Bab 7

1656 Kata
Ballroom di Hotel Atria tampak cantik dengan dekorasi bunga-bunga cantik dan latar putih kombinasi hijau. Orang-orang mulai ramai ramai memadati ruangan berkapasitas lima ratus orang. Tak hanya antrean yang akan memberi selamat kepada kedua mempelai, sebagian tamu undangan juga terlihat asyik menikmati hidangan yang tersaji sembari sesekali diselingi obrolan dan guyonan. Begitu pula dengan kelompok kecil di samping meja panjang dengan hidangan menggugah selera—sup asparagus, zuppa soup, lontong sate, dan beberapa menu lainnya. Mereka terlibat perbincangan seru. “Makan teruuus! Itu mulut atau gilingan kopi, sih? Enek tahu, Fir, lihatnya,” seloroh Dita yang merasa perutnya begah melihat Firli mencoba semua makanan. Sambil mengangkat bahu, Firli melanjutkan mengambil dimsum di meja. Melahapnya tanpa peduli omongan Dita. “Enak kok.” Ia tak ingin membuang waktu untuk menikmati makanan di sekitarnya. “Biarin aja. Dia lagi melampiaskan sakit hatinya,” celetuk Randu. Ia dimintai tolong Firli mengantar plus menjadi pasangannya ke acara pernikahan Sony. Sebenarnya, Firli meminta Azam, tapi ia tidak bisa karena rencana ke Bromo dengan teman-temannya. Sesaat tangan Firli menggantung di udara sebelum akhirnya bergerak menusukkan siomai ke saus pedas. Sialan kakak sepupunya ini, tahu saja pikirannya. “Jiah, katanya nggak ngefek,” ledek Dita sembari menyenggol siku Firli yang kini menikmati salad. Randu cekikikan mendapati Firli tak berkutik karena ledekan Dita. Firli memberengut, tapi sedetik kemudian melanjutkan makannya. “Sepet ning pinggir embong, kalah cepet disaut uwong. Lapo tresno tak pendem, yen wes getun sambat kale sintennn... syalalala uuu... Syalalala uuu....” Dita terkikik geli karena nyanyian Randu membuat Firli kembali merengut. “Sialan ya, Mas. Aku sumpahin kalah cepet juga biar nyahok. Biar tahu rasanya patah hati.” “Nggak bakal. Siapa yang berani nolak pesona aku. Randu gitu.” Dengan jemawa pria tinggi itu menepuk dadanya kuat. “Kamu juga bakalan terpesona sama Mas, Fir. Tunggu aja serangan fajar Mas, kamu bakalan klepek-klepek.” “Huekkk!” *** Jati Junior Firmut Yuhuuu, sepi amir dah kyk kuburan aja nih grup. Randugila Aku tmnin, beb. Racan Eak! Ada yg lg pdkt kyknya. *cieee Firmut @randugila *salamjaritengah Randugila Jari manis dong, beb, biar kupsng cincin. Eak!!! Firmut Ogah bat. Playboy ntar atit ati aku. Sama mszam aja @azam. ... Ilham Gaswat! Bau² mhbrta 2 *nyemilkrikildipojokan Dinmut Gaswat! Bau² mhbrta 2 #nyemilkrikildipojokan2 Sasa Bau² mhbrta 2 apaan? Firmut @azam @azam @azam Tak kunjung mendapat balasan dari Azam, Firli menelepon pria itu. “Hmm.” Suara parau khas bangun tidur menyapa gendang telinga Firli. Akhirnya ia tahu kenapa Azam tak menyahuti panggilannya di grup. “Dih, pantes dipanggil di grup nggak nyahut. Nggak tahunya molor.” “Apa? Mas ngantuk ini. Kalau nggak penting, Mas tutup.” “Tunggu!” “Ck, buruan!” ujar Azam terdengar tak sabaran. “Itu aku panggil di grup.” “Hmm.” Azam pun menutup sambungan telepon secara sepihak, membuat Firli mengomel. Jati Junior Azam @firmut Hmm. Firmut @randugila noh maszam iyain. Randugila No pict, hoax. Dinmut Pepet trssss Dengan bibir mengerucut rapat, Firli meletakkan ponselnya di meja. Ia merebahkan tubuh menghadap langit-langit kamar. Bila dipikir-pikir selama tiga bulan ini, perasaan kecewanya terhadap Sony benar-benar hilang tanpa bekas. Secuil pun tak bersisa dan berganti dengan perasaan baru