10

1631 Kata
Pukul satu dini hari, Azam membuka pintu rumahnya. Bukan tanpa alasan ia baru pulang jam segini. Ia menghadiri acara melekan—acara berkumpul para pria menjelang akad nikah—temannya yang nanti pukul delapan pagi melakukan ijab kabul. Ia berjalan di bawah keremangan rumahnya, mendapati lima orang tertidur pulas di karpet depan televisi. Sepertinya mereka habis bermain kartu remi. Terlihat di meja kecil yang disingkirkan ke pinggir. Kartu-kartu berserakan. Wajah kelima saudaranya penuh coretan bedak bayi basah. Randu tidur di pinggir dekat bufet membelakangi Ranti. Di tengah, Dinda tidur dengan kepala di dekat kaki Ranti yang memeluk guling, disusul Sasa meringkuk seperti bayi di samping Dinda. Firli tidur di atas sofa dengan mulut terbuka dan pipi sedikit basah. Azam memperhatikan satu per satu saudaranya. Ia melangkah cepat ke sofa menahan Firli yang hampir jatuh. “Ck.” Azam berdecak sambil membenarkan posisi Firli ke sofa. “Udah tahu kalau tidur muter, ngapain tidur di sofa,” gerutu Azam yang tahu betul bagaimana polah Firli jika tidur. Setelah membetulkan posisi Firli, Azam duduk di lantai menyandar di sofa tempat Firli tidur. Ia mengeluarkan ponsel dan berseluncur di dunia maya sembari menunggu kantuk menyerang sebelum pindah ke kamarnya. *** ”Zam, bangun.” Goyangan di tubuhnya membuat Azam menggeliat kecil sejenak, lalu mengeratkan pelukan ke guling. Ah, rasanya begitu nyaman sekali. “Zam, bangun.” “Hmm.” Gumaman Azam, membuat tubuhnya diguncang lebih kuat oleh seseorang. Dengan sangat terpaksa, ia membuka mata. “Opo sih, Ma, sek ngantuk iki lho,” sahutnya tanpa membuka mata. “Bangun dulu, Zam.” Sontak mata terpejam itu terbuka lebar ketika gendang telinga Azam menangkap suara papanya. Warna cokelat sofa tertangkap oleh netra bening Azam. Ia terdiam, mengerjap beberapaa kali hingga nyawanya terkumpul. “Yaelah. Bangun dulu, Mas. Mau sampai kapan kayak gitu terus?” sahut Ranti dari belakangnya. Otak cerdas Azam sedikit sulit mencerna ucapan Ranti. Maksudnya apa? “Zam, woyyy! Sampai kapan itu anak orang dikekepin?” Kali ini suara Randu semakin membuat kerutan di dahi Azam berlipat-lipat. “Aelah. Woyyy, Zam! Lepas dulu itu Firli. Mati itu dikekepin rapet gitu.” Firli? Apa hubungannya? Kerutannya semakin dalam. Ketika dengan pelan ia menunduk, matanya disambut warna hitam. Matanya semakin terbuka saat ia menyadari apa yang ia sangka sebagai guling. Firli! Astaga! Sepupunya itu tengah memeluknya erat. Wajah Firli tenggelam di d**a Azam. Menyadari posisi cukup memalukan itu, Azam cepatcepat menarik tangan dari pinggang Firli. Melepas dengan kasar tangan Firli di pinggangnya. Ia bangkit dengan cepat membuat Firli geragapan ikut terbangun karena kaget. Azam segera duduk menghadap orang tua dan saudaranya yang berdiri dengan bersedekap diiringi tatapan menuntut penjelasan. “Ma ....” Ia menunduk sambil meremas rambutnya. Kepalanya pusing karena bangun dengan cepat-cepat. Firli rupanya tidak menyadari keadaan. Ia dengan santai duduk bersila, menggosok pelan kedua matanya, dan baru setelahnya ia bertemu pandang dengan yang lain. Ada apa dengan mereka? Kenapa melihatnya seperti orang marah? Apa dia telah membuat kesalahan? Ia mengedarkan pandangan mendapati Azam menutup wajah dengan dua tangannya. Pria itu tampak lemas duduk bersandar tak jauh darinya. “Ada apa sih, Bude?” tanyanya setelah menatap yang lain. “Cuci muka dulu, Fir, habis itu ke sini lagi, ya. Kamu juga, Zam,” perintah Candra—Papa Azam. Firli mengangguk. Ia turun dari sofa lalu masuk ke kamar mandi di samping tangga. Setelah Firli kembali, ganti Azam mencuci muka. Di kamar mandi, Azam menghela napas dalam, entah mengapa firasatnya mengatakan tidak baik-baik saja. Ia segera keluar karena panggilan papanya. “Mbak, ada apa, sih? Kok tegang amat?” tanya Firli dengan berbisik di telinga Dinda. Dinda membuka kunci di ponselnya. Ia menunjukkan potret yang sempat ia ambil sebelum membangunkan Firli dan Azam. “Rezeki ya, Dek,” ledek Dinda sambil menahan senyum. Mata Firli membelalak tak percaya. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Ini? Astaga! Kenapa ia tidak menyadari bahwa rasa hangat yang ia rasakan saat tidur itu pelukan Azam dan bukan selimut? Ya ampun, pasti semuanya salah paham, batin Firli. “Mau ya, Fir, jadi istrinya Mas Azam. Udah dikekepin gitu kamunya,” bujuk Astri lembut. Tadinya ia kaget bercampur marah waktu keluar kamar melihat Azam tidur sambil memeluk Firli, tapi kemarahan itu berganti bahagia sebab Astri tidak perlu bersusah payah mencarikan Azam pengganti Tita. Firli yang kaget melihat foto di ponsel Dinda jadi bingung dengan pertanyaan Astri. “Mau apa, Bude? Aku nggak dengerin tadi.” “Jadi istrinya Mas Azam, Dek,” sahut Ranti. “Oh. Eh, tapi ini tuh nggak ... eng, nggak kayak yang Bude pikir, lho,” ujarnya mencari cara menolak permintaan Astri. “Salah paham aja ini. Nggak aneh-aneh juga. Dulu juga sering kayak gitu. Lagian, kenapa harus nikah sama aku? Kan Mas Zam punya Mbak Tita.” Firli menatap Azam yang tampak lega akan alasannya. Namun, reaksinya membuat nyeri di d**a Firli. Untuk kali ini, ia tak mampu lagi memungkiri jika hatinya sudah terpaut dengan sepupunya. Kapan dan bagaimana ia memiliki perasaan lebih pada Azam, ia tak tahu. “Zam.” Candra menunggu jawaban putranya. Tidak hanya Candra, tetapi yang lain juga. Dengan memberanikan diri, Firli menyahuti Candra, “Pakde, iki salah paham, lho. Wong waktu tidur iku Mas Zam durung moleh[1]. Tekok wae Mas Randu.[2]” Candra mengangguk paham. Seketika senyum Firli terlihat meskipun hatinya sakit. Gini amat ya rasanya patah hati, pikir Firli. Bukan tanpa alasan juga ia menolak. Selain karena Azam masih mempunyai Tita, semalam karena Firli duduk di sofa yang disandari Sasa tepat di bawahnya, tanpa sengaja ia membaca w******p Sasa yang digoda temannya karena menginap di rumah Azam dan memberi semangat Sasa untuk PDKT. Tebakannya saat itu pasti benar. Karenanya, Firli berpikiran untuk mundur membiarkan Sasa bersaing dengan Tita. “Zam.” Candra tahu jika mereka tidak melakukan apa-apa, tetapi karena desakan istrinya tadi sebelum membangunkan yang lain, mau tak mau Candra pun menuruti kemauan Astri. Lagi pula, menurutnya tak ada salahnya mereka menikah sebab dari segi umur sudah cukup dan sama-sama sendiri. Pria berambut cepak itu menarikan napas dalam, menenangkan diri. “Pa, nggak bisa gini, dong,” protesnya. “Ini nggak sengaja. Lagian, aku nggak ngapa-ngapain dia, lho.” “Sapa tahu, Zam,” sahut Astri. “Kamu lho tidur. Apa sadar kalau kamu gimana-gimanain dia? Grepe-grepein dia? Weslah iyain aja gitu, beres.” “Bude nggak bisa gitu, dong. Mas Azam udah punya pacar masa nikahnya sama aku. Nikahnya gaara-gara nggak jelas lagi. Masa entar di berita munculnya jadi gini Dinikahkan Karena Tepergok Tidur Berpelukan Di Sofa. Nggak elit banget, deh. Tolong, ya Allah, apa kata dunia nanti.” Kekehan sontak mewarnai suasana tegang. Sementara, Azam menepuk dahinya pelan. “Lho, kan bener.” “Tolong. Bisa-bisanya si Oncom ini ngelawak,” celetuk Randu seraya menoyor kepala Firli. Ranti, Dina, Astri, Sasa bahkan Chandra tak bisa menahan tawa karena ucapan Firli. Astaga, sempat-sempatnya ia melucu. “Tetap aja, Fir, kamu nggak suci lagi,” desak Astri. Bagaimanapun caranya, ia harus berhasil membujuk Firli agar mau menjadi istri Azam. “Ibarat gelas, kamu itu udah retak. Ditutupi kayak apa aja tetep kelihatan retaknya.” “Tapi ….” Chandra memotong bantahan Firli setelah mendapat kode dari istrinya. “Zam, gimana?” Kalau ditanya bagaimana, jujur saja Azam bingung. Ini di luar perkiraannya, bahkan tak terpikiran sebelumnya sebab tak ada skenario ia akan menikah dalam waktu dekat, terlebih dengan sepupunya sendiri. Ia menatap wajah polos Firli. Ayu, ceria, dan lucu. Firli perempuan yang unik. Sedikit berbeda dengan wanita-wanita yang ia kenal selama ini. Tak hanya itu, dekat dengan Firli membuatnya nyaman walaupun sering jengkel juga karenanya. Bukan berarti dengan sepupu perempuannya lainnya tidak nyaman, tapi dengan Firli berbeda. Entahlah, Azam tak bisa menjabarkannya. Ia suka melihat Firli tertawa. Tingkah konyol dan perangainya yang apa adanya atau cenderung tidak tahu malu itu mampu membuatnya tersenyum. Azam benci melihatnya menangis. Kalau dipikir-pikir, belakangan ini ia sering teringat Firli. Seperti ada sesuatu yang menggelitiknya untuk terus mengingatnya. Azam tidak tahu itu cinta atau bukan, yang jelas ia suka berada di sisi Firli. Ya, semoga keputusannya tidak salah. “Gimana, Zam? Lama bener deh jawab iya gitu aja.” Astri gregetan melihat Azam yang sedari tadi diam. “Udah, Pa, anggap aja Azam mau. Keburu lumutan nungguin dia.” “Lha, kok Bude ….” “Iya, Azam mau.” “Alhamdulillah.” Astri kegirangan dan sontak memeluk Firli yang melongo akan keputusan Azam. Tadinya, Firli berharap Azam menolak. tatapannya beralih meneliti wajah Sasa yang tampak kecewa dengan keputusan Azam. “Ayo, Pa, ke kamar. Aku mau telepon Rina.” Astri mengurai pelukannya dengan Firli. Ia berdiri menghampiri suaminya, lalu menariknya ke kamar. “Aelah! Siapa yang PDKT, siapa yang nikah. Ambyar, rek,” teriak Randu memecah keheningan. “Potek hati aing, bro. Kau tega, Zam, menikungku. Sungguh teganya teganya teganya ... hooo ... pada diriku.” Sontak Ranti tertawa mendengarnya. “Kumat.” Ranti memukul lengan Randu sebelum melewatinya. Tak jauh bedanya dengan Ranti, Dinda tertawa seraya menarik Firli dalam pelukan. “Selamat ya, Dek.” Kemudian Dinda mengikuti Ranti ke kamar disusul Sasa. Firli belum mampu membalas ucapan Dinda. Fokusnya teralih pada Sasa. Sepupunya itu terlihat amat sangat kecewa, terluka, dan muram. Kenapa jadi rumit begini? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dengan mimik yang dibuat-buat, Randu menghampiri Azam. “Kita putus. Bye!” Ia pun berlalu dari hadapan Azam. Azam kembali menghela napas, lalu mengembuskan dengan kuat. Ia mengempaskan tubuh di sofa, mengusap wajah dengan kedua tangan, dan memandang Firli lekat. Firli sendiri menggeser duduknya dekat Azam menatap dengan pandangan penuh tanya. “Kenapa Mas mau aja? Kita nggak ngapa-ngapain, lho. Harusnya bisa nolak. Kalau kayak gini, gimana ngomongnya ke Mbak Tita? Kasihan Mbak Tita. Aku beneran jadi P2O kalau kayak ini ….” Cecaran Firli tidak akan berhenti jika mulutnya tidak ditutup tangan Azam. “Diem dulu. Nggak usah ngomel. Ayo, Mas anter pulang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN