Mas beneran putus sama Mbak Tita? Kapan? Waktu setuju nikah sama aku, ya? Duh, ya yang kayak ini lho aku nggak suka. Orang lihatnya pasti gara-gara aku ngerusak hubungan kalian. Harusnya Mas nolak maunya Pakde. Jadi cowok kok nggak teges!” cerocos Firli begitu duduk nyaman di mobil Azam setelah sebelumnya digeret paksa oleh Azam ke mal mencari barang seserahan untuk lamaran nanti. “Masih ada waktu batalin ini semua, Mas. Aku nggak mau kita nikah kalau salah satu dari kita terpaksa jalaninya,” lanjut Firli menghadap Azam berharap pria itu mengerti.
“Heum,” ujar Azam pendek karena tak ingin meladeni omelan Firli mengenai pembatalan rencana pernikahan mereka.
Firli kesal tak mendapat respons yang seharusnya dari Azam. Ia sontak mencubit lengan pria itu hingga berjengit.
“Sakit, Fir! Ini lagi nyetir. Jangan aneh-aneh, deh.”
“Kesel aku tuh! Mas diajakin ngomong njegidek boyo koyok tembok.[1] Mbok ya dijawab gimana gitu,” keluh Firli kesal. Diberi solusi agar dia bisa kembali dengan Tita malah tak ditanggapi. Ham hem saja seperti Nisa Shabiyan.
“Ayo, turun.” Azam sudah melepas sabuk pengaman kala mobilnya terparkir sempurna di basemen pusat perbelanjaan di Jalan Kawi. “Kenapa lihatin Mas kayak gitu, sih?” tanya Azam heran saat matanya tak sengaja menangkap tatapan lekat Firli.
Merasa penasaran, Azam pun meraih spion tengah lalu mengarahkan ke wajah. Tidak ada yang salah. Kemudian ia melihat baju yang ia kenakan. Ia berpakain cukup rapi. Kenapa Firli terus memandanginya? Tak ingin ambil pusing, Azam mengajak Firli turun. Namun ketika ia merasa tak pergerakan dari sampingnya, ia menoleh pada Firli. “Tunggu apa lagi? Kalau mau di sini, ya udah. Mas mau ke atas, lapar.”
Dengan kejengkelan yang memuncak, Firli memukuli kuat punggung Azam.
Kontan saja Azam kaget menerima serangan Firli. Ia berbalik, menggenggam kedua tangan Firli. “Apa, sih! Main pukul aja!” bentak Azam marah. “Punya mulut, kan? Dipakai itu.”
Firli semakin kesal karena bentakan Azam. Ia pun turut berkata dengan nada tinggi, “Mas tuh yang apaan! Dari tadi aku udah ngomong, tapi nggak didengar! Mulutku capek ngomel mulu dari tadi. Mas tuli, ya? Kesel banget aku!” balas Firli marah. Napasnya menderu. Ia menarik tangannya dari genggaman Azam.
Azam terdiam. Kepalanya meneleng ke kanan, lalu ke kiri sembari berpikir. “Iyo ta? Kok nggak krungu[2], yo?” ujarnya tak percaya.
Perempuan di hadapan Azam refleks menepuk jidat. “Ya salaaam.” Firli menjerit geram. Jadi, omongannya sepanjang jalan tadi tidak berguna sama sekali? Tidak didengarkan? Padahal mulutnya sampai berbusa dan orang tidak waras di depannya ini dengan
gampangnya bertanya, “Iyakah?” Kampret memang Azam ini, untung cinta! “Kok ngeselin, ya. Pengin lempar panci jadinya.”
“Ya udah lempar aja, entar Mas tangkap. Lumayan itu bisa buat masak di rumah,” ujarnya santai seraya keluar dari mobil.
Mau tidak mau, Firli ikut turun dengan tawa sumbang meredam kemarahannya. “Lucu dia.” Kemudian ekspresi Firli berubah serius. “Beneran kulempar tas, ya. Sakit lho ini!” ancam Firli kala menutup pintu mobil kuatkuat hingga menimbulkan bunyi nyaring. Ia bersedekap menatap tajam Azam. Tak ada senyum jail atau celoteh seperti biasanya. “Aku serius, lho. Kita masih bisa batalkan rencana pernikahan ini. Mas bisa kembali ke Mbak Tita. Gimanapun aku yang bikin kalian putus karena salah paham kemarin.”
Pria berkaus abu-abu muda itu menghela napas. Azam terlihat santai dengan celana chinos hitam selutut. Sandal kulit flip flop hitam menambah sempurna penampilannya. Ia menghampiri Firli, menyandarkan miring tubuhnya menghadap Firli di pintu mobil menghadap Firli. Azam bersedekap, memandang lurus ke arah Firli. “Harus banget ya bahas Tita?” tanya Azam pelan.
Firli melirik Azam melalui ekor matanya. Geram sekali dia pada pria ini. Apa omongannya selama ini kurang jelas? Apa sebegitu sulitnya mencerna kata-kata Firli?
Melihat Firli yang diam, Azam jadi berpikir ulang. Mungkinkah keputusan dia menerima permintaan orang tuanya salah? Apa Firli sudah punya kekasih dan karena itu rencana pernikahan ini memang seharusnya dibatalkan? Namun menurut cerita Dinda dan mamanya Firli, dia tidak sedang berpacaran. Apa yang membuat dia ingin membatalkan pernikahan?
“Ya udah, kita pulang aja. Percuma jalan kalau kamu uring-uringan gitu. Yang ada, Mas salah terus nanti. Mas akan cari waktu ngomong sama orang tua kita kalau rencana pernikahan ini batal,” putus Azam final.
Azam menekan key remote, membuka kunci pintu mobil. Tatapannya berserobok dengan Firli. Azam memutuskan pandangan itu dan masuk ke kursi kemudi. Di sisi lain, ucapan Azam baru saja menguatkan dugaan Firli jika Azam masih mencintai Tita dan pria itu terpaksa menerima pernikahan ini. Ah, kenapa hati Firli berdenyut nyeri? Lagi pula, wajar jika Azam masih mencintai Tita. Bagaimanapun, tiga tahun bukan waktu singkat dan mudah dilupakan.
Firli menghirup udara banyak-banyak, menenangkan dadanya yang terasa sesak sebelum masuk ke mobil. Selama perjalanan pulang, suasana dalam mobil sunyi. Beberapa kali Firli melirik Azam. Entah mengapa ekspresi pria itu terlihat berbeda. Parasnya seolah-olah menunjukkan gurat terluka. Bukankah persetujuan Azam di basemen mal tadi harusnya membuat pria itu gembira?
“Sampai.” Tanpa menunggu Firli, Azam keluar lebih dulu. Ia masuk ke rumah, sedikit berbasa-basi dengan budenya kemudian pamit saat Firli masuk. “Hati-hati, Mas.”
Azam hanya mengangguk kecil.
***
“Fir, berantem, yo?” tebak Rina kala di kamar Firli. Wajah putrinya itu tampak muram. “Kenapa, sih?” Ia duduk di kasur.
Selesai mengganti bajunya dengan baby doll bergambar Doraemon, Firli duduk bersila di kasur menghadap Rina. “Acara pernikahannya batal, Ma.”
Rina tak dapat menyembunyikan raut kagetnya. “Batal, Fir?” Ia berusaha menenangkan diri. “Sek, coba ceritao nok Mama, kenopo sampek iso batal.”[3]
“Aku, Ma, yang minta. Soalnya yang bikin Mas Zam sama Mbak Tita putus aku. Eh, maksudnya gara-gara salah paham kemarin itu,” ujar Firli lamat-lamat. Ia sebenarnya sedikit takut menceritakannya kepada Rina sebab mamanya ini akan berubah jadi singa mengamuk kalau-kalau ia bertindak sembarangan.
Benar saja emosi Rina tersulut cepat. “Koen, yo, Firrr! Utek mbek lambe iku digawe. Ojo ngasal ae!”[4] seru Rina keras. “Koen wes takok ta kenopo putus? Kapan putuse? Ojo njegidek boyo ae. Lambe iku difungsino.[5] Arek kok nggak pinter ngono,” Setelah mengutarakan amarahnya, Rina beranjak keluar meninggalkan Firli sendiri yang terlihat tengah mencerna omongannya.
Kenapa mamanya marah? Ia hanya tidak ingin didera rasa bersalah dan tak mau menikah tanpa cinta. Di mana salahnya? Apa mungkin ada sesuatu yang terlewat olehnya? God!