yang tak pernah terbayangkan oleh Firli sebelumnya. Benar-benar di luar prediksi Firli. Bahkan ia tak tahu bagaimana awalnya. Namun, jika diingat-ingat, Firli selalu mengandalkan dia. Saat sedih, marah, atau kecewa, ia selalu mencarinya untuk menumpahkan seluruh ganjalan di hatinya. Ia berkeluh kesah tanpa ada yang ia tutupi. Azam pun selalu menyediakan bahu dan waktu untuk mendengarkannya. Dalam hal apa pun, Firli lebih suka merepotkan pria itu. Meskipun dengan gerutuan panjang, pria itu tetap mengulurkan tangan padanya. Seperti kejadian Sony kemarin, Azam memberi pelajaran pria itu tanpa kata. Namun, bukan karena itu saja. Sejak kecil, Azam menjaganya dengan baik. Saat ia bercerita ingin membeli sepatu karena sudah rusak parah, tapi tak berani minta pada orang tuanya—saat ia masih sekolah—Azam tiba-tiba membelikannya. Atau saat sekolah mengadakan darmawisata, Azam yang membayarnya. Mungkinkah karena kebiasaan dan ketergantungan itu membuat Firli nyaman di sisi Azam dan akhirnya jatuh cinta? Bukankah cinta juga datang karena terbiasa? Namun, perasaan ini membuatnya resah dan bingung. Bisa-bisanya ia jatuh hati pada Azam. Astaga. “Gila nggak sih suka sama sepupu sendiri?” Hanya saja, melihat sikap Azam sepertinya ia harus menelan kecewa karena pria itu tak mempunyai perasaan yang sama. Firli terdiam sejenak. Bagaimana bisa mempunyai perasaan yang sama kalau pria itu tak tahu apa yang dirasakan Firli kepadanya? Lagi pula, mengingat hubungan mereka selama ini, wajar saja pria itu bersikap biasa. Apesnya, saat memiliki perasaan suka, ia ditinggalkan. Di saat mulai bisa membuka lembar baru, ia harus menerima kenyataan jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Apa mungkin ini karma untuknya yang mudah memutuskan pacar-pacarnya dulu? Atau mungkinkah ini hukuman karena sering mematahkan hati laki-laki yang suka padanya sebab ia tak peka? Sifatnya yang kadang terlewat cuek membuat Firli tak sadar jika teman-teman prianya menaruh hati padanya. Seperti Erik yang sering mengiriminya pesan setiap malam, tapi ia malah mengajaknya bermain game. Atau Andre yang selalu ia goda karena sering menatapnya. Bukannya malu, malah ia kedip-kedip manja padanya seraya berkata, “Aku cantik, kan?” “Harus gimana coba?” gumamnya sembari memiringkan tubuh memeluk guling. “Gimana apa, Fir?” Suara Rina mengagetkan Firli. Ia bangun, duduk bersila dengan guling di pangkuannya. “Nggak ada.” “Halah, ojo goroh. Koyok Mama iki arek cilik ae iso digorohi.”[1] Rina duduk di pinggir kasur, menaikkan satu kakinya. “Coba cerita, kenapa?” Selama beberapa detik, Firli berpikir mempertimbangkan apakah ia harus bercerita atau tidak kepada mamanya. Ia menatap lekat wajah sang ibu yang menunggunya mengeluarkan kata-kata. Hmm, siapa tahu Mama bisa memberi solusi. “Ma, pernah nggak kepikiran suka sama orang yang nggak kita kira sebelumnya?” “Kamu lagi suka sama seseorang?” Firli mengiakan. “Siapa? Randu?” Dahi Firli berkerut, lalu menggeleng. “Kirain. Dia kan sering banget godain kamu. Kali aja baper.” Firli menggeleng. “Ilham?” Firli kembali menggeleng. “Azam nggak mungkinlah, dia udah punya Tita. Siapa sih, Fir? Mama kok kepo. Temen kantor kamu lagi? Atau ....” “Kok Mama nebaknya mereka?” tanya Firli heran. “Ya nggak tahu. Kepikiran aja ke mereka. Emang bener salah satu dari mereka?” “Ish! Pernah nggak, Ma?” potong Firli cepat. Ia tak mau mamanya semakin ngawur bicaranya. “Pernah.” “Sama siapa?” Firli bergeser maju lebih dekat kepada Rina. “Jadian nggak, Ma?” “Nggak jadian, tapi nikah.” Firli tidak mengerti dengan ucapan mamanya. “Maksudnya gimana sih, Ma? Aku kok nggak ngeh.” “Ya Papa itu.” Raut kaget di wajah tak mampu Firli tutupi. Setelah terpaku beberapa detik, ia berhasil menemukan suaranya lagi. “Papa? Hah, Papa?!” seru Firli kaget. “Kirain salah satu pacar Mama.” Rina menggeleng kuat. “Bukan.” “Cerita dong, Ma.” “Wani piro?” Firli merogoh saku baby doll-nya mengeluarkan satu lembar uang kertas dua ribu rupiah. “Heleh. Medite, Fir, mbek Mama.”[2] “Lha, sisanya tinggal itu, Ma, entar kalau ada kubagi. Cepet cerita, Ma.” “Dulu itu awalnya nggak suka lho sama Papa. Lihatnya tuh kayak gimana gitu. Sok alim, jaim gitu. Terus nggak tahu kenapa, Mama tiba-tiba suka gitu. Mungkin gara-gara suka kepoin, ya? Udah suka nih Mama ya, kirimlah kode-kode ke Papa. Eh, si Papa diem bae. Sebel nggak, tuh?” “Terus?” “Udah kan ya, Papa tetep gitu stay cool. Mama yo lama-lama mikir, ngapain ngarepin dia, buang-buang waktu aja. Tapi, udah kadung suka ya tetep aja bandel. Terus yang bikin Mama sebel itu Papa pura-pura jual mahal ke Mama. Sok nggak tahu kalau Mama suka. Papa kadang sengaja jalan sama cewek gitu.” Pandangan Rina menerawang jauh, membuka kotak pandora yang telah menyimpan rapat kisah cintanya. “Mama nggak cemburu? Terus gimana ceritanya bisa nikah?” tuntut Firli antusias. “Cemburulah! Tapi, Mama pura-pura biasa aja. Nggak mau dong Mama liatin sakit hati dan cemburu, bisa gede kepala itu Papa.” Rina berdiri sejenak untuk memperbaiki posis duduknya. Kini ia saling berhadapan dengan Firli. “Nah waktu itu nggak sengaja, sih. Jadi kan karena udah yakin nggak bisa bikin Papa lihat Mama, Mama akhirnya terima ajakan jalan temen kerja. Jalanlah kita nonton. Eh, di sana ketemu Papa. Dia mau nonton juga sama temen-temen kerjanya. Kebetulan di situ ada temen indekos Papa yang juga Mama kenal. Om Haryo itu lho, Fir. Om Haryo iseng-iseng tanya, „Gebetan baru, Rin?‟ Mama jawab, doain aja. Terus Om Haryo bilang gini ke temen kantor Mama, „Jangan lama-lama, bro, kalau serius lamar sekalian. Entar nyesel kalau disamber yang lain.‟ “Temen Mama iyain saran Om Haryo. Udah kan? Nontonlah kita. Ya Mama anggap omongan Om Haryo candaan doang. Eh, tahu-tahu besok sorenya Papa langsung ngelamar Mama ke Akung. Kaget dong ya kenapa tiba-tiba coba? Ternyata gara-gara omongan Om Haryo. Kalau ingat itu, Mama jadi ketawa sendiri, Fir.” Senyum Rina terlihat cantik dengan binar geli yang terpancar kuat ketika bercerita. “Papa itu kan orangnya gengsian. Gengsinya gede banget. Papa mau ngomong cinta, tapi ditahan-tahan dan nunggu Mama yang bilang. Lha, gimana mau bilang wong Mama nggak tahu Papa cinta apa nggak. Itu aja Mama tahunya dari Om Haryo waktu udah nikah. Beneran lucu, Fir, kalau inget itu.” Firli merenung. Bila ia merasakan suka kepada orang itu pun tak ada salahnya, kan? Namun, masih ada keraguan di benaknya. “Jadi siapa yang kamu suka?” desak Rina kembali berniat mengorek isi hati putrinya sampai ia berhasil mendapatkan satu nama dari bibir Firli. Tatapan menuntut Rina membuat Firli salah tingkah. Siaga tiga kalau mamanya sudah mulai menjadi wartawan. Ia akan susah lepas dari desakan Rina. Cerita? Tidak? Cerita? Tidak? Dia tak yakin jika menyebut nama seseorang itu. “Fir.” “Itu, Ma ....” “Siapa, sih? Cepet deh tinggal bilang aja ribet.” “Eumm ... itu ....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN