9

1189 Kata
"Huh! Semangat, Fir!" Firli menyemangati dirinya sendiri sebelum berangkat kerja pukul sebelas siang. Terasa malas hari ini untuk berangkat kerja, padahal dia paling antusias bila kerja. Tidak ada yang istimewa di kantor, hanya saja bercanda dengan teman-temannya yang paling Firli suka. Tetapi entah mengapa, antusiasme itu lenyap, bagai debu tersapu angin. Tak berbekas sama sekali. Ada apa dengannya? Apa ini ada hubungannya dengan hal itu? Firli menggoyangkan kepalanya mengusir pikiran konyol yang menyentilnya kuat. "Nggak mungkin, ah," elak Firli. 'Terus aja ngelak, Fir,' ejek pikirannya. Mau tidak mau Firli harus menerima kenyataan jika hal itu memang pemicu anjloknya suasana hatinya pagi ini. Foto yang biasa saja tapi mampu menimbulkan rasa marah di hati Firli. "Ya ampun," ujar Firli lelah. "Bikin capek, lho, cemburu itu." "Fir! Udah setengah sebelas lho. Cepet berangkat." Rina melongok dari balik pintu yang sedikit terbuka. Melihat gelagat tak biasa dari Firli, Rina masuk dan duduk di kasur. "Kenapa sih? Soal orang yang kamu suka itu? Dia kenapa?" cecar Rina ingin tahu. "Nggak ada." "Siapa, sih, Fir? Kamu belum bilang lho." Gadis bermata sipit itu tersenyum kecil mengingat obrolan mereka beberapa hari lalu. Saat Firli sudah tidak bisa mengelak dan siap menjawab, Deni—adiknya yang duduk di kelas dua SMP—memanggil Rina karena ada tamu. Alhasil, mamanya itu langsung keluar dari kamarnya tanpa babibu lagi. "Ada, deh. Berangkat dulu, Ma." Firli keluar kamar diikuti Rina hingga ke teras. Ia tengah bersiap melajukan motornya, saat Rina memeberinya pesan. "Nanti pulang kerja langsung ke rumah Budhe Endang, ya. Mas Affan udah dateng dari Bali, nyariin kamu," perinta Rina sambil mendorong keluar motor Firli sebelum menutup pagar rumah. Wajah lesu Firli seketika semringah. "Beneran, Ma? Widiw... nagih oleh-oleh, ah. Hahaha...." Tiba-tiba saja tawa Firli berhenti karena pukulan di helm-nya. "Mama, iki lho," rajuknya. "Oleh-oleh tok ae seng mok pikir. Ndang budal kono (oleh-oleh aja yang dipikirin. Cepet berangkat sana)." "Wajib iku, Ma. Apa lagi gratis, hehehe." Rina berdecak. "Cepet berangkat." Firli berangkat setelah mencium punggung tangan Rina. *** Astri melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 17.20 WIB itu artinya sebentar lagi putranya datang dan ia sudah tak sabar untuk memberondong berbagai pertanyaan untuk Azam. Bagaimana putranya terlihat biasa saja saat masalah tengah memeluknya? Dan hari ini ia baru tahu. Azam begitu pintar menyimpan masalahnya. Tak lama berselang terdengar salam dari suara yang sangat ia kenal. Astri pun memperbaiki dudukunya, menegakkan badan, melipat tangan di depan d**a, dan memindai Azam tanpa jeda yang menghampiri dirinya. Saat menghampiri Astri, Azam merasakan aura tak biasa dari mamanya. Ada apa gerangan? Sepertinya Astri terlihat siap memuntahkan lahar panas padanya. Apa ia sudah berbuat salah hingga memicu kemarahan Astri? Tapi ia tak merasa berbuat apa-apa. "Kenapa, Mama, lihat aku kayak mau makan gitu? Ada masalah?" tanya Azam ketika berhasil mendaratkan p****t di sofa depan Astri setelah mencium punggung tangan Astri. Wanita berdaster khas Malang itu terlihat menghela napas besar sebelum menjawab pertanyaan Azam dan saat matanya menangkap raut lelah, perlahan kemarahan yang terus menggelora di hati Astri pun meredup. Ia terus menatap Azam hingga mungkin saja pria dewasa itu rikuh. "Ma ... kenapa?" ulang Azam gelisah ketika Astri tak kunjung membuka mulut. "Zam, hubungan kamu sama Tita gimana? Masih jalan, kan?" korek Astri dengan tatapan lekat hingga membuat Azam kikuk. Azam bergeming. Tumben mamanya ingin tahu masalah percintaan putranya? Biasanya masa bodoh—lebih tepatnya tak ikut campur. "Masih, Ma, kenapa?" balas Azam bertanya. "Mama ketemu dia?" imbuhnya lagi. Wanita bertubuh berisi menggeleng kecil dengan jawaban Azam. Masih saja. "Ojok goroh, lho. Duso ngoroi wong tuwo iku (jangan bohong, lho. Bohongi orangtua itu dosa)." Kerutan di kening