bc

Terlahir Kembali Sebagai Istri CEO Mafia

book_age18+
41
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
contract marriage
one-night stand
family
HE
fated
forced
opposites attract
second chance
friends to lovers
arranged marriage
curse
playboy
badboy
kickass heroine
mafia
gangster
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
serious
bold
city
office/work place
cheating
childhood crush
enimies to lovers
lies
secrets
superpower
rebirth/reborn
love at the first sight
friends with benefits
assistant
like
intro-logo
Uraian

Cantika , seorang dokter muda yang berkorban demi cinta, terperangkap dalam pernikahan penuh siksaan dengan Orion, CEO tampan sekaligus psikopat yang gemar menyiksa orang.

.

Hari-harinya hanya dipenuhi oleh siksaan dan nafsu yang disalurkan olehnya tanpa ada kelembutan. Berharap cinta mengubah suaminya, ia malah menemui ajal di tangan Orion sendiri. Namun, keajaiban terjadi: Cantika hidup kembali berkat bantuan giok hijau, bersiap membalas dendam.

.

Rahasia kelam Orion terkuak dan bisnisnya hancur. Di tengah pembalasan, Orion justru mulai menaruh hati pada istrinya. Ketika cinta dan dendam bertabrakan, siapa yang benar-benar akan binasa?

.

[Novel ini Eksklusif hanya di Dreame dan Innovel]

Peringatan: Novel ini ditujukan untuk pembaca 18+, mengandung tema hubungan intim, permainan psikologis, dan dinamika relasi yang tidak konvensional.

.

Cover Ilustrasi by rida_graphic

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
“Di rumah ini tak ada kesempatan malas-malasan karena pembantunya hanya satu orang!” Kalimat itu langsung menusuk di indra telinganya membuat langkah Cantika terhenti seketika. Ia menoleh dan matanya langsung bertemu dengan pandangan Nyonya Elena—mertuanya yang berdiri di sudut ruang dengan tubuh tegak, menatapnya tajam. Tangan Nyonya Elena terlipat erat di d**a, menahan napas yang kencang. Padahal, ia baru saja menginjak lantai rumah ini dengan tubuh masih terbalut gaun pengantin yang berwarna putih murni. “Apapun yang kami inginkan, kamu harus siap ikuti tanpa membantah! Jangan menyebalkan, apalagi kasar pada seluruh anggota keluarga. Kamu sekarang sudah resmi istri Orion, berarti harus siap membersihkan rumah, masak sarapan setiap pagi, dan melayani suamimu dengan sepenuh hati,” lanjutnya dengan nada angkuh. “Maaf, Ma … bukankah itu semua tugas pembantu? Kenapa aku harus ikut andil? Aku juga akan bekerja, lho,” jawab Cantika pelan. Tapi itu justru membuat darah Nyonya Elena memanas, wajahnya memerah dan rahangnya mengeras. Wanita paruh baya itu melangkah cepat namun tetap anggun menuju Cantika. Detik kemudian, tangannya yang kuat langsung mencengkram pipi Cantika, membuat rasa sakit menyebar ke seluruh wajah sampai ia merintih kesakitan. “Sudah kubilang, jangan membantah! Kau hanya menumpang di sini, jadi harus tahu diri. Soal kerja, lebih baik berhenti saja agar anakku tidak dicemooh oleh media luar karena membiarkan istrinya bekerja, itu akan merusak nama baik keluarga kita!” Cantika tertegun, ia menoleh ke arah pintu belakang. Di situ, Orion berdiri dengan tangan di saku celananya, tampak santai bahkan mulai melenggang pergi tanpa melihat ke arahnya, seolah Cantika hanyalah orang asing yang tersesat. Matanya menatap nanar ke arah pria itu yang semakin jauh. Rasa sesak langsung menyeruak ke d**a, bercampur dengan kemarahan yang membara tapi tidak bisa ia lepas. Udara di ruang tamu tiba-tiba terasa sempit, membuatnya sulit bernapas. “Dengar tidak?!” teriak Nyonya Elena di telinganya yang masih berdenting. “Sudahlah, dengarkan saja Mama. Dia yang mengatur semuanya di rumah ini, itu karena dia menyayangi kita,” cetus Orion, tanpa menoleh ke arahnya. Tangan Nyonya Elena tiba-tiba melepaskan cengkeraman dari pipi Cantika dengan kecepatan. Ia mundur satu langkah, menatap dengan tatapan penuh kemarahan. “Pergi sana! Hari ini, saya melepaskan kamu dari urusan rumah—tapi besok pagi, semua tugas harus kamu kerjakan sendiri!” Cantika menghela napas panjang, nafas yang ia tahan sejak tadi akhirnya keluar. Padahal, ini baru pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah mertuanya. Kulit pipinya masih terasa panas dan perih, tapi dia cuma bisa menunduk, tidak berani melawan. Matanya lalu mencari Orion lagi—pria itu baru saja sampai di depan pintu kamar, seolah mau masuk. Cantika melangkah buru-buru, hati berdebar kencang. “Orion, tunggu…” Orion berhenti, tapi tidak menoleh. Suaranya keluar datar dan ketus, tanpa ada nuansa apapun. “Apa?” “Kamu… kamu tidak akan bilang apa-apa?” Cantika bertanya pelan, suaranya bergetar. “Mama baru saja menyuruh aku berhenti kerja dan kerjakan semua tugas rumah. Kamu tidak khawatir?” Orion akhirnya menoleh, matanya menatap Cantika dengan dingin. “Apa yang mau kubilang? Mama yang ngatur rumah ini. Kalau dia bilang begitu, ikuti saja. Jangan bikin masalah.” “Tapi aku ingin bekerja … aku juga punya mimpi sendiri,” bisik Cantika. Orion mendekat sebentar, suaranya makin kasar. “Mimpi? Setelah kamu nikahi aku, mimpi-mimpimu sudah tidak penting lagi! Yang penting, mama senang dan keluarga tidak dicemooh. Paham?” Orion mendekat lebih jauh, dan sebelum Cantika sempat menjawab, tangannya yang kuat tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dengan cepat. Ia menarik Cantika masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras membuat hati Cantika berdebar kencang. Kakinya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena campuran ragu dan sesuatu yang lain yang dia belum pernah rasakan sebelumnya. Ruangan itu gelap, cuma disinari oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela besar di pojok kamar. Orion menahan pergelangan tangannya lebih erat, matanya memandangnya dengan kilatan yang tidak bisa Cantika pahami. “Kamu tahu apa yang artinya malam ini?” suaranya jadi lebih dalam, meresap ke telinga Cantika sampai membuat bulu kuduk merinding. Cantika menunduk, bibirnya sedikit menggigit. Wajahnya memerah sampai ke telinga, dan dia bisa merasakan detak jantungnya yang makin kencang. “Aku … aku tahu,” bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar, penuh dengan malu dan ketakutan yang sedikit. “Katakan lagi,” ujar Orion, tangannya mulai melintasi pundaknya. “Jangan bisik-bisik kayak itu.” Cantika mengangkat kepala sedikit, matanya masih terlihat ragu. “Aku tahu … malam ini adalah malam pertama kita, Orion.” Tanpa bilang apa-apa, Orion mengangkat tangannya ke pundaknya. Jemarinya yang kasar tapi lembut melintasi jahitan gaun pengantin yang rapi, menyentuh kulitnya yang masih terasa dingin. Ia perlahan membuka kancing satu demi satu membuat. “Orion aku takut tidak bisa memuaskanmu,” bisiknya, mata airnya mulai menggenang. Orion terdiam sejenak, lalu jemarinya menyentuh pipinya yang mulai membiru akibat cengkraman Nyonya Elena. “Jangan nakal, turuti saja perintah aku dan Mama,” bisiknya dengan nada yang lebih lembut. “Dan biasa ‘kan panggil aku Mas mulai sekarang.” Setiap kancing yang terbuka, bagian tubuhnya semakin terlihat. Orion mendekat sampai hidungnya hampir menyentuh lehernya. Napasnya yang panas menempel di kulitnya, membuatnya menggigil dan tubuhnya sedikit melekat ke arah pria itu. Cantika perlahan mengangkat tangan, hampir menyentuh bahu Orion, tapi berhenti di tengah jalan. “Kamu benarkah sayang padaku?” Orion mengangkat alisnya, seolah terkejut dengan pertanyaan itu. Tapi kemudian, dia menarik tangannya yang terhenti dan menaruhnya di bahunya. “Apa yang kamu pikirkan? Aku tidak akan menikahi kamu kalo tidak sayang.” “Tapi mereka menyakitiku dengan kata-katanya. Begitu pula dengan kamu,” bisik Cantika. Orion tak menjawab. Ia melanjutkan membuka gaun sampai bagian atasnya terlepas sepenuhnya, mengekspos bahu dan leher Cantika yang lembut seperti sutra. Matanya memandangnya dengan pandangan yang membakar, memaklumi setiap inci kulitnya yang terlihat. “Angkat kepalamu,” perintahnya dengan suara yang lebih rendah lagi, penuh dengan kekuasaan. Cantika mengikuti perlahan, matanya akhirnya bertemu dengan matanya. Di dalam mata Orion yang gelap, dia melihat sesuatu yang ia cari. Setiap gerakan mulutnya yang mendekat membuat bulu kuduk Cantika merinding lagi. Dia menutup mata, menunggu sentuhan pertama yang dia tunggu-tunggu. Orion berhenti tepat di dekat lehernya, napasnya yang panas masih menempel di kulitnya. “Ahh, Mas,” desah Cantika. “Shhh …,” bisik Orion dengan nada yang seolah lembut, tapi ada dinginnya yang tersembunyi. “Hanya malam ini. Besok, semuanya kembali seperti biasa.” Sebelum Cantika sempat memahami apa yang dia maksud, Orion tiba-tiba mengubah gerakannya dari lembut jadi kasar dalam sekejap. Ia menggigit lehernya dengan kuat, membuat Cantika menjerit sedikit karena sakit. “Ingat ini,” bisiknya dengan suara yang datar lagi. “Kamu adalah milikku, dan aku bisa melakukan apa saja yang kukira benar.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.0K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook