tapi... ra penak pisan,*” gumam Firli kesekian kalinya di depan pintu cokelat tua di ruangan staf accounting, ruangan Sony di lantai dua.
Meski tidak ada kewajiban untuk meminta maaf kepada Sony karena dipukuli Azam, tetapi hati kecilnya tak tenang. Perasaan bersalah menghantuinya semalaman, membuatnya tak bisa tidur. Akhirnya, Firli
“Ada apa?” tanya Sony mendapati Firli berdiri di depan pintu. Tadinya Sony akan ke bawah menemui Dodik. Namun saat membuka pintu, Firli berdiri di depan ruangan dengan pandangan melamun. “Fir?” Tangan Sony bergoyang-goyang di depan wajah Firli. “Firli!”
“I ... iya ... iya?” Firli geragapan mendengar suara keras memanggil namanya.
Sony menatap bingung ke arah Firli. Ia berdeham kecil. “Kenapa di depan pintu? Ayo, masuk. Kita bicara di dalam.” Sony berbalik melangkah menuju kursi abu-abu tua yang empuk. “Ada apa?” tanya Sony setelah Firli duduk nyaman di kursi.
Ditatapnya wajah Sony yang membengkak. Sudut bibir pria itu membiru, tampaknya ada sobekan kecil. Begitu juga di beberapa bagian wajah karena pukulan Azam. Firli jadi tidak enak hati. “Eumm ... itu ... saya mau minta maaf karena Mas Azam ... eh, saudara saya sudah memukul, Bapak,” ujarnya cepat sebelum keberaniannya menghilang.
Pria itu menghela napas dalam, tapi kemudian meringis karena bibirnya nyeri. Perbuatan sepupu Firli terhadapnya memang tidak salah. Siapa pun akan melakukan hal sama jika ada saudaranya yang tersakiti. Lagi pula, tak seharusnya Firli minta maaf padanya, justru Sony yang harus minta maaf karena sudah memberi harapan palsu. “Kamu nggak perlu minta maaf, Fir. Ini salahku. Wajar kalau Mas Azam marah. Kalau aku di posisi dia, aku bakal ngelakuin hal yang sama,” bantah Sony seraya tersenyum masam. Pria itu menghela napas dalam-dalam sebelum berujar, “Fir, aku minta maaf sudah bikin kamu sakit hati. Dari awal, aku serius sama kamu, tapi orang tuaku sudah berjanji dengan teman baiknya untuk menjodohkan kami. Aku sudah menolak, tapi pandangan kecewa ibuku membuatku tak berkutik. Beliau memang nggak memaksa. Hanya saja, melihatnya diam-diam menangis, aku nggak bisa.”
Setelah mengucapkan hal itu, beban di punggung Sony terasa ringan seolah bongkahan es yang tersapu banjir bandang. Hilang tak berbekas. Sebenarnya, Sony sudah ingin jujur mengungkapkannya kepada Firli sewaktu menyebar undangan pernikahannya di kantor, tapi Firli selalu menghindarinya. Jauh di lubuk hatinya, Sony memang ingin melanjutkan hubungan mereka ke tahap lebih serius, tapi dia tidak berdaya ketika ibunya memperkenalkan Sony dengan calon istrinya.
Firli diam-diam mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Ia mengangguk kecil. “Saya mengerti. Mungkin kita memang nggak berjodoh, Pak.”
“Maafin aku, Fir. Bahkan aku sudah menyiapkan kejutan untuk menyatakan perasaanku, tapi ….”
Firli mengulas senyum yang ia maksudkan untuk menenangkan Sony. “Iya, Pak, saya tahu.”
“Sekali lagi aku minta maaf sudah memberimu harapan palsu.”
Firli mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi.” Ia berdiri dan melangkah keluar. Namun saat akan mencapai pintu, Sony memanggilnya. Ia menoleh
“Makasih,” ujar Sony dengan ketulusan hati terdalam.
Firli mengangguk. Hatinya lega, paling tidak dia bisa tidur nyenyak. Tapi, masih ada satu hal yang mengganggu benaknya dan Firli harus mencari jawabannya. Ia berbalik menghadap Sony. “Eum ... tapi ... Bapak nggak akan laporin Mas Azam ke polisi kan, Pak?”
Sony sontak tertawa geli. “Buat apa? Ini bukan masalah serius, nggak sepenuhnya salah Mas Azam. Kamu nggak usah khawatir, nggak bakal ada surat penangkapan buat Mas Azam.”
Firli mengembuskan napas cepat. Kali ini benarbenar plong hati dan pikirannya. Senyum lebar akhirnya mengembang sempurna di wajah ayunya. “Makasih, Pak. Saya permisi.”
Sony mengangguk. “Sampaikan maafku ke Mas Azam.”
“Baik, Pak.” Firli melangkah cepat meninggalkan ruangan Sony.
***
Dengan wajah kesal , Azam menjemput Firli di tempat kerjanya. Perempuan bebal di sampingnya ini terusmenerus mengiriminya pesan agar menjemputnya. Sudah ia abaikan malah menerornya dengan voice note dan tak henti meneleponnya. Firli pasti meneleponnya sembunyi-sembunyi di sela jam kerjanya. “Ck. Kenapa sih nggak minta jemput Randu aja? Udah dibilang Mas mau ke Panjen, ada janji, ngotot minta jemput. Batal kan jadinya. Ngerepotin aja sukanya,” omelnya saat mereka makan bakso bakar di Jalan Diponegoro, Klojen.
Omelan Azam seolah tak lewat begitu saja ke telinga Firli. “Kayo cama Ma Landu ...”
Tangan bebas Azam membekap mulut Firli. “Makan dulu baru ngomong. Kebiasaan ini!”
Firli mengangguk-angguk sambil mengangkat jempolnya ke arah Azam. Pria itu tampak menahan kesal padanya, tapi Firli tak peduli. Yang penting ia bisa makan gratis.
Azam meraih gelas yang berisi isi es s**u cokelat pesanannya, lalu menyeruputnya dengan cepat. “Mas ini bukan baby sitter-mu, Fir. Yang lain kan ada. Sukanya kok ngeriwuki[1] Mas terus.” Azam kembali mengomel seraya memperhatikan perempuan di depannya ini makan dengan lahap.
“Kalau sama Mas Randu itu belum tentu dibeliin. Lagian, ini tuh bayaran sepadan buatku, Mas. Aku udah wakilin Mas buat minta maaf sama Sony.” Tangannya mengambil garpu, menusuk bakso bakar pedas pesanannya. “Pahala, tahu, kasih makan orang itu. Nggak bakal bikin miskin juga ini.”
Kesal dengan perkataan Firli, Azam meraup wajah sepupunya. “Ngeles ae padane Randu.[2] Siapa suruh minta maaf ke dia. Emang niat bikin bangkrut Mas kamu itu.”
Firli menatap jengkel pada Azam sebelum kembali melahap bakso bakar terkenal itu. “Siapa yang mau bikin bangkrut coba. Noh dengerin ceramah-ceramah Pak Ustaz. Ada itu dibahas. Makanya jangan suka nonton bokep aja biar ngerti agama.”
“Halah! Kayak kamu dengerin aja.”
“Yeee, dengerin kok. Mas aja yang nggak tahu.”
Malas berdebat dengan Firli yang akan terus berlanjut jika ditanggapi, Azam memilih mengeluarkan ponsel dan mulai bermain gim.
“Mas.”
“Hmm.” Perhatian Azam masih di ponselnya.
“Bakso bakar nambah lagi boleh?”
Azam mengangkat wajah dari ponsel, menatap wajah cecengesan Firli. “Masih belum kenyang? Udah apa aja itu yang dimakan, Fir.” Kemudian ia kembali fokus ke permainan. “Sialan! Kalah,” umpatnya, tapi tetap melanjutkan.
Firli tampak sebal. “Aku kan lagi masa pertumbuhan, Mas, wajar dong. Pokoknya aku pesen lagi buat di rumah.”
“Nggak ada model pertumbuhan kayak kamu. Doyan pakai alibi pertumbuhan. Weteng karet kok awakmu iku,[3]” cibir Azam.
“Wah, pasti nggak pernah denger info tumbuh dan kembang ini.”
“Karepmu, Fir, karepmu. Sak rombonge yo oleh. Sak seng dodol yo oleh. Wedok kok mangane akeh men!”[4] ujar Azam sebal sekaligus pasrah. Akhir yang sudah Azam tebak. Dia akan kalah jika berdebat, baik dengan Firli maupun saudaranya yang lain. Bukan tanpa sebab ia selalu kalah—tepatnya mengalah—sebab ia bukanlah orang yang suka adu urat untuk hal-hal yang tidak penting, apalagi soal makanan.
“Uangnya?” Firli mengulurkan tangan di atas ponsel Azam, membuat pria itu mendongak. “Cepek ceng.”[5]
Tanpa kata, Azam menarik dompet hitam dari saku belakang celana bahannya. Ia mengeluarkan satu lembar seratus ribu kemudian menyerahkan kepada Firli yang langsung melesat menuju tukang bakso bakar lagi. “Udah, kan?” tanya Azam begitu Firli kembali masuk ke mobil. Ia melajukan mobil meninggalkan area parkir bakso bakar tersebut.
“Ke Alfamart mau beli cokelat.” Firli menyengir tanpa dosa.
“Astagfirullah, Fir! Bangkrut lek ngene critane.[6]”
“Let's go!”