Azam bertumpuk sembari mentapa lekat Astri. Kenapa mamanya seolah tak percaya ucapannya? "Maksudnya apa, sih, Ma? Ngomong yang jelas gitu. Aku nggak ngeh, lho." Azam yang tadinya setengah menyandar, kini menegakkan posisinya dengan bertumpu pada dua tangan yang ia kepalkan. "Ada apa, sih? Mama ngarai deg-degan ae." Setelah menghirup udara untuk paru-parunya, Astri pindah duduk di samping Azam. Melingkupi tangan Azam dengan tangannya. Menepuk-nepuk sebelum ia mulai berbicara. "Zam, kamu putus ya sama Tita?" tanyanya hati-hati. "Kalo nggak putus kenapa bisa Tita nikah sama yang lain?" lanjut Astri yang kini merasa iba dengan putranya. Ah, ini ... tidak perlu berpikir dua kali, Azam mengiakan ucapan Astri. "Udah lama, Ma, adakali empat bulan. Mama tahu dari mana dia nikah?" tanya Azam balik. "Kan temen Mama masih sodara sama keluarga dia." Kini ganti Azam yang menepuk-nepuk tangan mamanya untuk meyakinkan orang yang telah melahirkannya itu, bahwa dirinya baik-baik saja. Tatapan sendu Astri berikan untuk putra sulungnya itu akan kandasnya kisah cinta mereka. "Padahal Mama berharap kalian segera nikah. 3 tahun pacaran nggak jaminan jodoh ternyata. Ini sih jagain jodoh orang ya, Zam, namanya." "Iya. Udah ah mo mandi dulu. Gerah." Saat Azam berdiri, lengannya ditarik Astri hingga ia terduduk lagi. "Apalagi, Ma? Gerah ini." "Hehehe...." Alarm tanda bahaya di kepala Azam seketika berdering sangat keras. Tawa dan ekpresi mamanya mencurigakan dan Azam yakin Astri sedang merencanakan sesuatu buatnya. "Nggak usah hehehe, Ma. Awas kalo macem-macem, Azam aduin Papa kalo kemarin beli tas baru," ancam Azam yang tahu betul bagaimana perangai Astri. Bibir Astri seketika mengerut panjang. Anak kurang ajar ini main ancam saja mentang-mentang tahu kelemahannya. "Ah, nggak asik lo," protesnya. "Lo gue end," putus Astri dengan menggerakkan telunjuk membentuk garis memanjang di leher kemudian berdiri meninggalkan Azam yang melongo. *** "Aish! Preman kok galau. Udah, sih, pepetin aja." Dita gemas juga akhirnya melihat Firli yang belakangan ini gegana hanya karena seorang pria. Padahal dulu saat putus dengan pacar-pacarnya dia biasa saja. Masa bodoh, anteng-anteng aja. Kenapa dengan yang ini kayak lele digedik (dipukul) begitu? Belingsatan tidak keruan. "Masalahnya dia ada cewek Bambangg! Gimana, sih. Masa iya aku jadi P2O. Gila aja." "P2O? Apaan?" tanya Dita bingung. Kalau P2KP sih Dita tahu, kalau P2O ... program pemerintah yang mana lagi? "Perebu pacar orang. Ah, gimana, sih, lo, Jumik! Gitu aja nggak tahu." Dita refleks menoyor Firli kuat hingga sedikit oleng. "Mana gue tahu, kampret!" balas Dita sebal. "Dikira aku mbah Google apa yang tahu semuanya. Lama-lama sarap kamu, Fir. Galau udah bikin kamu gila!" Apa iya galau membuatnya gila? Itu tidak mungkin. "Huft!" Firli melipat dua tangannya di meja, meletakkan kepalanya di atas lipatan tangan dengan wajah menghadap Dita. "Kenapa harus suka dia, sih, Dit? Kenapa nggak suka yang lain aja. Biar nggak gini amat rasanya," ujarnya pelan dan raut wajah muram. Dita pun ikutan menghela napas dalam melihat Firli gelisah seperti anak ayam yang ketinggalan rombongan induknya. "Udah, sih, pepet terus. Belum ada janur kuning ini, wong yang udah nikah aja masih bisa ditikung, apalagi masih pacaran. Gampang itu, mah." Decakan kecil pun lolos dari bibir Firli dengar omongan Dita. "Gampang ngomongnya, Jum. Masalahnya dia itu cuek lho." "Kode-in dong, kalo nggak mempan tabrak langsung. Gas pol, jangan kasih kendor, dan jangan sampai disamber cewek lain. Iso mewek koen (bisa nangis kamu)." Melihat ekspresi ketakutan Firli, Dita tertawa dalam hati. Mampus! Preman kok galau, heran jadinya. Sontak Firli mengangkat kepalanya dari atas lipatan tangan, melempar pelototan tajam kepada Dita. Bukannya takut, temannya itu malah tertawa. Heran, kan? Padahal ia lagi marah bukan melucu. "Nggak mempan!" ujarnya sengit. "Buruan makannya, mo masuk ini." "Iya... Iya." tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN