Astri menghampiri kedua putranya yang asyik bermain Playstation di ruang tengah. Mereka duduk di lantai beralas karpet halus dan tebal. Televisi layar datar 49 inci menayangkan gim sepak bola. Dua lelaki dewasa itu terlibat permainan seru hingga tak menyadari Astri sudah duduk di sofa belakang mereka.
“Kelebon[1], rek!” seru Azam kesal saat pemain Randu berhasil membobol gawangnya. “a*u[2]!” Ketika bola yang digiring Il Polpo—Paul Pogba—berhasil diambil pemain The Red—Firmino—setelah peluit babak baru dibunyikan.
“Offside, rek!” Kala bola yang ditendang pemain MU tertangkap oleh pemain Liverpool.
“Matamu iku offside,” balas Randu tak terima. “Wong ndek mburi[3] garis kok.”
Pertandingan musuh bebuyutan tersebut sungguh seru. Makian dan teriakan mewarnai jalannya pertandingan berdurasi 45 menit setiap babaknya, membuat Azam dan Randu belum juga menyadari keberadaan Astri.
“Rasakno koen. Ayo, lek iso nguber,”[4] racau Randu dengan tubuh dan tangan miring-miring. Raut wajahnya tampak serius menggiring bola ke gawang Manchester United milik Azam. “Emploken iku kartu abang.”[5]
“Offside, rek.” Azam kembali tak terima ketika pemainnya harus dikeluarkan dari arena karena pelanggaran.
“Deloken yo lak gol maneh iki.”[6]
Azam tak ingin gawangnya kebobolan lagi. Ia mengirim pemainnya mengejar Roberto. Kejar-kejaran antara pemain MU dan Liverpool terus berjalan hingga pemain Randu bersiap menendang bola di depan gawang. Namun kemudian, umpatan keras dan kesal lolos bersamaan dari bibir kedua pria dewasa itu. Bagaimana tidak kesal saat-saat menegangkan layar televisi di hadapan mereka tiba-tiba berubah hitam. Terlebih bagi Randu yang akan memenangkan permainan kali ini setelah kalah 2-0 dari Azam.
“Sopo iki sing ....”[7] Kata-kata penuh kejengkelan Randu terhenti kala matanya menangkap sosok Kanjeng Ratu Astri yang duduk manis di sofa belakang mereka memamerkan senyum lebar seraya memegang erat remot televisi.
“Doh. Mama iki, lho! Pas seru-serune dipateni. Kene, Ma, remote. Garai ae.[8] Nggak jadi menang ini,” omel Randu sambil mengambil remote di tangan Astri. Ia menghidupkan lagi televisinya.
Tangan Astri bergerak menjewer telinga Randu kuat hingga putranya berteriak kesakitan. “Mok kiro kupinge Mama iki opo yo ora budeg? Benga-kbengok kaet mau. Apel kono lho ojok bengak-bengok ae.”[9]
Randu menyahuti tanpa menoleh ke arah Astri. Tangan dan matanya terfokus pada Playstation. “Suruh Azam tuh, Ma. Aku lagi males.”
“Males atau jomlo?” ledek Azam dengan tatapan sinis untuk Randu.
Namun seperti biasa, Randu cuek saja. “Wah, ngece[10] iki. Lihat aja ya bentar lagi aku pasti duluin kamu nikah.”
Astri bergeser lebih dekat ke arah Azam mengabaikan Randu. Terkadang Azam sangat tertutup jika menyangkut urusan cinta. “Zam, Mama lihat belakangan ini kamu jarang keluar. Tita juga jarang ke sini. Kalian berantem?” tanya Astri penasaran. “Kamu nggak pengin cepet nikah gitu? Udah 35, lho. Selak tuwek ngko. Mundak ora iso ngadek 'ikue'.38”
Randu tertawa keras karena ucapan Astri tanpa filter itu. Ya ampun, ada ya orang seperti mamanya ini. Tidak ada malunya sama sekali.
Azam melirik tajam Azam kepada mamanya yang cengengesan. “Mama ini! Doanya itu, lho.”
“Kalau punya Azam nggak berdiri, pasangin pen aja biar berdiri. Lurus lagi, Ma, nggak bengkok-bengkok jadinya mulus,” celetuk Randu membuat Astri tertawa keras.
“Bener ya, Ran.” Astri terbahak. “Tapi, kasihan entar Azam kalau lurus terus nggak bisa pakai celana jadinya.”
“Ya cari yang lentur gitu, Ma. Waktu pengin, lurus. Waktu udah lega, lemes lagi.”
Astri tertawa terpingkal-pingkal. “Bener, bener. Cari coba, Ran. Buat jaga-jaga gitu.”
“Di s****e atau Lazada? Mama yang bayar, ya.”
“Beres.”
Meskipun sudah biasa mendapat ledekan dari dua orang tersebut, tetap saja kuping Azam panas. “Edan.”
Astri kembali menatap putranya. “Tapi, kamu beneran nggak ada apa-apa sama Tita, Zam? Anak zaman now itu kan suka break yang ujung-ujungnya putus.”
Azam mendengus. “Nggak ada, Ma. Semua baik-baik aja. Tita kebetulan lagi sibuk sama kerjaannya.”
Astri memeluk Azam. “Cepet nikah, Zam. Bukan karena Mama nggak mau urusin kamu atau gimana, umur nggak ada yang tahu. Mama takut nggak bisa dampingi kamu waktu nikah. Biar tenang juga kamu ada yang nemenin.”
“Sewa baby sitter kan bisa, Ma,” sahut Randu sekenanya yang langsung dipukul Astri.
“Dikira masmu balita apa. Kamu juga itu, umur udah 30 lebih masih aja suka PHP anak orang.”
Azam merapatkan rangkulan Astri di pundaknya. “Ck, aku paling nggak suka Mama ngomong gitu. InsyaAllah Mama dikasih umur panjang bisa lihat kami nikah. Momong cucu sama cicit.”
“Amin.”
***
Azam dan Sasa memutuskan istirahat di food court MATOS, mal yang terletak di jalan Veteran, setelah memberikan pesanan teman Sasa. Mal besar yang bersebelahan dengan mal khusus makanan dan hotel itu terlihat ramai oleh pengunjung. Maklum saja karena Sabtu malam. banyak orang ingin melepas lelah setelah seminggu penuh menjalani rutinitas padat.
Keluar dengan Sasa—anak dari pamannya—bukan termasuk agendanya hari ini. Tadinya ia akan ke kamar dan tidur daripada menjadi bahan ledekan Randu dan Astri, duo kompak untuk urusan meledek, tetapi Sasa datang minta diantar kemari. Azam sudah terbiasa seperti ini sebab laki-laki di keluarga besarnya sudah biasa harus mengawal para sepupu perempuan.
“Kuliah kamu gimana, Sa? Udah kelar skripsinya?” tanya Azam di sela mengunyah steak.
Sasa mengangguk. “Iya, jadi bisa ikut wisuda Desember nanti,” ucapnya setelah berhasil menelan wortel dan buncis manis pelengkap daging steak.
“Habis itu mau cari kerja atau liburan dulu?”
“Penginnya langsung kerja sih, Mas, kayak yang lain. Tapi nggak tahu lagi nanti gimana. Paling bantuin kerjaan Papa.”
“Nah, iya gitu juga bisa. Kasihan kalau nggak ada yang bantuin Om.”
Tiba-tiba Sasa mengeluarkan ponselnya, membuka kamera, lalu menginstruksikan Azam untuk berpose setelah menemukan sudut foto yang pas. Ia menekan tombol kamera untuk mengambil gambar. Sasa memotret beberapa kali untuk mencari gambar yang bagus kemudian mengirimkan ke grup Jati Junior.
Jati Junior
Sasa
Send a photo #datewithmaszam
Dinmut
Widiwww. Tahu gt td ikut. @azam bungkus 1 ya.
Sasa
Slah sndri batalin.
Dinmut
Atit kpl lho.
Racan
@azam Bungkus 1 ya. (2)
Randugila
@azam Bungkus 1 ya. (3)
Eh, 2 ding buat ebeb pirli. @firmut
Racan
Jiahahh, msh aja pepetin, Mas?
Randugila
Yoi, biar bs ngalahin Azam
*stikellandakberkacakpinggang.
Dinmut
Lanjutkan.
Ilham
Lanjutkan. (2)
Arif
Lnjutkan apan?
Dimut
Mepetin Firli, Mas.
Ilham
Ikutan mepetin dong.
Azam
Beli sendiri.
@Randugila salam jr tengah, Bro.
@Ilham Geluto mbek Randu.[11]
“Udah?” Azam memasukkan ponselnya ke saku kemeja polos hitamnya.
“Ayok, Mas.” Sasa beranjak mengikuti langkah Azam yang lebih dulu keluar dari food court.
Tanpa Sasa sadari, bibirnya mengulas senyuman kala memandang punggung lebar Azam. Debaran halus menyapa jantungnya. Hatinya pun tengah berbungabunga. Azam di matanya merupakan sosok sempurna gambaran laki-laki idaman. Kalau boleh jujur, ia sudah lama memendam rasa pada sepupunya itu. Sasa sendiri tidak tahu mengapa bisa jatuh hati. Mungkin pembawaan Azam yang dewasa, serta mengayomi dan mengemong.
Merasa berjalan sendiri, Azam menoleh ke belakang. “Sa, ayo.”
“Iya.”
Keduanya tidak langsung pulang. Sesekali berhenti di salah satu stand untuk melihat-lihat barang yang dipajang, siapa tahu cocok. Azam juga sempat membeli jajanan untuk seseorang yang ia rasa pasti akan senang menerimanya. Tidak tahu mengapa tiba-tiba ia teringat sosok tersebut. Lelah berkeliling mereka memutuskan pulang.